Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Memberikan Restu


__ADS_3


Chelsea dan Natasha lantas mencari bangku taman yang teduh. Sedangkan Luciel, dia teramat merindukan Chelsea sampai-sampai betah berada di atas pangkuan dan mendekap pada Chelsea.


"Mami ... jangan pergi tinggalkan Luciel lagi, ya?" pinta bocah kecil polos itu dengan suara terisak, sepertinya dia masih belum selesai menangis.


"Iya, Sayang ... mami janji," ucap Chelsea seraya mengusap-usap punggung Luciel dengan lembut.


"Kak, kenapa baru sekarang Kakak muncul? Luciel sudah bersama denganku cukup lama, dan ayah juga sudah membuat perintah pencarian untuk Kakak sejak lama," tanya Natasha seraya menggenggam sebelah tangan Chelsea. Berharap jika kakaknya ini tak akan menyembunyikan apa pun darinya.


Chelsea terdiam sejenak. Meskipun dia ingin menjelaskan segalanya, tetap tidak mungkin baginya menceritakan kalau selama ini dia terlibat dan menjadi bagian dari organisasi gangster. Jelas sekali jika Chelsea tak ingin Natasha tahu soal perbuatan buruk yang selama ini dia lakukan.


"Aku akan ceritakan dari awal. Pertama-tanya aku ingin meminta maaf padamu, pada suamimu, dan pada semua orang. Kebakaran 6 tahun lalu itu sesuatu yang terjadi di luar perkiraanku. Saat itu, aku bersama dengan Luciel yang masih bayi. Dan ketika aku ingin membawa bayimu keluar dari kobaran api, tiba-tiba aku merasa jika kebakaran itu merupakan suatu pertolongan bagiku."


"Aku menyebutnya pertolongan, karena saat itu aku sudah teramat muak dengan sikap ayah. Padahal aku sudah mengerjakan tugas perusahaan sebagai direktur utama dengan baik. Tetapi, ayah selalu tak puas denganku dan terus-terusan membandingkan semua yang aku lakukan dengan mendiang kak Liam."


"Maafkan aku Tasha ... aku terlalu egois. Aku teramat gelap mata ketika membayangkan bayimu akan jadi alat dan boneka sama sepertiku. Aku menyayanginya, aku sangat menyayanginya dan tak mau jika bayimu akan hidup dengan terkekang oleh segala aturan yang membuat sesak. Sekali lagi maafkan aku ... kau pasti sangat sedih ketika berpikir jika bayimu telah mati."


Air mata Chelsea seketika jatuh, mengenang kembali peristiwa pahit yang membuat hidupnya jadi berantakan. Semua ingatan itu masih terasa segar, terlebih lagi saat itu dia juga menggendong Luciel seperti halnya sekarang. Luciel dulunya masih begitu kecil sekarang telah menjadi besar seperti sekarang, emosi Chelsea makin meluap ketika membayangkan itu semua.


"Mami ... jangan menangis," ucap Luciel seraya menghapus air mata di pipi Chelsea.


Chelsea mengangguk, lantas mencium kening Luciel dengan lembut. "Haha, mami cuma teringat kalau saat itu Luciel masih sangat kecil. Sekarang Luciel sudah besar, bahkan sudah sekolah. Mami sangat bangga pada Luciel."


"Luciel juga bangga pada Mami!" seru Luciel yang lantas kembali mendekap erat Chelsea. Begitu nyaman di sana, seolah dia masih belum puas untuk merasakan kehangatan yang selama ini dia rindukan.


Di satu sisi Natasha tersenyum, merasa ikut terharu ketika melihat hubungan Luciel dan Chelsea yang begitu erat. Untuk sejenak Natasha juga berpikir, walaupun bukan ibu kandung tetapi kasih sayang Chelsea itu nyata. Daripada marah karena keputusan Chelsea 6 tahun lalu, Natasha justru merasa iba lantaran membayangkan betapa kerasnya kehidupan Chelsea di luar sana yang seorang diri membesarkan Luciel selama ini.


"Kak, meskipun Kakak egois, aku mengerti alasan di balik sikap egois Kakak itu. Kita memang mempunyai ayah yang keras. Sejak Kak Chelsea memalsukan kematian 6 tahun lalu, pada akhirnya aku mengerti beban macam apa yang selama ini Kakak pikul. Aku pun juga selalu dibanding-bandingkan dengan kak Liam yang telah tiada. Memang betul jika selama ini ayah selalu memenuhi kebutuhanku, tetapi ... tekanan mental yang dia berikan juga sudah kelewatan. Jadi, tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri, aku paham mengapa Kak Chelsea memilih keputusan untuk pergi."


"Syukurlah kalau kau mau memahami posisiku. Tetapi tetap saja ... yang aku lakukan jelas-jelas merugikanmu, tidakkah kau kecewa padaku?" tanya Chelsea dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Munafik namanya jika aku bilang tidak kecewa. Selama 6 tahun ini aku terus berpikir jika Kakak dan bayiku sudah mati. Dan aku juga telah divonis dokter jika aku tidak bisa hamil lagi. Gara-gara ini aku selalu merasa takut jika suatu saat nanti Daniel akan menceraikan aku. Dan yang lebih aku takutkan lagi adalah kemarahan ayah yang harus aku tanggung."


"Tetapi, daripada terus menerus kecewa, aku lebih memilih sadar dan mengambil hikmah di balik ini semua. Dengan semua yang terjadi, aku yang semula selalu manja dan bergantung pada orang lain jadi bisa menjadi lebih dewasa. Dan untuk Luciel, mungkin perpisahan 6 tahun dengannya adalah hukuman Tuhan buatku. Karena aku sadar, semasa aku hamil, tak pernah sekalipun aku bersyukur atas keberadaannya."


"Lagi pula, selama 6 tahun lebih Kakak juga telah merawat Luciel seorang diri. Aku tak bisa membayangkan apa saja yang sudah Kakak lewati supaya bisa bertahan. Sebenarnya, selama ini Kakak pergi ke mana saja?" tanya Natasha dengan tatapan berharap. Dia sungguh ingin tahu bagaimana keadaan Chelsea selama ini.


Chelsea menghela napas, lalu tersenyum tipis ketika mengingat selama ini dia pernah ke mana saja. "Akan sangat panjang jika aku ceritakan satu per satu tempat yang pernah aku datangi. Selama ini aku hidup berpindah-pindah, melakukan segala pekerjaan yang aku bisa untuk bertahan hidup. Aku memalsukan identitas, juga mengubah nama Samuel menjadi Luciel. Dan sebagai awal, aku menjual beberapa perhiasan yang saat itu aku pakai di acara pesta."


"Untung saja ibu kerap membelikanku perhiasan berlian. Jadi, aku menjual sepasang anting dan cincin berlian yang diberikan oleh ibu. Sedangkan kalungnya, aku buang supaya kalian percaya jika aku telah tiada. Dan hasil dari uang itu cukup untuk tabungan bertahan hidup selama setahun. Dan syukurlah Luciel termasuk anak yang pintar dan penurut. Aku tak pernah merasa kewalahan ataupun kesusahan dalam merawatnya. Setiap kali dia berkembang dan bisa melakukan hal baru, aku merekam semua momen berharga itu. Jika nanti kau ingin melihatnya, aku akan tunjukkan setiap rekaman Luciel yang lucu."


"Mami, kenapa saat itu Mami pergi? Luciel sudah cari ke mana-mana, tapi tetap tidak ketemu. Apa Mami bertemu dengan orang jahat?" sahut Luciel.


"Iya, saat itu mami memang bertemu dengan orang jahat. Tetapi itu sudah berlalu, orang jahatnya sudah kalah. Mami bersyukur karena Luciel tidak kenapa-kenapa," ucap Chelsea seraya membelai kepala Luciel lagi.


"Mami, saat itu Luciel bertemu dan ditolong oleh tante Nisa, lalu bertemu dengan Keisha dan kami jadi teman. Lalu Tante Nisa juga sempat jadi mami angkatnya Luciel, supaya Luciel bisa sekolah. Lalu sekarang Luciel sudah bertemu dengan mama dan papa Luciel yang asli. Mama dan papa juga sangat sayang pada Luciel, tapi Luciel tidak pernah melupakan Mami ...."


"Jadi, Mami ikut Luciel pulang ke rumah, ya? Nanti Luciel akan minta izin ke kakek. Kakek Muchtar pasti memberikan izin, soalnya rumah kakek sangat besar. Masih muat untuk Mami ikut tinggal!"


"Benarkah? Apa benar-benar besar?" tanya Chelsea dengan senyuman.


"Iya, sangat besar seperti istana!"


"Maafkan mami, Luciel ... jika saja mami tidak egois, sejak awal Luciel akan tinggal di rumah yang besar dan mendapatkan semua kemewahan itu. Tetapi karena mami egois, jadinya Luciel tinggal di rumah yang kecil dan sempit. Mainan yang bisa mami berikan juga tidak banyak. Luciel mau memaafkan mami, kan?"


"Mami tidak salah! Kenapa harus minta maaf? Luciel senang tinggal di rumah yang kecil asalkan bersama Mami! Pokoknya Mami ikut Luciel pulang, ya! Luciel tidak mau berpisah dengan Mami lagi ...." Luciel kembali menangis, dia benar-benar takut akan berpisah dari Chelsea lagi.


Chelsea tersenyum, lantas membelai wajah Luciel dengan kedua tangannya. "Maafkan mami, Sayang ... mami tidak bisa pulang bersama Luciel. Tapi mami bisa janji kalau kita tidak akan berpisah lagi, setiap hari mami akan datang dan menemui Luciel."


"Kenapa Mami? Kenapa tidak bisa? Apa Mami takut bertemu kakek Tommy?" tanya Luciel yang sontak saja membuat Chelsea dan Natasha kaget.


"K-kenapa Luciel bicara begitu?"


"Habisnya kakek Tommy itu jahat, dia selalu membuat mama menangis. Apa Mami juga takut karena dijahati oleh kakek Tommy?" tanya Luciel dengan tatapan polosnya.


"Sstt ... Luciel, tidak boleh bicara begitu, ya. Kakek Tommy adalah ayah mama, yang artinya kakeknya Luciel juga. Lain kali tidak boleh bicara soal keburukan kakek lagi, oke?" bujuk Natasha.

__ADS_1


Luciel hanya berwajah cemberut. Baginya, dia mempunyai dua kakek yang berlainan. Kakek Muchtar yang pengertian, dan Kakek Tommy yang kasar dan pengatur. Tentu saja Luciel tidak mau dipaksa menyukai seseorang yang berlaku kasar kepadanya.


Di satu sisi Chelsea menghela napas. Lalu sekali lagi membelai wajah Luciel. "Bukan itu alasan utama mami, mami hanya belum siap untuk menemui semua orang, itu saja. Biarpun mami tidak serumah dengan Luciel, nanti Luciel bisa bertemu dan menghubungi mami kapan saja kalau merindukan mami. Luciel mau mengerti, kan?"


"Baik Mami ..." jawab Luciel dengan kepala tertunduk.


"Kakak, ngomong-ngomong ... kenapa tadi Keisha bisa menyebutmu sebagai bibi pengasuh? Sebenarnya pekerjaan Kakak itu apa?" tanya Natasha penasaran.


"Ah, aku bekerja untuk seseorang. Dan pekerjaanku itu serabutan, dan ternyata bosku mengenal Nisa. Lalu aku disuruh untuk menemani Keisha bermain sebentar, selama bosku dan Nisa pergi bersama karena urusan," jawab Chelsea asal, berusaha menutupi soal dirinya yang bekerja sebagai gangster.


"Apa? Jadi selama ini Nisa sudah pernah bertemu dengan Kakak! Kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku?!" protes Natasha dengan wajah kesal.


"Ehmm ... mungkin dia sudah melupakan wajahku, lagi pula saat itu aku juga tidak bertemu secara langsung dengannya," jawab Chelsea yang lagi-lagi berbohong. Tak mau menceritakan soal hal buruk apa saja yang telah terjadi antara dia dengan Nisa.


BUZZ BUZZ ...


BUZZ BUZZ ...


Ponsel milik Natasha mendadak berdering, dia segera mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata berasal dari ibu mertuanya.


"Halo?" tanya Natasha.


"Nak, kenapa belum sampai rumah? Apa terjadi sesuatu? Mobilmu baik-baik saja, kan?" tanya Nyonya Ratna yang suaranya terdengar khawatir.


"Tidak terjadi sesuatu yang buruk, Ibu. Maaf aku lupa mengabari sampai membuat Ibu khawatir, anak-anak ingin mampir dan bermain dulu."


"Ah, baiklah. Syukurlah tidak terjadi sesuatu yang buruk. Kalau begitu lanjut awasi mereka bermain saja. Kedua anak itu sangat aktif, terlebih lagi Keisha. Ya sudah kalau begitu, kututup teleponnya."


"Iya, Ibu."


TUT TUT ...


Begitu Natasha menyimpan ponselnya, Chelsea langsung berkata, "Sepertinya mertuamu sangat baik."


"Iya, Kak. Aku beruntung mendapatkan mertua yang tak terlalu menuntut. Mereka memperlakukanku dengan baik, meskipun aku cuma menantu, aku tidak dianggap sebagai orang asing. Terlebih lagi semenjak Luciel kembali padaku, suasana di rumah jadi semakin hangat. Semuanya bahagia begitu mengetahui bayi kecilku masih hidup."


"Haha, iya ... sekarang Luciel sudah besar. Ayo sini ikut mama, nanti mami bisa kelelahan memangku Luciel terus."


"Tidak apa-apa, begini saja tidak akan membuatku lelah," jawab Chelsea yang lantas memeluk erat Luciel lagi.


"LUCIEEEELLLL ...!!!" teriak Keisha yang tiba-tiba muncul bersama dengan Leon. Dia juga datang dengan digendong di atas pundak Leon.


"Oh, sudah kembali?" tanya Chelsea.


"Ya, kami kembali," jawab Leon yang kelihatan begitu lelah. Entah hal macam apa saja yang sudah dia lakukan bersama Keisha.


"Paman Singa! Keisha mau turun!" pinta Keisha yang masih tampak bersemangat.


"Baik Boss Kecil," jawab Leon yang langsung menurunkan Keisha.


Keisha yang sudah turun tiba-tiba membuka tas ransel sekolahnya. Dia mengeluarkan beberapa buah cup ice cream dan membagikannya rata pada semua orang. "Ini ice cream stroberi untuk Tante Natasha, ice cream vanilla untuk Bibi pengasuh, ice cream blueberry untuk Luciel, lalu ice cream mint untuk Paman Singa! Dan yang terakhir ice cream cokelat untuk Keisha!"


"Terima kasih, Keisha!" ucap Luciel dengan senyuman.


"Eh? Paman juga dapat?" tanya Leon terheran-heran.


"Tentu saja, tadi paman yang sudah membeli ice cream ini! Paman juga harus mencobanya! Keisha mau makan ice cream bersama semua orang! Ayo sekarang makan sama-sama! Paman Singa, tolong bukakan milik Keisha!"


"Kenapa Keisha menyebutnya Paman Singa?" tanya Natasha yang penasaran.


"Karena namanya Leon, itu kan artinya singa! Jadi Keisha memanggilnya Paman Singa!"


"Hei, tidak boleh begitu, itu tidak sopan. Harus memanggil sesuai namanya. Harus menghargai nama orang lain. Apa bundamu tidak mengajari hal ini?" tanya Chelsea dengan tatapan sinis. Entah kenapa dia langsung merasa kesal karena sikap Keisha yang mirip dengan Nisa.


"Biarkan saja, aku tidak keberatan," ucap Leon yang kemudian menyerahkan ice cream milik Keisha yang kemasannya sudah dia buka.


"Terima kasih Paman Si- Leon! Maafkan Keisha tadi ya, jangan salahkan bunda ... Keisha tadi panggil begitu karena merasa jika nama itu keren. Keisha tidak tahu kalau itu tidak sopan," ucap Keisha yang wajahnya seketika murung.

__ADS_1


"E-eh! Tidak apa-apa! Boss Kecil bebas memanggilku apa saja!" ucap Leon panik. Dia benar-benar tidak ingin membuat anak ketuanya merasa sedih.


"Haha, lucu juga calon kakak iparku ini!" celetuk Natasha yang sontak saja membuat Leon dan Chelsea tersipu malu.


"H-hei ... apa yang aku bicarakan?!" tanya Chelsea yang salah tingkah.


"Hm? Apa Paman Leon akan jadi papinya Luciel?" tanya Luciel dengan tatapan polosnya.


"Luciel! Jangan bicara sembarang!" bentak Chelsea yang makin salah tingkah.


"Memangnya apa yang sembarangan? Luciel sudah punya mama, papa, dan mami. Jadi supaya lengkap Luciel juga harus punya papi! Luciel mau kok Paman Leon jadi papinya Luciel!"


Natasha tertawa cekikikan mendengar perkataan putranya. Sedangkan Keisha yang tak paham hanya memakan ice cream miliknya. Sedangkan Leon dan Chelsea, mereka berdua hanya bisa menyembunyikan wajah tersipu mereka. Tak pernah menyangka jika Luciel akan memberikan restu di pertemuan pertama.


***


Pada saat yang sama di kediaman utama keluarga Kartawijaya. Saat ini Nisa hanya tersenyum ketika mendengarkan sesuatu lewat earphone yang terpasang di telinganya.


"Astaga ... ternyata seperti ini, aku kira anak-anak pulang terlambat karena terjadi sesuatu. Rupanya mereka sedang melakukan pertemuan rahasia." Nisa lantas melepas earphone itu dan meletakkannya bersama dengan ponselnya ke atas nakas.


Aku memasang alat penyadap rahasia di tas sekolah Keisha. Untuk jaga-jaga jika seandainya dia diculik atau dalam keadaan bahaya yang lain. Tetapi, aku justru bisa tahu jika Chelsea dan Leon saat ini sedang melakukan pertemuan rahasia. Kalian berniat menyembunyikan hal ini dariku, tapi secara kebetulan aku masih bisa mengetahuinya.


Rupanya alat penyadap mikro ini efisien, kalau begitu akan aku pertimbangkan untuk memberikan dana lebih supaya Ivan bisa memproduksi benda ini lebih banyak lagi. Aku yakin jika akan ada banyak pihak yang tertarik.


"Bubuu ..."


"Eh?!" Seketika Nisa menoleh ke arah kasur. Dan benar saja jika bayi kecilnya bangun. Dia melihat Noah yang saat ini bangun, bahkan tangan kecilnya memukul-mukul tubuh Nora yang masih tertidur.


"Jangan begitu, Sayang!" Nisa langsung mengangkat tubuh kecil Noah. Dia tak mau bayinya yang satunya lagi ikut terbangun. "Kenapa Noah cuma tidur sebentar?"


"Bububuu ...." Noah hanya tersenyum, memperlihatkan gigi kecilnya yang baru tumbuh dua buah.


Nisa juga tertawa, lantas menciumi pipi bayinya karena gemas. "Noah si gembul, si gembul susah tidur~"


"Mamamam ...."


"Hm? Noah lapar, ya? Di mana mamam nya?"


"Mamaam ... buubu!" jawab si kecil Noah seraya memukul-mukul dada serta menarik baju sang bunda.


"Haha, Noah pintar sekali!" Begitu Nisa membuka kancing bajunya, Noah langsung tertawa girang lantaran akhirnya dia bisa minum susu. Dia menyusu dengan kuat karena perut kecilnya teramat lapar.


KLAK!


Pintu kamar mendadak dibuka, lalu tampaklah Keyran yang masuk dengan tergesa-gesa. "Kau tak bilang padaku kalau si kembar akan imunisasi! Bagaimana mereka? Apa mereka rewel?!"


"Hei, pelankan suaramu! Nora sedang tidur!" pinta Nisa sambil memelototi suaminya.


"Huft ... kukira mereka akan rewel seperti sebelumnya." Keyran mengatur napasnya, lalu berjalan mendekat dan ikut duduk di sebelahnya istrinya yang sedang menyusui Noah.


"Kenapa kau kemari? Bukannya saat ini masih jam kerja?" tanya Nisa dengan tatapan heran.


"Aku pulang karena aku khawatir. Takut kalau si kembar akan rewel dan demam setelah imunisasi. Sebelum-sebelumnya juga begitu. Syukurlah kalau sekarang mereka baik-baik saja."


"Haha, kau ini berlebihan." Nisa terkekeh.


Keyran tersenyum karena apa yang dia khawatirkan tidak terjadi. Bukannya segera kembali ke kantor, dia justru duduk tenang di sana dan terus memperhatikan Noah yang masih menyusu.


"Noah, cepat selesaikan, ya! Nanti giliran ayah!"


"Hei!"


Tiba-tiba saja Noah berhenti menyusu, dia juga menangis dengan begitu kerasnya.


"Cup-cup ... tidak kok, ayah tidak jadi memintanya! Semuanya untuk Noah!" Nisa berusaha menenangkan Noah yang sedang menangis. Namun, yang terjadi justru Nora ikut terbangun karena suara tangisan Noah.


"Keyran!!! Ini gara-gara kau!"

__ADS_1


"Maaf ..."


__ADS_2