
BRUGH ...
Keyran membanting istrinya begitu saja di atas kasur. Dia juga langsung melakukan tindakan lain, menggelitik di bagian sensitif sekujur tubuh istrinya.
"Hahaha ... hentikan Key!" pinta Nisa yang berusaha melawan, akan tetapi dia tak sungguh-sungguh melawan dan menerima permainan dari suaminya.
"Tidak mau! Si kembar dan Keisha sudah tidur setelah dimanja olehmu sepanjang hari, jadi sekarang giliranku!" ungkap Keyran yang kemudian menindih istrinya. Dia juga menciumi lehernya dan memberikan sensasi menggelitik sama seperti tadi.
DRRTT DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT DRRTT
Ponsel milik Nisa yang ada di atas nakas tiba-tiba berdering. Keyran yang menyadari hal itu langsung merasa terganggu, menyingkir dari atas tubuh Nisa dan berhenti bermain-main dengannya.
"Cih, mengganggu saja!" keluh Keyran dengan ekspresi kesal. Momen romantis yang telah dia buat akhirnya menjadi buyar.
"Maaf, sepertinya itu telepon penting. Akan aku angkat sebentar." Nisa langsung bangkit dari ranjang dan mengambil ponselnya. Sejenak dia tertegun begitu melihat jika yang menelepon dirinya adalah salah satu anak buahnya, yaitu Dika.
Di satu sisi Keyran yang penasaran pun mendekat dan berkacak pinggang. Seolah dia juga ingin mendengarkan perbincangan seperti apa yang telah mengganggu momentum romantisnya dengan sang istri.
"Baiklah," jawab Nisa yang mengerti maksud dari tingkah suaminya. Nisa mengangkat panggilan telepon dari Dika tersebut, dan dia tak lupa menyalakan speaker agar Keyran juga bisa mendengar dengan jelas. Sebenarnya Nisa malas melakukan semua ini, hanya saja dia tak mampu berbuat apa-apa karena suaminya akan benci jika dirinya menyembunyikan sesuatu.
"Halo," ucap Nisa begitu panggilan telepon itu berhasil tersambung.
"Halo Boss. Aku ada kabar penting untukmu, rencanamu sekarang sudah berjalan sesuai dengan yang kau inginkan. Leon sudah mendatangiku tadi, dan dia memintaku untuk membuatkan janji temu denganmu," jelas Dika dengan singkat dan lengkap. Sejak dulu dia memang tak pernah menyembunyikan apa pun pada sang ketua.
"Hmm ... baiklah, akan aku pikirkan sebentar. Aku harus terlihat sibuk, supaya Leon tidak curiga dan mengira jika aku memang sudah menunggu-nunggu momen ini datang." Sejenak Nisa terdiam dan berpikir, lalu setelahnya dia berkata, "Baiklah, aku akan bertemu dua hari lagi. Malam hari di markas utama. Sampaikan ini padanya!"
"Baiklah, akan aku sampaikan."
TUT TUT ...
Panggilan telepon telah diakhiri oleh Dika. Dia tahu jika dia tidak bisa mengganggu sang ketua lantaran memikirkan jika sudah punya kehidupannya yang lain sendiri.
"Huft ... akhirnya saat yang aku tunggu-tunggu tiba juga!" ucap Nisa yang kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas nakas.
"Siapa Leon? Kenapa kau sangat ingin bertemu dengannya?" tanya Keyran dengan tatapan tajam. Seolah dia menganggap jika Leon adalah saingan cintanya atau bahkan pria yang dipelihara diam-diam oleh istrinya.
"Haha, bukan siapa-siapa. Dia cuma anjingku yang penurut. Belakangan ini aku merasa cemas kalau dia akan memberontak. Itu saja, kau tidak mungkin cemburu pada anak kecil, kan?" tanya Nisa balik dengan nada menggoda.
"Huh, anak kecil?" Keyran menatap curiga.
"Iya, Darling .... Mana mungkin aku berbohong padamu? Dia cuma sepantaran dengan adikku. Menggelikan jika aku suka dengan yang lebih muda. Kau sendiri tahu kan kalau seleraku itu pria dewasa sepertimu? Sudahlah, mari kita tidur!" Nisa berbalik, dia hendak kembali berbaring di ranjang. Namun, suaminya itu malah mencengkeram tangannya.
Nisa menoleh, lantas berkata, "Ada apa?"
"Sepertinya kau tidak mengajari anak buahmu dengan baik. Bisa-bisanya dia mengganggumu saat malam hari. Padahal itu kan waktu yang sakral. Lain kali bilang padanya agar jangan mengganggumu seenaknya lagi!"
__ADS_1
"Pffttt ...." Nisa tertawa kecil, lalu mendekat dan mengalungkan kedua tangannya di leher Keyran. "Baiklah ... jadi kau ingin melanjutkan yang tadi, hm?"
"Tentu saja, dua hari lagi kau akan keluar malam, kan? Sampai saat itu pasti kau tidak akan memberikan jatah padaku. Jadi ... sebagai gantinya, malam ini aku minta jatah dua kali lipat!"
Nisa menyeringai, lalu mencubit hidung suaminya yang mancung itu. "Hei-hei ... siapa yang mengajarimu jadi serakah?"
"Aku bukan serakah, tapi kau jangan lupa kalau aku ini seorang pebisnis! Aku tak mau rugi dalam segala hal! Termasuk jatahku!" ucap Keyran yang diam-diam tangannya sudah bergerilya dari bawah dan menyelinap masuk ke dalam piama yang Nisa pakai.
"Eh!?" Nisa melotot begitu merasakan sesuatu miliknya yang ada di bawah sana sudah disentuh. Akan tetapi, kali ini dia tidak bersikap liar seperti biasanya. Justru kali ini dia bersikap manja dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Key ... malam ini sebentar saja, oke? Hari ini aku cukup sibuk, aku capek ...."
"Sshhh ... jangan pikir bisa tawar menawar denganku. Kau tinggal berbaring dan nikmati saja!" ucap Keyran yang lalu membopong tubuh istrinya dan menurunkannya di ranjang seperti tadi.
***
Dika telah mengabari Leon jika ketua bersedia bertemu dengannya dalam dua hari lagi. Dia juga memberitahu tempat dan waktunya dengan rinci. Hal tersebut akhirnya menambah rasa kelegaan di hati Leon. Leon pikir dia bisa bernegosiasi dengan ketua soal kontrak kerja Liana. Karena Leon tak mau adiknya itu jadi lebih dewasa lebih cepat dan terlibat dengan orang berbahaya seperti halnya Nisa.
Di sisi lain Chelsea akhirnya kembali ke Kedai Pembunuh. Seperti yang dia harapkan, dia bersyukur lantaran permintaan maafnya telah diterima dan dia tak perlu khawatir lagi soal kiriman pembunuh yang akan dia dapatkan. Akan tetapi, sebagai hukuman ringan. Bayaran atas tugas Chelsea di Divisi 3 tidak sepenuhnya diberikan. Karena Chelsea memang sudah libur lebih awal, di saat sebenarnya dia masih harus bertugas.
Dan sebagai hukuman tambahan, kali ini Chelsea masuk dalam masa pengawasan. Dia tak boleh bertemu dengan orang lain selain yang telah Divisi 2 ketahui. Dia juga tidak diperbolehkan melakukan sesuatu hal yang menimbulkan rasa curiga. Dan yang terakhir, Chelsea belum mendapatkan tugas baru karena masih belum sepenuhnya kembali mendapat kepercayaan.
Di satu sisi Chelsea menganggap jika hal ini merupakan sesuatu yang baik baginya. Dia merasa nyaman karena diberikan hari libur lebih banyak lagi. Dia tak perlu khawatir karena untuk saat ini dia memang belum punya rencana baru. Jadi selain terus berlatih, Chelsea juga punya banyak waktu luang untuk dia habiskan bersama Liana ataupun Leon.
Tanpa terasa dua hari telah berlalu, saat-saat yang ditunggu oleh Leon akhirnya tiba. Leon datang tepat waktu di markas utama, yaitu Grizz Glory Casino. Ketika Leon tiba di pintu masuk kasino yang besar itu, dia disambut oleh penjaga yang bertugas, dia mendapatkan perlakuan selayaknya seperti tamu-tamu yang berkunjung untuk niatan berjudi pada umumnya.
Leon terus berjalan masuk. Karena dia memakai baju yang sudah sepantasnya, alhasil dia tidak mendapatkan tatapan kecurigaan dari para pengunjung yang sebagian besar didominasi oleh wisatawan asing.
"Sepertinya kasino ini tetap beroperasi seperti biasa. Ya ... tentu saja, aku kan bukan siapa-siapa. Jika suami ketua yang berkunjung, maka dia akan meliburkan dan mengosongkan semua keramaian ini." Leon bergumam sambil melihat ke kanan kiri. Memperhatikan kira-kira di tempat mana ketua sudah menunggu dirinya.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang mendekat ke arah Leon. Dia adalah seorang staf khusus yang berpakaian rapi. Laki-laki itu membungkuk memberi hormat, lalu berkata, "Selamat malam, Tuan Leon. Mari ikuti saya, beliau sudah menunggu Anda."
"Baiklah," jawab Leon sambil mengangguk. Dia paham jika sosok beliau yang dimaksud staf khusus ini pastilah ketua.
Leon dengan penuh keyakinan mengikuti staf khusus itu. Hingga pada akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu, yaitu pintu masuk ke dalam private room VVIP Nomor 11.
"Kita sudah sampai." Staf khusus itu kemudian membukakan pintu. "Beliau ada di dalam."
Leon hanya merespons dengan anggukan kepala. Dan setelah dia masuk, staf khusus itu langsung menutup pintu kembali. Leon sedikit gugup, sudah cukup lama rasanya dia tidak berbicara langsung dengan sosok ketua yang sangat dia hormati.
Begitu Leon melangkah lebih jauh, dia melihat ada seorang wanita yang berpakaian cukup terbuka. Gaya busananya persis seperti Kaitlyn si banci genit, tetapi bedanya dia tahu betul jika ketua ini adalah seorang wanita tulen.
"Sudah lama ya, Leon ... Duduklah," ucap Nisa dengan senyum ramah. Dia bertingkah seolah-olah sama sekali tak punya niatan jahat.
"Baik, Ketua ..." jawab Leon singkat. Dia masih gugup saat dipersilakan dan diberi kehormatan untuk duduk di tempat yang setara dengan sang ketua.
Nisa melipat kakinya dengan santai. Sejurus kemudian dia kembali berkata, "Jadi, kau mau membicarakan soal apa denganku?"
"Sebelumnya saya berterima kasih karena Ketua telah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan saya. Yang saya ingin bicarakan adalah soal adik saya. Liana, akhir-akhir ini dia menjadi populer bak artis dadakan. Dan Liana bilang pada saya, jika Ketua yang telah memberikan kesempatan padanya untuk menjadi bintang iklan," jelas Leon tanpa menatap ke arah mata Nisa. Dia masih belum berani untuk bertatap mata langsung dengannya.
__ADS_1
"Ohh ... ternyata soal itu. Tetapi, adikmu itu bilang padaku kalau kau sudah memberinya izin. Ternyata dia berbohong. Meskipun aku tahu dia adikmu, aku tetap saja memperlakukan dirinya sesuai prosedur. Kau tenang saja, aku tak seperti apa yang kau pikirkan. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk mengendalikan Liana sebagai ancaman untukmu. Tapi, aku benar-benar melihat potensi dari dalam dirinya. Jadi aku memberikan kesempatan padanya. Itu saja ..."
Diam-diam batin Nisa tertawa jahat. Perbincangan ini memang mengarah sesuai ke arah seperti apa yang dia inginkan. Rencana awalnya sepenuhnya berhasil, dia telah berhasil mempergunakan Liana sebagai alat agar Leon punya kemauan sendiri untuk bertemu dengannya.
"B-begitu ya, jika memang begitu saya sangat berterima kasih pada Ketua. Ketua bukan cuma menyembuhkan penyakit mata adik saya dan saya, tapi Ketua juga memberikan saya kehidupan baru. Dan sekarang Ketua berbaik hati lagi dengan membantu potensi adik saya. Hanya saja ...." Tiba-tiba saja Leon merasa ragu untuk melanjutkan bicaranya.
"Hanya saja apa?" tanya Nisa yang masih dengan senyum palsunya.
"Saya merasa jika adik saja masih belum waktunya mendapatkan ini semua. Saya tidak ingin dia berbeda dengan anak-anak seumurnya. Saya ingin Liana kembali menjadi pelajar biasa. Itulah mengapa saya datang ke sini, karena saya ingin membicarakan kontrak kerja Liana dengan Ketua."
Tiba-tiba saja Leon mengeluarkan selembar kertas kontrak yang memang sejak tadi sudah dia siapkan. "Tolong ... karena Liana menjalin kontrak dengan perusahaan milik keluarga Ketua, dengan sangat saya mohon agar ketua mengakhiri kontrak ini sekarang juga!" pinta Leon dengan tatapan penuh kesungguhan.
"Hmm ...." Nisa mengernyit, berpura-pura bertingkah jika ini merupakan sebuah pilihan yang sulit.
"Saya tahu kalai saya lancang. Akan tetapi bagaimana kalau begitu begini saja. Saya bersedia akan membayar ganti rugi penuh atas pelanggaran kontrak! Karena saya tidak mau membuat adik saya bersedih, saya tidak akan meminta adik saya mengembalikan uang yang telah dia dapat. Namun, saya bersedia membayarnya dan menggantikannya! Saya rela bekerja lebih keras lagi untuk Ketua!"
"Heh!" Nisa tersenyum menyeringai.
Benar, inilah yang aku inginkan! Leon adalah anjing setiaku, anjingku yang gila dan mau melakukan apa saja demi aku! Inilah Mad Dog-ku!
"Haha, ini urusan yang gampang. Kau tak perlu terlalu sungkan padaku. Aku bersedia mengakhiri kontrak ini." Nisa tersenyum, dia mengambil kertas kontrak itu lalu merobeknya kecil-kecil dan menyebarkannya begitu saja ke lantai.
Leon tersenyum bahagia. Akhirnya adik kesayangannya telah sepenuhnya terbebas dari belenggu yang telah mengubah dunianya yang normal. "Terima kasih Ketua! Saya janji akan melakukan apa saja untuk Ketua! Saya akan bekerja lebih ke-"
"Sshhh ...!" Tiba-tiba saja Nisa menempelkan jari telunjuknya pada bibir Leon agar membuatnya berhenti bicara. Setelah Leon sepenuhnya diam, Nisa lalu menarik tangannya kembali.
"Sudahlah, aku tahu jika kau sangat setia padaku. Akan tetapi, kau tak perlu melakukan banyak hal untuk membuktikan kesetiaanmu itu. Kau cukup melakukan sebuah tugas yang belakangan ini selalu menjadi masalah dan mengusikku."
"Silakan Ketua katakan! Saya pasti akan melakukannya dengan baik!" seru Leon tanpa sedikit pun keraguan dari sorot matanya.
"Baiklah, karena kau bersemangat sekali maka akan aku jelaskan sekarang. Jadi begini, musuhku itu adalah salah satu orang dari keluarga konglomerat Adinata. Sebelumnya aku kira orang ini sudah mati, hanya saja belum lama ini aku tahu jika dia masih hidup. Sebenarnya aku tidak masalah karena dia masih punya nyawanya, yang jadi masalahku adalah sesuatu yang dia bawa."
"Barang macam apa yang dia bawa itu sampai membuat Ketua dilanda masalah?" tanya Leon penasaran.
"Itu bukan barang, tetapi dendam! Dia masih hidup dan berencana balas dendam padaku! Apa kau yakin bisa membereskannya?" tanya Nisa yang bermaksud untuk menguji kemantapan Leon lagi.
"Saya bisa!" jawab Leon secara spontan.
"Baguslah kalau begitu." Nisa tersenyum, tiba-tiba saja dia bangkit. Beranjak dari kursi dan mengambil sesuatu yang ada di atas sebuah meja yang tak jauh dari sana.
Yang Nisa ambil adalah sebuah dokumen yang terlihat tipis. Dia membaca dokumen itu sambil berjalan mendekat ke arah Leon. "Hanya sedikit informasi yang aku dapat tentang orang ini. Dia adalah ... Chelsea Almayra Adinata!"
Nisa lalu menyerahkan dokumen itu agar Leon melihatnya dengan kedua matanya sendiri.
"Chelsea ... Eh?! D-dia ...!!" Kedua mata Leon seketika membulat begitu melihat foto orang yang sang ketua maksud.
"...." Nisa menyeringai dengan senyuman iblisnya.
Kena kau! Sekarang mari kita saksikan pertunjukan luar biasa ini!
__ADS_1