Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Cemburu


__ADS_3


"Hah?!" Leon ternganga dengan penjelasan yang Chelsea berikan. Dia tidak habis pikir jika Dika akan disebut sebagai orang yang menyimpang.


"Tolong dengarkan aku, Leon! Kau cuma salah paham. Aku bisa datang bersamanya itu cuma karena kebetulan. Mobilku mogok, lalu kebetulan saja Kepala Divisi lewat dan menawariku tumpangan. Aku tidak mau datang terlambat, jadi karena itu aku menerima bantuannya!" ucap Chelsea yang berusaha mencoba meyakinkan Leon.


"...." Leon terdiam, sama sekali tidak memberikan tanggapan apa pun.


"Percayalah padaku! Aku sebenarnya juga terpaksa menerima kebaikan dari Kepala Divisi. Aku tak punya perasaan apa-apa padanya! Jadi tolong jangan salah menilaiku!" ucap Chelsea sekali lagi.


Leon tetap diam. Lantas berbalik dan melangkah meninggalkan Chelsea begitu saja. Sedangkan di satu sisi, Chelsea juga diam dan tertunduk lesu. Entah kenapa dia merasa kecewa karena Leon tak percaya padanya. Dia juga tak tahu harus memberi penjelasan seperti apa lagi agar Leon tak salah paham.


Tiba-tiba saja Leon berhenti melangkah. Tanpa berbalik dan menatap Chelsea, dia pun berkata, "Kenapa masih belum jalan? Kau mau membuatku menunggu lagi?" tanya Leon dengan senyuman tipis yang tersungging di ujung bibirnya.


"Eh?!" Seketika Chelsea mendongak, merasa tak percaya jika Leon sudah kembali mempercayainya. Dan tak tahu kenapa dia tidak bisa mengendalikan diri lagi, dia langsung berlari untuk menyusul Leon. Bahkan dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Chelsea berjalan berdampingan bersama Leon. Dengan senyuman berseri, dia pun berkata, "Terima kasih sudah percaya padaku!"


"Hmmp ... terserah," jawab Leon seolah terkesan acuh tak acuh sambil memalingkan wajahnya.


Ini aneh, kenapa tadi aku sempat merasa tidak nyaman? Rasanya mirip seperti saat aku tidak rela melihat Liana berkencan dengan pacarnya. Tapi, yang tadi itu entah kenapa rasanya lebih menyesakkan.


Sama seperti malam sebelumnya, kali ini mereka berdua berkumpul bersama dengan penjaga dari Divisi 4 untuk menerima pembagian tugas. Dan kali ini bukan Damar yang membagikan tugas, melainkan diwakilkan oleh Kaitlyn.


Saat berhadapan dengan Chelsea, Kaitlyn pun mulai bicara dan menggoda dengan menggunakan logat khas miliknya. "Wah wah ... siapa ini, hm? Pantas saja daku merasa tidak asing, ternyata Mayra sayang~" Kaitlyn menyeringai, mencoba memegang dagu Chelsea dengan jari telunjuknya seperti yang sering dia lakukan sebelumnya.


Namun, kali ini ada yang berbeda. Chelsea dengan sigap mencengkeram tangan Kaitlyn tepat sesaat sebelum dia berhasil menyentuhnya. Dia tidak membiarkan wanita ini merendahkan dirinya lagi. "Tolong Nona Kaitlyn bersikap sepantasnya, sekarang saya adalah bagian dari Divisi 2! Jadi tolong perhatikan sikap!"


"...." Kaitlyn membisu, entah kenapa dia merasakan hawa mendominasi yang kuat dari Chelsea. Tentu dia tidak tahu jika dulunya wanita yang coba dia permainkan ini adalah seorang direktur. Aura mendominasi Chelsea yang mampu menekan seseorang belum hilang sampai sekarang.


"Cih, dirimu rupanya sudah makin berani. Sangat tidak tahu malu bagi seseorang yang dulu pergi dari sini dengan sombongnya! Menggelikan melihat dirimu kembali lagi menginjakkan kaki di sini!" cibir Kaitlyn yang langsung menarik tangannya kembali.


"...." Chelsea diam seribu bahasa, dia tidak mau dan malas untuk meladeni Kaitlyn berdebat.


Leon yang melihat hal itu hanya memutar bola matanya dengan malas. Lalu tiba-tiba berkata, "Kau masih di sini? Apa Kepala Divisi 1 benar-benar membuangmu?"

__ADS_1


"Hei hei hei~ Mana ada orang seperti daku dibuang, kepala Divisi bukan tidak menginginkan daku lagi. Tapi ... Bos Damar yang tidak rela melepasku dan mengembalikan daku~ Dirinya pasti sudah terkena panah cinta oleh pesonaku~" ucapnya penuh percaya diri.


Leon hanya terdiam sesaat dan menatap Kaitlyn dengan tatapan jijik. Dia tidak habis pikir jika seorang banci di depannya ini begitu narsis. Dan tentu saja dia juga tahu jika semua perkataannya hanya bualan belaka demi menghindari rasa malu telah dicampakkan. "Ck, sudahlah! Cukup basa-basinya! Cepat berikan tugasnya padaku!"


"Pria yang tidak sabaran sekali, dirimu bukan tipeku!"


"Aku sangat bersyukur dengan itu!" bentak Leon sambil melotot.


"Humph!" Kaitlyn mengerucutkan bibirnya, bertingkah selayaknya seorang wanita menggemaskan ketika merajuk. Sungguh seorang transgender yang lihai berperan.


Setelah Kaitlyn memeriksa daftar catatan tugas yang dia bawa pada sebuah clip board, dia kembali menatap Leon dan berkata, "Dirimu ditugaskan untuk menjaga ruang VVIP Nomor 5."


"Baiklah," jawab Leon.


Kaitlyn lalu berganti menatap Chelsea. "Dirimu juga sama." ucapnya dengan nada malas.


"Eh?! Maksudnya?" tanya Chelsea kebingungan.


"Dirimu mendapat tugas yang sama dengan Leon. Menjaga ruang dan memastikan keselamatan tamu VVIP Nomor 5! Apa masih belum jelas?" Kaitlyn menatap sinis.


"Cih, jangan terlalu berbangga diri! Dirimu bisa dipercaya menjaga ruang VVIP itu karena ada Leon! Leon itu adalah seorang elite di antara para elite, sedangkan orang baru seperti dirimu, menjaga ruang VIP level paling rendah pun juga belum pantas! Sama sekali tidak punya kualifikasi!"


"Kau ...!" Chelsea mengepalkan tangan sekuat mungkin hingga gemetaran lantaran mencoba menahan emosi untuk tidak memukul Kaitlyn. Dia sangat tidak terima dipandang dan dianggap rendah oleh seseorang.


"Aku sudah tahu apa tugasku! Aku akan mengawasi dan membimbing anggota baru di sampingku ini tanpa ada kesalahan! Kau sudah bisa pergi, jika kau sudah puas!" sahut Leon penuh penekanan.


"Huh, terserah dirimu saja! Awas saja jika ada kesalahan! Nama baik Divisi 2 jadi taruhan!" Kaitlyn yang mengerti jika Leon bermaksud mencoba membela Chelsea pun segera berjalan pergi dari sana.


Para anggota dari Divisi 4 pun juga satu per satu pergi dan bergegas ke pos masing-masing. Chelsea masih berdiam diri di tempat karena ingin menunggu sampai bayangan Kaitlyn tak lagi terlihat. Kini orang yang dia benci bertambah satu lagi.


"Jangan terlalu dipikirkan," ucap Leon tiba-tiba.


"Eh?!" Seketika Chelsea menoleh dan menatap bingung.


"Perkataan yang dia katakan padamu, kau tak perlu memikirkannya. Dia sengaja membuatmu emosi, lalu membuatmu tidak fokus dan bisa-bisa kau melakukan kesalahan saat bertugas. Jadi anggap saja jika yang barusan itu cuma kentut!"

__ADS_1


"Pffttt ... Kau ini bisa saja." Chelsea terkekeh.


"Oh iya, ada satu hal yang mau aku tanyakan! Apa pelayanan yang membedakan antara pelanggan VIP dan VVIP?"


"Hanya sedikit, tapi itu termasuk sulit. Pelanggan VVIP artinya punya kewenangan yang lebih. Dia bebas menyuruh pegawai di club untuk mematuhi seluruh permintaannya. Termasuk para penjaga seperti kita, kita harus masuk jika memang disuruh untuk masuk. Tapi jika dia mencoba merendahkan kita atau sengaja mencelakai kita, kita juga punya kewenangan untuk membela diri."


"Tapi, bagaimana kita tahu sampai batas mana yang namanya merendahkan itu? Bisa saja tamu itu yang berbohong dan menuduh kita?" tanya Chelsea lagi.


"Itu tidak akan terjadi, karena di dalam private room ada satu orang khusus yang akan menemani tamu. Dia adalah pengelola club ini, orang yang sudah diakui dan mendapat kepercayaan dari Bos Damar. Jika pengelola yang mengawasi tidak melarangmu, bahkan jika kau mau membunuh tamu pun, kau akan bebas melakukannya!"


"Begitu ya," jawab Chelsea sambil menunduk. Sekali lagi peraturan tidak masuk akal dari night club ini berhasil mengusik pikirannya.


"Tentu saja! Terkadang juga ada tamu yang kelewatan. Tamu itu memang prioritas, tapi dia bisa berubah kapan saja. Tidak ada yang menjamin dia itu benar-benar teman atau musuh. Jadi bukan masalah jika menyingkirkan seseorang demi menjaga keamanan club!"


Chelsea yang sudah paham semua aturan lalu mengajak Leon untuk segera menuju ke pos. Dia dan Leon mendapat bagian yang sama, berdiri dan menjaga pintu masuk private room VVIP Nomor 5. Pertama kalinya melakukan tugas bersama, diam-diam mereka berdua saling menyembunyikan perasaan gugup mereka.


Tak berselang lama, seorang tamu pun datang. Kali ini Chelsea sama sekali tidak mengenali tamu itu. Baginya, wajah pemuda ini terlihat asing baik di dunia bisnis maupun hiburan.


Tak lama kemudian ada satu orang lagi yang ingin memasuki ruangan VVIP itu. Kali ini Chelsea mengenali pria ini, dia membelalak dan terkejut saat mengetahui jika pria yang dia kenal ini juga datang ke DG CLUB yang begitu kotor ini.


"...?!"


Dia!? Bagaimana bisa dia ada di sini?! Dia kan aktor senior! Dia artis papan atas yang sudah lama berkarier! Bahkan selama ini yang aku tahu, tidak pernah ada skandal atau rumor buruk tentangnya, David Damian!


Tiba-tiba saja Leon bergeser mendekat, dan tanpa peringatan apa pun memegang bagian belakang kepala Chelsea untuk membuatnya menundukkan kepala.


"Sedang apa kau?!" bisik Chelsea sambil melotot, dia tak terima dengan perlakuan Leon barusan.


"Justru aku sendang menyelamatkanmu! Dia adalah salah satu Family! Kau harus memberi penghormatan padanya jika mau tetap hidup!" bisik Leon dengan tatapan serius.


"Selamat malam Bos David!"


"S-selamat malam Bos David ..." ucap Chelsea mengikuti Leon.


Sial, apa-apaan ini? Ini di luar perkiraanku! Artis dengan sebutan aktor sejuta umat ternyata jadi petinggi gangster!

__ADS_1


__ADS_2