
Selepas upacara pemberkatan di gereja, mereka pun melanjutkan mengurus surat-surat lainnya yang bersifat hukum. Karena resepsi direncanakan baru akan dilaksanakan esok harinya, hari ini mereka juga mulai membagikan undangan.
Undangan resepsi tersebut hanya dibagikan pada kalangan tertentu saja. Misalnya para konglomerat lain, pemimpin perusahaan, rekan bisnis, teman dekat dan beberapa orang yang mempunyai status sosial.
Mereka yang mendapatkan undangan juga sangat terkejut dengan pernikahan yang tiba-tiba ini. Karena sebelumnya memang tidak ada rumor ataupun skandal yang beredar, mereka sangat antusias untuk datang demi mengetahui apa yang sebenarnya menjadi latar belakang pernikahan ini.
Tanpa terasa hari berganti, hari di mana berlangsungnya acara resepsi pernikahan Daniel dan Natasha pun dimulai. Acara pesta itu diadakan saat malam hari, di kediaman keluarga Kartawijaya.
Sesuai reputasi yang dimiliki keluarga Kartawijaya, keluarga konglomerat yang saat ini menyandang status sosial paling tinggi. Para tamu yang hadir di acara itu juga sangat memperhatikan detail mereka sendiri. Semuanya berpenampilan elegan dan glamor demi menunjukkan prestise mereka masing-masing.
Dekorasi pernikahan bertema klasik dengan warna putih yang mendominasi membuat suasana glamor menjadi semakin berkesan. Hidangan pesta yang mewah, souvenir untuk para tamu, band orkestra sebagai hiburan, semuanya telah disiapkan secara mendetail dan sempurna.
Tuan Muchtar selaku tuan rumah memberikan sambutan langsung kepada seluruh tamu. Namun beliau tidak menjelaskan alasan mengapa diadakannya resepsi yang mendadak ini. Raut wajah penuh tanda tanya bisa terlihat dari seluruh tamu. Bahkan reporter yang hadir dari pihak pers pun juga sudah tidak sabar untuk meliput.
Dengan sebelah tangannya yang masih menggenggam tangan Natasha, Daniel bersiap-siap mengatakan sesuatu yang sudah ditunggu oleh para tamu. Seketika suasana menjadi tenang, semua pandangan mata terfokus pada Daniel.
"Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih banyak atas para tamu sekalian yang telah hadir di acara resepsi pernikahan saya ini."
Sejenak Daniel terdiam, lalu mengambil napas panjang. "Saya paham jika Anda sekalian bertanya-tanya alasan dibalik pernikahan saya yang terbilang cukup mendadak ini. Sebenarnya pernikahan ini tidak mendadak, tapi kami sudah menikah sejak setahun yang lalu!"
"Hah?!"
Seketika para tamu dibuat kaget dan heboh, para reporter juga segera mengabadikan momen pernyataan itu. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa itulah yang akan dikatakan oleh Daniel.
"Mohon tenang! Saya tahu bahwa Anda sekalian terkejut dengan pernyataan yang saya ungkapkan. Tapi hal itu benar adanya. Saya dan Natasha ... kami sudah menikah sejak lama, kami sepakat dan memutuskan untuk merahasiakan pernikahan kami."
"Alasan kami merahasiakan pernikahan ini, tidak lain karena saat itu kakak saya, Keyran Kartawijaya belum menikah. Menurut sebagian orang, merupakan sebuah hal yang tabu jika adik melangkahi kakaknya dalam pernikahan. Karena alasan itulah, karena kami menganggap hal itu juga penting, akhirnya kami memutuskan untuk merahasiakan pernikahan kami."
"Dan hari ini kami mengadakan acara resepsi karena telah siap mengungkapkan hubungan kami ke hadapan publik. Terlebih lagi, kami juga akan mengumumkan bahwa kami sudah memiliki buah hati."
Seketika semua tamu kembali heboh. Lagi-lagi pernyataan yang keluar dari mulut Daniel membuat mereka terkejut.
"Sekali lagi saya mohon para hadirin untuk tenang! Alasan utama kami mengadakan acara resepsi ini karena demi menghindari isu miring terhadap bayi kami ke depannya nanti! Perlu saya tegaskan bahwa bayi kami adalah bayi yang sah!"
"Sekarang karena kami sudah memiliki bayi, dan kakak saya juga sudah menikah, maka alasan inilah yang mendasari pengungkapan hubungan pernikahan kami hari ini di hadapan publik. Sekian dari saya, terima kasih."
Sontak saja para tamu langsung kembali heboh, sayup-sayup terdengar suara-suara mulut yang gemar bergosip. Di antara mereka ada yang langsung percaya dengan pernyataan Daniel, dan ada juga yang berspekulasi sendiri.
Tentu saja perkataan Daniel tersebut bukanlah sembarangan, yang dia katakan semuanya adalah skenario yang telah diatur oleh ayahnya. Meskipun termasuk sebuah pembohongan publik, mau tak mau harus dilakukan demi menjaga reputasi.
Acara pesta kembali dilanjutkan, dan sebagai hiburan tambahan, diadakan juga acara berdansa. Daniel dan Natasha berdansa lebih dulu sebagai pembuka. Lalu Jika ada pasangan lain yang berniat ingin berdansa juga diperbolehkan untuk bergabung. Secara keseluruhan acara resepsi pernikahan itu berjalan dengan lancar.
***
Berjarak 2 hari kemudian sebuah pesta kembali digelar. Pesta kali ini adalah pesta amal sebagai bentuk perayaan kehadiran cucu pertama keluarga Kartawijaya. Bahkan Tuan Muchtar secara khusus mengatur agar beberapa yayasan serta panti asuhan yang menerima sumbangan kali ini lebih banyak dibanding dengan kegiatan amal sebelum-sebelumnya. Berharap agar Samuel mendapatkan keberkahan di dalam hidupnya.
Pesta amal tersebut bertempat di Galaxy Square Hall, sebuah gedung aula megah serba guna yang merupakan aset properti milik keluarga Kartawijaya. Malam ini Daniel dan Natasha menjadi sorotan utama, mereka sibuk menyambut kedatangan para tamu penting. Sedangkan putra mereka, tentu saja Chelsea yang menjaganya.
Di sebuah kamar khusus yang berada di lantai 2, Chelsea tersenyum sambil memangku keponakannya tersayang. Manik mata bulat Samuel menatap Chelsea, dia yang kini berusia 2 minggu sudah mulai memasukkan jarinya ke dalam mulut. Kasih sayang Chelsea yang begitu besar mampu membuat Samuel tetap tenang meskipun di luar begitu berisik karena pesta.
"Haha ... kau lucu sekali. Kau juga dengar, kan? Suara berisik itu karena mereka senang dengan kedatanganmu. Bibi harap semua doa dari mereka akan selalu memberkatimu ...."
"Bibi bahkan sudah membayangkan bagaimana kau besar nanti, kau pasti akan hidup bahagia sebagai pewaris dari kedua keluarga."
Tiba-tiba Chelsea tertegun dan menggeleng kepala secepat mungkin. "Tidak-tidak ... Bibi harap kau akan bahagia dengan memilih apa yang kau sukai. Bibi tidak mau jika kau nantinya dipaksa jadi boneka seperti bibi!"
Chelsea lalu menatap sendu Samuel. "Setelah ini bibi akan kembali ke rutinitas semula, bibi akan jarang bertemu denganmu. Hahh ... rasanya tidak rela."
Dia mencium kening Samuel dengan lembut, lalu berdiri dan meletakkan Samuel di keranjang bayi. "Bibi tinggal sebentar ya, sayang. Bibi sedikit haus, bibi akan kembali secepat mungkin."
__ADS_1
Chelsea meninggalkan Samuel di kamar itu seorang diri untuk mengambil minuman. Begitu dia sampai di lantai bawah, tiba-tiba sesuatu terjadi.
KRIIINNNGGGG ...!!!
Suara alarm peringatan kebakaran berbunyi nyaring dan keras. Semua orang yang sedang berada di gedung itu seketika berteriak karena panik. Berlarian ke sana kemari demi mencari jalan keluar dari gedung aula itu. Mereka semua tak memedulikan apa pun kecuali diri mereka sendiri selamat.
Chelsea pun merasa panik, namun dia masih berdiam diri di tempat dan tak berlari menuju pintu keluar.
"Samuel!" teriaknya yang seketika kembali berlari menuju ke lantai 2.
Tak mudah bagi Chelsea untuk kembali, karena saat melewati lorong dirinya mau tidak mau harus menerobos kobaran api yang menjadi titik awal kebakaran.
"Oekk ... oeek ...."
Samuel menangis keras, tentu saja dia merasa tidak nyaman karena hawa panas dan asap yang mulai menyebar ke ruangan. Chelsea segera menghampirinya dan menggendongnya.
"Tidak apa-apa sayang, bibi tak akan membiarkanmu terluka."
Saat hendak melintasi pintu, tiba-tiba saja Chelsea berhenti. Kedua matanya kini terbuka lebar melihat dengan jelas bagaimana kejamnya dunia yang seakan-akan tergambar dalam kobaran api tersebut.
Bagaimana tidak? Perlakuan tidak wajar dari ayahnya terus menghantui dirinya. Air matanya tiba-tiba menetes, kemudian beralih menatap Samuel lekat-lekat.
Cukup sudah! Aku sudah muak hidup seperti ini! Aku muak menjalani hidup seperti boneka yang terkurung dalam sangkar emas! Aku tak mau Samuel bernasib sama sepertiku, hidup di lingkaran konglomerat yang memuakkan semacam ini!
Persetan dengan reputasi atau apa pun itu! Kalian semuanya hanya manusia egois yang mementingkan diri sendiri, bahkan aku tidak habis pikir jika tidak ada selain aku yang berusaha menyelamatkan Samuel. Aku benci kemunafikan dan keegoisan kalian!
"Sudah aku putuskan, hari ini Chelsea dan Samuel sudah mati!"
Mohon maafkanlah keegoisanku ini, aku janji akan memberikanmu kehidupan bahagia tanpa dikekang oleh apa pun!
Kebencian yang teramat besar terlihat di mata Chelsea. Mendadak dia melepaskan kalung dari lehernya dan membuangnya begitu saja di lantai. Kemudian berbalik dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya agar tak dikenali oleh orang lain.
***
Angin malam yang dingin berhembus kencang, membuat kobaran api semakin membesar. Asap hitam membumbung tinggi ke langit. Kebakaran itu kini semakin memburuk, para petugas pemadam kebakaran pun kewalahan memadamkan api.
"Laporkan ke kantor pusat! Kita butuh tambahan unit secepatnya!!"
Situasi semakin di luar kendali, orang-orang yang baru saja diselamatkan semuanya mengalami luka ringan maupun berat. Ramainya situasi ini menyebabkan para warga sekitar berbondong-bondong datang demi menyaksikan kobaran api yang melahap segalanya itu. Pihak pers pun tak terkecuali, para reporter dari berbagai kantor berita juga meliput kejadian itu.
Orang lain yang sudah berada di luar tak henti-hentinya berteriak, menangis, dan berdoa agar orang terkasih yang terjebak bisa selamat dari kebakaran.
Seperti itulah yang terjadi halnya pada Tuan dan Nyonya keluarga Adinata. Mereka yang kini sudah berada di luar sangat berharap agar putri mereka yaitu Chelsea bisa selamat beserta dengan Samuel.
Daniel pun juga merasa gelisah, dia sangat frustrasi dengan keadaan yang menimpanya saat ini. Putra semata wayang nya saat ini masih terjebak dan tak tahu bagaimana keadaannya. Sedangkan Natasha, dirinya terkena serangan mental yang menyebabkannya pingsan.
Selang beberapa waktu kemudian datanglah beberapa unit mobil kebakaran yang diminta untuk membantu. Saat ini jumlah personel pemadam kebakaran bertambah, namun mereka masih kewalahan untuk memadamkan si jago merah.
Setidaknya butuh waktu sampai kurang lebih 1 jam untuk memadamkan api yang telah membakar segalanya. Gedung aula yang megah itu kini telah berubah menjadi gedung yang dipenuhi oleh warna hitam di segala sisi permukaan temboknya.
Ketika api telah berhasil dipadamkan, para petugas pun kembali melanjutkan mengevakuasi para korban. Di antaranya terdapat korban dengan luka sangat parah segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
"Uuhhh ...." Natasha terbangun dari pingsannya. Begitu bangun dia melihat semua raut wajah orang yang tampak sangat cemas. Dengan tatapan berharap dia menatap ayahnya.
"Ayah, di mana kakak? Apa sekarang dia di bawa ke rumah sakit? Samuel bersamanya dan mereka berdua baik-baik saja, kan?"
Tommy menghela napas. "Chelsea sampai sekarang belum ditemukan, dan Samuel juga ...."
"T-tapi Ayah ... apinya sudah padam, kenapa mereka masih belum ditemukan? Mereka tidak mungkin tidak selamat ...."
Air mata Natasha kembali mengalir membanjir pipi, pikirannya lagi-lagi memikirkan bagaimana nasib putra dan kakaknya jika mereka berdua benar-benar tidak selamat.
__ADS_1
Tiba-tiba dia berjalan mendekati gedung yang habis terbakar itu, namun dia ditahan oleh suaminya.
"Kau mau ke mana?!" tanya Daniel.
"Aku mau mencari Sammy dan kakak! Aku yakin mereka berdua selamat dan berlindung di suatu tempat!"
"Kau jangan gila! Gedung itu sekarang masih belum aman!"
"Lantas kenapa?! Kedua orang itu sangat penting bagiku! Kau jangan mencegahku! Apa kau tidak peduli pada anakmu sendiri?!"
"Aku peduli dan aku juga khawatir! Samuel juga anakku, aku juga ingin agar dia selamat! Dan kau jangan membuat semuanya jadi tambah runyam! Kau tenangkan dirimu dulu dan jangan melakukan tindakan bodoh!"
"Ukhh ... a-aku tak tahu harus bagaimana lagi ...."
Natasha mencoba untuk menenangkan diri, orang lain pun turut mencoba menghiburnya agar dia tidak patah semangat. Tentu saja hal ini menjadi pukulan besar bagi semua orang, sebuah pesta yang digelar untuk penyambutan bayi, namun sekarang bayi tersebut masih belum diketahui keadaannya.
Proses evakuasi korban cukup memakan waktu, namun tidak selama seperti proses pemadaman api tadi. Saat ini jumlah personel petugas pemadam kebakaran terlihat semakin berkurang.
Tiba-tiba saja beberapa orang polisi dan pemadam kebakaran terlihat mendekati Tuan Muchtar. "Selamat malam, Tuan. Saya ingin menyampaikan hasil evakuasi terkini kepada Anda."
"Baik, jadi bagaimana hasilnya?" tanya Tuan Muchtar dengan tatapan berharap.
"Bagaimana dengan bayiku?! Kakakku juga! Mereka berdua selamat, kan?!" sahut Natasha.
"Kami menerima laporan dari kalian jika bayi berusia kurang lebih 2 minggu atas nama Samuel, dan gadis berusia 23 tahun atas nama Chelsea terjebak di dalam gedung saat kebakaran. Setelah kami melakukan proses evakuasi, kami menyatakan bahwa kedua orang itu telah tewas."
Semua orang yang mendengar hal itu langsung terkejut, air mata kesedihan langsung mengalir begitu derasnya. Terlebih lagi Natasha, dia sangat syok dengan perkataan polisi barusan. Dia merasa tidak terima lalu menarik kerah baju polisi itu.
"Kau bohong!! Bayiku tidak mungkin mati! Kakakku bersamanya! Aku sangat mengenal kakakku dan dia adalah orang yang bisa diandalkan! Aku yakin mereka berdua selamat!"
Polisi itu lalu menyingkirkan tangan Natasha dari dirinya. "Maafkan kami Nona. Kesimpulan sementara kami saat ini adalah itu. Tapi memang ada kemungkinan kecil jika mereka berdua selamat, karena kami tidak bisa menemukan jasad mereka."
"Lalu kenapa kau menyimpulkan bahwa mereka berdua tewas?! Kau bisa bilang kalau mereka hilang!" bantah Natasha lagi.
"Dengarkan penjelasan kami terlebih dulu! Kalian melaporkan bahwa sebelum kebakaran terjadi, mereka berdua berada di lantai 2 di salah satu kamar yang di dalamnya terdapat keranjang bayi."
"Iya, itu benar," jawab Daniel.
Salah satu pemadam kebakaran memperlihatkan sebuah benda, itu adalah sebuah kantong plastik yang berisi sebuah benda yang tampak indah. Benda berkilau itu adalah sebuah batu berlian.
"I-itu ... adalah kalung berlian milik putriku, aku memberikan padanya ketika dia berulang tahun," ucap Willa dengan gemetar.
"Kami menemukan ini di lantai dekat dengan pintu kamar tersebut. Di kamar tersebut kami tidak menemukan apa-apa selain benda ini. Bahkan sebuah jasad saja tidak ditemukan."
"M-maksudmu ... kakakku dan bayiku terbakar sampai jadi abu?!" tanya Natasha seakan tidak percaya.
"Itu mungkin saja, itulah alasan mengapa kami menyimpulkan bahwa kedua korban telah tewas," sahut salah seorang polisi.
"Tapi menurutku itu kurang logis!" bantah Daniel. "Proses kremasi jenazah saja perlu waktu berjam-jam. Apa mungkin Chelsea bisa terbakar jadi abu hanya dalam waktu satu jam?"
"Saya juga paham akan hal itu, tapi kemungkinannya tetap saja sama bahwa dia telah tewas. Dan terlebih lagi ada beberapa korban yang sulit dikenali, setelah tim forensik melakukan proses identifikasi mungkin saja hasilnya salah satu di antara mereka adalah nona Chelsea."
"Lalu bagaimana dengan anakku?!" tanya Natasha yang mentalnya semakin terguncang.
"Dilihat dari kondisinya dan usia bayi yang baru 2 minggu, kemungkinan besar sudah jadi abu sehingga jasadnya tidak mungkin ditemukan. Bayi di usia seperti itu belum memiliki tulang yang keras, ini berbeda dengan orang dewasa. Kemungkinan lain, bayi berada di ranjang saat kebakaran dan kini ranjang tersebut hanya tinggal per besinya saja. Bayinya mungkin sudah ikut terbakar jadi abu bersama busa dari kasur."
Tubuh Natasha sepenuhnya gemetar, dia menangis dan mendekap erat ke pelukan Daniel.
"Hik ... hik ... ini tidak mungkin! Aku mohon lakukan sesuatu, Daniel! Aku tidak mau berpisah dengan bayiku secepat ini!"
Daniel mengusap air matanya sendiri lalu menepuk-nepuk punggung Natasha. "Aku juga tidak rela anak kita pergi seperti ini .... Tapi aku janji, aku akan memberikan keadilan baginya. Jika ini perbuatan seseorang maka aku berjanji akan mengusutnya sampai tuntas!"
__ADS_1