
"...." Chelsea terdiam, lagi-lagi dia mendapatkan tugas untuk bekerja di Divisi lain. Tetapi, setidaknya dia sedikit bersyukur lantaran tidak menerima tugas perintah pembunuhan.
Dika yang masih duduk di kursinya tiba-tiba menyodorkan sebuah benda ke atas meja. Dan benda itu adalah sebuah ponsel yang tampilannya biasa saja, bukan seperti smartphone keluaran terbaru yang istimewa. "Ambil ini, tugasmu membutuhkan benda ini!"
"Baik, Kepala Divisi," jawab Chelsea yang segera mendekat dan mengantongi ponsel itu di sakunya.
"Sinyal di bawah tanah sini kurang bagus, jadi setelah kau berada di luar nanti, segera gunakanlah ponsel itu. Di dalam ponsel itu sudah ada beberapa fitur khusus yang terpasang, ada nomor Kepala Divisi 3, dan yang paling penting ponsel itu sudah terhubung dengan GPS. Lokasi yang ditandai di GPS setiap harinya diperbaharui, dan lokasinya tergantung pada Kepala Divisi 3 yang menentukan. Lokasi yang ditandai itu adalah lokasi yang jadi titik pertemuanmu. Apa kau paham?" tanya Dika.
"Saya paham, terima kasih atas penjelasan Kepala Divisi."
"Oh ya, aku lupa memberitahumu satu hal!" Dika lalu mengambil kertas catatan yang lain. "Aku dengar ... kinerjamu sangat bagus saat bertugas untuk Hendry. Katakan padaku, apa dia sempat mempersulitmu!" pintanya dengan sorot mata yang tajam, seolah-olah siap memberikan hukuman jika Chelsea berbohong padanya.
"Ah, soal itu sebenarnya ..." Seketika Chelsea menunduk, tak ingin menatap mata atasannya itu karena dia masih belum bisa menebak orang seperti apa dia ini sebenarnya. Jika dia berkata jujur, dia khawatir akan menyinggung dan menjelekkan nama Hendry yang posisinya merupakan seorang Family. Dan jika dia berbohong, dia khawatir Dika akan menyadari kebohongannya dan lalu menendangnya keluar dari Divisi.
"Sebenarnya saya tidak tahu apakah Pak Dewan Hendry berniat mau mempersulit saya atau tidak, tetapi ... Beliau pernah melamar saya untuk jadi istrinya yang keempat," jawab Chelsea yang masih dengan kepala tertunduk. Mau tidak mau dia berkata jujur, dia sadar akan posisinya dan berada di bawah naungan Family yang mana. Jadi dia memutuskan untuk memberitahukan yang sebenarnya pada Dika.
"Pffttt ... dan kau menolaknya?" tanya Dika sambil menahan tawanya.
"Iya," jawab Chelsea singkat.
"Kenapa? Apa kau tidak suka dengan semua keuntungan di baliknya? Padahal banyak loh, wanita di luar sana yang berlomba-lomba ingin menjadi simpanannya~"
"Tolong Kepala Divisi jangan samakan saya dengan wanita yang lain. Saya tidak ingin menjalin hubungan yang seperti itu, dan saya juga tidak ingin mendapatkan keuntungan dengan cara seperti itu!" tegas Chelsea yang kemudian mendongak.
"Oh ..." Sejenak Dika terdiam, sorot mata Chelsea yang penuh ketegasan mengingatkannya pada sosok yang selama ini dia kagumi. Dan tentunya sosok itu tidak lain adalah sang ketua.
"Ehem! Berbicara soal keuntungan, tadi pagi bayaranmu atas tugas di kota S sudah aku kirim. Coba kau cek dulu!" pinta Dika yang mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Eh, benarkah?!" Seketika Chelsea mengambil ponselnya, dia mengecek di aplikasi yang sudah terhubung dengan rekeningnya apakah bayaran dari tugasnya sudah masuk atau belum. Dan benar saja, jumlah nominal yang masuk sungguh mengagetkan Chelsea lantaran jumlahnya yang begitu banyak.
"Ini ... apakah sungguhan? Kepala Divisi tidak salah mentransfer uang sebanyak ini kepada saya, kan?" tanya Chelsea dengan tatapan tidak percaya.
"Apa kau meragukan aku?" tanya Dika dengan tatapan curiga.
"Ah, tidak! Saya tidak bermaksud begitu, tetapi ini ... jauh lebih banyak dibanding bayaran yang saya terima sebelumnya. Saya hanya bingung kenapa jumlahnya bisa sebanyak ini," jelas Chelsea yang tak mau atasannya yang tukang curiga itu mencurigainya lebih banyak lagi.
Dika menghela napas, lalu dengan nada bicara yang malas dia berkata, "Bayaranmu banyak tentu saja itu sepadan dengan yang kau lakukan. Tingkat kesulitan tugas juga lebih tinggi dibandingkan tugas sebelumnya. Dan jangan lupa kalau kau terlibat dengan proyek besar. Setiap Divisi punya pengaturan keuangan yang berbeda. Dan Kepala Divisi 4 sudah menetapkan jumlah anggaran yang sepatutnya dikeluarkan."
"Jujur saja ... untuk membayar para pengawal yang terjun langsung ke lapangan sama sepertimu, Divisi 4 sudah menyiapkan beberapa miliar. Dan jumlah yang kau dapat itu, itu sudah dihitung dengan benar berdasarkan kalkulasi serta menyesuaikan kinerjamu. Kau dan Leon sama-sama berasal dari luar Divisi 4, artinya bayaranmu juga lebih banyak jika dibandingkan dengan anggota lain yang ada di bawah naungan Divisi 4. Apa masih ada yang ingin kau tanyakan lagi?"
"Emm ... tidak ada, saya sudah mengerti. Jika sekiranya tak ada lagi yang mau Kepala Divisi sampaikan, saya mohon undur diri," ucap Chelsea yang tanpa mengurangi rasa hormat.
"Ya, pergilah!" ucap Dika sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Saya permisi."
Chelsea langsung pergi meninggalkan ruang khusus milik Kepala Divisi. Setelah dia menutup pintu besi tersebut, dia tak melihat adanya anggota lain yang menunggu di luar untuk pengambilan tugas.
"Hemm ... sepertinya cuma aku yang menerima tugas hari ini, entah yang lain mungkin sedang dalam misi," gumamnya.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja ada suara langkah kaki yang mendekat. Seketika Chelsea diam untuk mengamati siapa yang akan muncul. Dan ternyata, dari arah yang berlawanan muncullah Leon yang sedang berjalan bersama seorang pria yang belum pernah Chelsea lihat.
"Mayra?" tanya Leon yang sedikit heran karena kebetulan sekali berpapasan dengan kekasihnya.
"Oh, jadi dia satu-satunya wanita di Divisi kita?" tanya pria itu sembari memperhatikan Chelsea mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
__ADS_1
"Iya, benar itu saya," jawab Chelsea sedikit sungkan. Instingnya mengatakan jika pria ini mempunyai posisi yang tidak bisa dianggap remeh.
"Emm ... Kak Yhonsen! Ini adalah Mayra. Dan Mayra, ini adalah Kak Yhonsen, dia salah satu Family yang mengurus Divisi 2 cabang luar negeri!" celetuk Leon yang bermaksud memperkenalkan keduanya.
"Salam, Bos Yhonsen! Maaf atas ketidaktahuan saya!" ucap Chelsea yang seketika membungkukkan badan memberi penghormatan.
"Ya, senang bertemu denganmu," ucap Yhonsen seakan tidak tertarik.
"Kukira tampangnya akan seperti apa, ternyata biasa saja, tidak seunik Kaitlyn," ucap Yhonsen lagi dengan suara pelan. Namun, dapat dipastikan jika Leon dan Chelsea mampu mendengarnya. Dan kedua orang itu hanya diam dan bersikap seakan-akan tidak tahu.
Tiba-tiba saja Yhonsen menepuk bahu Leon dan berkata, "Kau tunggu saja aku di sini. Tugasmu kali ini ikut denganku lagi. Aku akan masuk sendiri, ada beberapa hal pribadi yang aku mau bicarakan dengannya."
"Baik, Kak Yhonsen," jawab Leon sambil mengangguk.
Setelah Yhonsen masuk dan menghilang di balik pintu besi itu. Chelsea seketika melangkah lebih dekat ke arah Leon. "Leon, kenapa kau tadi menyebutnya kakak? Apa kau akrab dengan semua Family? "
"Aku memang akrab dengan Kak Yhonsen karena sering ditugaskan bersamanya. Dan meskipun aku mengenal semua Family, ada kalanya juga aku tidak akrab dengan mereka. Misalnya dengan Pak Dewan dan Kepala Divisi 1. Ngomong-ngomong ... apa tugasmu?" tanya Leon penasaran.
"Aku ditugaskan untuk bekerja di Divisi lain lagi, kali ini Divisi 3."
"Divisi 3?" Leon terkesiap.
"Ada apa Leon? Kenapa kau kaget? Apa Divisi 3 sangat berbahaya?" tanya Chelsea yang mulai gugup.
"Ehmm ... ya, jika soal bahaya maka semua Divisi juga sama berbahayanya. Hanya saja ... Divisi 3 itu Divisi Cyber, itu lebih rumit daripada Divisi yang lain. Divisi 3 mencakup banyak aspek, mungkin saja ... kau nanti akan ditugaskan yang aneh-aneh," jawab Leon dengan dahi yang mengerut, terlihat jelas jika dia khawatir.
"Yang aneh-aneh? Apakah aku harus mengorbankan tubuhku juga?!" tanya Chelsea lagi yang semakin gugup.
"Tidak, yang jelas tidak sampai seperti itu. Dan kau tak perlu cemas soal Kepala Divisi 3, aku mengenalnya, dia adalah orang yang paling ramah di antara semua Family. Lalu setahuku, Kepala Divisi 3 juga sering berhubungan dengan ketua."
"Ivan," jawab Leon singkat.
"Ivan yaa ... baiklah, akan aku ingat nama itu. Aku pasti akan melakukan tugas ini dengan baik!"
"Ya, lakukan yang terbaik," ucap Leon dengan senyuman tipis.
Tak dapat dipungkiri jika mereka berdua sedikit menyayangkan tugas kali ini. Dan ini pertama kalinya Chelsea menjalankan tugas tanpa didampingi oleh Leon. Dia cemas, tetapi dia sadar jika terlalu bergantung pada Leon juga bukan sesuatu yang baik.
Chelsea menengok ke kanan kiri, begitu memastikan jika tidak ada orang, dengan cepat dia memberikan sebuah kecupan di pipi Leon.
"Eh? Apa yang kau lakukan? Bahaya jika ada yang lihat!" protes Leon dengan wajah yang memerah.
"Hehe, aku akan merindukanmu. Tadi aku dengar kau akan bertugas bersama bos Yhonsen, artinya kau akan ke luar negeri, kan? Apakah akan memakan waktu yang lama?" tanya Chelsea dengan tatapan tidak rela.
"Aku tak tahu kapan waktunya, tetapi setelah aku membereskan target maka aku akan pulang secepatnya." Leon lalu melirik ke samping sambil menyentuh pipinya yang tadi dicium Chelsea. "Emm ... aku juga akan merindukanmu," ucap Leon malu-malu.
"Janji, ya? Kau tidak boleh terpesona oleh wanita mana pun selama di luar negeri! Jangan kecewakan aku!" pinta Chelsea dengan ekspresi menuntut, seolah anak kecil yang akan merajuk.
"Iya, aku janji. Kau juga jaga dirimu baik-baik selama aku tidak ada. Jangan lupa terus latihan agar kemampuanmu secepatnya dapat mengimbangiku."
"Humph, tentu saja itu pasti! Tapi ... apa kau tidak meninggalkan sesuatu untukku?" tanya Chelsea dengan tatapan berharap.
"Ah, benar juga. Hampir saja aku melupakannya!" Tiba-tiba Leon merogoh sakunya, lalu menyerahkan sebuah benda kecil di telapak tangan Chelsea. Benda itu adalah sebuah kunci.
"Ini kunci duplikat rumahku, aku titip Liana padamu! Tolong sesekali berkunjung ke rumahku agar dia tak terlalu kesepian!"
"O-oke," jawab Chelsea dengan ekspresi sedikit kecewa. Dia pikir kekasihnya ini akan melakukan sesuatu yang romantis seperti yang dia inginkan, tetapi nyatanya dia justru dipercaya sebagai penggantinya untuk menjaga calon adik iparnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Leon yang merasa jika ada sesuatu yang salah.
"Haha, bukan apa-apa. Kau tenang saja, aku pasti akan menjaga Liana dengan baik! Jadi kau tak perlu mencemaskan apa pun saat di luar negeri nanti!" jawab Chelsea dengan spontan, dia tak ingin mengutarakan apa keinginan sebenarnya karena takut dianggap sebagai wanita yang manja.
Leon menghela napas dan tersenyum lembut. Sejurus kemudian tiba-tiba saja dia mendaratkan kecupan di kening Chelsea. "Terima kasih, aku tahu kau bisa diandalkan. Kau dan Liana sama-sama penting bagiku, aku tak ingin salah satu dari kalian dalam bahaya selama aku tidak ada."
"I-iya, aku akan lakukan semua pesanmu! Kau juga jaga dirimu baik-baik di negeri orang!" Chelsea tersipu malu, dia tak ingin salah tingkah dan kelepasan melakukan sesuatu yang memalukan. Akhirnya dia berlari begitu saja ke arah tangga untuk keluar dari area bawah tanah.
"Ternyata seperti ini ya," gumam Leon dengan senyuman sambil mengusap dadanya.
Apa yang disampaikan ketua padaku saat itu memang benar, mempunyai seseorang untuk saling berbagi ternyata memang menyenangkan seperti ini. Pantas saja ketua mempunyai banyak rekan, yang kini semuanya merupakan Family yang siap mati dan berkorban untuknya.
***
Chelsea kini sudah berada di tempat parkir, dia masuk ke dalam mobilnya dan siap untuk melakukan tugas. Dia melakukan semua yang Kepala Divisi instruksikan padanya, dan Chelsea langsung melaju begitu mendapatkan titik lokasi pada GPS di ponsel tersebut.
Di luar dugaan dari Chelsea. Tempat yang dia datangi ternyata bukan sebuah tempat yang spesial atau pun yang rahasia. Tempat itu adalah taman kota, dan di tempat Chelsea berada saat ini, ramai sekali para orang tua yang sedang melakukan kegiatan senam.
"Aku sudah sampai di tempat yang sesuai dengan petunjuk, tapi di mana Kepala Divisi 3?" gumam Chelsea.
Leon bilang jika nama Kepala Divisi 3 adalah Ivan. Harusnya dia seorang laki-laki. Akan tetapi, apa mungkin Ivan adalah salah satu kakek yang ikut senam di sini?
"Ck, sial. Tidak ada gunanya aku terus menebak sembarangan. Lebih baik aku menunggu sampai dia muncul sendiri!"
Chelsea akhirnya memutuskan untuk menunggu. Dia memilih untuk duduk di sebuah bangku taman sambil memandangi para lansia yang sedang melakukan kegiatan senam.
Kegiatan senam para lansia sudah selesai, dan sekarang bahkan sudah masuk jamnya istirahat makan siang, meskipun jam tersebut tidak berlaku bagi pekerjaan gangster. Chelsea telah lelah menunggu, untuk yang ke sekian kalinya dia mengecek ponsel yang diberikan oleh Dika tadi. Memeriksa apakah ada perubahan lokasi atau tidak, namun nyatanya tidak ada.
Meskipun di dalam ponsel itu terdapat nomor telepon Kepala Divisi 3, Chelsea juga ragu untuk menelepon lebih dulu karena khawatir jika dianggap tidak sopan. Akhirnya Chelsea terpaksa menunggu lebih lama lagi.
"Hoamm ... sudah lebih dari 4 jam aku menunggu, apa mungkin Kepala Divisi 3 sengaja mempermainkan aku?" gumam Chelsea sambil menguap, dia mengantuk lantaran sudah berjam-jam tidak melakukan apa-apa.
TAP TAP TAP ...
Tiba-tiba saja ada seseorang yang lewat di depan Chelsea. Dia memakai jaket hitam yang tebal serta masker meskipun cuaca sedang panas. Tepat saat pria itu hendak melewati Chelsea, tiba-tiba saja dia berhenti.
"...." Chelsea diam, dia menatap dan mulai waspada terhadap sosok pria yang mencurigakan tersebut.
BRAKK!
Tiba-tiba saja pria itu menendang ke arah Chelsea dengan keras. Tetapi, Chelsea dengan cepat menghindar, membuat tendangan pria itu meleset dan hanya mengenai bangku taman.
"Oh, ternyata benar kau," ucap pria berjaket hitam itu. Tiba-tiba saja dia berbalik, melepaskan masker dari wajahnya. Lalu dengan senyuman tanpa dosa dia berkata, "Hai, aku Ivan. Kau pasti dikirim dari Divisi 2!"
"Ah, ternyata Anda!" Seketika Chelsea membungkuk memberikan penghormatan. "Salam, Bos Ivan. Sungguh sambutan yang tidak terduga dari Anda."
"Haha, itu tadi cuma tes kecil. Aku tidak mau orang yang dikirim padaku biasa-biasa saja, tapi baguslah kalau kemampuanmu cukup bagus. Siapa namamu?" tanya Ivan lagi.
"Nama saya Mayra," jawab Chelsea yang kemudian kembali berdiri tegap.
"Oke, Mayra! Ayo ikut aku!" seru Ivan yang tiba-tiba menggenggam tangan Chelsea dan mengajaknya berlari.
"K-kita mau ke mana, Bos?" tanya Chelsea kebingungan.
"Kita mau belanja! Tugasmu adalah menemaniku belanja!"
"Hah?!" Chelsea melongo.
__ADS_1