Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Orang yang Ramah


__ADS_3


Pergi belanja. Sontak saja hal itu membuat Chelsea terkejut, dia tidak habis pikir jika tugas barunya adalah diajak berbelanja. Meskipun dia kebingungan, dia tetap diam dan tak menanyakan apa-apa kepada Ivan.


Ivan dengan masa bodoh terus menarik tangan Chelsea hingga sampai di area parkir. Bahkan dia juga melemparkan kunci mobilnya kepada Chelsea tanpa memberi aba-aba.


"Eh!?" Chelsea terkejut, meskipun begitu dia dengan tangkas dapat menangkap kunci mobil itu.


"Haha, refleks yang bagus! Ayo, antar aku ke mall!" ajak Ivan dengan entengnya.


"Baik, Bos ..." jawab Chelsea dengan pasrah.


Chelsea lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa mobil Ivan yang akan dia naiki adalah mobil berjenis Ferrari berwarna merah. Pikirnya, kenapa harus mobil mewah seperti ini, apakah dia tidak takut terlalu mencolok di mata orang awam. Namun, lagi-lagi Chelsea memendam pertanyaannya. Dia sadar diri jika dia tak perlu terlalu mengurusi keputusan atasannya.


Seperti yang Ivan perintahkan, Chelsea telah mengantarkan Ivan ke mall terbesar yang ada di pusat kota. Setelah mobil selesai terparkir di area parkir yang terletak di bawah tanah, Chelsea langsung turun dari mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Ivan.


"Silakan, Kepala Divisi ..." ucapnya dengan nada hormat.


"...." Ivan tersenyum, dia seperti merasa puas dengan pelayanan yang Chelsea berikan. Dan saat dia turun, lagi-lagi dia menggandeng tangan Chelsea dengan seenaknya. "Ayo, ikut aku masuk ke dalam!"


"Baik," jawab Chelsea dengan senyuman yang dipaksakan.


Kenapa sih? Kenapa kalau mau belanja harus aku temani? Dia ini anak kecil atau apa? Padahal sudah sebesar ini tapi masih kekanakan.


Chelsea tetap berusaha bertugas dengan profesional. Saat dia dan Kepala Divisi 3 masuk ke dalam mall itu. Tempat yang pertama kali Ivan datangi adalah sebuah outlet baju khusus yang merupakan brand merk terkenal. Bermacam-macam pakaian baik pria maupun wanita disediakan dan dikelompokkan, entah berdasarkan musim, berdasarkan keperluannya, semua jenis pakaian disediakan lengkap.


Tetapi, saat melangkah masuk ke dalam outlet yang merupakan merek terkenal tersebut. Lagi-lagi Chelsea dibuat kaget lantaran Ivan mendapatkan sambutan yang lebih spesial jika dibandingkan dengan pelanggan pada umumnya. Ivan adalah pelanggan yang mempunyai akses VIP, dan outlet inilah yang selalu menjadi langganannya.


Sales associate yang bekerja di outlet itu mengenali Ivan, dan seperti biasa dia juga memperkenalkan produk-produk baru dan beberapa produk edisi terbatas kepadanya. Ivan hanya mengangguk-angguk, seolah-olah dia paham dengan semua yang sales associate itu jelaskan.


"Hahh ..." Chelsea menghela napas. Sedari tadi dia hanya berjaga dari kejauhan dan memperhatikan Ivan. Kali ini dia juga sedikit merasa bernostalgia, dia dulunya seorang direktur ternama, dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini dan mendapatkan perlakukan istimewa setiap kali berbelanja.


Sudah lama rasanya Chelsea tak memanjakan matanya dengan barang-barang mewah yang harganya selangit seperti ini. Selama 6 tahun terakhir, dia selalu berhemat untuk dirinya sendiri asalkan kebutuhan Luciel tercukupi. Dia seperti hidup di dunia yang berbeda, yang semula bergelimang harta lalu berubah menjadi serba selektif untuk tetap bertahan hidup.


Meskipun kini Chelsea sudah mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan serta bayaran yang juga fantastis, dia sudah tidak lagi berminat pada barang-barang mewah yang tertata rapi di sekelilingnya saat ini. Yang ada di pikirannya hanya satu, terus mengumpulkan uang demi membangun kekuasaan. Itu semua semata-mata untuk impiannya yang selalu dia idam-idamkan, yaitu kebebasan.


Tiba-tiba saja perhatian Chelsea tertuju pada semua patung manekin yang mempresentasikan model baju pria. "Baju itu ..." gumamnya sembari memperhatikan segala detail di pakaian tersebut.


Baju itu sepertinya akan terlihat bagus jika dipakai oleh Leon. Jika dilihat dari warna, ukuran dan desainnya, sepertinya akan sangat cocok! Apa mungkin aku coba belikan untuknya? Sebelumnya Leon berkali-kali memberikan kemejanya padaku saat keadaan mendesak. Anggap saja ini sebagai balas budi, lagi pula Leon sekarang juga kekasihku. Aku mau menghadiahkan sepotong baju padanya tidak masalah.


"Hmm ..." Diam-diam Ivan tersenyum sinis ketika menyadari jika pengawal wanitanya menaruh perhatian pada sebuah pakaian.


"Aku juga mau beli yang itu!" ucapnya tanpa pikir panjang lagi sambil menuding ke arah baju yang sedang diperhatikan oleh Chelsea.


"Eh?!" Chelsea dan sales associate sama-sama terkejut dengan permintaan Ivan yang tiba-tiba ini.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan. Akan saya bungkuskan juga pakaian itu bersama pesanan Tuan yang lain," jawab sang sales associate tersebut dengan sedikit heran, dia heran sebab pakaian tersebut tak begitu mewah dan harganya tidak sebanding dengan barang-barang yang Ivan mau beli lainnya. Dia sendiri pun tahu betul jika pelanggannya yang satu ini suka sekali dengan kemewahan.


"...." Chelsea diam seribu bahasa, diam-diam juga mengepalkan kedua tangannya sekuat mungkin.


Apa-apaan Kepala Divisi itu? Apa dia tahu jika aku tertarik pada pakaian ini lalu dia sengaja membelinya? Sial, kalau begini aku tidak jadi menghadiahkannya untuk Leon. Soalnya toko seperti ini biasanya tidak akan membuat stok yang sama dalam jumlah banyak. Dan terlebih lagi aku juga jijik membayangkan jika kekasihku Leon harus memakai pakaian yang sama dengan Kepala Divisi kekanakan dan suka mempermainkan sepertinya.


"Hehehe," Ivan tersenyum penuh kepuasan. Akan tetapi, tak cukup sampai di situ. Ivan lagi-lagi berbuat sesuatu yang lain dari biasanya. Dia tak lagi mau mendengarkan pendapat dan saran dari sales associate mengenai segala produk. Dia justru meminta pendapat dari Chelsea soal barang-barang mana saja yang harus dia beli.


"Bagimana menurutmu soal sepatu ini?" tanya Ivan.


"Bagus," jawab Chelsea singkat.


"Bagimana menurutmu soal baju yang ini?" tanya Ivan lagi.


"Cocok,"


"Lalu topi ini?" tanya Ivan sekali lagi.


"Emm ... kenapa Kepala Divisi meminta pendapat dari saya? Padahal saya tidak terlalu paham soal fashion." Chelsea terpaksa berbohong, lantaran dia sudah lelah menjawab pertanyaan dari Ivan yang tak henti-hentinya meminta pendapatnya.


"Memangnya itu masalah? Asalkan terlihat bagus saat aku pakai maka tidak masalah itu fashion atau tidak. Kalau bagus maka katakan bagus, kalau jelek maka tinggal katakan jelek. Mudah, kan? Soalnya mata orang miskin sepertimu biasanya jujur," celetuk Ivan begitu saja. Dia dengan entengnya mengucapkan kata-kata beracun sambil tersenyum.


"Haha, Anda benar, mata saya memang selalu jujur ..." ucap Chelsea dengan sedikit gemetar karena menahan amarah, baru pertama kali ini dia dihina sebagai orang miskin.


Kegiatan belanja yang melelahkan akhirnya selesai. Dan semua barang belanjaan Ivan dibawa oleh Chelsea seorang diri. Sangat merepotkan baginya membawa tas belanja yang begitu banyak, dia tidak akan bisa bereaksi dengan cepat jika saja ada musuh yang tiba-tiba menyerangnya.


"Hei, selagi aku main, pastikan kalau semua barang-barangku tetap aman!" pinta Ivan dengan tampang sok berkuasa.


"Baik, saya pasti akan melaksanakan sesuai dengan yang Kepala Divisi perintahkan," jawab Chelsea yang kini tak bisa lagi menyembunyikan raut wajahnya yang sangat letih.


"Bagus, semangat! Nanti kalau aku menang banyak, kau akan aku traktir ice cream gratis dengan kupon!" seru Ivan yang dengan santainya menepuk pundak Chelsea.


"Haha, Kepala Divisi juga semangat bermainnya ..." balas Chelsea dengan senyum palsu, dia sudah sangat muak meladeni orang dewasa yang kekanakan seperti Ivan.


Ivan langsung pergi meninggalkan Chelsea yang kini duduk di sebuah bangku seorang diri. Sedangkan Chelsea, dia merasa sedikit lebih lega lantaran bisa duduk dan beristirahat untuk sejenak. Rasanya tangan dan kakinya sungguh pegal, membawa semua barang belanjaan berkeliling bersamanya sungguh menghabiskan energinya.


"Astaga, pantas saja aku selalu melihat para suami yang mengeluh setiap kali menemani istri mereka berbelanja. Ternyata begini rasanya, yang belanja senang tapi yang membawa barang belanjaan tersiksa. Sekarang aku sudah tahu, jadi nantinya aku pasti akan memperlakukan Leon dengan baik."


"Eh, barusan aku bilang apa sih?" Chelsea langsung salah tingkah dan tersipu begitu dia sadar kalau kelepasan berbicara.


Sadar Chelsea ... sadarlah, aku baru beberapa hari menjalin hubungan asmara. Jangan berpikir sampai ke pernikahan ataupun kegiatan belanja rumah tangga dulu, ini terlalu cepat ....


"Huft ... tenang, ayo tenang. Gunakan detik-detik yang berharga ini untuk memulihkan energi," gumam Chelsea lagi yang berusaha menyugesti diri sendiri.


Chelsea kembali menaruh fokus untuk memperhatikan setiap tindakan yang diambil oleh Ivan. Dan benar saja, hampir satu per satu semua permainan yang ada di game center itu Ivan mainkan. Entah kenapa mulai timbul rasa curiga di hati Chelsea ketika menyaksikan semua kejadian ini.

__ADS_1


"...."


Sial, aku ini sebenarnya ditipu atau apa sih? Leon bilang kalau Kepala Divisi 3 adalah Family yang paling ramah, tapi nyatanya dia cuma seorang bocah! Padahal fisik maupun usianya jika dilihat itu tidak jauh berbeda dengan para Family lain, tapi kelakuannya ini benar-benar seperti remaja yang baru memasuki usia puber. Aku ragu apakah ini memang sisi gilanya atau sebenarnya cuma penyamaran untuk menutupi sikapnya yang kejam.


Sabar Chelsea, sabar ... anggap saja jika kau sedang merawat anak-anak. Coba lihat dari sisi baiknya, setidaknya ini tugas yang mudah, setidaknya aku tak perlu memanipulasi, menyiksa ataupun membunuh orang. Mari anggap jika kau seorang gangster yang kerjanya sebagai pengasuh.


"Haiss ... tiba-tiba saja aku jadi teringat Luciel, dia pasti juga akan senang sekali kalau aku ajak bermain ke game center. Aku masih ingat saat dia pertama kali berhasil memasukkan bola ke ring basket, dia kelihatan senang sekali."


Beginilah yang akan terjadi jika Chelsea tidak sedang melakukan apa-apa. Pikirannya selalu melayang ke mana-mana. Entah kenapa dia merasa kesepian meskipun sedang berada di tengah keramaian. Hatinya terasa sepi, berulang kali memikirkan bagaimana nasib putra kecilnya yang kini sudah berpisah cukup lama dengannya.


"Hm?" Lagi-lagi dari kejauhan Ivan melirik ke arah pengawal wanitanya. Dia bisa melihat dengan jelas kalau wanita itu kini sedang berekspresi sedih. Meskipun dia tak tahu alasannya dan tak tertarik untuk tahu. Akhirnya hati kecilnya merasa iba, dia tidak ingin lagi bermain dan membuatnya menunggu lebih lama.


Setelah Ivan selesai bermain, seperti yang dia janjikan di awal tadi. Dia menukarkan beberapa kupon dengan sebuah ice cream aneka rasa untuk pengawalnya, dan sisa kupon yang lainnya, dia tukarkan dengan beberapa macam aksesoris yang tidak penting.


"Ini," ucap Ivan singkat sambil menyodorkan ice cream itu pada Chelsea.


"Ah, terima kasih Kepala Divisi." Chelsea menerima ice cream itu, meskipun sebenarnya dia merasa kesal. Dia memang sudah lapar, dan dia tetap memakannya walaupun sempat curiga jika Ivan mencampur ice cream itu dengan saus sambal. Dan akhirnya dia bersyukur karena ice cream itu rasanya normal seperti yang dia harapkan.


"Heh," Ivan menyeringai, lalu duduk di sebelah Chelsea. Sejurus kemudian dia tiba-tiba berkata, "Setelah ice cream itu habis, ayo kita pulang!"


"Eh? Baik Kepala Divisi," jawab Chelsea penuh senang hati. Akhirnya dia melihat cahaya harapan agar bisa secepatnya mengakhiri hari yang melelahkan ini.


Meskipun Ivan terkesan menyebalkan dan suka mempermainkan, tetapi dia adalah pria yang menepati perkataannya. Setelah keluar dari mall, dia meminta Chelsea untuk mengantarkan dirinya kembali ke taman kota yang menjadi titik pertemuan mereka tadi.


Karena hari sudah gelap, Ivan juga memberitahu Chelsea rute tercepat untuk menuju ke tempat tujuan. Akan tetapi, tiba-tiba saja sesuatu terjadi. Saat melihat ke arah kaca spion, Chelsea menyadari jika ada sebuah mobil berwarna hitam yang membuntuti mereka.


"Kepala Divisi, sepertinya kita diikuti," ucap Chelsea dengan ekspresi cemas.


"Aku tahu," jawab Ivan dengan entengnya.


"Lalu apa perintah Anda untuk saya?" tanya Chelsea yang semakin merasa gugup. Dia tak habis pikir jika Ivan sudah menyadari keberadaan mobil hitam itu tetapi justru tidak memberitahunya.


"Setir saja mobilnya," jawab Ivan yang kemudian malah bermain dengan ponselnya.


"Ah ... baik," jawab Chelsea sambil mengangguk.


Chelsea terus fokus menyetir mobil meskipun perasaannya sangat tidak enak. Dia mulai menerka-nerka, kenapa bisa Kepala Divisi 3 ini begitu santai di saat-saat seperti ini? Mobil hitam itu sebenarnya kawan ataukah lawan? Entah semua yang terbesit di pikirannya itu benar atau tidak, yang pasti dia menambah laju kecepatan mobil agar segera melewati jalan satu arah yang sepi itu.


CKITT!


Tiba-tiba saja Chelsea memberhentikan mobilnya. Dia terkejut lantaran di ujung jalan itu ada beberapa mobil hitam lain dan orang-orang yang mencegat mereka. Mereka semua tampak seperti preman, kompak memakai pakaian serba hitam dan bahkan lengkap dengan berbagai senjata. Seperti ada yang membawa tongkat kayu, tongkat bisbol, pisau dan yang lain baik itu senjata tajam maupun tumpul. Bahkan tak menutup kemungkinan juga di antara mereka ada yang membawa senjata api.


Keadaan semakim bertambah buruk. Satu lagi mobil hitam yang tadinya membuntuti mereka juga berhenti. Lalu keluarlah para perman yang lain lagi dari mobil tersebut. Mereka semua sudah siap untuk menyerang. Chelsea langsung menduga jika hal ini memang sudah direncanakan sebelumnya.


"Pak Kepala Divisi, kita dikepung," ucap Chelsea dengan nada serius. Dia tak menipu dirinya sendiri jika saat ini dia merasa cukup khawatir, dia khawatir tidak akan bisa menangani orang sebanyak ini seorang diri.

__ADS_1


"Yahh ... terus gimana dong? Kan memang sudah tugasmu untuk melindungiku," jawab Ivan dengan mudahnya, seolah-olah dia telah menyerahkan seluruh nyawanya di tangan Chelsea.


"...?!" Chelsea syok, bukan perintah seperti ini yang ingin dia dengar.


__ADS_2