
"Apa yang terjadi?!" tanya Leon yang masih berusaha mencerna keadaan.
"K-Kak Leon ... Kak Mayra terluka," jawab Liana dengan nada gemetaran.
Tanpa bertanya apa pun lagi Leon langsung meletakkan box makanan yang dia bawa, lalu mendekat dan melihat seperti apa kondisi luka Chelsea saat ini.
"Ini dalam! Liana, tolong menepi sebentar!" pinta Leon.
"B-baik Kak ..." Liana langsung bergeser untuk memberikan ruang untuk kakaknya. Dengan suara lirih pun dia kembali berkata, "Kak Leon, apakah aku salah memberikan penanganan?"
"Tidak, tapi luka ini lebih serius dari yang kau kira. Tolong ambilkan perlahan jahit!"
"Oke!" Liana langsung beranjak dari sana dan mencari kit jahitan seperti yang Leon minta.
Sedangkan Leon, dia terus memegang telapak tangan Chelsea, menekan lukanya agar tidak semakin banyak darah yang keluar.
"Apakah lukaku separah itu sampai perlu dijahit?" tanya Chelsea sambil terus memperhatikan darah yang keluar dari lukanya.
"Diamlah! Aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini, jadi menurut saja padaku!"
Tak lama kemudian Liana kembali dengan membawa peralatan untuk menjahit luka. Leon segera membuka kotak peralatan itu dan bersiap untuk menjahit luka di telapak tangan Chelsea. Namun, untuk sesaat dia tersadar akan sesuatu dan menatap Chelsea lekat-lekat.
"Di mana bajumu tadi?"
"Di sana," jawab Chelsea sambil menunjuk ke atas meja.
"Akan aku ambilkan!" Liana dengan cepat mengambilkan baju yang sebagian sudah kotor dengan darah tersebut. Saat menyerahkannya ke Leon, dia kembali berkata, "Ini Kak, tapi untuk apa?"
Leon tak menjawab, seketika merebut baju kotor itu dan langsung menyumpalkannya ke mulut Chelsea. "Gigit ini! Aku tak punya obat anestesi, jadi nanti akan lebih sakit!"
Leon mulai bertindak, menjahit luka yang cukup lebar di telapak tangan Chelsea tersebut. Di satu sisi Chelsea berteriak kesakitan namun suara teriakkannya tertahan. Dia merasakan sakit yang amat terasa ketika tangannya dijahit tanpa diberikan obat bius terlebih dulu.
Bahkan Liana yang melihat saja merasa ngeri dengan keadaan itu, berkali-kali dia memejamkan mata karena tidak tega melihat Chelsea yang kesakitan. Dia juga merasa menyalahkan diri karena semua ini gara-gara Chelsea ingin melindunginya dari masalah.
Setelah Leon selesai menjahit bagian di telapak tangan, dia tak memberikan jeda dan langsung berganti menjahit lengan Chelsea. Proses jahitan kali ini lebih cepat dibanding sebelumnya, karena luka sayatan di lengan tak selebar di telapak tangan.
Begitu luka Chelsea selesai dijahit dan dibalut oleh perban, Leon langsung mengambil baju kotor yang sebelumnya dia sumpalkan agar Chelsea bisa bernapas lebih lega.
"Liana, tolong buatkan minuman. Kakak mau cuci tangan dulu!" pinta Leon pada adiknya.
__ADS_1
"B-baik!"
Kedua kakak beradik itu pun sibuk melakukan tugasnya masing-masing. Tak lama setelah Liana kembali dan membawa minuman berupa teh hangat, Leon juga kembali lagi dengan membawa sebuah kemeja putih miliknya.
"Pakailah ini!"
Tanpa berkata apa pun Chelsea menerima kemeja itu dan memakainya sendiri, meskipun sebelumnya dia merasa sedikit malu lantaran Leon tadi melihat dirinya yang hanya memakai tank top tipis.
"Kak Mayra, minumlah ini ..." ucap Liana yang kemudian juga membantu Chelsea untuk memegangi gelas. Tentu saja Chelsea kesulitan, lengan kirinya terluka dan telapak tangan kanannya pun juga.
Setelah Chelsea minum beberapa teguk, Liana kembali berkata, "Bagaimana perasaan Kakak sekarang?"
"Sudah lebih baik, terima kasih," jawab Chelsea dengan senyuman tipis.
Liana yang mendengar itu langsung menangis, dia tak kuasa menahan air matanya lebih lama lagi. "Hik ... hik ... Maafkan aku, Kak. Gara-gara aku ... Kak Mayra jadi begini ...."
Chelsea menghela napas lalu mengusap kepala Liana dengan lembut. "Sudah, jangan menangis. Ini bukan salahmu, justru aku yang akan merasa bersalah jika tidak menolongmu."
"Tunggu sebentar, bisakah jelaskan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi?!" Leon menyela.
Kedua perempuan itu seketika membisu. Chelsea diam lantaran dia masih belum punya cukup tenaga untuk berbicara banyak. Liana pun menundukkan kepala seraya berkata, "Seperti yang aku bilang tadi, Kak Mayra terluka karena dia melindungiku."
"Melindungimu dari apa? Apa ada orang yang mau menyakitimu?" tanya Leon dengan tatapan tajam.
"Teman katamu?! Lalu bagaimana bisa dia sampai terluka seperti itu?! Apa temanmu itu berniat melakukan hal yang sama padamu juga?!" tanya Leon yang mulai kehilangan kesabaran.
"J-jangan emosi dulu, Kak ... Sebenarnya ada preman juga yang terlibat, Kak Mayra melawan 4 orang preman untuk melindungiku. Untung saja Kak Mayra berhasil mengalahkan mereka, tapi Kak Mayra juga terluka ...."
"Oh, jadi begitu. Siapa nama teman sialanmu itu?!"
"D-dia ..." Liana kembali tertunduk, dia tak mau mengatakan jika Megan-lah yang berusaha menyakitinya. Karena dia tahu betul seperti apa sifat kakaknya, dia takut jika Leon akan datang ke sekolah untuk memberi pelajaran pada Megan.
"Cepat katakan, Liana! Apa kau mencoba melindungi orang yang mau mencelakaimu?!" bentak Leon yang sekali lagi membuat tubuh Liana gemetar.
"Jangan paksa dia," sahut Chelsea yang seketika membuat pandangan Leon dan Liana mengarah padanya.
"Ck, jangan ikut campur! Aku tahu yang terbaik untuk adikku sendiri!"
"Aku tidak bermaksud ikut campur, tapi aku cuma memberikan sedikit saran. Begini, jika Liana bilang padamu siapa yang menyakitinya. Lantas kau mau apa? Datang ke sekolah dan menghajar orang itu untuk balas dendam?"
"Tentu saja! Dia pantas mendapatkannya!" jawab Leon tanpa ragu.
__ADS_1
"Oh, terserah saja jika kau memang ingin Liana menanggung malu."
"Maksudmu?" Leon menatap bingung.
"Sekolah itu bukan tempat untuk melakukan kekerasan, ini kesalahan pertama. Lalu yang kedua, Liana akan diperlakukan dengan berbeda dan diasingkan oleh teman-temannya. Dia akan dicap sebagai tukang mengadu, si manja, atau bahkan gadis yang tidak bisa apa-apa. Ini cuma masalah di kalangan remaja, kau tidak perlu bertindak jika memang bukan persoalan serius. Percayalah pada adikmu, dia sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Lagi pula, aku sudah memberi sedikit pelajaran padanya. Jika dia menggunakan otaknya, dia tidak akan berani macam-macam lagi pada Liana. Aku benar, kan?" tanya Chelsea sambil melirik ke arah Liana.
"..." Liana diam dan tidak membantah. Hal itu juga membuat Leon tersadar akan sesuatu.
Setelah tertegun untuk sejenak, Leon menghela napas panjang dan berkata. "Baiklah, tapi kau harus bilang pada Kakak jika dia mengganggumu lagi. Pergi ke kamar dan ganti bajumu, biar Kakak saja yang membereskan tempat ini."
"Baik," Liana mengambil tas sekolahnya dan bergegas pergi ke kamar.
Sedangkan Leon, dia langsung merapikan ruang tamu itu sembari menunggu Chelsea memulihkan diri. Setelah ruang tamu kembali bersih, Leon lalu duduk di sofa, bersebelahan dengan Chelsea.
"Terima kasih," ucap Leon dengan lirih dan tanpa memandang muka Chelsea.
"Hah? Barusan kau bilang apa?" tanya Chelsea penasaran, suara Leon terlalu lirih untuk didengar olehnya.
"Aku bilang terima kasih!" ucap Leon dengan lantang.
"O-ohh ... sama-sama, aku juga berterima kasih kau sudah mau merawat lukaku," balas Chelsea dengan nada canggung.
Hening, tidak ada lagi pembicaraan antara kedua orang yang sama-sama kaku itu. Namun, di satu sisi Leon merasa masih ada yang harus dia bahas dengan wanita yang ada di sampingnya.
"Berapa?" tanya Leon tiba-tiba.
"Apa yang kau maksud?" Chelsea kebingungan.
"Maksudku kau mau berapa? Aku akan membayar ganti rugi atas luka di tubuhmu. Sebutkan saja kau mau berapa, pasti akan aku berikan!"
"Aku tak memerlukan uang kompensasi, menolong Liana adalah pilihanku sendiri. Justru aku akan merasa bersalah jika pura-pura tidak tahu. Liana sudah pernah merawatku ketika demam saat itu, aku hanya berusaha membalas budi baik dari Liana."
Leon kembali membisu saat mendengar jawaban dari Chelsea. Sejurus kemudian tiba-tiba dia berkata, "Aku benar-benar berterima kasih, Liana adalah satu-satunya yang paling berharga bagiku. Aku merasa seperti akan selamanya berhutang padamu, jadi katakan apa yang kau mau dariku. Atau katakan saja apa yang bisa aku lalukan untukmu."
"..." Chelsea tertegun, tiba-tiba menatap Leon lekat-lekat. Di satu sisi Leon kaget dan merasa sedikit gugup dengan tatapan itu. "Apa kau sungguh mau melakukan sesuatu untukku?"
"Tentu saja, aku tak mungkin menarik kembali ucapanku!" tegas Leon.
"Baiklah, kalau begitu bantu aku supaya menjadi anggota tetap! Aku mau semua informasi, dan aku juga mau kau melatihku secara pribadi!"
__ADS_1
"A-apa?!"