
Grizz Glory Casino, adalah tempat yang menjadi markas utama dari sebuah kelompok gangster yang telah melakukan banyak hal kriminal. Sedangkan Chelsea, dia adalah seseorang yang belum ada setengah tahun bergabung, namun dia telah menimbulkan banyak kekacauan.
Niat awal Chelsea bergabung adalah demi memiliki koneksi untuk memudahkan pencarian putranya, anak yang pintar dan menggemaskan bernama Luciel telah menghilang. Akan tetapi, selama ini ternyata Luciel justru ditemukan dan dirawat oleh Ketua resmi kelompok gangster ini. Nisa Sania Siwidharma, itulah sosok wanita yang memiliki kekuasaan mutlak, seakan menjadi puncak dari rantai makanan.
Dan siapa sangka, kebenaran pembunuhan 10 tahun lalu telah terungkap. Tetapi sekali lagi, kebenaran yang terungkap itu bukan kebenaran yang Chelsea harapkan. Dia terus mengenang kebaikan kakak laki-lakinya semasa dia masih hidup. Sekarang begitu sulit baginya untuk mempercayai jika seseorang yang selalu dianggap baik, justru di belakangannya akan berubah menjadi sosok yang kejam bagaikan iblis.
Grizzly Cat, kelompok gangster yang telah disinggung oleh mendingan William Adinata. Dan sekarang, Chelsea sebagai adiknya bersikeras untuk membalas dendam kepada sembilan orang pemegang kekuasaan tertinggi di kelompok kriminal ini.
Dan hari ini, adalah hari terakhir Chelsea berada di dalam kegilaan ini. Waktu seminggu yang telah Nisa berikan telah habis. Dan karena sempat diberikan ancaman, maka Chelsea terpaksa mendatangi markas utama malam nanti.
Semua hal ini terus berputar di dalam benak Leon. Sejak pagi tadi dia selalu gelisah, hampir setiap satu jam menghubungi Chelsea karena ingin memastikan bagaimana kabarnya.
"Hahh ... semoga saja Chelsea bisa melewati malam ini. Karena yang aku tahu, organisasi tidak pernah menyetujui satu pun anggota keluar, kecuali jika dia mati. Sebenarnya ada satu rencana cadangan, Chelsea harus berpura-pura mati dan menyembunyikan identitasnya lagi. Tetapi jika rencana itu dilakukan, tidak akan ada bedanya dengan pelarian untuk yang kedua kalinya," gumam Leon di kala menyetrika.
Pekerjaan rumah seperti menyetrika pakaian sebelumnya selalu dia serahkan pada laundry. Hanya saja kali ini sedikit berbeda, karena Dika belakangan ini tak memberikannya tugas lagi. Jadi, siang hari ini Leon memang sengaja mencari kesibukan untuk diri sendiri.
TOK TOK TOK!
Suara ketukan pintu itu membuat Leon kaget. Tak pernah ada yang berkunjung ke rumahnya kecuali Chelsea seorang. Mengetahui hal itu Leon segera mencabut kabel setrika dari stopkontak dan bergegas membuka pintu.
"Chelsea, ada ap-" Perkataan sambutan Leon mendadak terhenti. Tebakan bahwa yang datang bertamu adalah Chelsea ternyata salah. Leon begitu kaget ketika menyadari bahwa yang bertamu ke rumahnya tanpa memberi kabar lebih dulu adalah Dika dan Nisa.
"K-Kak Dika dan Ketua ...? M-mari silakan masuk." Leon mempersilakan kedua orang itu masuk ke dalam rumahnya begitu saja. Lalu menyambut mereka untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Ketua dan Kak Dika mau minum apa?" tanya Leon yang tampak gugup. Dia benar-benar tidak tahu ada keperluan macam apa yang membuat kedua orang ini datang bersamaan ke rumahnya.
"Tidak perlu repot-repot menjamu kami, kami di sini hanya sebentar saja. Kau duduklah, jangan terlalu sungkan, lagi pula ini rumahmu sendiri," ucap Nisa.
"Baik," jawab Leon yang lantas duduk. Memasang telinganya sebaik mungkin untuk menyimak apa yang akan Dika dan Nisa katakan padanya.
"Kedatangan kami di sini karena ingin meminta sesuatu darimu, Leon," ucap Dika.
"Sesuatu seperti apa?" tanya Leon yang menginginkan penjelasan lebih.
"Pertanggungjawabanmu, yaitu pertanggungjawaban atas apa yang selama ini sudah kau dapatkan dari kami, sekaligus pertanggungjawaban atas nama Mad Dog yang melekat padamu. Kau menyandang kode nama itu dan posisi sebagai elite bukan karena sembarang alasan. Alasan utamanya adalah kemampuan dan kesetiaan yang kau punya," jelas Nisa.
"Kami secara khusus datang kemari karena ingin memastikan apakah kau masih mempunyai kedua alasan itu ataukah tidak. Soalnya ... belakangan ini aku jadi kurang mempercayaimu, karena kau menunjukkan sikap seperti ingin memberontak demi wanita itu," lanjut Nisa lagi.
Sontak saja Leon beranjak dari sofa dan berlutut di hadapan Nisa. "Maafkan saya, saya sudah tahu apa kesalahan saya! Tolong tetap berikan kepercayaan Ketua kepada saya!"
"Terus? Apa gunanya aku menaruh kepercayaan padamu, sedangkan kau saja tidak setia padaku?" tanya Nisa yang kemudian melipat kakinya, serta bersedekap untuk berlagak congkak. Menegaskan jika dirinya begitu mulia di hadapan Leon yang tampak rendah.
"Mohon jangan ragukan kesetiaan saya pada Ketua! Saya sudah bersumpah, akan tetap setia pada Ketua hingga akhir hayat saya!" ungkap Leon lagi dengan kepala yang tertunduk.
"Heh, setia sampai akhir hayat? Kalimat itu terlalu romantis untuk aku dengar. Dan aku di sini bukan untuk mendengar omong kosongmu. Sudah aku bilang kalau aku kemari untuk menagih pertanggungjawaban darimu!" ucap Nisa penuh penekanan, dia teramat muak karena terus mendengar permohonan Leon yang meminta kelonggaran darinya.
"Semua yang saya katakan bukanlah omong kosong belaka. Ketua sudah memberikan banyak bantuan yang mampu mengubah hidup saya. Bahkan jika saya ingin mengembalikan semua yang sudah Ketua berikan, saya tidak akan mampu melakukannya. Ketua sudah memberikan mata kiri yang baru bagi saja, bahkan jika sekarang juga saya mengembalikan mata pemberian ini, itu masih tak akan cukup. Ketua juga membantu pengobatan adik saya, memberikan bantuan agar kami berdua bisa memiliki hidup yang lebih baik. Semua itu hanya sanggup saya bayar dengan kesetiaan saya. Jadi, jika ketua bersedia memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya, silakan katakan karena saya bersedia melakukan apa saja!" pinta Leon dengan kesungguhan. Dia benar-benar tak mau jika Nisa akan membuatnya menghadapi masa-masa sulit lagi.
Nisa menyeringai, kesempatan untuk memperalat Leon yang dia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. "Mudah saja, untuk membuktikan kesetiaanmu ... kau cukup ikut pergi denganku dan Dika."
Seketika Leon mendongak. "Pergi? Pergi ke mana?"
"Sudahlah, kau ikut saja, nanti begitu sampai kau juga akan tahu dengan sendirinya. Kita berangkat sekarang, aku akan memberimu waktu 5 menit untuk bersiap!"
"Baik, Ketua. Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan pada saya!" Leon segera bangkit, menuju ke kamarnya sendiri untuk mengganti bajunya serta bersiap.
Karena waktu yang diberikan terbatas, Leon secepat mungkin mengganti pakaian kasualnya dengan pakaian yang biasanya dia pakai untuk bertugas. Serta membawa beberapa senjata khusus yang kemudian dia sembunyikan di balik pakaiannya.
__ADS_1
Leon tak tahu ke mana Nisa dan Dika akan membawanya pergi, hal ini membuatnya memiliki firasat buruk. Sebelum dia kembali turun, dia berbelok ke kamar Liana. Meninggalkan pesan di sebuah secarik kertas yang bertuliskan, 'Liana, kakak pergi bertugas, tak perlu menunggu kepulangan kakak karena mungkin akan lama'.
Setelah menuliskan pesan itu, Leon langsung turun ke bawah untuk menemui Nisa dan Dika. Mereka tak berlama-lama lagi di sana, Nisa yang sudah tidak sabar segera mengajak Leon untuk naik ke mobilnya yang dikendarai oleh Dika.
***
Jam 8 malam, sesuai perjanjian Chelsea memutuskan untuk mendatangi Grizz Glory Casino dan mengundurkan diri seperti yang Nisa inginkan. Hanya saja, Chelsea berbelok ke rumah Leon lebih dulu. Karena sebelumnya dia memang sudah mempunyai janji akan datang ke markas utama bersama-sama dengan Leon.
TOK TOK TOK!
Chelsea mengetuk pintu, tak berselang lama kemudian datanglah Liana yang membukakan pintu untuknya.
"Kak Chelsea? Ada hal apa malam-malam ke sini?" tanya Liana penasaran.
"Aku mencari kakakmu, tolong panggilkan dia. Bilang padanya kalau aku menunggu di depan rumah, ya!" pinta Chelsea dengan nada ramah.
"Eh? Tapi kak Leon sekarang tidak ada di rumah. Kak Leon meninggalkan pesan untukku kalau dia pergi bertugas, dan aku juga disuruh supaya tidak menunggu kepulangannya. Mungkin saja kak Leon menerima tugas mendesak," jawab Liana.
"Tidak ada di rumah ... ya sudah kalau begitu. Selamat malam Liana, jangan lupa untuk mengunci pintunya lagi, ya!"
"Eh? Kak Chelsea tak mau mampir dulu?"
"Tidak, karena aku juga harus bertugas." Chelsea langsung berpaling dan kembali masuk ke mobilnya yang dia parkirkan di depan rumah Leon. Dan tanpa basa-basi lagi langsung melaju dengan kecepatan tinggi.
Sesekali Chelsea mencoba menelepon Leon, tapi tak mendapatkan balasan dan justru nomor tersebut sedang tak dapat menerima panggilan.
"Sial, sebenarnya apa yang terjadi padamu, Leon? Sebelumnya kau tak pernah mengingkari janjimu padaku, dan kali ini kau mengingkari janji! Kau bilang malam ini kita akan bertemu, tapi kau malah pergi tanpa sepengetahuanku! Kau membuatku cemas, dasar bodoh!"
Chelsea makin mengkhawatirkan Leon, bahkan juga mengemudi dengan kecepatan tinggi seakan tak terkendali. Terdengar suara klakson dari mobil-mobil lain yang menegur Chelsea, tetapi semua teguran itu dia abaikan. Tak peduli apa pun lagi asalkan dia cepat sampai di tempat tujuan.
Berselang 15 menit kemudian Chelsea telah tiba, karena dia mengebut maka dia sudah menghemat setengah waktu perjalanan. Setibanya dia di Grizz Glory Casino, dia merasa janggal karena suasana kasino yang begitu hening.
"Hehe, akhirnya datang juga," gumam Nisa dengan seringai liciknya. Dia sengaja memisahkan diri dan menjaga jarak dengan Chelsea, dan saat ini dia duduk di tempat yang lebih tinggi, tepatnya berada di lantai atas. Nisa lantas berdiri, menampakkan diri lebih jelas lagi dengan berpegangan di sebalik pagar pembatas.
"Aku sudah datang kemari seperti yang kau inginkan! Cepat turun ke sini dan lakukan apa yang sudah kau janjikan padaku!" gertak Chelsea yang sangat ingin semua ini cepat berakhir.
"Kau pikir akan semudah itu?" tanya Nisa sambil memandang rendah.
Tiba-tiba saja muncul segerombolan orang yang berpakaian serba hitam. Mereka semua mengepung Chelsea dalam formasi lingkaran, menjaga jarak sekitar 5 meter dari tempat Chelsea berdiri saat ini. Lalu, dari belakang Nisa juga muncul beberapa orang, mereka tidak lain adalah para Family.
Marcell, Dika, Ivan, Damar, David, Yhonsen, Hendry dan Faris. Kini, kesembilan Family telah muncul di hadapan Chelsea. Semua kejutan ini meskipun mengagetkan, tetapi tak cukup untuk membuat Chelsea takut. Karena sebelumnya Chelsea sudah mengira jika dia akan dikepung seperti ini.
Chelsea bisa tetap tenang karena sepenuhnya fokus pada Nisa. Biarpun tatapan dari para Family lain terkesan ingin membunuhnya, tetapi tatapan Nisa berbeda. Selagi Nisa tak punya niatan untuk menyingkirkan dirinya, maka dia yakin jika orang-orang ini tidak akan bergerak tanpa perintah dari Nisa.
Tanpa sedikit pun rasa gentar, Chelsea lantas berkata, "Jadi, sekarang semua pelaku yang membunuh kakakku sudah berkumpul. Aku sudah tahu alasan di balik kalian semua melakukan pembunuhan itu. Meskipun aku tahu jika kakakku yang pertama kali mencari masalah, tapi aku tak akan meminta maaf mewakili kakakku. Jadi, aku mau kalian jelaskan soal apa saja yang kalian perbuat pada kakakku! Karena aku mau menuntut keadilan untuknya!"
"Oh, baiklah. Rupanya kau ingin tahu, kalau begitu aku akan jujur saja. Saat itu aku menampar William 3 kali," ucap Nisa.
"Aku memukul perutnya 5 kali," ucap Marcell.
"Aku memukul wajahnya yang sombong itu 10 kali," ucap Ivan.
"Aku menendang selangkangannya sekali, biar dia jadi impoten di akhir hayatnya" ucap David.
"Aku mematahkan tulang rusuknya," ucap Damar.
"Aku memasukkan kepiting hidup ke mulutnya," ucap Faris.
"Aku menceburkan wajahnya ke air berkali-kali," ucap Hendry.
__ADS_1
"Aku mematahkan kedua kakinya," ucap Yhonsen.
"Dan akulah yang menembak kakakmu. Aku ingin dia mati di tanganku, membalas atas apa yang sudah dia lakukan padaku!" ucap Dika yang seakan menjelaskan bahwa dirinya yang merupakan pembunuh utama.
"Kalian semua ... sungguh kejam!" gertak Chelsea sambil mengepalkan kedua tangannya sekuat mungkin. Dia begitu tercengang dengan bagaimana cara orang-orang itu menyiksa kakaknya sampai mati.
Chelsea menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri untuk tidak terbawa emosi. Dia sudah luluh karena selalu dinasihati oleh Leon supaya berhenti memikirkan soal balas dendam.
Namun, tiba-tiba saja Chelsea menuding ke arah Nisa. Dengan suara lantang dia berkata, "Nisa Sania Siwidharma, aku menantangmu! Masa bodoh jika bukan kau yang membunuh kakakku! Tapi kaulah yang jadi alasan utama mengapa kakakku terbunuh! Karena saat itu kaulah yang menyeret kakakku pergi! Jadi sekarang turunlah, buktikan padaku jika kau memang layak untuk berada di atas sana!"
Nisa terdiam. Namun justru para rekan-rekannya tertawa, mereka tidak habis pikir jika Chelsea akan menantang langsung sang ketua.
"Hei, apa kau tak pernah bermain game? Kenapa kau begitu naif? Apa kau pikir bisa melawan bos sebelum mengalahkan bawahannya?" tanya Nisa dengan tatapan merendahkan.
"Ckck, terserah jika kau menganggapku naif atau apa. Bilang saja kalau kau takut melawanku!"
Nisa tetap membisu, dan setelahnya dia malah menggunakan jari kelingkingnya untuk mengorek telinga. "Astaga, tak aku sangka ini akan mulai membosankan. Kau terlalu menganggapku remeh, Chelsea. Jangan kira aku akan mudah terpancing dengan kalimat provokasimu itu. Aku akan tegaskan, itu sama sekali tidak ada gunanya."
"Tetapi ... jika kau memang benar-benar ingin bertarung, aku bisa carikan lawan yang pantas untukmu!" Nisa menyeringai, lalu menjentikkan jari seakan memberi isyarat pada orang lain.
Tiba-tiba saja muncul beberapa orang yang dari balik anggota lain yang sedang mengepung Chelsea. Jumlah mereka adalah 5 orang, dan mereka berdiri tepat di hadapan Chelsea. Orang pertama yang muncul adalah Orchid, lalu No Reason, disusul oleh Kaitlyn bersama dengan Akira, dan yang terakhir adalah Leon. Ya, kelima orang ini semuanya termasuk ke dalam jajaran para elite.
"Leon ...." Chelsea menatap dengan tatapan tidak percaya. Rupanya salah satu orang yang telah Nisa persiapkan untuk melawannya adalah kekasihnya.
"...." Leon diam seribu bahasa, dia berdiri tegap di antara barisan para elite. Dia sendiri tidak menyangka jika inilah yang Nisa inginkan darinya.
Kini, para elite yang begitu setia pada organisasi telah tampil. Dan semuanya memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Orchid, adalah sebuah kode nama yang berarti bunga anggrek, elite ini berasal dari Divisi 3. Dia mendapatkan kode nama itu karena setiap kali dia membereskan musuhnya, akan selalu dia lakukan dengan bersih.
Namun, sebenarnya dia melakukan itu semua karena memiliki gangguan mental OCD, sebelumnya dia selalu gila pada kebersihan, tetapi sekarang penyakit mentalnya ini sudah membaik. Hanya saja dia selalu memakai sarung steril ke mana pun dia pergi. "Jika aku menghajarmu, jangan biarkan darahmu mengenaiku. Atau akan kuhajar kau sampai kehabisan darah!"
Selanjutnya adalah No Reason yang berasal dari Divisi 4. No Reason mendapatkan julukan itu karena kepribadian unik yang dia miliki. Dia melakukan setiap perbuatan kejahatan tanpa memikirkan alasan mengapa dia harus melakukannya. Dia akan melakukan apa saja asalkan itu membawa kesenangan padanya. Seseorang yang menjalani hidup tanpa alasan, itulah dia. "Hmph, aku tak punya alasan untuk mengampunimu!"
Di sebelah No Reason ada Kaitlyn. Meskipun terkesan begitu genit dan gemulai, Kaitlyn juga termasuk ke dalam jajaran elite lama dari Divisi 1. Dia sebenarnya adalah seorang laki-laki, tetapi karena sebuah alasan rahasia, sejak 12 tahun yang lalu dia memutuskan untuk menjadi transgender. Sebenarnya Divisi 1 mempunyai orang yang lebih unggul dari Kaitlyn, tetapi Nisa lebih memilih Kaitlyn untuk tampil malam ini. "Ck, daku selalu saja terlibat, jangan-jangan kalian ingin daku terlibat karena terpesona padaku~"
Elite yang selanjutnya adalah Takazawa Akira, elite yang satu ini sama sekali tidak tergabung ke dalam Divisi mana pun. Karena dia merupakan seorang mantan Yakuza yang dipungut oleh Nisa. Dia punya julukan sebagai koki genit, karena dia selalu saja menggoda pelanggan perempuan yang berkunjung ke Darlings Bakery. Akira juga menganggap bahwa dirinya adalah seorang lelaki sejati, karena dia sudah mengambil sumpah untuk tidak menyakiti wanita mana pun yang dia temui. "Haiss ... kenapa aku harus melawanmu Nona, aku janji hanya akan mencubitmu saja."
Dan yang terakhir adalah Leon, sang Mad Dog. Anjing setia yang mengabdikan diri kepada organisasi. Dia berada di sini karena dia merupakan salah satu elite dari Divisi 2. Inilah tanggung jawab yang harus dia penuhi, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus berdiri di sini bersama para elite yang lainnya untuk melawan kekasihnya sendiri.
Nisa tertawa dengan senyum kesombongan. "Hehe, tadi kau bilang ingin menantangku. Lawanlah mereka dulu untuk membuktikan apakah kau punya kemampuan yang layak melawanku. Karena ... jika aku turun ke sana, aku bahkan bisa membereskan para elite ini seorang diri."
"Jika kita berhadapan, aku pasti akan mengalah padamu, Nisa-Chan!" sahut Akira dengan nada manja. Bahkan pada atasan sendiri Akira masih berani bersikap genit.
"...." Nisa membisu, melihat sikap Akira barusan, dia mulai pesimis padanya.
"Apa kau menyesal memungut orang aneh itu?" tanya Marcell dengan suara pelan.
"Haha, menyesal pun sudah terlambat." Nisa tersenyum pasrah. Dia menggelengkan kepala untuk kembali fokus.
"Baiklah, untuk para elite yang sudah aku kumpulkan di sini! Kalian semua dengarkan perintahku! Di depan kalian ada seorang wanita yang sudah berani menantangku, jadi tugas kalian sekarang adalah lawan wani-" Perkataan Nisa tiba-tiba terhenti. Kedua matanya membulat ketika melihat sesuatu yang tidak sesuai di bawah sana.
Sesuatu yang terjadi itu adalah tindakan Leon. Tanpa menunggu Nisa menyelesaikan perkataannya, dia sudah melangkah maju dan menghampiri Chelsea mendahului para elite yang lain. Dan begitu sudah dekat, Leon berhenti, menatap Chelsea dengan sorot matanya yang dingin.
"Leon ..." ucap Chelsea dengan bibir yang gemetar. Membayangkan saja dia sepertinya tidak akan mampu untuk melawan kekasihnya. Karena ini sesuatu yang berbeda, biasanya mereka hanya akan bertarung untuk latihan. Namun kali ini, sudah jelas-jelas jika mereka akan bertarung menentukan hidup dan mati.
Tiba-tiba saja Leon berbalik, kembali memunggungi Chelsea dan menatap para elite dengan tatapan bagaikan elang yang mengincar mangsa. Bahkan juga mengeluarkan dua buah belati tajam di tangan kiri dan kanannya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Leon?!" bentak Dika yang kecewa karena telah menaruh harapan besar pada Leon. Sosok yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri, sekarang dia justru berpaling demi membela orang asing yang belum lama dia kenali.
"Maaf, tetapi aku tidak bisa mengingkari janjiku. Karena aku sudah berjanji akan selalu berada di sisinya ..." jawab Leon dengan suara gemetar.
__ADS_1