
Selepas mendengarkan arahan dari Hendry sang Kepala Dewan Parlemen, Chelsea, Leon dan beserta para pengawal lainnya pun segera mengerjakan tugas mereka. Mereka semua berbondong-bondong pergi dari villa yang berada di Distrik Timur 1 dan beralih menuju Distrik Timur 12 yang terkenal sebagai daerah pemukiman kumuh.
Semua para pengawal itu punya satu tugas yang sama, mereka ditugaskan untuk mendapatkan tanda tangan persetujuan dari para penduduk apa pun caranya. Hendry selaku dalang utama dari proyek pembangunan ulang Distrik ini, tindakan inilah yang dia ambil pertama kali.
Tidak seperti para pejabat pada umumnya yang bekerja sama dengan aparat setempat untuk mengintimidasi para penduduk, Hendry lebih memilih untuk menggunakan orang-orang yang ada di bawahnya sendiri karena menganggap jika cara ini lebih efektif. Tentu saja dia menyembunyikan fakta dari para Dewan Parlemen lain jika dirinya sebenarnya adalah seorang petinggi gangster.
Setelah menimbang-nimbang semua rencana, dengan memikirkan juga para pengusaha yang sudah tidak sabar untuk segera memiliki tanah di Distrik itu. Hendry akhirnya memutuskan untuk resmi melakukan aksinya mulai hari ini. Dia juga berpesan kepada para pengawalnya agar jangan pernah menyebutkan namanya sekali pun, dia tidak mau ketahuan jika dia terlibat dalam proses penggusuran paksa lahan itu.
Kini semua para pengawal telah tiba di Distrik Timur 12. Dengan jumlah mereka yang totalnya tak lebih dari 20 orang, mereka pun membagi tugas sesuai besarnya kawasan wilayah yang harus mereka tangani. Dan kali ini Chelsea berada satu tim yang sama dengan Leon, mereka berdua mendapat jatah bagian wilayah di pinggiran yang harus ditangani.
"Baiklah, mari kita mulai dari sini!" ucap Leon sambil menuding sebuah rumah yang berada paling ujung.
"Iya," jawab Chelsea yang masih merasa sedikit ragu. Baru pertama kali ini dia melakukan hal yang paling dia benci, yaitu sengaja mencari masalah terlebih dulu dengan orang yang sama sekali tidak ada niatan untuk menyinggung dirinya.
Chelsea lalu melangkah mengikuti Leon, mereka berdua berdiri di depan sebuah rumah lama yang di bagian teras nya terdapat banyak bunga hias yang jenisnya bermacam-macam. Akan tetapi, sebagian besar dari bunga-bunga hias itu tampak tidak terawat. Ada yang layu dan hampir mati, pot nya retak, dan bahkan ada yang sudah ditumbuhi oleh lumut.
TOK TOK TOK!
Leon mengetuk pintu kayu tua itu, dan kemudian terdengar suara serak dari dalam rumah yang berbunyi, "Sebentar ..."
Tak lama kemudian pintu itu dibuka, dan tampaklah seorang kakek tua yang berjalan menggunakan tongkat. Postur tubuh kakek itu terlihat bungkuk dan tubuhnya kurus.
"...." Chelsea membisu, dia berusaha memantapkan diri untuk tidak mundur. Sekilas dia merasa tidak tega begitu membayangkan jika dia harus merebut rumah dan menyakiti si kakek berkeriput yang lemah itu.
"Sudah lama tidak ada orang yang ke sini, apa kalian ingin membeli bunga-bungaku?" tanya kakek tua itu dengan senyuman bahagia, saking bahagianya bahkan giginya yang ompong sampai terlihat. Dia merasa amat bahagia lantaran melihat ada orang yang datang berkunjung, sudah lama tidak ada orang yang datang untuk membeli bunga hias miliknya.
"Tidak, tujuan kami ke sini tidak ingin membeli bunga. Kami ingin bicara sesuatu hal yang penting denganmu!" jawab Leon dengan raut wajah yang dingin.
Senyuman kakek itu langsung menghilang, dia berbalik badan dan perlahan melangkah ke dalam rumah. "Begitu ya, silakan masuk. Mari bicara di dalam."
Leon dan Chelsea pun masuk ke dalam rumah. Mereka melihat barang-barang di dalam rumah itu juga sebagian sudah tidak layak, bahkan kursi yang mereka duduki juga sudah robek kulit luarnya dan terlihat bisa di bagian dalamnya.
"Maaf rumahnya berantakan ... aku tidak tahu jika akan ada tamu yang datang. Sebentar ya, aku ambilkan minum untuk kalian," ucap kakek itu dengan nada ramah. Sepertinya dia masih belum tahu tujuan kedatangan Chelsea dan Leon. Dia sudah terlalu tua untuk berpikir macam-macam.
"Tidak perlu, Kek!" ucap Chelsea spontan. Memang benar jika dia tidak perlu minuman, dan jauh di lubuk hatinya dia juga merasa enggan jika membuat kakek tua yang susah berjalan itu semakin kerepotan.
"Ah, baiklah ...." Kakek itu lalu duduk di kursi dan menyandarkan tongkat kayu miliknya. Setelah itu dia berkata lagi, "Ada urusan apa kalian berdua kemari?"
"...." Leon tak menjawab, dia hanya melirik ke arah Chelsea dan memberikan isyarat padanya.
Di satu sisi Chelsea paham arti dari isyarat itu. Dengan cepat dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas koper hitam yang sejak tadi dia bawa. Benda itu adalah selembar kertas persetujuan dan sebuah amplop berwarna cokelat.
"Silakan Kakek tanda tangan di atas sini," ucap Chelsea seraya menyodorkan sebuah pulpen pada Kakek itu.
__ADS_1
"...." Kakek tua itu diam seribu bahasa, sekilas dia melihat gambar logo yang berada di atas pojok kiri kertas itu. Kakek itu paham jika kertas yang ada di hadapannya ini bukanlah kertas sembarangan.
"Aku tidak bisa membaca, bisakah kalian jelaskan padaku apa maksud dari kertas ini?" pinta sang kakek dengan nada sopan.
"Cepat tanda tangan saja, Kek! Jika Kakek tanda tangan maka artinya aku akan membeli seluruh bunga milikmu dan uangnya-"
"Tunggu sebentar!" sahut Chelsea yang tiba-tiba menyela penjelasan palsu dari Leon.
"Ada apa, Nak?" tanya sang Kakek dengan tatapan bingung.
"Biar aku saja yang menjelaskan. Maksud sebenarnya kedatangan kami ke sini adalah untuk meminta persetujuan dari Kakek. Distrik ini dalam perencanaan pembangunan ulang, jadi rumah Kakek ini nantinya akan digusur. Dan kami sudah membawa uang ganti rugi di dalam amplop ini," jelas Chelsea.
"A-apa?! Memangnya siapa kalian yang seenaknya saja mau menggusur rumahku?!" tanya Kakek yang mulai syok.
"Kami tidak bisa mengatakannya, jadi tolong terima dan tanda tangan saja, Kek!" pinta Chelsea penuh penekanan.
"Aku tidak mau! Sampai mati pun aku tidak mau! Rumah ini adalah milikku!" teriak sang Kakek yang bersikeras.
Tanpa peringatan apa pun tiba-tiba Leon berdiri, menarik tangan kakek tua itu dengan kuat dan mengarahkannya ke atas kertas. "Cepat tanda tangan!" bentak Leon dengan sorot mata tajam.
"Akhhh! Lepaskan aku! Dasar anak muda tidak sopan!" teriak kakek sambil meronta karena merasa kesakitan dengan tindakan yang Leon lakukan padanya.
"Jangan membantah!" bentak Leon sekali lagi yang kemudian beralih menatap ke arah Chelsea. "Mayra! Cepat ambil stamp pad! Terpaksa pakai cap jari untuk kakek yang keras kepala ini!"
"T-tapi ..." ucap Chelsea ragu.
"Sial! Lepaskan aku, dasar menjijikkan!" hardik Leon sambil mendorong kepala kakek itu untuk menjauh darinya.
"Cukup!!" teriak Chelsea. Tiba-tiba saja dia mengambil kertas dan uang yang ada di atas meja. Dia bahkan memisahkan tangan Leon yang mencengkeram erat si kakek.
"Ayo kita pergi saja, Leon!" ajak Chelsea seraya menarik Leon.
"Hei! Apa-apaan kau?!"
"Pergi! Pergi sana!" Kakek itu berteriak dan bahkan memukuli Leon dengan tongkat kayunya.
"Ayo pergi!" Chelsea tak dapat mengendalikan diri lagi, dia semakin kuat menyeret Leon untuk pergi dari rumah kakek tua penjual bunga itu.
PRANGG!
Karena menyeret Leon dan tak begitu memperhatikan jalan. Tanpa sengaja kaki Chelsea menyenggol salah satu bunga hias milik kakek itu sampai pot nya pecah.
"Bungaku ...!!" teriak sang kakek itu histeris. Dia langsung menghampiri bunga miliknya yang rusak itu. Bahkan dia duduk di lantai dan mengais-ngais tanah dan berusaha menyatukan tanah dan pot itu kembali seperti semula.
"Pergi kalian! Kalian merusak bunga kesayanganku! Aku tidak mau melihat kalian lagi! Dan aku juga tidak akan menyerahkan rumahku! Dasar orang-orang jahat! Pergi sana! Semoga Tuhan menghukum kalian!" teriak kakek itu yang kini sudah tak mampu untuk membendung air matanya lagi.
__ADS_1
"Aku ... ma-" Chelsea seketika menghentikan perkataannya yang bermaksud untuk meminta maaf. Namun, kali ini dia sadar, dia sadar jika dirinya sudah terlalu hina untuk meminta maaf.
"Ayo Leon, kita pergi saja!"
"Huh!" Leon mendengus kesal, dia terpaksa melepaskan kakek itu dan mengikuti Chelsea berjalan pergi.
Mereka berdua pun mengambil jalan lain, bermaksud untuk mendatangi bangunan lain lagi yang berjarak agak jauh dari rumah kakek penjual bunga agar tidak terlalu menarik perhatian.
"Kenapa kau tadi menghentikan aku? Kau kasihan pada kakek itu? Apa kau masih ragu dengan jalan yang kau pilih?" tanya Leon dengan nada menyindir.
"...." Chelsea membisu.
Leon benar, aku memang ragu. Tetapi, jalan untuk kembali juga sudah tidak ada. Aku memang sudah pernah membunuh orang, tapi orang itu juga punya niat buruk terhadapku. Ini jauh berbeda dengan kasus tadi, kakek penjual bunga itu tidak salah apa-apa.
Dan sepertinya aku selama ini telah salah menilai Leon. Karena dia ramah padaku, aku jadi lengah karena melupakan identitas awalnya sebagai gangster yang kejam. Sepertinya aku yang terlalu berada di zona nyamanku. Aku mungkin harus menutupi rasa raguku.
"Aku menghentikanmu karena punya cara lain."
"Oh ya, apa kau bergurau?" tanya Leon dengan tatapan meremehkan.
"Tentu saja! Mungkin kau tidak percaya, tapi aku percaya dengan hukum karma. Kakek tadi sudah tua, kita seharusnya memang harus berlaku hormat padanya. Jangan melukainya dengan fisik, itu pilihan yang salah! Lebih baik pakai caraku saja!" ucap Chelsea yang mulai menggunakan kemampuan berbohongnya.
"Coba jelaskan!"
"Kita bisa menekannya secara mental, dia terakhir saja tidak masalah! Setelah semua rumah yang ada di kanan kirinya telah berada di tangan kita, dia pasti juga tidak akan tahan, dan lalu dia akan menyerahkan rumahnya secara suka rela. Jadi kita tidak perlu mengotori tangan kita!"
"Heh, tangan kita kan dari awal memang sudah kotor," balas Leon lagi.
"Ck, kau ini setidaknya cobalah cara lain ... Jangan terlalu berpatokan pada kekerasan, gunakan otakmu untuk memanipulasi orang sesuai keinginan kita!" jawab Chelsea tak mau kalah berdebat.
"Tetap saja ini salahmu! Jika dari awal kau biarkan aku menipu kakek yang buta huruf itu, maka kita tidak perlu bersusah payah seperti ini! Kau ini masih awam, untuk selanjutnya jangan mencegahku dan kita akan gunakan caraku! Caramu tidak efektif!" ucap Leon penuh penekanan.
Leon mempercepat jalannya. Dan tiba-tiba saja dia berbelok arah menuju sebuah ruko.
"Eh, kau mau ke mana?"
"Beli minuman," jawab Leon dengan malas.
"Aku ikut!" Chelsea langsung bergegas berlari menyusul Leon.
Mereka berdua pun masuk ke dalam toko itu. Dan mereka membeli dua botol kopi dingin yang jenisnya sama. Dan kali ini Leon berinisiatif untuk membayarkan kopi milik Chelsea juga.
"Berapa?" tanya Leon pada sang kasir.
"Totalnya dua puluh ribu," jawab seorang kasir yang masih gadis itu. Pipinya merona, dia terpesona dengan ketampanan Leon.
__ADS_1
"Oke," Leon lalu mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru. Namun, tiba-tiba saja saat gadis kasir itu merima uang tersebut, diam-diam dia juga mengusap tangan Leon yang kekar.
"H-hei ...!?" Chelsea yang melihat hal itu seketika melotot.