
"Sampai jumpa, Leon! Terima kasih untuk hari ini!" ungkap Chelsea begitu dia sampai di depan teras rumahnya.
"Iya," jawab Leon singkat dengan senyuman tipis yang tersungging di ujung bibirnya.
"Emm ... mau mampir dan istirahat sebentar dulu ke dalam?" tanya Chelsea yang masih merasa tidak rela hari ini begitu cepat berakhir. Rasanya dia masih belum puas meskipun sudah menghabiskan waktu bersama Leon sepanjang hari.
"Tidak, aku akan langsung pulang. Kau cepatlah masuk dan istirahatlah!" pinta Leon sambil mengusap kepala Chelsea dengan lembut.
"Oke," jawab Chelsea dengan kedua pipi yang merona. Dia begitu bahagia sampai-sampai dia tak berhenti tersenyum ketika memasuki rumah.
Leon terus berdiam diri di tempat hingga Chelsea menutup pintu rumahnya. Kemudian dia berbalik, berjalan menuju ke arah mobilnya. Begitu dia naik, dia langsung menyandarkan tubuhnya, jiwa dan raganya terasa begitu letih.
Setidaknya untuk hari ini berhasil dia lewati tanpa membuat masalah. Dia berani mengambil keputusan untuk berkencan lantaran sudah masa bodoh dengan tatapan dari anggota lain jika saja ada yang mengetahui hubungan asmara rahasia ini. Pikirnya, lagi pula sang ketua sudah tahu seperti apa hubungannya, jadi tidak masalah meskipun ada anggota lain yang akan mengetahuinya.
"Hahh ... pada akhirnya aku tidak menanyakannya juga. Ternyata berhadapan langsung dengannya lebih sulit dari yang aku kira. Entah kenapa setiap kali melihat wajahnya, aku kehilangan semua yang ada di pikiranku. Aku merasa tak tega menghancurkan senyumannya."
"Sial, sebenarnya kenapa jadi begini? Aku jadi seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri." Leon sangat frustrasi, bahkan dia sampai menyandarkan kepalanya di setir mobil akibat merasa pening.
Untuk beberapa saat Leon masih merasa kehilangan semangat, setelah ini dia bingung harus melakukan apa. Dia yang tak punya pilihan lain akhirnya melaju dengan kecepatan normal menuju arah jalan pulang. Akan tetapi, tiba-tiba saja di perjalanan dia teringat akan sesuatu yang penting.
"Liana!" seru Leon seraya mengerem mobilnya secara mendadak. Tentu saja akibat ulahnya ini, langsung ada suara klakson dari kendaraan lain yang menegur dirinya.
Leon pun segera menepikan mobilnya dengan benar. Dia buru-buru mengambil ponselnya untuk segera menelepon adiknya.
"Ayolah, angkat Liana! Sial, bisa-biasanya aku lupa kalau aku harus menjemputnya sekolah. Semoga saja dia tidak kenapa-kenapa!" Leon terus mengomel lantaran khawatir Liana tidak segera mengangkat panggilan telepon darinya.
"Halo?" tanya Liana dengan suara datar begitu panggilan telepon itu berhasil tersambung.
"Akhirnya kau angkat telepon juga! Tidak terjadi apa-apa padamu, kan?! Sekarang kau ada di mana?!" tanya Leon penuh harap-harap cemas.
"Aku baik-baik saja dan sekarang aku sedang belajar di rumah. Kenapa Kak Leon meneleponku? Apa ada sesuatu yang gawat?"
"Syukurlah kalau kau tidak kenapa-kenapa. Maaf, padahal tadi pagi kakak sudah janji untuk menjemputmu pulang sekolah. Kakak lupa karena ada urusan, tapi kau benar-benar baik-baik saja, kan? Tadi kau pulang sekolah dengan siapa? Dengan pacarmu?"
"Humph! Baru sekarang Kakak ingat padaku. Tapi Kak Leon jangan terlalu khawatir, tadinya memang masih ada beberapa orang tak dikenal mau mencegatku, tapi bukan masalah karena saat itu Ian ada bersamaku. Dan ... hari ini aku bertemu dengan manajer Orchid," ucap Liana dengan nada suara ragu.
"Apa?! Kau sudah memutus kontrak, tapi kenapa dia masih menemuimu? Apa dia melakukan sesuatu padamu?!" tanya Leon lagi yang kali ini semakin khawatir.
"Tidak kok, dia cuma bertamu ke rumah dan membawakan makanan. Manajer Orchid bilang jika dia ingin mengucapkan salam perpisahan padaku, dia berpamitan karena mulai saat ini sudah tidak akan mendampingiku lagi. Itu saja," jelas Liana.
Sejenak Leon tertegun, dia berpikir soal kemungkinan macam apa yang menyebabkan Orchid sampai datang bertamu lagi ke rumahnya.
"Kak Leon, sekarang Kakak ada di mana? Kakak bilang kalau diberi libur seminggu, tapi kenapa Kakak sampai lupa waktu untuk menjemputku? Saat aku pulang sekolah tadi, sepertinya rumah juga belum dibersihkan. Sebenarnya seharian ini Kak Leon ke mana saja?" tanya Liana yang seketika membuyarkan lamunan Leon.
"Ah, kakak ada urusan dengan seseorang ..." jawab Leon spontan.
"Seseorang itu siapa? Apa dia kak Mayra? Kalian berdua seharian ini bersama, ya?"
"Ya ..." jawab Leon singkat dengan nada pelan.
__ADS_1
"Ohh ... jadi benar kalau kak Mayra! Ya sudah, tidak apa-apa kalau begitu, aku tidak jadi marah. Kakak tidak usah pulang saja sekalian, menginap saja di rumah kak Mayra! Aku berani kok di rumah sendirian!"
"Ck, diamlah! Kakak akan pulang!"
TUT TUT ...
Leon memutuskan panggilan telepon itu karena takut jika Liana akan semakin bicara macam-macam soal dirinya. Terlebih lagi, sebenarnya dia merasa miris dengan semua tuduhan yang Liana sebutkan padanya.
"Liana ... dia yang kau maksud itu bukan Mayra, tapi sebenarnya orang lain. Andai saja aku seperti Liana yang tak tahu apa-apa, mungkin saat ini aku akan benar-benar menginap di rumahnya," gumam Leon dengan tatapan sendu.
Tiba-tiba saja Leon mencengkeram erat setir mobil, dia siap untuk lanjut mengemudi lagi. "Sudahlah, sepertinya aku memang tidak bisa membuat keputusan secepat ini. Ketua memberikan waktu seminggu padaku, aku harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin agar aku tak membuat keputusan yang salah."
"Bahkan sebenarnya aku juga sedikit ragu pada keduanya. Entah itu ketua maupun Chelsea, aku yakin jika kedua wanita ini sama-sama menyembunyikan sesuatu dariku. Di saat seperti ini, aku hanya bisa bertanya pada orang yang paling aku percayai! Aku yakin jika dia tak mungkin berbohong padaku!"
Leon segera melaju kencang pulang ke rumah. Dan sesampainya dia di rumah, dia bukannya membersihkan diri, beristirahat atau bahkan menengok Liana. Yang dia lakukan pertama kali adalah membersihkan seluruh penjuru rumahnya.
"Kakak sedang apa?" tanya Liana yang tadinya ingin ke dapur. Dia menatap heran lantaran saat ini kakaknya itu tampak mengintip bagian belakang lukisan yang terpajang di dinding.
"Kakak sedang bersih-bersih!" jawab Leon tanpa memandang ke arah adiknya.
"Huhh ... astaga, ini sudah malam, Kak. Bersih-bersihnya besok saja, besok aku libur sekolah, aku janji akan membantu Kakak bersih-bersih! Bahkan jika Kakak mau membersihkan atap rumah akan tetap kubantu!"
"Tidur saja sana, jangan ganggu urusan kakak!"
"Ck, dasar aneh!" gerutu Liana yang kemudian berjalan pergi.
Apa jangan-jangan besok pagi kak Mayra akan datang ke sini? Makanya Kak Leon jadi gila bersih-bersih supaya saat kak Mayra datang nanti rumah ini jadi super bersih. Hmm, jika memang begitu maka ini bisa dimengerti. Kak Leon cuma ingin rumah ini jadi tidak memalukan saat pacarnya datang. Sungguh gila cinta.
"Ck, sudahlah! Urusan ini memang rumit jika terus dipikirkan. Lebih baik istirahat sekarang agar besok tidak terlambat. Aku mau bertemu dengan kak Dika dan meminta penjelasan dari sudut pandangnya! Aku yakin jika dia pasti tahu sesuatu soal apa yang direncanakan oleh ketua."
***
Hari dengan cepat berganti, waktu seminggu yang paling riskan telah berkurang satu hari. Seperti yang telah Leon rencanakan, maka pagi ini Leon bergegas pergi ke Kedai Pembunuh. Sebelum dia pergi, tak lupa juga dia berpesan pada Liana agar dia tetap berada di rumah karena kondisi di luar masih begitu rawan untuknya.
Sesampainya di tempat yang ingin dia tuju, Leon menunggu sampai giliran para anggota yang diberi tugas telah habis. Dia adalah seseorang yang terakhir memasuki ruangan khusus milik Kepala Divisi yang sudah dia anggap seperti kakak sendiri.
Begitu dia masuk ke dalam ruangan, Dika yang semula telah duduk bersantai pun menyambut kedatangannya dengan tatapan heran.
"Hari ini aku ingat betul jika aku tak memanggilmu untuk menerima tugas baru, untuk apa kau ke sini? Tidak mungkin kedatanganmu cuma sekadar ingin menyapaku, kan?" tanya Dika yang merasa bingung dengan kedatangan Leon yang tiba-tiba. Dia tahu betul seperti apa kebiasaan Leon yang sebelumnya akan mengabari dan memberitahunya terlebih dulu.
"...." Leon tak menjawab, dia justru langsung duduk dan menatap Dika dengan tatapan serius. Tiba-tiba saja dia melemparkan sesuatu ke atas meja, benda itu tidak lain adalah dokumen soal identitas Chelsea Almayra Adinata yang diberikan oleh ketua.
"Aku ke sini karena ingin bertanya soal ini! Aku mohon dengan sangat, jika Kakak mengetahui sesuatu, tolong katakan padaku!"
"Hahh ... ternyata begitu." Dika menghela napas setelah mengerti maksud sebenarnya dari kedatangan Leon.
"Kau sudah membaca semua yang ada di sini, kan?" tanya Dika.
"Sudah, bahkan aku mengingat semuanya!" jawab Leon sambil menganggukkan kepala.
"Baguslah, tapi itu sebenarnya tidak ada gunanya!" Dika mengambil dokumen itu dan tiba-tiba saja merobek-robeknya.
__ADS_1
"Apa yang Kak Dika lakukan?! Kenapa malah merobeknya?!" tanya Leon yang cukup syok dengan tindakan tak terduga semacam ini.
"Tadi sudah aku katakan kalau ini tidak ada gunanya, jadi aku merobeknya. Lagi pula aku juga tahu jika kau mendapatkan ini dari ketua," ucap Dika dengan raut wajah datarnya.
"Tidak ada gunanya? Jadi, apakah semua informasi yang ada di sana itu salah?" tanya Leon dengan tatapan sedikit berharap.
"Bukan begitu, semuanya tentu saja benar. Akan tetapi ... tidak ada gunanya jika kau terus terpaku pada dokumen itu. Aku akan langsung saja, ini bukan perangmu atau apa pun soal cintamu pada wanita itu. Tapi ini adalah perang ketua, dan kau yang jadi pionnya."
"A-aku ... pion? Lalu ... kenapa harus menggunakan aku? Sebenarnya ini perang antara ketua dengan siapa? Apakah dengan Chelsea?" tanya Leon seakan tak percaya.
Dika menggeleng dan berkata, "Bukan, dia masih belum pantas untuk disandingkan dengan ketua. Kau sudah membaca dokumen itu secara tuntas, jadi kau pasti tahu siapa ayah dari wanita itu."
"Tommy Adinata, dia adalah seorang kepala keluarga konglomerat yang memiliki kekuasaan dan pengaruh di negara ini. Tapi beberapa tahun terakhir bisnisnya mengalami kemunduran dan pengaruhnya juga mulai berkurang," jawab Leon dengan lancar. Dia memang sudah menghafal seluk beluk identitas Chelsea dengan rinci.
"Kau benar, ketua kita sedang berencana berperang melawan Tommy Adinata. Aku tak tahu pasti apa tujuan sebenarnya, entah dia ingin melahap bisnisnya ataukah mengakhiri riwayat keluarga konglomerat yang sudah di ujung tanduk ini. Tetapi yang jelas, ketua tak mau jika Tommy sampai mendapatkan Chelsea kembali."
"Masalah ini adalah masalah yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Akan tetapi, masalahmu itu sesuatu yang berhubungan dengan dendam masa lalu. Semua ini akan saling berhubungan, rencana ketua adalah memutus tali antara hubungan dendam dengan rencana masa depannya."
"Aku masih tidak mengerti," ucap Leon dengan kening yang mengerut.
"Astaga, baiklah kalau begitu ... aku akan menjelaskan tentang dendam masa lalu yang saat ini mengikatmu." Sejenak Dika terdiam untuk memantapkan diri. Lalu, tiba-tiba dia meletakkan lengan sebelah kirinya ke atas meja.
"I-itu ...." Leon tergagap, baru kali ini dia melihat secara jelas sebuah bekas luka yang selalu Dika sembunyikan rapat-rapat. Bekas luka permanen itu tampak membentuk sebuah tulisan yang terdiri dari 4 huruf, 'N-I-S-A'. Nisa, itulah sebuah nama yang dapat terbaca melalui bekas luka di tangan Dika.
"Apa maksud dari semua ini, Kak? Apa ketua begitu kejam sampai mengukir namanya sendiri di tangan Kakak?!" tanya Leon seakan tidak terima dengan keadaan yang dialami Dika.
"Bukan, ini bukan ulah ketua. Tapi ini ulahku sendiri," jawab Dika dengan senyuman pahit.
"A-apa?! Tapi kenapa? Bagaimana bisa Kak Dika sampai menyiksa diri sendiri?"
Dika menunduk, lalu dengan nada bicara pelan dia berkata, "Ini semua ... karena kejadian 10 tahun yang lalu. Aku tahu jika ini memang sudah lama sekali, tetapi kejadian itu sama sekali tidak akan memudar di pikiranku."
"...." Leon diam seribu bahasa, baru kali ini dia melihat sosok Dika yang memiliki sisi rapuh seperti ini. Dia juga mulai berpikir, kejadian sekejam apa yang sampai membuat Dika jadi seperti ini.
"Ini semua berhubungan dengan Violent Zone," lanjut Dika lagi.
"Violent Zone? Apakah maksud Kakak adalah tempat yang kotor itu?!" tanya Leon yang mulai merasa tertarik untuk mendengarkan lebih detail lagi.
"Kau benar, Violent Zone yang saat ini dikelola langsung oleh Marcell si wakil ketua. Bahkan ketua sendiri terkadang masih ikut campur soal itu. Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar karena kau sendiri sudah paham betul tempat macam apa itu. Hanya saja ... 10 tahun lalu cara mengelola tempat itu masih berbeda, karena saat itu pemiliknya adalah William Adinata."
"William Adinata, kakak laki-lak Chelsea?" tanya Leon yang ingin memastikan sekali lagi.
"Benar, dan saat itu aku tidak sengaja menyinggung William Adinata. Dia dan komplotannya menangkapku di saat aku sendiri. Aku terpaksa berada di sana dan terus bertahan hidup. Akan tetapi, dia menggunakan sesuatu jenis obat ilegal untuk memulihkan kondisi para tawanan."
"Setiap hari luka di tubuhku kian parah, dan untuk bertahan hidup aku terpaksa memakan obat itu. Obat itu memiliki efek yang sangat bagus dan cepat untuk pemulihan luka, tetapi efek sampingnya berpengaruh ke otak. Semakin lama aku seperti jadi seorang idiot. Daya ingatku menurun, aku mulai melupakan di mana aku tinggal, siapa orang tuaku, teman-temanku, bahkan namaku sendiri aku sudah lupa."
"Tetapi, ada seseorang yang namanya ingin terus aku ingat meskipun aku harus mati. Dia adalah ketua, dia sudah tumbuh besar dan menemani masa kecilku. Dan sejak kecil aku sudah dituntut untuk mengabdi kepadanya. Aku tak bisa melepaskan obsesi ini, akhirnya ... demi terus mengingatnya, aku menyayat tanganku sendiri dengan serpihan kaca dan mengukir namanya. Itulah asalan mengapa aku punya bekas luka ini."
"Setiap hari di tempat kotor dan gelap itu, aku terus berharap ketua akan datang dan menyelamatkanku. Hingga pada akhirnya penantianku tidak sia-sia, saat malam tahun baru, ketua dan rekan-rekanku yang lain datang untuk membawaku pergi. Kami bersembilan menyerang dan menghancurkan Violent Zone secara membabi buta. Dan atas perintah ketua, akhirnya kami membakar habis tempat itu."
"Tetapi di tengah kekacauan itu ketua tidak mengecewakan aku, dia berhasil menangkap William dan menyeretnya ke hadapanku. Itulah yang sebenarnya 10 tahun lalu terjadi, sekarang Chelsea datang dan bergabung untuk tujuan balas dendam demi kakaknya! Karena akulah yang telah membunuhnya!"
__ADS_1
"....?!" Leon terkesiap.