Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Tugas Terakhir (2)


__ADS_3


Chelsea dan Leon berjalan mengikuti Kaitlyn, mereka berdua sama-sama penasaran si banci ini akan membawa mereka ke mana. Kaitlyn membawa mereka berdua bukan ke sembarang tempat, yang mereka datangi adalah sebuah tempat yang merupakan area khusus di Grizz Glory Casino.


Area yang mereka masuki adalah bagian dari Golden Eyes. Area khusus ini ditujukan untuk para tamu VIP yang sudah berlangganan di kasino ini. Para tamu ini berkumpul, berjudi pada sebuah permainan yang taruhannya tidak main-main. Bahkan taruhannya dapat menyentuh angka miliaran.


Para tamu yang termasuk VIP Golden Eyes biasanya memang berasal dari keluarga kaya, pengusaha, atau bahkan pejabat. Sudah tidak diragukan lagi seberapa banyaknya uang yang mereka simpan di kantong mereka. Meskipun sudah terbilang luar biasa, area Golden Eyes ini hanya area nomor dua. Di atas area ini masih ada area yang lebih khusus, yaitu area Diamond Claw.


Berbeda halnya jika area Diamond Claw, para VIP yang berlangganan di area itu jauh lebih mempunyai pengaruh ketimbang yang ada di Golden Eyes. Dan ada satu hal lagi yang pasti, para VIP Diamond Claw sudah mengetahui jika tempat ini adalah markas utama sebuah kelompok gangster. Jadi, tak jarang jika mereka mendapatkan perlakuan khusus dari Casino Manager secara langsung.


Sebenarnya dengan status sebagai elite yang Leon miliki, dia sudah pantas diajak masuk untuk melayani tamu VIP Diamond Claw. Namun, karena dia bersama dengan Chelsea yang kemampuannya masih diragukan, alhasil Kaitlyn hanya membawa mereka berdua ke area Golden Eyes.


Leon dan Chelsea sama-sama menatap takjub saat melihat area Golden Eyes ini yang dipenuhi oleh barang-barang yang serba mewah. Meskipun sudah lama bergabung, Leon baru pertama kali ini menginjakkan kaki di area khusus ini.


"Berikan!" pinta Kaitlyn pada salah seorang bandar yang sedang bertugas di area Golden Eyes. Bandar tersebut paham soal apa yang Kaitlyn minta darinya. Dia lalu memberikan Kaitlyn semacam kertas yang bertuliskan mengenai biodata semua para VIP yang saat ini sedang bermain.


"Hmm ..." gumam Kaitlyn sambil membaca kertas itu sekilas. Karena dia memang bagian dari Divisi 1, sudah banyak para tamu VIP yang dia hafal. Kaitlyn lalu mengembalikan kertas itu pada sang bandar, kembali berjalan ke pinggir sambil mengajak Chelsea dan Leon bersamanya.


"Hei, sebenarnya apa maumu membawa kami kemari?" tanya Leon dengan nada ketus. Meskipun secara otoritas lebih tinggi Kaitlyn, namun dia sama sekali tidak menaruh hormat kepadanya.


"Haiss ... biar daku jelaskan pada kalian." Kaitlyn lalu berbalik, menatap Leon dan Chelsea dengan tampang sok berkuasa. "Dengar ya, kalian berdua di sini bertugas sebagai tim pengawal bayaran!"


"Pengawal bayaran?" tanya Chelsea dan Leon bersamaan.


"Benar, kalian hanya akan menjadi pengawal jika pelanggan VIP di sini mau menggunakan jasa kalian! Uang dari para VIP akan masuk sepenuhnya ke dalam kas kasino, dan kalian berdua akan mendapatkan bayaran sesuai dengan aturan yang sudah ditentukan. Apabila kalian mendapatkan uang tip dari VIP, maka silakan simpan untuk kalian sendiri. Kalian tidak perlu melaporkan berapa yang kalian dapat dari pelanggan VIP."


"Tugas kalian adalah mengawal pelanggan VIP dengan selamat sampai ke tempat yang dia inginkan. Jika kalian sudah diminta untuk berhenti mengawal, maka tugas kalian telah usai. Kalian bisa kembali ke kasino dan memberikan laporan padaku! Paham?" tanya Kaitlyn dengan alis yang terangkat sebelah.


"Paham," jawab Chelsea dan Leon serempak.


"Baguslah, kalian berdiri dan menunggu di sini saja. Daku mau mengerjakan tugasku!" Kaitlyn lalu berbalik dan melangkah pergi, mendekati para pelanggan VIP yang masih larut dalam permainan judi mereka.


Yang Kaitlyn lakukan saat ini bisa disebut sebagai pekerjaan seorang pit boss, dia bertugas dan bertanggung jawab atas area Golden Eyes. Marcell memberikan posisi ini kepadanya karena dia punya pengetahuan dan pengalaman terkait dengan perjudian. Kaitlyn dipercaya karena dia juga mampu untuk mengawasi karyawan ataupun pelanggan. Tak jarang juga dia berinteraksi lebih dekat dengan pelanggan dan menjadi bandar.


Semuanya tampak berjalan mulus seperti yang selalu Kaitlyn lakukan. Para pelanggan juga merasa nyaman dengannya, karena mereka terpana dengan bentuk tubuh Kaitlyn yang seksi serta wajahnya yang rupawan. Andai saja jika mereka tahu bahwa semua itu hanya kepalsuan, mungkin mereka akan langsung merasa jijik kepada diri mereka sendiri karena sudah tergoda.


Sedangkan Leon dan Chelsea, mereka masih berdiri dalam posisi siaga. Dari kejauhan turut memperhatikan serta mengawasi apa saja yang terjadi di sana.


"Leon!" panggil Chelsea seraya mencolek tangan Leon.


"Ya? Ada apa? Apa kau melihat sesuatu yang mencurigakan?"


"Bukan itu. Tapi ... apakah ini benar-benar cara Divisi 1 menghasilkan uang? Maksudku ... untuk skala markas utama, ini lebih biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan Divisi lainnya. Aku tahu jika kasino ini mampu meraup keuntungan yang banyak. Tapi dengan adanya jasa pengawal bayaran yang belum kita lakukan. Apakah cara semacam ini benar-benar efektif?" tanya Chelsea dengan wajah yang tampak dipenuhi oleh keingintahuan.


"Ya, mungkin saja ini benar-benar efektif. Jika tidak begitu, mana mungkin Divisi 1 melakukan ini? Lagi pula menurutku menyewa jasa pengawal bayaran seperti kita ada untungnya. Misalnya saja ada pelanggan yang telah memenangkan miliaran taruhan. Mustahil jika dia membawa uang sebanyak itu sendirian tanpa rasa waswas. Jadi, memilih jasa pengawal bayaran seperti kita itu jelas ada gunanya," jelas Leon yang menarik kesimpulan menurut pemikirannya sendiri.


"Hemm ... itu benar juga, kurasa aku sudah paham," ucap Chelsea sambil mengangguk pelan.


Beberapa saat setelahnya permainan yang para tamu VIP itu lakukan telah usai. Pemenangnya sudah jelas ditentukan. Sedangkan bagi yang kalah, mereka mendapatkan kerugian yang besar, mereka langsung keluar dari ruangan Golden Eyes dengan perasaan penuh kekesalan. Meskipun begitu, mereka tetap diantar dan dilayani dengan baik oleh pegawai kasino.


Ada salah seorang bandar yang tersisa. Dia bertugas membayarkan kemenangan untuk pelanggan, menarik uang yang diberikan pelanggan untuk taruhan, hingga melayani penukaran chip ke uang tunai.


"Wahh ... selamat untuk Tuan Arthur telah memenangkan permainan!" seru Kaitlyn dengan senyuman sambil bertepuk tangan.


"Haha, tentu saja ini berkat dukungan dan semangat dari Nona Kaitlyn!" Arthur mengulurkan tangan dan berjabat tangan. Pandangan matanya juga terus menerus melihat pada bagian dada Kaitlyn yang tampak menonjol.


"Tuan Arthur bisa saja, saya hanya memberikan semangat saja. Tuan menang karena hari ini memang keberuntungan Tuan!" Kaitlyn tersenyum palsu. Meskipun dia memang suka menggoda orang, tetapi pria bernama Arthur ini bukanlah seleranya. Dia tetap bersikap ramah karena demi menjaga profesionalitas kerjanya.

__ADS_1


Sang bandar yang bertugas menukarkan chip telah kembali. Dia menyerahkan dua buah koper hitam yang semunya berisikan uang kepada pelanggan VIP bernama Arthur tersebut. Arthur segera menerima uang hasil kemenangannya dalam bertaruh. Dia juga membuka kedua koper itu untuk memeriksanya.


Kedua mata Arthur tampak bercahaya ketika melihat tumpukan uang yang ada di dalam koper tersebut. Pikirnya, dengan uang sebanyak ini maka dia bisa bersenang-senang dengan wanita cantik mana pun yang dia mau. Dia tak berlama-lama memandangi uangnya, ingin cepat-cepat pulang dan menyimpan uang berharga tersebut. Dia menutup kembali dua buah koper itu dan menentengnya dengan kedua tangan di sisi kanan dan kiri.


"Tuan Arthur, tunggu sebentar!" teriak Kaitlyn.


"Ya?" Arthur menoleh. Dengan senyuman yang terkesan mesum, dia pun berkata, "Ada apa? Apa malam ini kau ingin bermalam bersamaku?"


"Haha, Tuan Arthur jangan menggoda saya." Kaitlyn diam-diam memberikan isyarat tangan kepada Leon dan Chelsea supaya mereka berdua mendekat.


Setelah Chelsea dan Leon berdiri dengan posisi siap di belakang dirinya. Kaitlyn kembali berucap, "Tuan Arthur, biar saya perkenalan dua orang istimewa yang ada di belakang saya ini. Kedua orang ini adalah pengawal yang sudah profesional. Mereka berdua sudah siap untuk mengawal keselamatan Tuan. Tetapi ...."


"Jasa pengawalan ini tidak gratis, karena tidak termasuk ke dalam kategori pelayanan pokok untuk VIP. Saya percaya jika Tuan Arthur adalah orang yang cerdas. Perjalanan dengan membawa uang sebanyak itu seorang diri pasti berbahaya. Terlebih lagi ... tuan Dylan yang tampaknya memiliki suasana hati yang buruk karena kekalahan tadi. Takutnya beliau berbuat sesuatu yang tidak-tidak pada Tuan Arthur. Jadi, apakah Tuan Arthur bersedia menggunakan jasa pengawalan kami?" tanya Kaitlyn dengan seringai liciknya.


"...." Arthur termenung, memikirkan sisi baik dan buruknya dari tawaran yang Kaitlyn berikan.


Wanita ini ada benarnya juga. Lebih baik aku berjaga-jaga saja jika Dylan berniat balas dendam karena kekalahannya padaku. Lalu ... pengawal wanita yang berdiri di belakangnya boleh juga. Meskipun dia tidak banyak bicara, tapi dia cantik dan anggun. Pesonanya tidak kalah dengan Kaitlyn. Hehe, mungkin aku bisa bermain-main dengannya. Aku cukup membayar satu kali dan aku akan mendapatkan jasa pengawalan sekaligus kesenangan.


"Sial," gumam Leon yang diam-diam mengepalkan kedua tangannya. Dia menyadari jika saat ini Arthur sedang memasang tatapan mesum kepada kekasihnya.


"Sepertinya tawaran darimu boleh juga. Katakan, berapa harga jasa yang harus aku bayar?" tanya Arthur yang mulai merasa tertarik. Dia juga sudah membayangkan hal macam apa yang bisa diperbuat nantinya.


"Tidak banyak, hanya ... setengah dari apa yang sudah Tuan Arthur menangkan!" jawab Kaitlyn yang seketika membuat Arthur ternganga karena syok.


"Setengah katamu?! Kau gila! Itu hampir 7 miliar! Ini perampokan!" teriak Arthur yang langsung naik pitam begitu mendengar tarif yang tidak masuk akal.


"Hoho, bukan perampokan Tuan ... biaya sebanyak itu sebanding dengan keselamatan Tuan yang terjamin," bujuk Kaitlyn lagi.


"Sudahlah! Aku tidak mau! Mau kau jamin nyawaku selamat atau apa pun, ini tetap saja perampokan! Dasar wanita siluman!" umpat Arthur yang sejurus kemudian bergegas pergi dari ruangan itu sambil membawa uangnya.


"Huh, kalau tidak mau ya sudah! Tak perlu mengataiku siluman!" gerutu Kaitlyn karena sebal.


"Tentu saja tidak! Mari, kita ke ruangan Golden Eyes nomor 4 yang ada di sebelah!" ajak Kaitlyn yang suasana hatinya berubah buruk.


"Tunggu sebentar. Jika kau gagal membujuk pelanggan untuk memakai jasa kami, bagaimana caramu yang menghasilkan banyak keuntungan itu?" tanya Leon penasaran.


"Oh iya, daku baru sadar kalau kau kalian belum tahu soal cara kerja kasino ini. Sebenarnya bisnis dari kasino saja sudah menguntungkan, tetapi Kepala Divisi tidak terlalu menyukai cara yang kurang efisien ini. Lalu Kepala Divisi akhirnya membuat dua jenis tim khusus sebagai tambahan."


"Apa salah satunya adalah tim pengawal bayaran seperti kami?" tanya Chelsea.


"Iya, dan satunya lagi adalah tim perampok!"


"Tim perampok?!" tanya Chelsea dan Leon serempak. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan penjelasan yang Kaitlyn berikan.


"Sebagai contoh, kalian sebut saja si bajing*n mesum Arthur tadi. Dia adalah salah seorang VIP yang memenangkan taruhan. Dia mendapatkan uang hampir 14 miliar. Jumlah itu bukan jumlah yang sedikit. Karena kita tidak berhasil mengeruk uangnya lewat jasa pengawal bayaran. Maka demi mengeruk uang itu kita akan kerahkan tim perampok."


"Tugas tim perampok mudah saja. Mereka hanya tinggal mencegat target dan mengambil semua uang yang telah dihasilkan di kasino ini. Tetapi jika mendesak, tim perampok kita diperbolehkan untuk membunuh target. Karena target juga seorang VIP, kematiannya perlu sedikit taktik, bisa saja kita melempar kesalahan pada orang lain."


"Emm ... jika kalian mau, kalian juga bisa berubah jadi tim perampok, daripada bosan dan menganggur di sini. Apa kalian tertarik? Jika kalian mau, daku akan memberitahukan soal titik lokasi di tempat mana kalian harus mencegat target."


"Tidak, tidak! Kami jadi tim pengawal bayaran saja! Kau juga ingin begitu kan, Leon?" tanya Chelsea kelabakan.


"Iya," jawab Leon singkat. Dia mengerti jika kekasihnya ini memang tidak terlalu suka jika disuruh untuk melukai orang. Leon terpaksa mengiyakan, meskipun sebenarnya dia punya niatan untuk membunuh Arthur karena merasa marah. Dia masih tak bisa melupakan saat Arthur sempat memandang Chelsea dengan tatapan mesum.


"Baiklah kalau begitu. Ayo ikuti daku ke ruangan sebelah! Dan jangan lupa untuk bersikap seperti tadi!" ucap Kaitlyn penuh penekanan.


"Oke," jawab Chelsea yang buru-buru mengikuti langkah laki Kaitlyn.

__ADS_1


Ternyata seperti ini cara Divisi 1 menghasilkan uang dalam jumlah banyak. Terdapat dua tim khusus yang bisa dibilang sama-sama bertujuan untuk menguras uang para pelanggan. Biaya tim pengawal bayaran yang selangit, serta tim perampok yang bertugas meraup semuanya. Haiss ... jika saja para pelanggan tahu akan hal ini, mereka pasti banyak yang memilih membayar jasa pengawal bayaran, keselamatan nyawa sudah terjamin pula.


Meskipun ini sudah cukup terbilang kejam. Tetapi, aku yakin jika masih ada bisnis lain yang bergerak selain di kasino ini. Family di Divisi 1 tak cuma satu orang. Leon bilang padaku kalau Family yang menjadi bagian dari Divisi 1 ada dua orang. Yang satu adalah David, seorang aktor sejuta umat yang saat ini sedang menjalani rehabilitasi. Dan yang satunya adalah Marcell, aku sudah pernah bertemu dengan mereka berdua. Hanya saja ... soal Marcell, sepertinya dia bukan orang yang sesederhana ini. Aku yakin sekali jika selain kasino ini masih ada hal lain yang dia urus juga.


Entah akan serumit apa nanti. Satu hal yang pasti, aku tidak boleh lengah, aku harus mencari tahu kebenaran di balik kematian kak Liam! Demi ketenangan arwah kak Liam sendiri, dan demi balas dendamku! Kak Liam adalah kakak yang sudah berkorban banyak demi aku. Terserah jika cara yang aku pakai salah, yang aku inginkan hanya membalas baktiku sebagai adiknya!


***


Leon dan Chelsea bersama-sama melakukan tugas mereka. Berbeda cerita dengan kejadian di ruangan Golden Eyes yang sebelumnya, di ruangan yang baru ini, pelanggan VIP yang meraih kemenangan dalam taruhan bersedia untuk memakai jasa mereka.


Sesuai arahan dari Kaitlyn, Chelsea Dan Leon pun melakukan tugas sebagai pengawal bayaran dengan baik. Bahkan demi membuat seolah tugas pengawalan ini memang berguna, Kaitlyn juga mengatur orang suruhan untuk berperan sebagai penjahat yang ingin menyerang pelanggan VIP tersebut.


Chelsea dan Leon sama-sama tahu jika orang yang melakukan sergapan ini adalah orang yang Kaitlyn atur. Jadi, mereka berdua hanya bertindak sewajarnya saja, tak sampai melalukan tindakan pembunuhan.


"Terima kasih sudah mengantarku sampai rumah! Sampaikan juga rasa terima kasihku pada Grizz Glory Casino! Pelayanan yang diberikan sungguh luar biasa! Aku puas!" ucap pria muda yang memenangkan taruhan. Tanpa mengulur waktu lebih banyak lagi, dia langsung memasuki gerbang rumahnya yang mewah, berlari secepat mungkin dengan sekoper uang yang didekap di dadanya.


Chelsea berdiri di depan gerbang bersama dengan Leon, dia hanya tertawa miris ketika melihat tingkah pria muda itu yang tak tahu apa-apa. "Haha, kau dengar juga kan, Leon? Dia bilang terima kasih pada kita."


"Ya, aku juga mendengarnya. Sepertinya dia cuma anak muda yang baru coba-coba main ke kasino. Memakai uang orang tuanya untuk bertaruh. Tapi sudahlah, mari kembali dan berikan laporan!" ajak Leon yang kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Kerja bagus, Chelsea ..." ucap Leon dengan senyuman ketika sudah duduk di belakang setir mobil.


Chelsea lalu membalas senyuman itu. "Kerja bagus untukmu juga, Leon. Menyenangkan ya bisa bekerja bersamamu, andai saja kita bisa terus seperti ini."


"Tentu saja kita akan terus bekerja bersama. Kenapa kau tiba-tiba bilang begitu?" tanya Leon terheran-heran.


"Ehmm ... bukan apa-apa, hanya saja ... aku rasa ini adalah tugas terakhirku di organisasi ini. Entah ini kebetulan atau memang sengaja diatur untukku, tapi aku sudah tahu perihal setiap Divisi. Divisi 1 jadi Divisi terakhir yang aku ketahui, aku cuma merasa ... mungkin ini adalah akhirnya ..." jawab Chelsea tanpa menatap ke arah Leon.


Dasar payah, bisa-biasanya mulutku ini keceplosan. Nisa sudah bilang jika Divisi 1 akan jadi tugasku yang terakhir. Aku tidak boleh memberi tahu Leon soal apa yang Nisa katakan padaku. Jadinya aku hanya bisa berbohong dan memberikan alasan pada Leon.


"...." Di satu sisi Leon hanya membisu. Namun, setelahnya dia malah menghela napas dan tersenyum tipis. "Meskipun aku tak paham dengan alasanmu itu. Tapi semoga saja itu benar. Aku pikir, bagus juga jika tugas di Divisi 1 ini jadi yang terakhir bagimu. Dengan begitu, kau bisa berhenti jadi gangster dan hidup seperti apa yang kau mau."


"Haha, itulah maksudku ..." ucap Chelsea dengan senyum canggung.


Leon lantas menginjak gas dan melaju dengan kecepatan normal, untuk kembali ke kasino dan memberikan laporan. Bisa dibilang jika hari ini, mereka telah melakukan tugas sebagai tim dengan baik. Setidaknya mereka tak menemui kesalahan ataupun halangan yang berarti.


Pekerjaan Chelsea dan Leon selama di Divisi 1 tetap tak mengalami perubahan. Hingga hari ke-4 tiba, di hari keempat ini Leon secara khusus dipanggil untuk menemui Marcell di ruangan Casino Manager. Leon sendiri kebingungan lantaran dia merasa jika dia tak melakukan satu pun kesalahan ataupun hal lain yang dapat menjadi alasan kenapa dia dipanggil.


"Saya Leon, menghadap Kepala Divisi!" ucap Leon seraya memberi hormat.


"Baguslah kalau kau sudah di sini. Aku tak mau berbincang banyak denganmu, aku hanya ingin menyampaikan pesan ketua untukmu!" ucap Marcell yang masih duduk dengan gaya angkuhnya.


"Ketua memberikan saya pesan?" tanya Leon dengan jantung yang berdebar-debar. Dia mulai gelisah dan cemas karena memikirkan pesan macam apa yang ketua berikan padanya.


"Ini soal wanita yang kau lindungi itu. Ketua bilang jika ini sudah waktunya bagi dia untuk mengetahui yang sebenarnya."


Kedua mata Leon seketika membulat karena begitu terkejut dengan apa yang Marcell katakan. "T-tapi ... ketua sudah bilang pada saya, bahwa ketua telah memberikan kewenangan bagi saya untuk mengurus masalah Chelsea secara pribadi."


"Iya, aku juga tahu soal itu. Tetapi, untuk yang satu ini ... cepat atau lambat memang harus dilakukan. Ketua tidak melanggar perkataannya, dia juga mengizinkanmu supaya terus berada si sisinya." Tiba-tiba Marcell berhenti bersandar, beralih duduk tegap dan menatap Leon dengan tatapan serius.


"Leon, aku tahu kalau kau punya kesetiaan yang tinggi pada kakak angkatmu itu. Ini berkaitan dengan Dika, kau sendiri sudah paham perlakuan macam apa yang telah dia alami. Intinya keputusan ketua sudah bulat, Violent Cruise akan berlabuh 2 hari lagi. Jadi persiapkan dirimu, 2 hari lagi kau dampingi wanitamu itu untuk mengetahui kebenaran soal Violent Zone yang sebenarnya! Tunjukkanlah pada dia bagaimana sosok iblis mendiang William Adinata itu kepadanya!"


"...." Leon diam seribu bahasa. Sungguh keputusan yang sulit baginya. Tetapi dia tak punya kuasa, dia tak mampu lagi untuk menunda Chelsea mengetahui soal kebenaran kelam 10 tahun silam.


"Baik, saya mengerti ... saya akan melakukan tugas saya dengan baik!"


"Bagus, jangan kecewakan ketua ataupun kakak angkatmu yang menaruh kepercayaan terhadapmu!" ucap Marcell sekali lagi dengan penuh penekanan. Seakan ingin memperingatkan Leon tentang konsekuensi jika dia berkhianat.

__ADS_1


"Saya mengerti. Saya mohon undur diri, Kepala Divisi ...."


__ADS_2