Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Rencana Tuan Besar


__ADS_3


"Hemm ...." Nisa menggoyangkan kaki, bersenandung sambil membaca sebuah majalah. Dia tampak begitu terhanyut dalam suasana membaca, duduk di sebuah bangku yang berada di dekat tepi kolam renang.


"Bunda! Ayo sini! Kita main sama-sama!" teriak Keisha yang kini sedang berada di dalam kolam renang, dia juga mencipratkan air ke arah bunda nya.


"Bunda tidak bisa berenang sayang ... Keisha main sama ayah dan Luciel saja, ya!" bujuk Nisa tanpa mengalihkan pandangan dari tulisan yang tertera di halaman majalah.


"Hump!" Keisha menggembungkan pipi, dia kesal lantaran sang bunda tidak mau bermain bersamanya. Anak itu kemudian berenang mendekati ayahnya yang sedang asyik bermain lempar tangkap bola dengan Luciel.


Sudah lumayan lama Luciel menetap di rumah ini. Akhirnya hati anak kecil itu luluh, dia sudah mau menerima kehadiran sosok ayah di dalam hidupnya. Dan kini dia tidak lagi canggung saat berhadapan dengan Keyran.


"Ayah!" panggil Keisha.


"Ya? Apa Keisha mau ikut bermain?" tanya Keyran.


Keisha menggeleng, lalu memberikan isyarat agar Keyran mendekat padanya. Keisha membisikkan sesuatu di telinga ayahnya, sedangkan Keyran, dia hanya tersenyum dan mengangguk setuju mendengar setiap omongan putranya.


"Baiklah, pasti akan Ayah lakukan! Keisha tunggu di sini dan agak ke pinggir sedikit!" ucap Keyran dengan antusias.


"Oke!"


"Ada apa Keisha?" tanya Luciel penasaran.


"Ssttt ... Luciel lihat saja!" Keisha tersenyum nakal sembari menarik Luciel untuk berpindah sedikit ke pinggir.


Di satu sisi ada Keyran yang sudah keluar dari kolam renang. Kemudian berjalan ke tepi kolam, menghampiri istrinya yang masih sibuk membaca majalah.


"Darling!"


"Hm?" balas Nisa tanpa memandang ke arah suaminya.


"Lihat ke arahku!" Keyran yang merasa tidak sabar seketika merebut majalah yang dipegang istrinya.


"Ck, sebenarnya kau ini mau ap-" Tiba-tiba saja Nisa terdiam saat menoleh. Dia sedikit terkejut karena langsung dihadapkan dengan otot perut yang terlihat keras dan menggoda milik suaminya. Terlebih lagi dengan hanya memakai celana renang yang ketat, mata Nisa mulai melihat ke mana-mana.


"Lihat ke arah mana kau?!" bentak Keyran yang langsung menyadarkan istrinya dari lamunan.


"Bukankah kau memanggilku karena mau memamerkan ototmu?" tanya Nisa dengan senyuman tanpa dosa.


"Bukan! Tapi lihatlah ke wajahku! Aku mau bicara serius!" ucap Keyran penuh penekanan, sambil berdiri dan berkacak pinggang, serta dengan tatapan mendominasi.


Ekspresi Nisa langsung berubah malas. "Ck, baiklah. Kau mau bicara apa?"


"Aku mau mengkritikmu. Kau selalu bilang jika menghabiskan waktu bersama anak-anak itu penting. Kau juga selalu menyindirku kalau aku orang yang super sibuk dan suka mengabaikan anak-anak. Sekarang lihatlah aku, bahkan hari ini aku kerja setengah hari demi bermain bersama anak-anak. Tapi lihatlah dirimu sekarang, kau justru cuma duduk dan tak mau basah demi anakmu!"


"Siapa bilang jika aku tidak mau basah? Justru aku memikirkan masa depan anak-anak. Aku membaca dari tadi karena sedang melakukan riset. Aku mau cari tempat bimbel yang bagus untuk Keisha dan Luciel. Kalau tidak percaya, silakan cek saja majalah itu."


"Sungguh?!" Keyran kelabakan dan segera memeriksa majalah itu. Dan benar saja ternyata majalah itu adalah majalah pendidikan.


"Heh, kau pikir aku bercanda? Tentu saja tidak! Aku ini jelas-jelas ibu yang baik, aku jamin kau tidak akan pernah menyesal telah menikah denganku!" ucap Nisa dengan percaya diri begitu melihat suaminya kini hanya terdiam. Tak lagi membalas ataupun berdebat dengannya.


Hehe, mencari bimbel hanya salah satu rencanaku. Saat pagi anak-anak sibuk sekolah, lalu sorenya bimbel. Waktuku untuk mengawasi mereka juga jadi berkurang, dengan begitu aku bisa punya waktu untuk mengurusi masalah para anak buahku. Si Kembar masih bayi, jadi tidak perlu terlalu dipusingkan karena mereka lebih banyak tidur.


Dengan alasan untuk pendidikan anak-anak, suamiku ini pasti akan setuju. Hehehe, aku tidak sabar ingin segera bebas dari aturannya yang mengekang dan membatasi semua aktivitasku ini!


"Humph!" Keyran mendengus kesal. Dia melempar majalah itu dan membuangnya begitu saja. Dan tiba-tiba saja malah membopong istrinya.


"Hei, kau mau apa?!" tanya Nisa dengan tampang panik.

__ADS_1


"Memikirkan anak memang penting! Tapi sekarang waktunya bermain!" Keyran menyeringai dan tersenyum bak iblis, lalu mengambil ancang-ancang seperti bersiap ingin berlari dan menceburkan diri ke kolam.


"Hei, hei, hei! Jangan ....!!"


BYUURRR!!


"Uhuk! Uhuk!" Nisa gelagapan, dia sangat merasa tidak nyaman lantaran hidungnya juga kemasukan oleh air. Dia juga merangkul suaminya erat-erat karena memang tidak bisa berenang.


"Hahaha, anak-anak, sekarang bunda sudah mau bermain!" Keyran terkekeh melihat istrinya yang kini sudah basah kuyup.


"Yeyyy!" Keisha pun dengan polosnya terlihat gembira, dia mendekati orang tuanya lalu menciprat-cipratkan air ke arah Nisa.


Di satu sisi Luciel yang melihat keseruan itu pun juga berinisiatif untuk bergabung. Dia membantu Keisha untuk mencipratkan air kepada Nisa.


"Horee! Mami angkat sudah basah!" teriak Luciel dengan tawa berseri.


"Awas ya kalian! Tidak adil karena mainnya keroyokan!" Nisa pun membalas mencipratkan air ke arah dua bocah itu, namun hanya dengan sebelah tangan, karena tangan yang satunya lagi dia gunakan untuk berpegang erat pada Keyran.


"Ukhh! N-Nisa ... kau mencekikku .... pegangan di tempat lain!" ucap Keyran sambil meronta.


"Ahaha, maaf ... aku tidak bermaksud begitu," jawab Nisa dengan senyum palsu yang langsung berganti merangkul bahu Keyran. Dia sengaja melakukan itu lantaran masih sedikit tidak terima karena diceburkan ke kolam.


"Kau ini sembarangan! Apa kau tidak malu? Anak-anak sekecil Keisha dan Luciel saja bisa berenang! Apa perlu aku ambilkan pelampung bebek karet!"


"Humph! Kau pikir berenang itu mudah?! Jangankan mengambil napas dari dalam air, mengambang saja aku tidak bisa!"


"Mungkin saja berat badanmu yang bertambah," ucap Keyran asal.


"Kauuu! Jatahmu selama seminggu kosong!" bentak Nisa yang tidak terima, dia memang sangat sensitif jika membicarakan yang berhubungan dengan berat badan.


"Hei, jangan begitu! Kau tetap cantik kok! Tubuhmu ramping, langsing dan sexy!"


"Kakek!" teriak Keisha penuh antusias.


Pasangan suami istri itu hanya membisu saat melihat kedatangan Muchtar Kartawijaya yang tiba-tiba. Tuan Muchtar berdiri di tepi kolam renang, ditemani oleh seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan di villa ini, dia adalah Bibi Rinn.


"Maaf karena tidak memberitahu Tuan Muda lebih dulu. Tuan Besar sendiri yang ingin kemari, beliau tidak suka menunggu di ruang tamu," ucap Bibi Rinn bermaksud memberi penjelasan pada Keyran.


Sedangkan di satu sisi, Tuan Muchtar terus menatap putra dan menantunya. Sulit mempercayai kelakuan dua orang dewasa yang kekanakan itu. "Haiss ... kalian berdua ini bisa-bisanya bicara seperti itu di depan anak-anak. Bahkan sampai tidak sadar dengan kedatanganku. Rupanya begitu seru membicarakan hal yang tidak senonoh. Bagaimana jika Keisha memahaminya?"


"...." Keyran dan Nisa hanya diam. Tetapi, diam-diam mereka juga saling menyalahkan. Tangan mereka yang ada di dalam air saling mencubit satu sama lain.


"Keisha, apa Keisha mengerti apa yang sedang Ayah dan Bunda dibicarakan?" tanya Tuan Muchtar pada cucu kesayangannya.


Keisha menggeleng. "Tidak tahu! Tapi ... ayo Kakek masuk ke sini! Kita berenang dan main air sama-sama! Ayo main sama Keisha! Keisha punya pistol air yang baru!"


"Pffttt ...." Keyran dan Nisa kompak menahan tawa bersama. Dan tentu saja hal itu membuat Tuan Muchtar merasa kikuk.


"Ehmm ... Kakek tidak bisa. Kakek merasa kurang enak badan, jadi karena itu tidak bisa menemani Keisha bermain."


"Kakek sakit?" tanya Keisha lagi dengan tatapan polosnya.


"Iya, sedikit. Uhuk, uhuk!" ucap pria tua itu dengan akting pura-pura batuk.


"Sudahlah Keisha, mari naik! Sudah cukup berenangnya!" pinta Keyran.


"Tapi Ayah ... Keisha belum puas, baru sebentar Keisha bermain sama bunda!"


"Keisha jangan rewel ya, sekarang coba angkat kedua tangan Keisha dan Luciel! Lalu lihat telapak tangan kalian!"

__ADS_1


Kedua bocah itu pun melakukan apa yang persis Keyran minta padanya.


"Sudah keriput, kan?" tanya Keyran yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh keduanya. "Nah, itu tandanya tubuh kalian sudah cukup lama terkena air! Berenangnya dilanjut lain kali, oke?"


"Baik," jawab Keisha dan Luciel dengan patuh. Merek langsung berenang ke pinggir dan naik ke tepi.


Sedangkan Nisa, karena dia tidak bisa berenang maka dia masih memerlukan bantuan dari Keyran untuk naik ke tepian kolam.


"Tolong Bibi bantu mereka ganti baju, ya!" pinta Nisa pada Bibi Rinn.


"Baik Nyonya," jawabnya sambil membungkuk sedikit.


Selang beberapa waktu kemudian mereka semua telah berganti baju dan menyambut kedatangan Tuan Muchtar yang mendadak ini di ruang tamu. Keisha tampak gembira sekali dengan kunjungan kakeknya, bahkan dia terus menempel dan duduk di sebelahnya.


Berbeda halnya dengan Luciel, saat ini dia masih merasa canggung dengan Tuan Muchtar. Dulu pria tua di depannya ini bukanlah siapa-siapa, tapi sekarang statusnya sudah berubah menjadi cucu angkatnya.


"H-halo, Kakek angkat ..." sapa Luciel malu-malu.


"..." Tuan Muchtar membisu, semakin lama dia memperhatikan wajah Luciel, dia semakin merasa jika Luciel begitu mirip dengan putranya, yaitu Daniel. Pria tua itu menghela napas, mengusap kepala Luciel dengan lembut seraya berkata, "Panggil aku Kakek saja, ya?"


"Kakek!" ucap Luciel sekali lagi dengan tatapan berbinar. Pikirnya, dia bahagia karena bertambah lagi satu orang yang menyayanginya.


"Haha, anak pintar! Sini, duduk di sebelah Kakek!"


Luciel tersenyum semringah, dia langsung duduk di sebelah Tuan Muchtar. Di sebelah kanan ada Keisha, lalu di sebelah kiri ada Luciel. Tuan Muchtar merasa senang lantaran mendapatkan seorang cucu lagi.


"Apa maksud kedatangan Ayah yang tiba-tiba ke sini?" tanya Keyran.


"Begini, aku mau membicarakan masalah serius. Acara tahunan peringatan hari jadi perusahaan akan dilangsungkan sebentar lagi. Dan ada beberapa hal yang belum selesai, salah satunya adalah dresscode yang khusus untuk keluarga kita pakai. Dan terlebih lagi, di keluarga kita kedatangan lagi 1 orang."


"Apakah itu aku?!" tanya Luciel.


"Iya, Kakek berencana menyatakan ke orang-orang jika Luciel adalah cucu baru Kakek. Dan nanti si kembar juga akan dikenalkan sekalian! Luciel mau kan berfoto bersama?"


"Mau, Luciel sangat mau!"


"Haha, baguslah!" Tuan Muchtar kembali mengusap kepala Luciel dengan lembut. Kemudian dia beralih menatap ke arah Keyran. "Besok berangkatlah ke kantor agak siang. Ayah sudah membuat janji dengan fashion designer untuk datang ke sini besok pagi."


"Baiklah Ayah," jawab Keyran.


Di sisi lain, Nisa sama sekali tidak memberikan pendapat. Entah kenapa dia tak terlalu antusias dalam menyambut acara tahunan. Dan hal ini disadari oleh Tuan Muchtar.


"Ada apa Nisa? Apa kau ada sesuatu yang mau kau sampaikan?"


"Ayah mertua sudah tahu sendiri. Aku masih khawatir jika di acara ini Natasha membuat ulah lagi. Dulu saat aku yang Ayah mertua percaya untuk bertanggung jawab dan mengurus acara, Natasha menjebakku sampai aku dan Keyran nyaris berpisah. Dan tahun ini acaranya dipercayakan pada Natasha, aku hanya ingin bilang ... Jika nantinya ada masalah, maka itu sama sekali bukan perbuatanku yang ingin membalas Natasha!" jawab Nisa penuh penekanan.


"Hahh ...." Tuan Muchtar menghela napas. "Apakah kalian berdua memang sulit untuk berbaikan? Natasha itu sebenarnya juga kasihan, sejak kebakaran 6 tahun lalu, sampai sekarang dia belum punya momongan lagi. Dan terlebih lagi ... keluarga Adinata saat ini juga mengalami kemunduran. Aku kadang kasihan saat melihat dia diperalat oleh si Tommy itu untuk terus memeras Daniel."


"Ya itulah mengapa Natasha jadi sangat membenciku. Sampai sekarang dia masih mencurigaiku sebagai pelaku dan dalang di balik kebakaran 6 tahun lalu. Kakak dan anaknya tewas bersamaan, dia masih waras saja menurutku itu sudah luar biasa. Tapi tak masalah, meskipun hubunganku dengan Natasha buruk, dan hubungan Keyran dengan Daniel tak pernah baik. Tapi di acara itu nanti kami akan bersikap baik dan tidak egois. Citra ayah mertua penting bagi kami."


"Baguslah jika kau mau mengalah, setidaknya aku masih memberikan si Tommy itu muka jika memperlakukan putrinya dengan baik."


Terlebih lagi, aku punya satu rencana tersembunyi. Nisa bilang jika dia mengadopsi Luciel karena Luciel adalah imigran ilegal. Aku selalu merasa janggal dengan wajah Luciel yang entah mengapa begitu mirip dengan Daniel. Aku akan coba mempertemukan mereka berdua di acara itu. Jika ada semacam ikatan di antara mereka setelah mereka bertemu, berarti kecurigaanku ini benar.


•••••


Mampir juga di karya teman author~


__ADS_1


__ADS_2