Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Dendam atau Cinta?


__ADS_3


"...." Chelsea terperangah, dia tidak menyangka jika sekarang Leon justru malah memihak Nisa. Pikirnya, kenapa sekarang tiba-tiba berubah haluan? Padahal mereka berdua sudah berjuang bersama hingga sampai di titik yang tak mudah ini, kenapa sekarang justru Leon justru ingin melawannya dan membuat semua kerja keras itu sia-sia?


Sedangkan di sisi lain di tempat para Family yang mengawasi segalanya dari atas. Mereka semua masih menampakkan wajah heran mereka, masih mencoba memahami tindakan tak terduga yang baru saja dilakukan oleh Leon.


"Heh!" Tiba-tiba Nisa menyeringai, dia sudah mengerti alasan mengapa Leon bertindak demikian.


Bagus, pada akhirnya kau tidak melupakan siapa tuanmu yang sebenarnya. Menarik juga kau, Leon. Begitu teguhnya pendirianmu, kau tak mau mengingkari satu pun yang telah kau janjikan. Pada akhirnya jalan ini yang kau ambil. Kau tak mau membiarkan Chelsea berhadapan dengan orang lain, jadi kau bertingkah begini demi membuat supaya tersisa kau seorang yang menjadi lawannya.


Nisa tersenyum, karena dia sudah begitu yakin ketika memprediksi seperti apa yang akan terjadi nanti. Karena sejak awal memang inilah yang diinginkan oleh Nisa, dia ingin supaya Chelsea dan Leon saling berhadapan dan menyerang satu sama lain.


"Aku bilang apa padamu? Penilaianku pada seseorang tidak akan pernah salah, dan itu sudah terbukti. Aku memberikan kode nama Mad Dog juga bukan sembarangan," ucap Nisa seraya melirik ke arah Marcell. Ingin menegaskan jika Marcell sebelumnya telah salah menilai.


"Baiklah, kau memang selalu benar. Pandanganku yang terlalu sempit," jawab Marcell yang menerima sindiran begitu saja, karena dia tak mau berdebat lagi dengan sang ketua.


Saat ini situasi di bawah masih hening, tak ada satu pun di antara Leon dan Chelsea yang bergerak. Mereka berdua sama-sama mematung. Terlebih lagi Chelsea, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, berpikir lebih baik menyakiti diri sendiri daripada harus melawan kekasih yang dia cintai.


"Kau sedang apa?! Jangan diam saja dan lawan aku!" bentak Leon.


"Aku tidak bisa! Aku tidak mau melawanmu, Leon! Kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk melawanku?! Bukankah kau sudah berjanji akan selalu berada di sisiku?! Kau juga sudah berjanji akan membantuku menuntut keadilan bagi kakakku! Kau tidak bisa memutuskan seenaknya saja begini!" teriak Chelsea dengan tubuh yang gemetar, hatinya benar-benar tidak siap jika harus melawan Leon.


"Inilah caraku memenuhi janjiku! Lawan dan kalahkan aku! Setelah kau mengalahkan aku maka akan bisa melawan Ketua dan mencari keadilan bagi kakakmu! Ayo, Chelsea! Lawan aku!"


"...." Chelsea membisu. Dia benar-benar tidak habis pikir jika inilah yang Leon rencanakan. Mengorbankan dirinya sendiri demi memenuhi segalanya yang telah dia janjikan.


Leon merasa sangat tertekan, tertekan sebab mendapatkan tatapan tajam dari Nisa ketika dia tak kunjung bertindak. Akhirnya, dengan berat hati Leon maju lebih dulu. Dia mendekat pada Chelsea lalu mendorong-dorong tubuhnya hingga bergeser mundur.


"Ayo, lawan aku! Lawan aku balik Chelsea!" teriak Leon begitu kerasnya hingga urat lehernya sampai terlihat. Dia terus mendorong Chelsea mundur karena Chelsea masih belum memberikan perlawanan kepadanya.


"Cukup Leon!" berontak Chelsea seraya membalas mendorong Leon. Bukan cuma tubuhnya yang gemetar, mulutnya turut merasa kelu karena tak mampu lagi berucap sesuatu yang mampu mengubah keadaan.


"Kau bilang ingin aku melawanmu? Baiklah, akan aku ladeni kau!" teriak Chelsea yang kemudian kembali menggenggam erat belati tajam miliknya. Dia lantas melangkah maju serta mengayunkan belati itu. Namun, dia mengayunkan belati tersebut dengan asal tanpa arah, sengaja tak mengarahkan pada Leon atau bahkan mengincar titik vitalnya.


"Bagus, lawan aku dengan serius!" Leon juga membalas seperti yang Chelsea lakukan.


Meskipun kini mereka berdua saling menyerang, namun bisa dilihat jelas jika setiap serangan yang mereka lontarkan bukanlah sesuatu yang serius. Hanya serangan yang dilakukan secara asal. Akan tetapi, bukan masalah soal serangan yang mereka lalukan dan terima.


Meskipun tak dapat dilihat oleh mata, hati mereka telah terluka. Keduanya sama-sama merasa sakit, sepasang kekasih yang dipaksa bertarung karena memiliki hal yang berbeda untuk diperjuangkan. Sungguh inilah ujian terberat yang harus mereka lewati.


Lama-kelamaan, setiap serangan yang Leon lakukan semakin lambat. Bukan hanya karena staminanya yang berkurang, tetapi dia memang sengaja mengalah demi Chelsea. Hal itu semakin membuat Leon terdesak mundur, hingga ...


BRUUKK!


Chelsea mendorong Leon hingga terjatuh ke belakang. Lantas segera menduduki tubuhnya supaya dia tidak bisa bangkit lagi. Begitu teringat tentang tujuannya membela sang kakak, dia jadi begitu emosi dan menaruh ujung belati tajam itu tepat di leher Leon.


Bilah logam yang tajam telah berada di dekat lehernya, bukannya merasa takut, Leon justru tersenyum. "Bagus Chelsea ... maaf, aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Setelah menghabisiku, maka kau akan bisa berhadapan langsung Ketua untuk mendapat keadilan bagi kakakmu."

__ADS_1


Tubuh Chelsea membeku seketika, dia tak menyangka jika Leon akan suka rela mati di tangannya. "Kenapa Leon? Kenapa kau begitu ingin mati?"


"Aku sudah bilang padamu kalau aku telah mengambil sumpah setia sampai mati pada Ketua. Aku tak mau hidup sebagai pengecut, lebih baik aku mati tanpa harus melanggar sumpahku. Dan ... jika boleh, aku ingin meminta satu hal padamu. Tolong sampaikan permintaan maafku pada Liana."


"K-kau ...." Chelsea menjadi kalap, bingung harus berbuat apa ketika dihadapkan oleh pilihan yang sulit semacam ini.


Di satu sisi ada dendam lama yang selalu ingin dia balaskan. Dan sisi lain ada cinta pertamanya yang sudah berkorban banyak untuknya. Chelsea bingung setengah mati, begitu sulit ketika memutuskan mana yang dia pilih di antara dendam dan cinta.


"Hei, ayolah ... cepat selesaikan! Setelah itu kau bisa melawanku seperti yang kau mau!" celetuk Nisa seolah-olah mendesak Chelsea supaya segera mengambil keputusan.


"Lakukan saja, Chelsea ..." ucap Leon yang kemudian menutup kedua matanya. Seakan sudah mempersiapkan diri untuk menerima kematian.


Dengan tangan yang gemetar, Chelsea mengangkat pisau belatinya. Mengarahkan ujung belati yang runcing itu ke arah Leon. Dengan sebuah ayunan yang cepat, pisau belati itu melesat dan ...


CRASS


Sesuatu mengalir keluar dengan deras, tetapi itu bukan darah Leon. Melainkan adalah air mata Chelsea yang mengalir keluar begitu derasnya, bahkan sampai menetes ke wajah Leon. Hal itu seketika membuat Leon membuka mata, dia sedikit terkejut ketika dia sama sekali tidak terluka. Begitu dia melirik ke samping, dia baru sadar jika pisau belati itu meleset dari kepalanya dan hanya memangkas sedikit rambutnya.


"Apa yang kau lakukan?! Lakukan dengan benar!" bentak Leon yang semakin merasa ingin mati karena Chelsea menangis.


"Aku tidak bisa, Leon! Aku tidak mau jika aku harus membunuhmu! Aku tidak sanggup! Aku benar-benar tak mampu melakukannya!" bantah Chelsea yang air matanya semakin mengalir lebih deras.


Tiba-tiba saja Leon mengambil belati yang berada tepat di sebalah kepalanya. Lalu menggenggam kedua tangan Chelsea seraya menyerahkan belati itu kembali ke tangannya. "Kau bisa Chelsea! Kau sudah banyak melewati hal sulit untuk membalaskan dendammu! Kau sudah mengorbankan banyak hal untuk mengetahui semua kebenarannya. Cepat bunuh aku dan tuntaskan dendammu! Tak ada alasan kau menyerah ketika sudah di akhir!"


PRANGG


Chelsea melempar belati itu ke samping, membuang belati itu sejauh-jauhnya. "Aku tidak bisa, Leon! Karena aku mencintaimu! Aku tak mungkin bisa membunuh orang yang aku cintai!"


Tiba-tiba saja Chelsea menyingkir dari atas Leon, dia berjalan maju beberapa langkah, setelah itu dia justru bersimpuh dan menundukkan kepalanya.


"Aku menyerah! Kau menang, Nisa! Kau menang! Aku mohon jangan permainkan aku lagi! Aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini! Biarkan Leon hidup! Aku memohon padamu dengan sepenuh nyawaku! Aku bersedia mati di tanganmu asalkan kau melepaskan Leon!" seru Chelsea dengan isak tangisnya.


"...." Nisa tak berbicara sepatah kata pun, meskipun dia tak pernah membayangkan akan jadi begini, tetapi dia suka karena pada akhirnya hasilnya tetap sesuai dengan rencananya. Chelsea menyerah atas keinginannya sendiri.


"Baiklah, kau bilang ingin aku mengundurkan diri, bukan? Akan aku lakukan sekarang! Aku mengundurkan diri dari sini saat ini juga! Aku tak lagi tergabung dalam Divisi 2 ataupun yang lainnya!"


"Aku, Chelsea Almayra Adinata bersumpah! Aku bersumpah tidak akan menuntut balas dendam lagi untuk mendiang kakakku! Aku juga bersumpah tidak akan membocorkan segalanya yang aku tahu setelah aku keluar dari ini!"


"Aku sudah melakukan semua yang kau inginkan, Nisa! Sekarang cepat bebaskan aku dari neraka ini!"


Teriakkan Chelsea menggema di seluruh area. Dan setelahnya, hanya ada keheningan. Hening karena tak ada satu pun dari mereka semua yang berani bergerak sedikit pun atau bahkan berbicara. Karena mereka semua tahu, inilah saat-saat yang paling menegangkan, saat di mana sang Ketua mengambil keputusan final.


"...." Nisa membisu, dia memperhatikan Chelsea yang tampak bersungguh-sungguh dengan semuanya yang telah dia katakan. Lalu beralih memperhatikan Leon yang juga masih berdiam diri di tempat, Nisa paham jika sepertinya Leon juga merasa kaget dengan perbuatan Chelsea.


Setelah berpikir sejenak, Nisa menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Baik, aku pegang semua sumpahmu! Aku, Nisa Sania Siwidharma, selaku Ketua Generasi Kedua menyatakan jika Chelsea telah resmi keluar dari organisasi! Sebagai tambahan, setiap orang tak peduli berasal dari Divisi mana pun, tidak diperbolehkan mengusik Chelsea!"


Suasana masih sunyi, mereka semua diam dan hanya bisa menerima keputusan yang telah Nisa ambil. "Kau bebas! Pergilah!" seru Nisa sambil menatap Chelsea lekat-lekat.

__ADS_1


Chelsea langsung bangkit, untuk pertama kalinya dia bersimpuh dan memohon sambil menangis pada seseorang. Meskipun hal ini memalukan bagi seorang nona besar sepertinya, tetapi dia tak masalah asalkan perbuatannya ini tak menyeret ataupun membuat kekasihnya kesusahan karena dia lagi.


Setelah Chelsea menyeka air matanya, dia langsung bergegas pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Menerobos kerumunan para anggota lain dengan tubuhnya yang dipenuhi oleh luka-luka ringan akibat pertarungan.


Sedangkan di sisi lain Leon tetap diam di tempat. Walaupun dia ingin mengikuti Chelsea, dia sadar jika dia tidak berhak melakukannya. Dia masih harus tetap tinggal, bersiap menerima hukuman atas tindakan yang telah dia perbuat.


"Mad Dog!" panggil Nisa yang seketika membuat Leon mendongak dan menatapnya. "Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya Nisa.


"Saya tahu, dan saya siap menerima hukuman!" jawab Leon seraya berlutut. Kembali menundukkan pandangan, dia paham bagaimana caranya bersikap rendah diri supaya dia tak membuat Nisa marah lagi.


Nisa menyeringai, kemudian berkata, "Baguslah jika kau tahu. Kau sempat mengagetkan aku dengan menyerang para elite, harusnya kau tahu, menyerang orangku sama saja artinya dengan menantangku. Aku kecewa padamu, tetapi ... untung saja kau tak jadi bodoh hanya karena seorang wanita. Kau cukup tahu diri karena di saat terakhir kau masih mengingat untuk setia padaku. Dan kabar baiknya, hasil akhirnya memang seperti yang aku inginkan."


"Karena itu ... kali ini aku akan bersikap lapang hati menyikapi kelancanganmu. Aku tak akan turun tangan untuk mendisiplinkanmu, cukup Kepala Divisi 2 saja yang turun tangan," ungkap Nisa yang sontak saja membuat para Family lain kaget.


"Kau serius?" tanya Dika seakan tidak percaya.


"Ya, aku serius. Tapi jangan lupakan kalau Mad Dog telah melukai elite dari Divisi lain. Masalah ini kalian yang urus saja masing-masing. Lagi pula ini juga termasuk tanggung jawab kalian sebagai Kepala Divisi."


Tiba-tiba saja Nisa berlagak melihat arloji di tangan kirinya. "Ah, rupanya sudah larut malam. Aku harus cepat pulang karena bayi besarku akan rewel di jam-jam seperti ini."


Nisa berbalik dan pergi begitu saja tanpa berpesan lebih banyak lagi. Seolah menjadikan suaminya sebagai alasan untuk cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Sedangkan para Family lain juga berdiam diri, mereka sadar jika tak ada gunanya menahan kepergian Nisa jika sudah bertekad.


Pada akhirnya, mereka juga ikut pergi karena tak ada lagi yang harus mereka lakukan di sini. Marcell selaku Kepala Divisi 1, sebelum dia pergi, dia tak lupa membubarkan para anggota tetap yang sedari tadi hanya berdiri dan mengepung saja. Kini hanya Dika seorang saja Family yang tersisa. Dia turun melewati tangga untuk menghampiri Leon.


"Maaf, aku sudah mengecewakan Kakak ... silakan hukum aku dengan cara apa pun yang Kak Dika mau," ucap Leon yang masih berlutut.


"Berdirilah!" pinta Dika dengan nada datar.


Leon segera berdiri seperti yang Dika minta. Dia merasa harap-harap cemas ketika berhadapan dengan kakak angkatnya ini. Leon merasa ragu apakah Dika akan memaafkan dirinya atau tidak.


"Apa kau terluka parah?" tanya Dika yang seketika membuat Leon terkesiap. Leon tak mengira jika pertanyaan pertama yang Dika ajukan adalah soal luka yang dia terima.


"Tidak terlalu, aku terluka di beberapa bagian, ada yang cukup dalam tapi tidak fatal," jawab Leon jujur. Sejak dulu dia memang tidak pernah berbohong pada Dika.


"Baguslah, jika kau tak mendapatkan luka serius." Tiba-tiba saja Dika merogoh saku celananya, dia mengambil kunci mobil miliknya dan menyodorkan kunci itu pada Leon. "Ambillah!"


"Eh? Tapi kenapa?" tanya Leon kebingungan.


"Kau ingin mengejar wanita itu, bukan? Maka ambillah kunci mobil ini, kau ke sini karena dijemput, jadi pakai saja mobilku untuk mengejarnya," jawab Dika dengan nada bicara yang santai. Sama sekali tidak menunjukkan adanya siasat untuk menjebak ataupun mencelakai Leon.


"Kenapa Kak Dika menawariku bantuan seperti ini? Kakak tidak menghukumku?" tanya Leon lagi, dia masih belum sepenuhnya mengerti dan enggan menerima kunci mobil itu.


Dika tersenyum tipis, meraih sebelah tangan Leon dan menyerahkan kunci itu. "Lakukan saja. Karena sejak rencana ini dibuat, sebenarnya aku sudah berdiskusi dengan Ketua. Aku bertaruh dengannya, aku bertaruh dan berani jamin jika kau akan terus setia pada organisasi. Sebagai harga dari taruhan ini, Ketua membebaskan aku untuk mengambil alih. Dan jika taruhanku gagal, Ketua berencana tidak akan mengampunimu jika kau memberontak. Syukurlah sampai akhir kau tetap setia."


"Soal mengapa aku mendukung hubunganmu itu, karena aku tahu jika kau berhak memilih kebahagiaanmu sendiri. Aku sadar jika masalah ini cukup berakhir dengan kematian William, masalah ini cukup sampai di masaku saja. Aku tak berhak menyeretmu ataupun Chelsea masuk ke dalam persoalan ini. Kau bebas menentukan pilihanmu Leon. Tetapi, bukan berarti kau tidak menerima hukuman dariku! Sekarang aku hanya masih perlu memikirkan hukuman apa yang sesuai untukmu!"


"Terima kasih, Kak Dika! Aku berhutang banyak hal pada Kakak!" Leon tersenyum semringah, pada akhirnya dia mendapatkan harapan. Tanpa menunda waktu lebih banyak lagi, dia langsung berbalik dan berlari untuk segera mengejar Chelsea.

__ADS_1


Sedangkan Dika, hanya tinggal dirinya seorang di area Silver Fangs. Sejenak dia memperhatikan sekeliling, melihat dengan saksama setiap tetes darah yang berceceran di lantai. Kemudian dia menggulung lengan bajunya, melihat sebuah bekas luka yang memiliki kenangan kelam tentang dirinya dengan Violent Zone.


"William Adinata, tak aku sangka karena membunuhmu akan mendatangkan masalah seperti ini. Tetapi, semua dendam itu sudah berlalu, semua ini sudah usai. Biarlah ini jadi persoalan di antara kita berdua saja. Aku sudah memberikan kebebasan bagi adikmu, jadi mulai sekarang pergilah dari mimpi burukku!"


__ADS_2