
Malam hari di jalanan yang sepi. Chelsea mengendarai mobil hadiah atas perekrutannya. Dia masih harus melakukan tugasnya sebagai penjaga di DG CLUB, saat ini dia sudah dekat dengan tempat tujuan. Namun, tiba-tiba saja dia memberhentikan mobilnya karena ada sebuah batang pohon besar menghalangi jalannya.
"Ck, ada-ada saja yang menghalangiku!" Chelsea langsung turun dari mobil dan memeriksa dahan pohon yang ambruk itu.
Tak heran lagi ada masalah seperti ini karena memang sekarang musimnya hujan dan terkadang disertai angin yang kencang. Yang membuat Chelsea heran adalah mengapa harus menghalangi jalan yang mau dia lalui. Ingin berputar balik dan lewat jalan lain pun juga percuma, jaraknya akan jadi lebih jauh dan bisa-bisa dia terlambat bekerja.
Sejenak Chelsea memperhatikan dahan pohon itu. Setelahnya dia memutuskan untuk menariknya sendiri ke tepi jalan.
"Uuhhh!" Chelsea menarik sekuat tenaga, namun dia tak kuasa karena ternyata dahan itu jauh lebih berat dari kelihatannya.
"Sial, sekali lagi!" Chelsea menarik napas dalam-dalam, sekali lagi dia mencoba menarik dahan itu sekuat tenaga. Namun sayang, dahan itu hanya bergeser sedikit. Belum cukup untuk kendaraan roda empat jika mau lewat.
"Hahh ... haahh ...." Napas Chelsea tersengal-sengal. Dia mulai berpikir jika sebaiknya dia menyerah dan berputar arah.
CKITTT ....
Tiba-tiba saja ada sebuah mobil mewah yang berhenti di belakang mobil Chelsea. Lalu seorang pria turun dari mobil itu, Chelsea melongo saat mengetahui jika pria itu bukanlah pria asing. Dia adalah atasannya sendiri, Kepala Divisi 2, yaitu Dika.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Dika langsung memegang dahan pohon itu, menariknya sendirian dan menyingkirkannya ke tepi jalan. Kini jalan itu sudah bisa untuk dilewati.
"Terima kasih, Kepala Divisi," ucap Chelsea dengan nada canggung. Sambil menunduk, diam-diam dia juga mengepalkan tangannya seerat mungkin. Dia teringat akan dendamnya, teringat jika dalang di balik kematian William adalah ketua organisasi dan para antek-antek seperti Family yang ada di hadapannya ini.
Kini, di depannya ada salah seorang Family. Chelsea tetap tidak bisa mengabaikan Dika dan mencurigainya, tetapi dia juga merasa sedikit ragu apakah Dika terlibat atau tidak. Lantaran ketika menguping saat itu, Chelsea yakin betul jika tak mendengar suaranya Dika.
"Mungkin aku sudah terlalu memandang tinggi dirimu," ucap Dika dengan tatapan remeh. Dia meremehkan Chelsea karena tidak bisa menyingkirkan dahan pohon itu sendiri.
"Maafkan saya, saya akan berlatih lebih giat lagi agar bertambah kuat!"
Ya, aku pasti akan melakukannya! Aku akan terus berlatih dan menjadi kuat sampai aku mampu untuk membunuhmu! Persetan dengan kau terlibat atau tidak, yang jelas orang sepertimu juga pantas mati!
"Saya permisi, saya tidak mau terlambat menjalankan tugas! Mohon pengertian Kepala Divisi!"
Chelsea langsung kembali masuk ke mobilnya. Dia tak tahan lagi jika harus berhadapan dengan Dika, dia ingin sekali cepat-cepat pergi dari sana. Sialnya, saat mencoba menstater mobil, tiba-tiba saja mobil itu tidak bisa menyala. Chelsea mencoba memutar kunci berkali-kali, namun hasilnya tetap saja nihil.
"Ckck, bensinmu habis!" ucap Dika yang tiba-tiba mengintip dari luar kaca mobil.
"Eh?!" Seketika Chelsea menunduk, memeriksa dan ternyata benar jika lampu indikator menunjukkan jika bahan bakarnya telah habis.
Sial, kenapa mesti di saat-saat seperti ini? Baru 2 hari aku pakai mobil ini, seperti aku belum terbiasa. Dulu, biasanya sekretarisku yang selalu isi bahan bakar. Ck, bisa-bisanya aku ceroboh begini. Mungkin aku harus jalan kaki untuk ke club.
"Kau butuh tumpangan?" tanya Dika dengan tampang datar.
"Eh?! T-tidak perlu! Saya tidak mau merepotkan Kepala Divisi!" tolak Chelsea dengan spontan.
"Apa kau mau jalan kaki? Bahkan jika kau berlari pun juga akan terlambat."
"Ehmm ... saya ...." gumam Chelsea sambil menggigit bibirnya sendiri. Dia amat bingung harus memberikan jawaban seperti apa.
Bagaimana ini? Jika aku menolak, aku pasti akan terlambat. Dan aku pasti nantinya akan dicibir oleh anggota yang lain. Ini baru hari ke-2, jadi aku tidak boleh membuat masalah. Tapi jika aku menerima bantuannya, orang-orang pasti akan berpikir jika rumor soal aku adalah wanita Kepala Divisi itu benar. Dan bagaimana jika nanti Leon lihat dan dia salah paham.
__ADS_1
Tunggu, tunggu sebentar! Kenapa aku harus memikirkan tanggapan Leon?
"Kau mau atau tidak? Waktuku tidak banyak!" bentak Dika dengan tidak sabar.
"Ah, saya ... emmm ... Jika saya ikut menumpang, bagaimana dengan mobil saya?"
"Aku akan suruh orang untuk mengurusnya! Jika kau mau ikut maka cepatlah turun!"
"O-oke," jawab Chelsea yang segera turun dari mobil. "Maaf merepotkan Kepala Divisi lagi."
"...." Dika membisu.
Chelsea akhirnya mau untuk menumpang meskipun sebenarnya dia merasa enggan. Suasana yang tercipta di sepanjang perjalanan pun juga sangat canggung. Dan diam-diam Chelsea juga menyimpan rasa waswas.
"Ehmm ... Jika boleh tahu, mengapa Kepala Divisi mau menolong saya? Saya ini kan anggota baru, rasanya belum pantas jika mendapatkan perhatian seperti ini dari Anda."
Dika menyeringai. Tanpa memandang wajah Chelsea, dia pun berkata, "Jangan salah paham. Aku melakukan ini bukan karena perhatian padamu. Tapi aku tidak mau kau sampai terlambat! Aku tidak ingin anggota Divisi 2 dicap sebagai orang payah, itu akan mencoreng nama baikku sendiri!"
"Ah, begitu yaa ...."
Hening, tak ada lagi percakapan di antara mereka. Entah kenapa Chelsea merasa waktu berjalan lambat, dia ingin segera tiba untuk keluar dari situasi tidak mengenakkan seperti sekarang ini.
"Pekerjaanmu kemarin bagaimana?" tanya Dika yang seketika menyadarkan Chelsea dari lamunan.
"Eh?! B-baik, saya melakukan pekerjaan dengan profesional! Pak Kepala Divisi tenang saja, saya tidak akan membuat Anda malu!"
"Baguslah. Lalu ... apa ada sesuatu yang mengganjal bagimu?" tanya Dika lagi.
"Emm ... jika boleh tahu, sebenarnya apa yang dilakukan oleh para VIP di dalam private room?"
"Hahaha, ternyata soal itu! Sebenarnya ini termasuk rahasia, tapi karena kau sudah resmi bergabung, maka aku akan memberitahumu! Apa kau bisa menebak yang dilakukan para VIP itu mengingatkan jika night club itu berhubungan dengan gangster?"
"Emm ... jika disuruh menebak, tebakan saya hal itu pasti berkaitan dengan perbuatan tercela. Apakah prostitusi?" tanya Chelsea yang kemudian hanya dibalas dengan seringai oleh Dika.
"Jadi benar! Pantas saja kemarin saya mendengar suara aneh!"
"Hehe, apa kau terkejut?"
"Sejujurnya tidak terlalu terkejut, hal seperti ini sudah jadi rahasia umum. Bahkan di luar negeri pun ada juga yang seperti ini, saya tahu jika ketahuan oleh pihak berwajib maka izin usaha bisa dicabut. Tapi, semua hal ini tentu saja bisa ditutupi dengan uang."
Dika tersenyum tipis. "Ohh ... baguslah jika kau mengerti, terlalu polos itu juga tidak baik."
"Yaa ... terlalu polos tidak baik jika mau bertahan hidup. Hanya saja, saya bersyukur saat itu saya hanya diperkerjakan sebagai bartender dan tidak melayani tamu sama sekali. Untung saja saya tidak dipaksa ataupun dijebak untuk menjadi wanita penghibur."
"Ya! Itulah mengapa banyak VIP yang berasal dari kalangan para pesohor yang mementingkan reputasi mereka! Keamanan Club sangat menjamin rahasia mereka, karena itu mereka sangat betah untuk terus berlangganan jadi VIP! Dan asal kau tahu, ada satu lagi yang paling mereka sukai melebihi wanita! Itu adalah narkotika!"
"Apa?!" Chelsea terkesiap. "Apakah hal seperti itu juga ada?! T-tapi ... saya melihat di media massa, tertulis jika DG CLUB itu selalu lulus pengawasan polisi! Bahkan ada berita soal pria yang mengaku jika dia seorang detektif, diam-diam menyamar dan melalukan penyelidikan, tetapi hasilnya juga nihil! Dan jika memang benar menyediakan narkotika, mengapa saat itu saya tidak melihat kelakuan aneh para VIP? Seorang pecandu pasti setidaknya punya ciri-ciri fisik yang berbeda!"
"Heh, kau mungkin belum tahu karena kau tidak ditugaskan untuk menjaga ruangan yang digunakan untuk para pecandu itu. Tapi akan aku jelaskan dengan rinci agar kau paham!"
"DG CLUB menyediakan private room untuk para pecandu itu. Ada 2 tim khusus rahasia yang ditugaskan untuk melayani mereka. Tim pertama, terdiri dari para dokter profesional yang secara khusus memberikan dosis narkotika untuk mereka. Jangan heran kenapa dokter pun mau bekerja sama dengan gangster, asalkan uang sudah bicara, tentu saja mereka tidak bisa membantahnya."
__ADS_1
"Sementara tim kedua, tim ini juga tidak kalah penting. Tim itu terdiri dari beberapa orang yang bertugas sebagai petugas pembakaran. Mereka membereskan semua barang-barang yang ada di private room dan kemudian menggantikannya dengan yang baru. Jadi dengan begitu, tidak ada jejak yang tertinggal!"
"Orang yang tertarik dengan hal gila semacam ini tentu bukan sembarang orang, kebanyakan dari mereka adalah para anak-anak konglomerat dan artis yang sudah bingung mau diapakan uang mereka. Awalnya mungkin mereka hanya sebatas penasaran, tapi para dokter itu memberikan dosis yang tepat agar mereka menjadi kecanduan!"
"Naif jika kau melihat dan percaya pada para artis yang mengeluh soal betapa sibuknya pekerjaan mereka. Bahkan mereka menyayat tangan mereka sendiri seolah-olah mereka depresi akibat pekerjaan. Trik itu mungkin bisa membodohi orang awam. Memang benar jika mereka depresi dan gelisah. Tapi hal itu disebabkan karena tidak ada alternatif lain. Obat-obatan sudah mengalir di darah mereka, jadi mereka akan menyayat tangan untuk mengisap darah mereka sendiri! Jika satu tempat sudah tidak memuaskan, maka mereka akan menyayat bagian yang lain!"
"...." Chelsea hanya melongo saat mendengar rahasia gelap DG CLUB yang disebutkan oleh Dika. Dia tidak habis pikir jika night club yang terlihat biasa-biasa saja dari luar, ternyata di dalamnya menyimpan rahasia seperti ini.
"Apakah ketua yang mengatur semua itu?" tanya Chelsea penasaran.
"Ya, tentu saja! Dia sangat brilian! Apa kau penasaran dengan ketua?"
"Iya! Bisakah Anda menceritakan tentangnya?!" tanya Chelsea penuh semangat. Dia tak mau melewatkan kesempatan untuk mengorek informasi tentang musuh utamanya.
"Hmm ... Kita sudah sampai, lain kali saja aku cerita!" ucap Dika dengan tawa kecil.
"Eh?!" Seketika Chelsea menoleh ke luar jendela, dan benar saja saat ini dirinya sudah sampai di depan DG CLUB. Dia kecewa lantaran tidak bisa mendengar lebih jauh soal dalang dari pembunuhan kakaknya.
"Kenapa tidak segera turun? Apa kau mau ikut aku?" tanya Dika dengan seringai.
"T-tidak! Terima kasih atas tumpangannya!" Setelah mengatakan hal ini, Chelsea segera turun dari mobil.
"Tidak masalah, lagi pula kita memang satu arah," jawab Dika dari balik jendela kaca. Dan tepat sesaat sebelum dia menaikkan kaca mobil, tiba-tiba dia kembali berkata, "Oh iya, tadi kau penasaran dengan ketua. Asal kau tahu, dia itu adalah cinta pertamaku."
"Eh?!" Chelsea terperangah.
Dan tanpa basa-basi lagi Dika langsung menginjak gas dan melaju sekencang mungkin, hingga rambut Chelsea yang terurai juga ikut berkibar tertiup angin.
"Cinta pertama ... jadi, Kepala Divisi itu homo!" gumam Chelsea yang masih sulit mempercayai apa yang barusan dia dengar. Dia masih menganggap jika ketua adalah seorang pria yang licik dan kejam.
Chelsea menggelengkan kepala, bermaksud membuang pikiran anehnya. Saat dia berbalik ingin masuk ke dalam club, tidak disangka dia melihat Leon yang berdiri di depan pintu masuk.
"...." Leon diam seribu bahasa, dia yang biasanya selalu menyapa Chelsea, kini langsung berbalik dan bergegas masuk ke dalam seorang diri.
"T-tunggu!" Tanpa alasan yang jelas, Chelsea tak dapat mengendalikan diri untuk segera berlari mengejar Leon. Namun, meskipun dia seperti itu, Leon tetap berjalan tanpa menggubris dirinya.
"Leon! Tunggu aku!" teriak Chelsea yang tanpa sadar meraih dan mencengkeram tangan Leon. Seketika Leon berhenti melangkah dan berbalik badan ke arahnya.
"Ck, lepaskan!" bentak Leon seraya menepis tangan Chelsea. "Kau mengejarku ada maksud apa?"
Chelsea termenung. Sejenak dia merasa jika Leon yang sedang menatapnya tajam kali ini terkesan berbeda dari biasanya, rasanya seperti berhadapan dengan Leon yang seperti orang asing. "A-aku mau kau menungguku, kita berasal dari Divisi yang sama. Jadi kita masuk bersama saja, aku masih belum terbiasa jika hanya ada orang-orang dari Divisi 4."
"Kenapa harus bersama? Apa kau takut anggota Divisi 4 akan menindasmu?"
"Bukankah kita ini rekan? Apakah salah jika aku mau kita bersama-sama saat menerima pembagian tugas?"
"Heh, rekan katamu? Menurutku kau tidak butuh rekan seorang pun! Kak Dika ada dipihakmu, dan kau wanitanya, jadi tidak ada rekan yang cukup pantas untukmu! Kau cukup mengandalkan namanya maka kau akan aman!" ucap Leon dengan nada ketus.
"A-apa?! Kau salah paham Leon! Aku tidak punya hubungan seperti yang kau kira dengannya! Kepala Divisi itu homo!"
"Hah?!" Leon ternganga.
__ADS_1