
Hari dengan cepat telah berlalu, ulang tahun Liana dirayakan dengan sederhana saja namun terkesan bermakna. Kue ulang tahun yang dibuat oleh kakaknya dan calon kakak ipar, serta hadirnya Ian sang pacar. Begini saja sudah membuat Liana seperti seseorang yang paling bahagia.
"Kak, aku pergi jalan-jalan dengan Ian dulu, ya! Aku janji sebelum jam 7 malam sudah pulang!" ucap Liana dengan tatapan berharap, supaya Leon memberikannya izin untuk bermain di luar.
"Baiklah, tapi kau tidak boleh bermain ke tempat aneh atau melakukan sesuatu yang macam-macam!"
"Yey, terima kasih Kak Leon!"
Liana segera pergi dengan perasaan riang, hari ulang tahunnya benar-benar terasa menyenangkan. Sedangkan Leon, kini tinggal dirinya saja berdua dengan Chelsea di rumah.
"Leon," panggil Chelsea tiba-tiba.
"Ya?"
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, dan ini soal sesuatu yang penting," ucap Chelsea yang sorot matanya tampak begitu serius.
"Apa itu?" tanya Leon yang keningnya mengerut. Pikirnya, apa yang akan Chelsea katakan sepertinya benar-benar penting. Soalnya dia sudah merasa jika hari ini Chelsea bersikap berbeda dari biasanya.
"Aku ingin bertanya. Jika saja kau jadi aku, apa kau akan merasa lelah hidup bersembunyi terus?"
"Lelah? Tentu saja, dengan hidup bersembunyi berarti hanya akan ada ketenangan sampai ketahuan. Kenapa tiba-tiba kau menanyakan soal ini? Bukannya kau bersembunyi dari keluargamu karena memang tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi?"
Chelsea menghela napas, lalu menunduk. "Kau benar. Aku sembunyi karena aku punya alasan. Hanya saja ... seseorang pernah berkata padaku kalau aku sebaiknya menyudahi ini semua jika ingin hidupku tenang. Aku terus memikirkannya, dan setelah mendengar jawabanmu barusan, aku jadi semakin yakin pada pilihanku. Aku mau ke rumah ayahku dan menuntaskan semuanya!"
"Apa?!" Leon tersentak dengan keputusan Chelsea yang berada di luar perkiraannya.
"Iya, kau tidak salah dengar. Sekarang juga aku mau kembali ke rumah ayahku!"
"Tunggu sebentar, Chelsea. Apa kau sungguh yakin?"
"Aku sungguh-sungguh yakin! Jangan menghalangiku, Leon!"
"Tidak, tunggu! Kalau begitu, biarkan aku menemanimu!"
Sejenak Chelsea tertegun, lalu tersenyum sambil berkata, "Baiklah, terima kasih karena kau selalu mendukungku!"
"Sama-sama, lagi pula ini bukan apa-apa ..." jawab Leon dengan senyuman.
Mereka berdua lalu segera berangkat menggunakan mobil Leon, dan Chelsea yang memandu jalan untuk menuju ke kediaman utama keluarga Adinata. DI sepanjang perjalanan, jantung Chelsea terus berdebar, memikirkan sambutan macam apa yang akan terima setelah dia pergi meninggalkan rumah itu lebih dari 6 tahun lamanya.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka berdua tiba. Dari dalam mobil, Chelsea bisa melihat jika rumah yang besar itu sama sekali tidak berubah. Masih bercat putih, pintu gerbang yang kokoh, dan suasana juga seakan tak berubah. Begitu sunyi, tak ada kegembiraan yang dirasakan. Perasaan Chelsea makin berkecamuk, membayangkan seperti apa nanti jika dia menginjakkan kaki di rumah itu lagi.
"Chelsea!" panggil Leon untuk ke sekian kalinya.
__ADS_1
"Y-ya?" Seketika Chelsea menoleh.
"Dari tadi kau dipanggil tidak menjawab, kenapa kau melamun? Apa kau merasa ragu? Jika kau ragu, belum terlambat untuk kita putar balik."
"Tidak, jangan Leon ... aku cuma sedikit menata perasaanku saja. Oh ya, nanti kau tak perlu mengikutiku menghadap ayahku. Jika kita diterima masuk, kau cukup menungguku di ruang tamu saja, oke?"
"Baiklah, itu mudah."
Leon lantas mematikan mesin mobilnya, memikirkan mobilnya di seberang jalan. Dan begitu mereka sama-sama mendekat ke gerbang masuk, reaksi dari satpam penjaga gerbang teramat kaget begitu melihat rupa Chelsea.
"N-Nona Besar?!"
"Iya, ini aku. Cepat, bukakan pintunya!" titah Chelsea pada satpam yang sudah berumur hampir 50 tahun tersebut. Chelsea mengenal satpam ini karena dia memang sudah lama bekerja di kediaman Adinata.
Satpam itu masih terdiam untuk beberapa saat. Seluruh pelayan di kediaman ini sudah tahu soal kematian Chelsea yang rumornya palsu, tetapi satpam ini masih sulit mempercayai jika nona besar mereka masih hidup sungguhan.
"M-maafkan saya, Nona. Silakan masuk ...." ucapnya dengan nada hormat.
Begitu mereka melewati gerbang masuk utama, mereka melangkah melewati halaman depan yang luasnya mampu untuk menampung belasan mobil. Dan di satu sisi, sang satpam itu sepertinya menggunakan alat komunikasi berupa walkie talkie untuk mengabari para pelayan yang lain.
Kabar tersebut menyebar dengan cepat. Ketika Chelsea membuka pintu masuk utama, dia sudah disambut dengan hormat oleh seluruh pelayan kediaman yang bertugas di dalam rumah. Dan setelahnya, muncul seseorang yang tidak asing. Dia adalah Willa, ibu kandung Chelsea.
Willa berlari secepat mungkin, lalu memeluk Chelsea dengan eratnya. Tangisnya pecah, putri yang selama ini dia kira telah tiada, sekarang kembali dalam keadaan baik-baik saja. "Kau ke mana saja, Chelsea ...? Kenapa baru sekarang kau kembali? Apa kau tidak sayang pada ibu lagi?"
"Aku sayang ibu," jawab Chelsea singkat seraya membalas pelukan dari Willa. Namun, pelukan itu tak berlangsung lama. Meskipun Chelsea rindu pada ibunya, kerinduan itu tak sedalam pada umumnya, mungkin karena sejak dulu Chelsea tak terlalu dekat dengan ibunya.
"Ayahmu ... dia sekarang berada di ruang baca, sepertinya kau harus menemuinya," jawab Willa seraya mengusap air mata di pipinya sendiri.
"Oh, jadi, aku yang harus menemuinya? Harga diri ayah tinggi sekali, ya~" ucap Chelsea dengan seringai sinis.
"Ehmm ... Chelsea, pria yang datang bersamamu ini siapa?" tanya Willa yang bermaksud mengalihkan topik pembicaraan.
"Saya Le-"
"Dia suamiku!" sahut Chelsea yang memotong ucapan Leon. Dan sontak saja Willa maupun Leon dibuat melotot karena perkataan Chelsea barusan.
"Suami?! K-kapan kau menikah, Chelsea?" tanya Willa yang masih syok.
"Belum lama, baru sekitar 2 minggu yang lalu," jawab Chelsea asal.
Sedangkan Leon, dia hanya bisa diam dan tak membantah. Dia tak mau menghancurkan rencana yang bisa jadi sudah Chelsea persiapkan. "Chelsea benar, kami memang sudah menikah 2 minggu yang lalu."
"Ibu, anggap suamiku ini sebagai tamu. Aku mau menemui ayah!" ucap Chelsea yang segera berlalu meninggalkan ibunya dan Leon. Biarpun sudah tidak menginjakkan kaki selama lebih dari 6 tahun, Chelsea masih mengingat dengan jelas di mana letak ruang baca ayahnya.
Tommy Adinata, Chelsea sudah sangat mengenal bagaimana karakter dari sosok itu. Sosok ayah yang keras, ketat, pengatur dan egois. Tiap kali berhadapan dengan sosok ini, Chelsea merasa seakan-akan dia jadi kesulitan untuk bernapas dengan bebas.
__ADS_1
Karena itulah, Chelsea mengambil napas dalam-dalam sebelum memasuki ruang baca milik Tommy Adinata.
TOK TOK TOK!
"Masuklah!" terdengar suara Tommy yang berdengung keras. Sepertinya dia memang sudah menunggu-nunggu Chelsea mengetuk pintunya.
Chelsea yang menyadari hal ini tak berkata apa-apa, langsung menerobos masuk begitu saja tanpa permisi. Melangkah dengan cepat dan berdiri tegap di hadapan ayahnya yang saat ini sedang duduk di belakang meja kerjanya.
"Duduklah, Chelsea. Ayah sudah lama menantikan kepulanganmu. Kau tidak banyak berubah, ya. Mari kita bicara dari hati ke hati. Setelah ayah gagal mengerahkan orang untuk mencarimu, rupanya kau kembali dengan sendirinya," ucap Tommy dengan entengnya. Dia masih tidak menyadari alasan mengapa Chelsea pergi selama ini.
"Tidak perlu! Aku tidak ingin berlama-lama di sini! Aku cuma ingin bertanya, Ayah mengerahkan banyak orang demi mencariku, sebenarnya apa tujuan Ayah?! Apakah Ayah benar-benar peduli padaku?!" tanya Chelsea dengan nada tinggi.
"Tentu saja ayah peduli. Mana mungkin seorang ayah tidak memedulikan anak-anaknya," jawab Tommy dengan spontan.
"Persetan! Ayah jangan sok dramatis seperti ini! Ayah peduli sebenarnya bukan karena aku adalah anakmu! Tapi karena aku ini adalah karyawanmu, kan?! Karyawan itu harus selalu mematuhimu! Dan Ayah cuma khawatir kalau aku membangkang!" teriak Chelsea yang emosinya makin meluap.
"...." Tommy terdiam, sejurus kemudian dia berkata, "Itu sudah jelas. Kau tahu bagaimana posisi ayahmu ini. Ayah harus tegas menjalankan sebuah perusahaan. Dan kau adalah anakku, nama Adinata yang terhormat itu menempel padamu. Sudah jadi kewajibanmu untuk mengurus perusahaan dan membantu ayah."
Seluruh tubuh Chelsea gemetar, dia tak kuasa lagi menahan amarahnya. "Itulah alasanku pergi, Ayah! Aku sudah muak dengan semua sikap Ayah! Ayah tak pernah lagi memberikan aku perhatian dan kasih sayang selayaknya sebagai anak! Bahkan ... sebenarnya Ayah tak membutuhkan anak sepertiku! Yang Ayah butuhkan itu adalah karyawan yang punya kemampuan sama sepertiku!"
"Sejak dulu Ayah sudah keterlaluan, pada akhirnya aku paham mengapa mendiang kak Liam juga muak pada Ayah! Karena selama ini Ayah cuma memanfaatkan kami demi kepentingan Ayah sendiri! Uang, ketenaran, nama baik, martabat, kesuksesan, persetan dengan itu semua! Aku sudah memberikan segala yang aku bisa, tapi Ayah tak pernah puas dan selalu membanding-bandingkan aku!"
"Jika semua itu harus aku lakukan karena aku anak Ayah, maka aku tak mau lagi! Aku tak mau lagi jadi boneka Ayah! Mulai hari ini aku membuang nama 'Adinata' dari namaku! Mulai detik ini Ayah jangan mencariku lagi!"
Setelah mengatakan itu semua, Chelsea langsung berlari keluar dari ruangan secepat mungkin.
"Chelsea, tunggu!" teriak Tommy sekencang-kencangnya. Namun, tetap saja Chelsea tak mungkin berbalik. Dia lantas beranjak dari kursi dan berusaha semampunya mengejar dengan tubuhnya yang tidak lagi muda.
"Pengawal! Pelayan! Siapa pun cepat hentikan Chelsea! Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini!!"
Semua yang mendengar teriakan Tommy itu segera berkumpul. Mereka tak punya pilihan lain kecuali menuruti perintah tuan besar mereka. Orang yang jumlahnya belasan berbondong-bondong mengejar Chelsea semampu yang mereka bisa.
Jika Chelsea masih Chelsea yang dulu, sudah pasti dia akan tertangkap. Namun, pengalamannya sebagai gangster membuatnya memiliki kemampuan untuk menghindar dari kejaran mereka semua.
"Leon! Ini saatnya kita pergi!!" teriak Chelsea sekencang mungkin. Dia ingin pergi dari rumah ini bersama-sama dengan Leon.
Tanpa bertanya apa pun, Leon sudah paham dengan situasi yang terjadi saat ini. Dia meninggalkan Willa begitu saja dan secepat mungkin menghampiri Chelsea. Tetapi, setelah dekat dengan pintu utama, sayangnya jalan mereka dicegat oleh pengawal kediaman yang jumlahnya sebanyak 7 orang. Semuanya berpakaian rapi dan berbadan kekar, tampak sekali jika mereka adalah orang-orang profesional.
"Tak apa, biar aku saja yang urus mereka!" Leon melesat dengan cepat. Sesuai gelar sebagai elite yang dia punya, untuk menumbangkan 7 orang pengawal tak memerlukan waktu lebih dari 10 detik baginya.
"Bagus, Leon! Memang pantas jadi priaku!" Chelsea segera kembali berlari. Bersama dengan Leon, mereka berdua bersama-sama melewati pintu utama kediaman Adinata tanpa siapa pun yang menghalangi langkah mereka.
"Dasar kalian tidak berguna! Jangan biarkan mereka lolos begitu saja!" teriak Tommy yang semakin dibuat geram.
"Ayo, Leon! Tinggal melewati gerbang itu saja!" seru Chelsea tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Iya!" jawab Leon yang sedari tadi hanya memperhatikan wajah Chelsea.
Untuk pertama kalinya dia melihat senyuman yang teramat menawan. Senyuman yang punya arti tentang banyak hal. Dia turut senang karena pada akhirnya Chelsea mendapatkan apa yang selama ini dia cari. Senyuman yang diiringi oleh langkah kaki riang, inilah senyum kebebasan.