
"Hemm ... heem ... hemmm ...." Liana bersenandung dan duduk dengan santainya di sebuah bangku yang ada di taman dekat rumahnya. Dia kemudian melihat ke arah jam yang ada di ponselnya.
"Sudah hampir setengah jam sejak aku keluar dari rumah. Seharusnya kak Leon sudah sampai di rumah dan berbicara dengan kak Mayra. Tapi mungkin saja saat ini pembicaraan mereka belum selesai. Lebih baik aku jalan-jalan saja sekalian belanja, camilan di rumah juga hampir habis."
Liana beranjak dari bangku taman. Kemudian dia berjalan ke arah lain untuk pergi menuju ke sebuah toko yang sudah menjadi tempat langganannya berbelanja. Namun, langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat melihat ada banyak orang yang berkerumun tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Ada apa, ya? Apakah di sana ada kecelakaan?" gumam Liana yang sedikit penasaran.
Tak lama ada sebuah mobil ambulans menyalakan sirenenya dan melaju sekencang mungkin. Kerumunan orang itu satu demi satu bubar karena tak ada lagi yang perlu mereka tonton. Ada dua orang wanita yang tadinya ikut berkerumun, mereka berjalan di trotoar dan berlawanan arah dengan Liana, kedua wanita itu juga saling bergosip.
"Kasihan sekali ya," ucap salah satu dari wanita itu.
"Iya, sepertinya tadi mereka pasangan yang sedang bertengkar," sahut wanita yang satunya.
"Eh? Pasangan bertengkar?" Liana yang tak sengaja mendengar perbincangan kedua wanita itu mulai merasakan firasat buruk, seketika dia memutuskan untuk mencegat jalannya kedua wanita tersebut. "Maaf! Tapi, bolehkah saya bertanya tentang apa yang terjadi di sana tadi?"
"Tidak apa-apa, Dik. Tadi di sana ada dua orang yang terserempet mobil. Yang laki-laki kelihatannya luka ringan, tapi sepertinya yang perempuan terluka parah sampai tidak sadarkan diri," jelas wanita itu.
"Ah, begitu ya. Sekali lagi maaf sudah mengganggu waktu Kakak-Kakak sekalian, dan terima kasih atas informasinya," ucap Liana dengan nada sopan.
"Sama-sama," ucap wanita itu yang kemudian segera berjalan dengan temannya untuk berlalu.
"Uhh ... pasangan bertengkar, kenapa firasatku tiba-tiba jadi makin tidak enak, ya?" Liana lalu sedikit menepi ke pinggir agar tidak berada di tengah jalan trotoar. Dia mengeluarkan ponsel, tampak ragu saat ingin menelepon nomor kakaknya.
"Bagaimana ini? Aku takut jika aku malah mengganggu perbincangan mereka, tapi aku juga harus memastikan kalau mereka tidak kenapa-kenapa."
Liana yang telah memantapkan diri akhirnya memutuskan untuk menelepon Leon. Panggilan telepon itu berdering, namun Leon tak menjawabnya. Liana kian merasa cemas, dia lalu beralih untuk menelepon Chelsea. Akan tetapi, hasilnya sama-sama tidak diangkat.
"Uhh ... sebenarnya mereka berdua sedang apa sih? Kenapa tidak menjawab teleponku? Pokoknya aku harus memastikannya sendiri!" gerutu Liana yang mulai frustrasi.
Liana berlari secepat yang dia bisa untuk segera pulang ke rumahnya. Sesampainya dia di sana, dia tak menemukan keberadaan Leon maupun Chelsea walaupun sudah memeriksa seluruh penjuru rumah. Yang dia temukan hanya tas milik Chelsea yang masih tertinggal di atas sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan yang kecelakaan di jalan tadi benar-benar kak Leon dan kak Mayra?" gumam Liana dengan rasa panik. Bahkan air matanya juga jatuh begitu membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada kedua orang itu.
Liana menggelengkan kepalanya secepat mungkin dan mengusap air matanya. "Tidak boleh, sekarang bukan saatnya aku jadi cengeng! Aku harus pastikan lagi!"
Liana keluar dan mengunci rumahnya. Dia berlari ke arah jalan yang ramai untuk mencari taksi, dia berkata ke sopir taksi untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit terdekat.
Setelah dia tiba di rumah sakit terdekat, dia masih takut untuk memasukinya. Namun Liana sudah bertekat, jadi dia menyingkirkan semua pikiran negatif yang terus berada di pikirannya. Dengan langkah kaki perlahan dia memasuki rumah sakit itu.
Begitu masuk ke rumah sakit, Liana langsung menuju ke bagian IGD. Benar saja, sesuatu yang tak mau dia harapkan benar-benar terjadi. Dia melihat kakaknya yang saat ini sedang duduk sendirian di kursi tunggu. Bahkan kakaknya itu tampak menyedihkan, bajunya yang sedikit robek dan terkena debu. Serta ada darah yang mengalir keluar dari luka yang ada di lengan atasnya karena tergores aspal.
Leon yang menyadari kehadiran Liana langsung beranjak dari kursi karena terkejut. "Liana?! Bagaimana bisa kau di sini?!"
"A-aku yang seharusnya bertanya, sedang apa Kakak di sini? Apa Kakak terluka? Lalu bagaimana dengan kak Mayra?" tanya Liana dengan suara gemetar.
"Dia ... ada di dalam," jawab Leon dengan kepala yang tertunduk lesu. Yang ada di pikirannya saat ini hanya harapan agar Chelsea baik-baik saja.
"Apa?! Tapi kenapa? Apa kak Mayra terluka parah?!" tanya Liana dengan binar mata yang terlihat seperti ingin menangis.
KLAK!
"Apakah kalian berdua keluarganya?" tanya sang dokter.
"Benar, saya suaminya!" jawab Leon spontan.
"Istri Bapak baik-baik saja, untunglah dibawa ke rumah sakit sesegera mungkin. Pendarahan hebatnya sudah berhenti, tetapi ...."
"Tetapi apa?" tanya Leon dengan tatapan tajam.
"Janin yang ada di perutnya tidak bisa diselamatkan," lanjut sang dokter.
"Janin?!" Kedua mata Leon membelalak, sedangkan Liana membungkam mulutnya sendiri lantaran begitu kaget.
"Benar, istri Bapak mengalami keguguran. Saya tidak bisa menyelamatkan janin itu karena seluruh jaringan kehamilan sudah keluar. Oleh karena itu tindakan seperti kuretase tidak diperlukan. Tetapi, jika pendarahan hebat kembali terjadi, atau bahkan menimbulkan gejala buruk yang lain, maka perlu dipertimbangkan melakukan kuretase untuk mencegah komplikasi berbahaya. Nantinya istri Bapak masih perlu dipantau, serta dievaluasi dengan pemeriksaan lebih lanjut seperti USG."
__ADS_1
"Untuk sekarang kondisi istri Bapak sudah cukup baik, sudah boleh dipindahkan ke ruang rawat. Tetapi saya menyarankan agar sebaiknya dirawat inap setidaknya sehari, supaya kondisi istri Bapak jadi cukup kuat untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Itu saja penjelasan dari saya, apakah ada yang ingin ditanyakan?"
"Apakah aku sudah diperbolehkan untuk melihatnya?" tanya Leon.
"Sudah, silakan jika Bapak ingin melihat. Saya permisi," jawab sang dokter.
Tiba-tiba saja Liana melesat masuk ke dalam ruangan sebelum dokter dan perawat itu pergi. Leon yang menyadari hal itu juga segera masuk untuk menyusul Liana.
Tangis Liana kembali pecah. Hatinya merasa tidak kuat saat menyaksikan calon kakak iparnya yang terbaring lemah di ranjang dan masih tak sadarkan diri. Sedangkan Leon, dia ingin melangkah lebih dekat lagi, namun tak kuasa karena entah kenapa kakinya terasa amat berat.
Batin Leon begitu terguncang, bagaimana tidak? Hatinya remuk, dia yang pada awalnya ingin meminta penjelasan, tanpa disangka malah berujung pada pertengkaran yang menyebabkan sang kekasih keguguran. Pikirnya, janin yang tidak selamat itu pastilah anaknya.
Leon juga mulai menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia tidak tahu jika Chelsea sedang hamil anaknya? Bagaimana bisa dia tidak pernah memikirkan kemungkinan akibat percintaan semalam yang panas itu? Dan sebenarnya alasan macam apa yang membuat Chelsea harus menyembunyikan kehamilan ini darinya? Semua pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar tiada henti di dalam benak Leon.
"Keterlaluan! Kakak sudah keterlaluan!" seru Liana dengan tatapan garang kepada Leon.
"Aku yakin kalau janin di perut kak Mayra adalah anak Kak Leon! Padahal ... selama ini Kakak selalu memperingatkan aku supaya berhati-hati dan tidak berbuat macam-macam dalam pacaran. Tapi justru Kakak sendiri yang melakukan kesalahan!"
"Aku tak masalah jika kalian yang orang dewasa ini sudah berbuat melewati batas, aku benar-benar tak masalah selagi Kak Leon mau tanggung jawab! Tapi sekarang, masalahnya tak sesederhana itu ... kak Mayra sekarang terluka dan bahkan anak kalian yang jadi korbannya! Sekarang bagaimana Kak Leon mau tanggung jawab?!"
"Apa Kakak mau tanggung jawab dengan menikahi kak Mayra?! Itu pun jika dia masih mau dinikahi pria seperti Kakak! Sudah terlambat, Kak! Sudah terlambat .... Aku kecewa pada Kakak!" teriak Liana yang kemudian berpaling, air matanya juga kian tambah deras.
Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, dia langsung berlari keluar dari ruangan itu. Liana begitu marah dan kecewa pada kakak yang sosoknya selama ini selalu dia banggakan.
Sedangkan di satu sisi, Leon masih mematung. Dia tak berniat mengejar Liana untuk memberikan penjelasan kepadanya. Perlahan dia melangkah mendekat, menggenggam sebelah tangan Chelsea yang tidak dipasangi oleh selang infus. Tangan halus itu terasa dingin, perlahan dia juga membelai wajah Chelsea yang tampak pucat.
"Chelsea ..." ucap Leon dengan suara lirih dan gemetar. Bahkan tanpa dia sadari, dirinya telah menitikkan air mata saat melihat keadaan buruk yang menimpa wanita yang masih dia sebut sebagai kekasihnya.
"Kenapa ... kenapa kau tidak bilang padaku jika kau sedang hamil? Jika saja aku tahu kalau kau hamil anakku, aku pasti tidak akan memperlakukanmu dengan buruk."
"Dan sekarang ... hubungan kita jadi semakin rumit, dan saat kau sadar nanti, mungkin kau akan sangat membenci diriku. Meskipun kau menyembunyikan identitas aslimu dariku, kau harusnya tidak boleh menyembunyikan soal kehamilanmu juga ...."
"Pada awalnya aku ingin meminta penjelasan darimu karena selama ini sudah membohongiku. Harusnya aku yang marah, karena aku sudah ditipu ... Tapi, sekarang aku tak tahu harus bagaimana untuk menghadapi dirimu ...."
__ADS_1
"Maaf, karena aku membentakmu dan menuntut sesuatu padamu. Pada akhirnya kau menderita karena aku ...."
"Aku tak tahu, apakah aku masih pantas atau tidak untuk meminta maaf padamu. Aku menyesal ... kumohon saat kau sadar nanti, tolong jangan membenciku ...."