
"Chelsea, apa kau serius?" tanya Leon lagi. Dia sulit percaya dengan pilihan pertama yang Chelsea ambil di permulaan hidupnya yang baru.
"Tentu saja aku serius, lagi pula selama ini bertemu kembali dengan Luciel juga merupakan tujuanku. Aku sudah menceritakan segalanya padamu, kenapa kau terkejut?" Chelsea keheranan.
"Aku terkejut karena pilihanmu itu berisiko, kau bilang jika Luciel sekarang bersama dengan adikmu. Adikmu itu berada di kediaman utama keluarga Kartawijaya, jika begitu ... bukannya kau sama saja dengan mengekspos diri di hadapan mereka? Pikirkan lagi Chelsea, jangan terburu-buru mengambil keputusan," bujuk Leon supaya Chelsea mempertimbangkan lagi keputusannya.
"Iya, itu artinya aku akan menunjukkan pada mereka jika aku masih hidup. Akan tetapi, ini tidak seperti yang kau kira. Aku tidak akan langsung mengekspos di depan semua orang secara terang-terangan. Aku hanya ingin menemui Luciel dan Natasha, supaya aku bisa menjelaskan padanya, supaya dia tidak salah paham atas semua tindakanku yang memalsukan kematian."
Chelsea tersenyum tipis, lalu meraih sebelah tangan Leon dan menggenggamnya. "Leon, bagaimana kondisimu? Apakah lukamu parah? Apa kau masih sanggup menemaniku keluar hari ini?"
"Keluar? Memangnya kau mau mengajakku ke mana?" tanya Leon penasaran.
"Aku mau mengajakku ke suatu tempat, karena hari ini juga aku berencana untuk bertemu dengan Luciel. Dan aku ingin kau ikut bersamaku," jawab Chelsea dengan tatapan sungguh-sungguh.
"Ehmm ... itu bukannya terlalu cepat? Lagi pula ... statusku masih orang luar, yang mau kau perbincangkan dengan adikmu nanti pasti bersifat pribadi," jawab Leon yang salah tingkah. Pikirnya, Chelsea mau mengajaknya ikut bersama karena sekalian ingin mengenalkan dirinya pada Natasha dan Luciel.
"Sebenarnya ... ini bukan soal hal pribadi atau bukan, hanya saja rencanaku untuk bertemu dengan Natasha sedikit berbahaya. Karena itu aku mau mengajakmu," ucap Chelsea dengan nada bersalah. Sedikit tidak enak hati karena telah membuat Leon berharap.
"Berbahaya? Memangnya kau berencana ingin menemui Luciel di mana?" tanya Leon yang mulai khawatir jika akan ada pertarungan berdarah lagi yang akan terjadi.
"Berbahaya atau tidak sebenarnya belum pasti, karena aku ingin menemui Luciel di dekat area sekolah. Dan Luciel ... dia satu sekolah dengan anaknya Nisa, yang aku khawatirkan nanti jika aku tak sengaja bertemu Nisa dan harus melawannya. Karena itulah aku ingin mengajakmu, Leon. Tetapi ... jika kau keberatan juga tidak apa-apa," jawab Chelsea dengan ekspresi canggung. Canggung karena takut jika Leon menganggapnya sedang mencoba memanfaatkan.
Sejenak Leon termenung, berpikir jika yang dibilang Chelsea ada benarnya juga. "Baiklah, aku akan ikut denganmu."
"Terima kasih, Leon! Kalau begitu ayo berangkat sekarang! Luciel itu masih anak TK, sebentar lagi jamnya Luciel untuk pulang akan tiba!" ajak Chelsea yang langsung berdiri.
"Apa kau tidak makan dulu?" tanya Leon.
"Tidak, makan nanti saja tidak apa-apa! Ayo berangkat sekarang sebelum kesempatan kita hilang! Aku tidak mau menunda lagi!"
"Baiklah," jawab Leon yang kemudian pasrah berjalan mengikuti Chelsea.
***
Sesuai aba-aba dari Bu guru, anak-anak yang sudah menyelesaikan pembelajaran hari ini pun langsung berdiri. Bersiap untuk menyanyikan sebuah lagu yang selalu dinyanyikan setiap kali mereka akan pulang.
🎶🎶🎶
Gelang si paku gelang, Gelang si rama-rama ...
Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang
Bersama-sama ...
Mari kawan, marilah pulang, beri Bu guru salam selamat siang ...
🎶🎶🎶
Begitu mereka selesai bernyanyi, anak-anak segera memakai tas ransel mereka. Satu per satu berpamitan pada Bu guru, lalu memakai sepatu yang ditata di rak yang berada di luar ruang kelas.
Luciel yang sudah selesai memakai sepatu masih menunggu Keisha. Lalu mereka berdua berjalan bersama, menuju ke halaman sekolah dan melihat-lihat apakah mereka sudah dijemput atau belum.
"Luciel! Mama di sini!" teriak Natasha seraya melambaikan tangan dari liar gerbang sekolah.
__ADS_1
"Ah, di sana! Ayo Keisha!" Luciel menggandeng tangan Keisha, mengajaknya untuk menghampiri Natasha.
Keisha bingung, terus memperhatikan kanan dan kiri, masih belum melihat tanda-tanda dijemput oleh bunda atau ayahnya. "Tante Natasha, bunda di mana?"
"Hari ini Keisha ikut tante pulang ke kediaman utama, ya! Bundamu tadi sudah berpesan supaya aku sekalian menjemputmu," jawab Natasha.
"Kenapa bunda berpesan begitu? Apa bunda sedang berada di kediaman utama?" tanya Keisha lagi.
"Iya, dan sekarang dia sedang kerepotan mengurus kedua adik bayi. Karena tadi mereka baru saja melakukan imunisasi."
"Baiklah! Keisha mau ikut Tante! Nanti Keisha juga bisa main lebih lama lagi dengan Luciel! Benar kan, Luciel?" tanya Keisha yang beralih menatap Luciel.
"Iya, ayo nanti kita kerjai kakek!" jawab Luciel yang membuat keduanya tertawa cekikikan.
"Haiss ... kalian ini, ayo masuk!" ajak Natasha pada kedua bocah itu. Dia sudah terbiasa dengan tingkah Luciel dan Keisha yang tidak bisa diam ketika bersama. Alhasil mereka berdua memilih untuk duduk di kursi belakang bersama-sama.
Natasha mulai menjalankan mobilnya, tetapi tak lama setelah dia berbelok di perempatan pertama, dia mendapati hal yang tidak mengenakkan. Mobilnya dicegat oleh sebuah mobil hitam asing.
TINN! TIINN!
Natasha membunyikan klakson mobilnya berkali-kali, dia makin kesal lantaran mobil yang menghadang itu tak kunjung bergerak minggir juga.
"Ada apa, Mama?" tanya Luciel.
"Mobil di depan itu, Sayang. Dia tidak mau minggir dan menghalangi jalan kita," jawab Natasha.
"Huh, jahat sekali! Ini kan bukan jalan miliknya! Nanti Keisha akan minta ke ayah supaya beli jalan ini! Supaya kita tidak diganggu oleh orang lain lagi!" sahut Keisha yang juga kesal karena tak kunjung jalan.
"Astaga ...." Natasha menepuk jidatnya, tak habis pikir jika Keisha akan berkata demikian.
"K-Kak Chelsea?!" Natasha terperangah.
"Mami!!" teriak Luciel.
"Bibi pengasuh?!" seru Keisha.
Sungguh di luar dugaan, ketiga orang ini sama-sama mengenal Chelsea dengan sebutan yang berbeda. Meskipun Natasha masih setengah bingung dengan kemunculan Chelsea yang tiba-tiba, dia ingin sekali segera turun, memeluk Chelsea untuk melepas rindu yang menumpuk selama 6 tahun.
"Eh?!" Natasha kaget dan mengurungkan niatnya. Dia bisa melihat dari balik kaca mobil jika Chelsea memberikan isyarat padanya untuk mengikuti dirinya.
"Mama! Itu mami! Ayo kita temui dia!" rengek Luciel.
"Iya, Sayang! Itu pasti! Luciel sabar sedikit, ya!"
Di satu sisi Chelsea kembali naik ke mobil, dia lantas menengok ke arah Leon yang berada di belakang setir.
"Leon, ayo jalan! Kita ke taman yang ada di depan sana!" pinta Chelsea yang kemudian direspons dengan anggukan oleh Leon.
Seperti yang Chelsea inginkan, Leon memberhentikan mobil begitu sampai di sebuah taman umum yang berada tak jauh dari sana. Begitu Chelsea dan Leon turun, Natasha bersama kedua anak itu juga turun. Natasha berlari lebih dulu, tak memedulikan hal lain asalkan dia dapat mendekati Chelsea.
"Tasha," ucap Chelsea dengan senyuman.
"I-ini ... benar-benar Kakak!" Tangis Natasha pecah seketika, dia juga memeluk Chelsea dengan begitu eratnya.
"Kak Chelsea selama ini ke mana saja?" tanya Natasha dengan suara gemetar. Tangan yang memeluk Chelsea saat ini pun ikut gemetar. Dia terenyuh saat mampu memeluk seseorang yang selama ini dia kira sudah tiada.
__ADS_1
"Tasha, maafkan kakak. Kakak janji akan jelaskan semuanya padamu," ucap Chelsea yang kemudian membalas pelukan adiknya itu.
Setelah pelukan itu lepas, Luciel yang sejak tadi melihat lantas mendekati Chelsea. "Mami ..." ucapnya dengan wajah yang memerah, seakan bisa menangis kapan saja.
"Luciel sayang!" Chelsea berjongkok, juga memberikan pelukan yang hangat kepada sosok yang selama ini setiap malam selalu dirindukan. "Maafkan mami ... mami tidak pernah bermaksud menelantarkan Luciel. Luciel mau memaafkan mami, kan?"
"Iya ... mami jangan pergi lagi ... Luciel juga merindukan mami ...." Pada akhirnya Luciel tak mampu menahan air matanya, dia juga membalas pelukan Chelsea dengan kedua tangan kecilnya.
Sedangkan di sisi lain, Keisha jadi yang paling kebingungan. Dia lantas menarik-narik rok yang dipakai Natasha dan berkata, "Tante, kenapa bibi pengasuh bisa jadi kakaknya Tante dan maminya Luciel? Keisha bingung, ayo Tante jelaskan!"
"Keisha ... justru kau yang membingungkan, kenapa kau bisa menyebutnya sebagai bibi pengasuh? Apa kau sebelumnya pernah diasuh olehnya?"
Keisha mengangguk, tetapi mau bagaimana pun Keisha hanya anak kecil. Penjelasan darinya tidak bisa dipercaya begitu saja. Natasha lantas melihat ke arah Chelsea dan berkata, "Apakah itu benar, Kak? Kakak pernah jadi pengasuhnya Keisha?"
"Hm?" Chelsea lantas berdiri, tak melepaskan Luciel dan beralih menggendongnya. "Ah itu ... memang pernah, tapi hanya satu hari saja. Aku akan jelaskan itu nanti. Mari kita cari tempat duduk untuk bicara lebih nyaman."
Chelsea lalu beralih menatap ke arah Leon, memberikan isyarat supaya Leon mengambil alih Keisha. Leon yang mengerti maksud isyarat Chelsea lalu mengangguk dan berinisiatif mendekati Keisha.
"Tuan Muda Kecil ... mari ikut paman!" ajak Leon dengan senyuman yang kaku. Baru pertama kali ini dia berhadapan dengan anak kecil.
"Tidak mau, memangnya paman siapa?" tanya Keisha seraya bersembunyi di belakang Natasha.
"Paman adalah ... anak buahnya ibumu," jawab Leon asal.
"Benarkah? Paman tidak bohong, kan?" tanya Keisha yang makin ragu, bahkan dia juga menggunakan rok Natasha untuk menutupi wajahnya.
"Keisha, jangan tarik rok ku lagi! Keisha ikut paman ini saja, oke?" bujuk Natasha yang mulai merasa terganggu dengan tingkah Keisha.
"Tapi bagaimana kalau paman ini penculik? Tante tidak mau menjual Keisha ke penculik, kan? Nanti Keisha adukan ke kakek loh!"
"Astaga ...." Chelsea menghela napas, pertemuan ini tak berjalan mulus seperti yang dia kira. Meskipun dia tidak dibuat kesusahan oleh Nisa, nyatanya saat ini dia justru dibuat kesusahan oleh anaknya.
"Ehmm ... Boss Kecil, Boss Kecil masih ingat bibi, kan?" tanya Chelsea pada Keisha.
"Iya, saat itu Bibi yang menemani Keisha main di bakery," jawab Keisha yang masih bersembunyi.
"Baguslah kalau masih ingat. Hari ini bibi bawa paman ini, dia adalah orang yang tugasnya sama dengan bibi. Dia sama-sama anak buah dari bundamu." Chelsea lalu melirik ke arah Leon dan berbisik, "Panggil dia Boss Kecil, maka dia akan menurut!"
"Boss Kecil, ikut sama paman, ya?" bujuk Leon lagi.
"Memangnya paman mau bawa Keisha ke mana?" tanya Keisha lagi. Dia benar-benar merasa waspada pada orang baru.
"Ikut ke tempat yang menyenangkan!" jawab Leon asal. Dia yang sudah tidak sabar lagi tiba-tiba meraih tubuh kecil Keisha, lantas menggendongnya di atas pundak.
"Nah, ayo ke tempat yang menyenangkan!" seru Leon yang segera membawa Keisha menjauh.
"Akhirnya ... anak itu memang terkadang merepotkan," ucap Natasha dengan perasaan lega ketika Keisha sudah dibawa pergi oleh Leon.
"Oh ya, ngomong-ngomong siapa laki-laki itu? Ada hubungan apa dia dengan Kakak?" tanya Natasha lagi.
"Ah, namanya Leon. Dia Pacarku, eh ... m-maksudku rekan ... rekan yang kebetulan selalu membantuku!" jawab Chelsea dengan muka yang merona, dia merasa bodoh sekali karena telah keceplosan.
"Hmm ...." Natasha tersenyum kecil, menyadari jika sosok Chelsea yang sekarang telah banyak berubah. Sosok kakak yang dia kenal selalu bersikap dingin terhadap setiap pria, pada akhirnya kini telah luluh dan memiliki pacar.
"Haha, sepertinya banyak yang harus Kak Chelsea jelaskan padaku!"
__ADS_1
"Ya, tentu ...."