
Chelsea sangat terkejut melihat Leon yang saat ini berdiri dengan gagah di hadapannya. Terlebih lagi dia terkesima ketika Leon berteriak ingin melindunginya dengan sepenuh nyawa yang dia punya.
Di satu sisi para eksekutif 12 Shio juga terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika Mr Dragon telah diserang, topengnya direbut dan posisinya digantikan secara diam-diam. Namun, mereka paham mengapa hal itu bisa terjadi. Karena mereka semua tahu akan kemampuan seorang elite, mereka semua sadar akan kemampuan yang Mad Dog asal Divisi 2 punya.
Sedangkan di sisi lain Nisa hanya ternganga, ikut terkejut dengan sebuah hal yang terjadi di luar perkiraannya. Namun, setelah dia terdiam beberapa saat, dia menampakkan seringai iblisnya. "Hehe, aku rasa pertunjukan akan jadi semakin seru."
"Seru kenapa? Apa karena kau ingin membuat pasangan menyebalkan itu menerima pukulan?" tanya Marcell.
"Yaa ... tetapi bukan cuma itu. Tadinya aku hanya ingin melibatkan Chelsea seorang, dan Mad Dog ternyata melakukan sesuatu yang mengejutkan. Memang sedikit merusak rencanaku, tapi kerusakan rencana ini justru membuat segalanya semakin baik," jawab Nisa seraya mengunyah buah jeruknya.
"Kenapa bisa makin baik?" tanya Marcell lagi. Meskipun dia sudah mengikuti Nisa sejak lama, dia masih belum mengerti jalan pikirnya yang sulit ditebak.
"Hehehe, kau lihatlah baik-baik. Di dalam arena itu bukan hanya terdapat ketegangan, tetapi jika pergulatan perasaan yang dalam. Bukannya ini termasuk hiburan yang mahal? Lagi pula coba kau pikirkan, hampir mustahil untuk membuat Mad Dog ikut serta dalam turnamen ini. Tapi sekarang, demi kekasihnya yang naif itu, dia rela mengikuti pertarungan."
"Menurutku pertunjukan ini akan semakin memanas, dengan adanya seorang elite ditambah para eksekutif. Mari kita lihat siapakah yang lebih unggul, batu permata yang diasah oleh Dika, atau bongkahan batu yang kau asah sampai jadi permata?"
"Apa kau mau bertaruh?" tanya Marcell seakan menantang.
"Itu tergantung dengan apa yang kau ingin aku pertaruhkan. Jika nanti kau menang taruhan, apa yang akan kau minta dariku?" tanya Nisa yang nada bicaranya sedikit angkuh, dia berpikir jika dia akan bisa memberikan Marcell segalanya, karena dia menganggap jika hidupnya kini benar-benar serba berkecukupan.
"Jika aku menang taruhan, apa kau mau bertaruh untuk mengganti suamimu?"
"Haha, sialan. Tidak bisa!" jawab Nisa dengan spontan.
"Ya sudah, kalau begitu tidak perlu bertaruh. Nikmati saja pertunjukan yang kau rencanakan," ucap Marcell dengan enteng, lantas kembali melanjutkan mengupas jeruk untuk ketuanya itu.
Meskipun Nisa tak pernah bercerita, Marcell bisa tahu kalau Nisa terkekang dengan aturan suaminya. Dia memahami jika ada banyak ketidakcocokan antara seorang konglomerat yang harus selalu menjaga citra baik, dengan seorang ketua gangster yang menyalahi hukum seperti Nisa.
Walaupun dia tidak terlalu suka pada Keyran, dia tetap membiarkannya bersama asalkan tidak menyakiti Nisa. Dia juga sadar kalau Nisa memiliki sisi bodoh dan rapuh jika itu berkaitan dengan cinta. Itulah mengapa dia sempat meminta Nisa untuk mencari pasangan yang lain. Meskipun permintaannya ini serius dan punya alasan kuat, dia tahu jika Nisa hanya akan menganggap ucapannya ini sebagai gurauan belaka.
Mereka berdua pun kembali mengamati dengan saksama apa yang saat ini terjadi di dalam arena pertarungan. Masih tak ada pergerakan sama sekali baik dari pihak eksekutif 12 Shio ataupun Leon dan Chelsea.
Para eksekutif yang tersisa 11 orang itu saling memandang satu sama lain. Hanya dari anggukan kepala saja, mereka bisa memahami rencana untuk maju dan menyerang Leon dan Chelsea secara bersamaan.
"8, 3 ..." ucap Leon dengan suara pelan.
"Kau bilang apa?" tanya Chelsea.
"Kita bagi tugas, aku akan hadapi 8 eksekutif lalu kau sisanya. Mengerti?"
"Hei, kenapa jumlahnya-" Perkataan Chelsea terpotong lantaran Leon yang mendadak maju dan melakukan serangan lebih dulu.
"Sial, dia tidak mendengarkan aku!" gerutu Chelsea yang juga langsung maju dan menyerang di sisi yang berbeda dari Leon.
Arena pertarungan itu seolah-olah terbagi menjadi dua. Di sisi kiri ada Leon yang melawan para eksekutif yang jumlahnya 6 orang. Sedangkan di sisi kanan Chelsea melawan sisanya. Peraturan pembagian ini tak sesuai dengan yang Leon rencanakan.
BAK! BUK! BUAGH!
Terjadi baku hantam yang sangat sengit di sisi Leon. Seperti yang Leon duga jika para eksekutif ini memiliki kemampuan yang berada di atas rata-rata, namun masih belum selevel jika dibandingkan dengan elite seperti dirinya. Pertarungan ini bisa dibilang pertarungan yang paling merepotkan yang pernah Leon alami. Bertarung dengan banyak orang yang asalnya dari organisasi yang sama. Hal ini sungguh tak pernah terbayangkan oleh dirinya.
__ADS_1
"Abaikan Mad Dog! Tangkap wanita itu dulu! Otomatis Mad Dog akan menyerah!" teriak Mr Monkey yang memakai topeng monyet.
Seketika teriakan Mr Monkey direspons oleh eksekutif yang lain. Mereka kompak mengubah fokus mereka dan beralih menyerang Chelsea bersama-sama.
"Jangan harap aku membiarkan kalian!" gertak Leon yang melesat lebih dulu. Menghadang para eksekutif yang berniat menyerang Chelsea.
"Turuti aku! Fokuslah pada 3 orang saja!" teriak Leon penuh penekanan pada Chelsea.
"A-aku mengerti!" balas Chelsea yang tanpa menurunkan fokus dan penjagaan dirinya.
Leon semakin menggila, dia mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia punya demi memecah para eksekutif 12 Shio. Menggiring mereka sampai rencananya terlaksana, membuat 8 orang eksekutif hanya fokus melawannya.
Chelsea hanya melawan 3 orang eksekutif, meskipun begitu dia telah dibuat terdesak. Terus mundur hingga ke sudut arena. Yang menjadi lawannya adalah Mr Rabbit, Mr Ox dan Mr Tiger. Begitu dia terpojok, Mr Tiger mendadak melesat maju di hadapan Chelsea.
"Kau ... dasar penghianat!" Semangat bertarung Chelsea mendadak jadi menggebu-gebu ketika berduel melawan Mr Tiger. Dia masih kesal karena Mr Tiger yang merupakan mantan anak buah kakaknya, sekarang justru berpaling dan berpihak pada pelaku pembunuh kakaknya.
Pertarungan Chelsea dengan Mr Tiger menjadi lebih sengit, seolah tak membiarkan orang lain ikut campur dalam pertarungan yang terdapat dendam terselubung di dalamnya. Hingga tiba-tiba saja Mr Tiger melakukan sesuatu yang di luar perkiraan. Diam-diam mengeluarkan sebuah belati tersembunyi dan mengarahkan belati itu pada tangan Chelsea yang saat ini posisinya berada di depan perut.
JLEEBB...
Darah mengucur keluar. Namun, asalnya bukan dari tubuh Chelsea, melainkan dari tubuh Mr Tiger. Mr Tiger memegang tangan Chelsea erat-erat bersamaan dengan belati itu, lalu menikam tangannya sendiri yang berada di depan perut, supaya menghalangi pandangan dari orang lain. Seolah-olah ingin membuat Chelsea yang seperti menikam dirinya.
"Kau ... a-apa yang kau lakukan?" tanya Chelsea kebingungan. Semuanya terjadi begitu cepat tanpa dia sadari. Dia tidak habis pikir jika Mr Tiger akan menggunakan belati miliknya sendiri untuk melukai diri sendiri.
"Anggap ini sebagai penebusanku pada mendiang Bos William. Kita impas," ucap Mr Tiger dengan suara lirih. Dia lantas mengusapkan darah itu di perutnya, seakan-akan telah ditikam di bagian perutnya. Mr Tiger menyerahkan belati itu di tangan Chelsea, kemudian berakting terjatuh dan tak sadarkan diri dengan lihai.
"Mr Tiger ..." ucap Chelsea dengan dahi yang mengerut, masih tidak menyangka jika Mr Tiger sangat menaruh hormat kepada mendiang kakaknya meskipun telah lewat bertahun-tahun lamanya. Dia juga sadar kalau dia telah salah menilai Mr Tiger.
"Huh, tentu saja aku bawa! Dasar hewan-hewan bodoh!" cecar Chelsea sambil melangkahi Mr Tiger yang pura-pura terkapar. Dia menghargai pengorbanan yang Mr Tiger lakukan. Mengambil kesempatan ini sebaik mungkin untuk membalikkan keadaan.
Dengan adanya sebuah belati di tangannya, Chelsea memiliki peluang yang lebih besar untuk melawan. Dia yang semula terdesak oleh para eksekutif ini, sekarang tampaknya menjadi imbang.
"Maaf, jangan salahkan aku bertindak kejam!" Chelsea mengayunkan belati itu dengan lihai. Hingga mampu membuat Mr Rabbit terkecoh. Mr Rabbit refleks mengelak dengan memiringkan tubuh ke kiri, tetapi yang sebenarnya Chelsea incar adalah kakinya.
"ARRGGHHH!" Mr Rabbit berteriak kesakitan. Luka di kakinya yang dibuat oleh Chelsea cukup dalam. Meskipun bukan luka fatal yang membahayakan nyawa, luka itu tetap berhasil membuat Mr Rabbit tak mampu bergerak dan memberikan perlawanan lagi.
BUGH!
Sebuah pukulan keras Chelsea berikan di kepala Mr Rabbit hingga dia pingsan. Sekarang lawan yang tersisa hanya Mr Ox. Pertarungan antara Chelsea dan Mr Ox tak memakan waktu yang lama, di luar dugaan dari Chelsea ternyata kemampuan Mr Ox berada di bawah Mr Tiger ataupun Mr Rabbit.
Jatah 3 orang eksekutif telah berhasil Chelsea bereskan. Namun pertarungan ini masih belum berakhir, dia menoleh ke samping dan melihat Leon yang masih sibuk bertarung dengan 4 orang eksekutif, karena 4 orang eksekutif yang lainnya telah ditumbangkan.
"Leon!" teriak Chelsea seraya berlari menghampiri Leon. Kini mereka berdua saling berdekatan dan memunggungi. Berjaga-jaga supaya tak memberikan celah untuk membuat para eksekutif melakukan serangan dari belakang.
"Kau tak apa?" tanya Leon pada Chelsea tanpa mengalihkan pandangan dari 4 eksekutif yang tersisa.
"Ya, aku masih bisa membantumu. Dan kau juga baik-baik saja, kan?" tanya Chelsea yang merasa khawatir saat tadi menyadari jika bibir Leon berdarah.
"Ini hanya luka kecil, aku baik-baik saja."
"Baguslah, kalau begitu terimalah ini. Belati ini akan jauh lebih berguna jika kau yang memakainya!" ucap Chelsea seraya memberikan belati yang sebenarnya milik Mr Tiger kepada Leon.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Leon yang memegang belati itu erat-erat. Sekarang dia punya peluang lebih besar untuk memenangkan pertarungan yang gila ini.
"Mr Snake! Mr Rat! Mr Monkey dan Mr Rooster! Terima ini!" teriak awak kapal bertopeng hitam yang sebelumnya berlagak menjadi pembawa acara. Dia melemparkan 4 buah senjata tajam ke dalam arena.
"Heh, jangan harap menang dengan mudah dari kami!" ucap Mr Rat dengan nada angkuh. Dia sangat percaya diri untuk memenangkan pertarungan ini.
"Mundurlah," ucap Leon pada Chelsea.
"T-tapi aku ingin membantumu," bantah Chelsea yang bersikeras ingin membantu. Dia merasa harus bertarung sampai akhir, karena dialah penyebab Leon jadi terlibat dengan ini semua.
"Aku bilang mundur! Biar aku saja yang hadapi mereka!" teriak Leon penuh penekanan.
Leon maju dan memberikan serangan lebih dulu. Pertarungan 4 lawan 1 ini berjalan lebih sengit dari sebelumnya karena ada tambahan senjata. Namun, yang namanya stamina tetap ada batasnya. Leon terpikirkan cara untuk mengakhiri ini secepatnya. Dia rela menerima sayatan lain demi fokus melumpuhkan salah satu di antara mereka.
"Leon!" teriak Chelsea kala Leon mendapatkan luka sayatan.
Leon tak peduli dengan luka yang dia terima. Dia nekat menyerang Mr Rat secara membabi buta. Dan begitu Mr Rat ambruk, Leon merebut senjata darinya dan melemparkan senjata itu ke arah Chelsea.
"Ambil itu dan lindungilah dirimu sendiri!" titah Leon.
"Baik!" Chelsea mengambil senjata itu sesuai yang Leon perintahkan padanya. Dia tak tega melihat Leon berjuang sendirian, alhasil Chelsea juga maju, memantapkan diri untuk beradu senjata tajam dengan para eksekutif.
Untuk pertama kalinya pasangan ini berjuang mati-matian, saling membantu dan saling melindungi. Chelsea telah melupakan jika sebelumnya dia masih merajuk tak mau bicara dengan Leon. Dia mengabaikan perasaannya yang menyesakkan itu. Memilih untuk serius bekerja sama dengan kekasihnya demi memenangkan pertarungan ini.
BRUGH ...
Mr Snake jadi yang paling terakhir ambruk di antara para eksekutif itu. Pada akhirnya Chelsea dan Leon memenangkan pertarungan ini dengan menerima beberapa luka di tubuh mereka. Mereka berdua sama-sama terengah-engah, pertarungan yang melelahkan ini akhirnya selesai juga.
PROK PROK PROK!
Terdengar suara tepuk tangan dari seseorang yang berada di luar arena. Dia tidak lain adalah Nisa. Dia tersenyum menyeringai, menampilkan senyum iblisnya tanpa mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya.
"Nisa?!"
"K-ketua?!"
Chelsea dan Leon sama-sama kaget. Mereka sama sekali tidak menyangka jika seseorang yang berada di puncak akan kekejaman ini ternyata berada di sini. Lalu, muncul Marcell dari belakang Nisa yang masih memakai topeng Oni miliknya. Saat itu juga Chelsea dan Leon langsung tahu jika Mr Oni yang merupakan bos Violent Zone juga seorang bawahan setia Nisa.
Chelsea langsung mengangkat senjatanya kembali. Dia berpikir jika pertarungan ini masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, ketika membayangkan jika Nisa adalah lawan selanjutnya.
"Turunkan senjatamu," pinta Leon yang justru membuang senjatanya begitu saja ketika melihat Nisa.
"Leon? Kau ....!" Chelsea kehabisan kata-kata, masih tidak mengerti jalan pikir Leon yang begitu tunduk kepada Nisa. Namun, dia sadar jika tak ada gunanya membantah. Alhasil Chelsea membuang senjata dari tangannya seperti yang Leon minta.
"Aku ucapkan selamat untuk kemenangan kalian berdua. Dan terima kasih karena telah menghiburku~" ucap Nisa dengan senyuman tanpa beban.
"Menghiburmu? Jadi kau menganggap semua ini hanya sebagai hiburan! Kau ... dasar iblis!" umpat Chelsea dengan spontan. Dia seakan tidak mampu lagi menahan kemarahannya terhadap Nisa.
"Hoho, aku iblis? Lalu bagaimana dengan kakakmu?" tanya Nisa yang sontak saja membuat Chelsea terdiam.
"K-kakak ...." Chelsea gelagapan.
__ADS_1