Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Hari yang Melelahkan


__ADS_3


"...." Chelsea kehabisan kata-kata. Ingin sekali rasanya dia membantah perintah yang diberikan oleh Ivan. Meskipun dia sadar kalau memang sudah tanggung jawabnya untuk menjadi pengawal dan melindungi, tetapi musuh saat ini tampak begitu sulit untuk dihadapi.


10, 20, 30, bahkan mungkin saja mencapai 40 orang. Dan semuanya sudah mengepung dengan masing-masing senjata di tangan mereka. Pikir Chelsea, jika dia turun tanpa persiapan bukankah namanya sama saja dengan bunuh diri. Terlebih lagi saat ini Chelsea cuma membawa sebuah pistol dengan jumlah peluru yang terbatas, alat-alatnya yang lain dia tinggalkan di mobilnya yang masih terparkir di taman kota.


"Baik, saya akan turun dan menghadapi mereka," ucap Chelsea yang kemudian segera turun dari mobil.


Inilah tugasku, sudah jadi tanggung jawabku untuk menghadapi ini. Meskipun akan sulit, tapi aku tidak boleh mati, aku harus menepati janjiku pada Leon! Aku harus menjaga diriku baik-baik dan menjaga Liana! Sekarang jumlah peluru yang aku punya terbatas, hanya boleh aku gunakan saat mendesak dan untuk berhemat maka tidak boleh meleset saat aku menembak. Kali ini aku akan mengandalkan belati yang aku bawa, dan jika muncul kesempatan maka aku rebut saja senjata mereka.


Chelsea berdiri tanpa gentar, kedua matanya dengan cermat mengamati sekeliling. Memperhatikan setiap gerakan musuh yang bisa kapan saja bergerak dan menyerangnya.


"Serang! Habisi wanita itu!" teriak salah seorang dari balik kerumunan yang mungkin saja adalah pemimpin mereka.


Seketika semua preman itu bergerak maju begitu diperintahkan. Mereka semua mengangkat senjata pemukul mereka seakan-akan sudah siap untuk mengajar Chelsea sampai habis tak berbentuk.


CRASS ...


Chelsea mengayunkan pisau belatinya dengan lihai, menyerang setiap titik vital pada setiap orang yang mencoba mendekatinya. Kerumunan yang pertama kali dia hadapi adalah gerombolan yang tadinya turun dari mobil yang menguntit. Ini adalah pertarungan jarak dekat dengan musuh yang banyak, sebisa mungkin Chelsea berusaha menghemat stamina.


Dia tak melakukan gerakan yang tidak perlu, setiap musuh yang telah berada dalam jangkauannya langsung dia selesaikan dalam sekali serang. Tak peduli menggunakan pukulan, tendangan ataupun pisau belatinya. Asal mereka tumbang, Chelsea siap menggunakan segala cara.


"Kalian semua ini sedang apa?! Dia cuma seorang wanita! Cepat habis dia!" teriak seorang pria yang memberi aba-aba di awal tadi.


"AAAAHHH!" Semuanya berteriak, setelah dibentak mereka jadi memiliki keinginan yang lebih besar untuk membunuh Chelsea.


Dan para musuh yang levelnya lebih tinggi mulai unjuk kebolehan mereka. Mereka menyerang dengan menggunakan beberapa teknik, bukan dengan membabi buta seperti tadi. Hingga salah satu di antara mereka berhasil melayangkan tinju dan mengenai lengan Chelsea.


TRANG ...


"Sial," umpat Chelsea ketika pisau belati yang ada di tangannya terhempas dan jatuh di tempat yang cukup jauh untuk dia jangkau.


Hilangnya belati dari tangan membuat Chelsea mulai terpojok. Dia akhirnya menangkap dan memelintir tangan salah seorang musuh untuk merebut alat pemukul dari tangannya.


BUAK! BUGH!


Chelsea mengayunkan tongkat pemukul besi itu dengan kedua tangannya, setiap pukulan dia arahkan ke titik vital para musuh. Akibat berat dan ukuran senjata tumpul itu, pergerakannya kini tak segesit dan secepat sebelumnya. Namun, sisi baiknya jangkauan yang bisa dia dapatkan jadi lebih jauh dibanding sebelumnya.


"Hahh ... haahh ...." Chelsea mulai merasa lelah, staminanya mulai menurun. Karena belum makan dan sejak tadi berkeliling di mall, kedua hal itu membuatnya bertarung dalam kondisi yang tidak prima. Hal ini menjadi pelajaran baru bagi Chelsea untuk lebih hati-hati, lain kali musuh bisa saja menyerangnya baik dia sedang dalam keadaan prima ataupun tidak.


"Sial, mereka seperti tiada habisnya," gumam Chelsea yang kemudian langsung mengeratkan genggaman tangan pada tongkat besi itu. Mengayun sekuat tenaga dan berharap musuh akan tumbang dalam sekali serang. Semakin cepat mereka tumbang semakin baik, semakin sedikit pula musuh tersisa yang harus Chelsea bereskan.


"Mati kau!" teriak Chelsea seraya memukul kepala seorang musuh yang ada di depannya. Dia mencoba menghindar, tetapi ayunan tangan Chelsea lebih cepat dan tongkat itu mendarat tepat di kepalanya.

__ADS_1


BRUGH ...


Pria itu terjatuh, kepalanya bocor dan darah mengucur keluar. Napas Chelsea tersengal-sengal, sejenak dia merasa aneh lantaran tiba-tiba jadi sepi. Kenapa sudah tidak ada lagi yang berusaha menyerangnya? Padahal dia yakin betul jika baru membereskan belum ada separuhnya.


Dia penasaran dan berbalik badan, kedua bola matanya seketika membulat saat menyadari jika sisa para musuh yang mengepung telah dibereskan oleh Ivan seorang diri.


"Kepala Divisi ...?" gumam Chelsea dengan ekspresi penuh tanda tanya. Dia bingung dengan keadaan yang saat ini dia lihat.


Apa ini ...? Bukannya yang namanya pertarungan itu berisik dan berdarah-darah? Tetapi, ini sepi ... sangat sepi dan bersih. Aku sampai tidak menyadari kapan dia turun dari mobil dan ikut membantuku menyerang orang-orang ini. Bahkan orang yang telah dia buat tumbang jauh lebih banyak dibanding denganku.


Padahal sekilas dia terlihat seperti pria yang hanya suka bermain. Tak aku sangka dia akan sekuat ini. Sepertinya posisinya sebagai Family memang tidak sepatutnya aku ragukan. Dan mungkin saja para Family yang lain sehebat dia, atau bahkan lebih hebat darinya. Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati dan waspada terhadap semuanya.


Astaga, sepertinya aku lagi-lagi telah meremehkan organisasi ini. Pantas saja dia cuma butuh seorang pengawal, dia sama sekali tidak butuh aku untuk tugas pengawalan, mungkin tugasku cuma sebagai teman bermainnya.


"...." Ivan diam seribu bahasa sambil memandang Chelsea dengan sorot mata yang dingin. Dia lalu melangkah mendekat ke arahnya. Ketika hanya berjarak dua langkah dari Chelsea, tiba-tiba saja berkata, "Apa kau lelah?"


"Tidak, saya siap menerima perintah selanjutnya dari Kepala Divisi!" jawab Chelsea dengan nada hormat. Dan lagi-lagi dia berbohong, tentu saja dia tidak akan mengaku meskipun sebenarnya dia sangat kelelahan. Dia tak ingin kinerjanya dianggap buruk di hari pertama bertugas di Divisi 3.


"Baguslah. Kalau begitu pastikan jika semua sampah ini sudah tewas. Aku tak mau kau meninggalkan satu yang hidup, jaga-jaga saja jika di antara mereka ada yang melapor pada atasan mereka, atau bahkan meminta bantuan pada teman-teman mereka yang lain."


"T-tapi Kepala Divisi, emm ... bukan maksud saya untuk membangkang. Akan tetapi, jumlah mereka sangat banyak, takutnya saya tidak bisa membereskan barang bukti," jelas Chelsea.


"Oh, soal itu kau tidak usah pusing. Biarkan saja tetap seperti ini. Di dalam mobilku ada EMP, tadi sudah aku aktifkan. Jadi kau bebas berbuat semaumu. Kalau sudah selesai cepat kembali, aku tunggu di mobil," ucap Ivan yang kemudian segera berlalu dan masuk ke dalam mobil mewahnya lagi.


Jadi sekarang, semua kamera pengawas yang terpasang di jalanan, ponsel atau bahkan alat komunikasi lain milik musuh tidak akan bisa berfungsi. Sudah jelas jika kejadian pertarungan, yang semula berupa penyergapan kini jadi berubah menjadi pembantaian yang dilakukan oleh dua orang ini sama sekali tidak meninggalkan bukti.


"Huft ..." Chelsea mengatur napasnya. Dia lalu menjatuhkan tongkat besi yang telah berlumuran dengan darah itu. Sebelum dia menjalankan tugas dari Ivan, dia pergi ke tepi jalan untuk mengambil belati miliknya yang sempat terhempas tadi.


Meskipun terpaksa, Chelsea tak punya pilihan lain selain menuruti perintah Ivan. Dia mengecek pernapasan dan denyut nadi pada setiap musuh yang terkapar, jika mereka sudah benar-benar tewas maka Chelsea tak perlu melakukan apa pun lagi. Dan jika di antara mereka ada yang masih bernapas atau hanya sekadar pingsan, maka dengan berat hati Chelsea segera menghabisi mereka dengan belati tajamnya.


Beberapa saat kemudian Chelsea telah selesai menjalankan tugasnya. Dia menyimpan belatinya kembali, dan untung saja dia tidak perlu menggunakan senjata api yang cukup berisiko jika suaranya sampai terdengar dan menarik perhatian orang yang tidak berkepentingan.


Sebelum dia naik ke mobil, tak lupa juga dia menepikan mobil-mobil para musuh yang menghadang. Dia juga menyeret mayat para korban ke tepi jalan, Chelsea tidak begitu tega jika harus melindas mereka supaya nanti mobilnya bisa lewat.


"Saya sudah selesai," ucap Chelsea ketika memasuki mobil.


"Pakai ini!" pinta Ivan sembari menyodorkan sebotol semprotan hand sanitizer beraroma lemon pada Chelsea.


"B-baik," Chelsea menerima hand sanitizer itu dan segera menyemprotkan cairan beraroma lemon yang segar ke kedua telapak tangannya.


Astaga, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk mengungkapkan betapa anehnya Kepala Divisi 3 ini. Dia dengan lihai membunuh orang dengan cepat dan tanpa belas kasihan. Tetapi, dia justru tidak suka ada aroma darah yang menempel pada tanganku.


"Ini, saya kembalikan." Chelsea mengembalikan sebotol hand sanitizer itu pada Ivan. Dan Ivan seketika menyimpannya di kantong celana dengan baik. Seolah-olah benda itu memang sangat berharga baginya.

__ADS_1


Huh, ini benda yang sangat berharga bagiku! Ini pemberian dari bos kecil, dia memberikannya saat bertemu denganku di bakery. Aku lupa cuci tangan, lalu dia dengan polosnya memberikan benda ini padaku. Ahh ... aku sangat bahagia saat itu. Tapi ketua bilang kalau bos kecil sekarang sedang sakit demam, haiss ... semoga saja dia cepat sembuh.


Sudah menjadi ciri khas bagi setiap Family jika mereka semua mempunyai obsesi yang berlebihan pada bos kecil mereka. Barang-barang sederhana yang tampak murah dan remeh, jika itu pemberian dari bos kecil maka artinya benda itu tidak ternilai. Seolah harta karun, mereka bahkan rela saling berebut untuk mendapatkan barang-barang itu.


"Segera kembali ke taman kota!" seru Ivan.


"Baik," jawab Chelsea yang segera menginjak gas dan melaju secepat mungkin untuk melewati jalanan yang gelap dan penuh darah ini.


Selang sekitar 10 menit kemudian Chelsea dan Ivan telah tiba di taman kota. Chelsea paham jika tugasnya untuk hari ini sudah selesai. Dia ingin cepat-cepat turun dari mobil karena sudah cukup merasa muak dengan Ivan yang aneh.


Namun, tepat sesaat sebelum Chelsea turun dari mobil, tiba-tiba saja Ivan berteriak, "Tunggu sebentar!"


"Ya, Kepala Divisi? Apakah ada tugas untuk saya lagi?" tanya Chelsea dengan senyum terpaksa. Dia lelah, muak dan bahkan jika bisa ingin meninju wajah Ivan. Hari ini adalah hari paling melelahkan selama Chelsea bergabung dengan organisasi.


"Tidak ada tugas, tapi aku cuma mau bilang kalau hari ini aku cukup puas dengan kerjamu. Besok kita akan bertemu lagi! Dan aku punya sesuatu untukmu sebagai hadiah!" Ivan lalu menunduk, mengambil sebuah kotak berukuran sedang yang dia sembunyikan di bawah.


"Ini, cepat bukalah!" pinta Ivan dengan sorot mata antusias.


"Emm ... baiklah," jawab Chelsea penuh keraguan. Dia ragu karena berpikir jika Ivan akan mengerjai dirinya dengan sesuatu yang mengagetkan, benda menjijikkan atau sesuatu yang lain.


Dan begitu Chelsea membuka kotak itu, dia sedikit kaget karena isinya adalah sesuatu yang normal. Ternyata Ivan memberinya hadiah sebuah pistol yang tampilannya juga sedikit berbeda dari biasanya. "Terima kasih Kepala Divisi, saya akan menerima hadiah ini dengan senang hati."


"Hehe, baguslah kalau kau suka! Tapi, ini bukanlah sembarang pistol! Ini adalah pistol hening! Artinya pistol ini tidak berisik seperti pistol pada umumnya saat menembak. Ini adalah salah satu jenis senjata yang sedang aku kembangkan! Simpan baik-baik, ya!"


"Ah, ternyata ini pistol yang istimewa. Sekali lagi saya berterima kasih. Dan saya pasti akan menyimpannya dengan baik."


Ini benar-benar luar biasa, aku kira Divisi Cyber cuma berhubungan dengan penjualan beberapa benda-benda canggih. Tapi aku tidak menyangka jika Kepala Divisi punya keahlian untuk mengembangkan benda-benda seperti ini. Sebenarnya dari mana ketua memungut orang seperti ini? Dia genius bisa mengumpulkan orang-orang yang begitu berguna dan bahkan mengendalikan mereka semua.


Chelsea segera turun dari mobil begitu memastikan jika Ivan tak menghalanginya lagi. Dan benar saja, begitu Chelsea turun, Ivan langsung menginjak gas dan meninggalkan debu serta asap bagi Chelsea. Sedangkan Chelsea, saat ini dia terlalu lelah untuk merasa kesal ataupun memaki tindakan menyebalkan Ivan barusan.


"Hahh ... akhirnya selesai juga. Aku harus cepat-cepat pulang dan beristirahat! Mungkin saja besok akan lebih menguras tenaga!"


Chelsea bernapas lega, akhirnya dia bisa berpisah dengan Ivan. Dia segera menghampiri mobilnya yang masih berada di area parkir, lalu melaju secepat mungkin untuk ke rumah agar bisa segera merebahkan dirinya yang begitu lelah.


***


Esok hari yang cerah telah tiba. Hari terasa lambat ketika dia memikirkan soal Leon, ingin rasanya dia cepat-cepat bertemu dengan kekasihnya itu. Dan hari terasa begitu cepat jika Chelsea memikirkan soal pekerjaan.


Dia merasa belum cukup beristirahat dari kejadian semalam yang begitu melelahkan, entah itu bagi jiwa maupun raganya. Ada satu hal yang sangat ingin dia ketahui, begitu bangun tidur dia langsung mengambil ponsel khusus yang Kepala Divisi berikan. Dia penasaran dan ingin melihat di mana titik lokasi pertemuan yang baru.


"I-ini ... apa ini sungguhan?! Kalau aku tidak salah ... titik lokasi ini kan menunjukkan lokasi pet shop!"


Sial, kenapa harus bertemu di toko hewan peliharaan!? Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh otak aneh si Ivan itu?

__ADS_1


__ADS_2