
TUT TUT ...
Natasha tampak menghela napas panjang ketika telah selesai berbincang di telepon dengan seseorang. Dia lalu menengok ke samping, tepat di mana saat ini suaminya berada di dekatnya.
"Ayah dan ibuku jadi berkunjung ke rumah untuk berjumpa Luciel hari ini," ucap Natasha sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita segera pulang saja. Aku akan menghampiri Luciel dulu." Daniel lalu beranjak dari bangku taman.
Saat ini keluarga kecil itu tampak menikmati waktu senggang mereka. Tadinya Natasha berinisiatif untuk mengajak anak dan suaminya mengunjungi taman bermain umum yang ada di dekat area kediaman. Luciel juga tampak senang sekali, dia mendapatkan banyak teman baru ketika bermain di taman itu dengan anak-anak yang lain. Kini Luciel tak cuma punya teman di sekolah, di luar sekolah pun dia juga punya.
Setelah dihampiri oleh sang papa, Luciel dengan patuh menurut dan mau diajak pulang untuk bertemu kakek dan neneknya dari pihak sang mama. Daniel pun segera mengajak anak dan istrinya untuk naik ke mobil, pulang ke kediaman utama keluarga Kartawijaya untuk menyambut tamu yang penting itu.
Namun, saat di tengah-tengah perjalanan, Luciel yang duduk di kursi belakang tiba-tiba berkata. "Mama! Apa kakek yang akan Luciel temui adalah yang membuat Mama menangis di teater saat Luciel pentas sekolah waktu itu?"
"Eh?!" Natasha tersentak, dia tidak habis pikir jika putra kecilnya masih menyimpan ingatan soal peristiwa yang tidak mengenakkan itu.
"Ayahmu memarahimu lagi? Soal apa?" tanya Daniel sambil menoleh sekilas. Dia juga menurunkan kecepatan mobil yang dia kendarai, agar mampu mendengarkan dan memperhatikan percakapan lebih jelas.
Sebenarnya selama ini Daniel sudah tahu jika Natasha sering dituntut macam-macam oleh Tommy. Daniel tidak terlalu suka dengan hal itu. Hanya saja, setiap kali Daniel memberikan peringatan dan menyuarakan keberatan, istrinya itu selalu menghalanginya. Natasha menghalangi dengan alasan jika dia tidak apa-apa dan ingin berbakti pada orang tuanya, meskipun dia sendiri juga merasa lelah karena semua tuntutan tersebut.
"Ehmm ...." Natasha membisu, dia menundukkan kepala karena gugup tak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Dia tidak mau bilang jika saat itu Tommy marah karena dia memaksanya untuk menemui Luciel. Natasha takut jika Daniel akan marah setelah dia menceritakan semua ini.
"Huh, jadi benar kakek yang itu yaa ... Luciel tidak mau bertemu dengannya! Kakek itu jahat! Luciel tidak suka kakek yang membuat Mama menangis!" seru Luciel dengan nada ketus.
"L-Luciel ... bukan begitu, ayahnya mama tidak jahat kok. Saat itu mama menangis karena mama berbuat salah, ayah mama itu cuma orang yang tegas, dia tidak jahat. Jadi Luciel jangan salah paham, ya. Mama yakin kalau kakek Tommy akan suka pada Luciel," bujuk Natasha agar Luciel mau menemui sang kakek yang mempunyai sifat yang keras itu.
"Mama tidak bohong, kan?" tanya Luciel dengan tatapan ragu. Dia benar-benar merasa tidak suka pada orang yang telah membuat mamanya mengeluarkan air mata.
"Tidak, Sayang ... mama tidak mungkin bohong pada Luciel."
Lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali Natasha selalu melindungi citra baik Tommy Adinata pada setiap orang. Sudah banyak orang yang tahu soal bagaimana sikap Tommy Adinata pada anaknya. Akan tetapi, setiap kali ditanya maka Natasha akan menjawab jika Tommy merupakan sosok ayah yang baik baginya. Bahkan, hal ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan keluarga.
Di sisi lain Daniel hanya menghela napas, dia sudah tahu jika istrinya itu akan bersikap seperti ini dan terus membela ayahnya. Dia kembali menambah kecepatan mobilnya agar segera tiba di kediaman utama.
Sungguh sebuah kebetulan, saat Daniel tiba di kediaman utama, dia diberitahu oleh kepala pelayan jika ayah dan ibu mertuanya juga baru sampai dan saat ini sudah duduk menunggu mereka di ruang tamu. Yang menyambut kedatangan Tommy Adinata dan Willa hanya Nyonya Ratna, karena saat ini Tuan Muchtar tidak sedang di kediaman karena ada urusan di luar.
Saat Daniel beserta Natasha dan Luciel tiba di ruang tamu, mereka melihat para orang tua itu sedang berbincang. Natasha yang menyadari hal itu langsung menggandeng tangan Luciel, lalu berjongkok dan mengucapkan sesuatu padanya.
"Luciel, ayo sapa kakek dan nenek. Mereka adalah ayah dan ibunya mama, kakek Tommy dan nenek Willa."
"Baik, Mama ...." jawab Luciel sambil mengangguk.
Luciel pun mendekati kedua orang tua yang tersenyum ramah padanya. Awalnya Luciel biasa saja ketika menyapa sang nenek, dan ketika dia menyapa sang kakek, dia merasa sedikit enggan untuk bersalaman. Hati kecilnya masih menyimpan kemarahan dan rasa tidak terima karena mamanya telah dibuat menangis oleh pria tua ini.
"Halo ... Kakek Tommy, selamat siang ..." ucap Luciel yang setelahnya langsung berlari ke arah Natasha dan bersembunyi di belakangannya. Diam-diam Luciel mengintip, dia penasaran reaksi seperti apa yang akan diberikan oleh Tommy.
"Haha, sepertinya Luciel sedikit malu pada Ayah ..." ucap Natasha dengan senyuman canggung.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," jawab Tommy yang masih dengan senyuman yang ramah. Dia tidak marah karena menganggap jika Luciel terlalu berharga untuk dia bentak dan dimarahi. Diam-diam Tommy juga memperhatikan dan membandingkan rupa Luciel dengan Daniel, dia senang setelah melihat jika Luciel benar-benar mirip seperti Daniel.
__ADS_1
"Ayo Sayang, kita duduk dulu!" ajak Natasha pada Luciel. Mereka berdua bersama Daniel lantas duduk di sebuah sofa panjang. Luciel kini duduk di tengah-tengah mama dan papa. Dia masih merasa sedikit takut pada Tommy, bahkan dia tidak merasakan aura keakraban sama seperti ketika berhadapan dengan Tuan Muchtar. Padahal mereka berdua sama-sama mempunyai status sebagai kakeknya.
Tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang mendekati Nyonya Ratna. Pelayan itu tampak membisikkan sesuatu yang seketika membuat ekspresi Nyonya Ratna berubah kaget.
"Maaf, tiba-tiba aku ada urusan. Tuan Tommy dan Nyonya Willa jangan sungkan, silakan beritahu saja jika ada sesuatu yang dibutuhkan. Aku permisi," ucap Nyonya Ratna yang langsung pergi dengan terburu-buru.
Kini suasana menjadi hening dan canggung. Terlebih lagi bagi Luciel, kakek dan neneknya yang bertamu kali ini sungguh terkesan seperti orang asing.
"Emm ... Ayah, bagaimana soal perkembangan pencarian kak Chelsea?" tanya Natasha yang memecah keheningan.
"Masih belum ada perkembangan, entah di mana sekarang dia berada," jawab Tommy dengan wajah datar. Sejurus kemudian tiba-tiba saja Tommy mengeluarkan sebuah paper bag yang cukup besar yang tadinya dia letakkan di dekat kakinya.
"Luciel, kemarilah! Kakek punya sesuatu untukmu!" ungkap Tommy dengan senyuman. Sungguh jelas, siapa pun yang punya mata akan dapat menyadari perbedaan perlakuan yang Tommy berikan pada anak dengan cucunya.
"Mama ..." panggil Luciel dengan suara lirih. Dia menatap mata Natasha seolah ingin bertanya mengenai apa yang harus dia lakukan sekarang. Hatinya masih sangat ragu untuk menghampiri Tommy.
"Tidak apa-apa, Sayang ... Luciel kan anak pemberani, ayo lihat apa yang kakek mau berikan pada Luciel!" ajak Natasha yang kemudian menggandeng tangan Luciel. Dia menemani putra kecilnya yang tampak takut itu untuk mendekat ke arah Tommy.
Natasha menerima paper bag tersebut, dan dia mengeluarkan barang pertama yang tidak lain adalah sebuah buku cerita bergambar. "Wahh ... lihat ini Luciel! Kakek bawa buku baru untuk Luciel! Luciel kan suka membaca, nanti Luciel bisa baca buku ini bersama mama saat Luciel mau tidur!"
Luciel tersenyum, dia mulai merasa antusias dan senang karena dia mendapatkan hadiah yang dia suka. Dia juga mulai memiliki kesan baik terhadap Tommy karena memberinya hadiah buku.
Natasha lanjut merogoh isi paper bag itu lagi. Dan kali ini yang dia ambil adalah mainan mobil remote. "Wahh ... kali ini mobil-mobilan! Sepertinya juga bisa berubah bentuk jadi robot!"
"Luciel mau main ini!" seru Luciel yang tiba-tiba merebut mainan itu dari tangan Natasha. Tampak jelas jika dia tertarik sekali dengan mainan itu.
"Apa Luciel suka?" tanya Natasha.
"Nah, kalau Luciel suka ... ayo berterima kasih dulu pada kakek!"
"Terima kasih Kakek Tommy! Luciel suka sekali dengan hadiah dari Kakek!" ucap Luciel dengan senyum berseri dan tulus.
"Sama-sama, kakek bisa memberikan apa saja asal cucu kakek suka!" balas Tommy dengan senyum penuh kepuasan. Dia teramat bangga memiliki Luciel sebagai cucunya. Pikirnya, Luciel sudah jelas-jelas cucu pertama dari keluarga Kartawijaya dan Adinata. Dia sudah memiliki bayangan tentang Luciel yang akan mewarisi segalanya dari kedua keluarga konglomerat ini.
"Mama, Luciel mau pergi ke kamar untuk menyimpan buku dan mainan pemberian kakek!"
"Baiklah, akan mama temani," jawab Natasha dengan senyuman.
"Bolehkah kakek ikut? Kakek ingin melihat seperti apa kamar Luciel," pinta Tommy dengan tatapan berharap.
"Kakek boleh ikut! Ayo sama-sama lihat kamar Luciel!" Dengan mudahnya Luciel setuju, dia mulai menganggap jika kakeknya yang ini juga menyayangi dirinya.
Dengan ditemani oleh Natasha dan Tommy, Luciel membawa buku dan mainan barunya ke kamar miliknya sendiri. Kamar miliknya juga belum lama ini selesai direnovasi. Daniel mengatur agar kamar yang luas itu jadi kamar yang sempurna dan nyaman untuk anak semata wayangnya.
Karena keluarga Kartawijaya memiliki perusahaan HW Group yang merupakan perusahaan properti ternama, maka fasilitas dan barang-barang yang ada di dalam kamar Luciel tidak perlu diragukan lagi. Pastilah semuanya adalah yang terbaik.
Tommy tersenyum puas karena menyadari jika cucunya ini mendapatkan perlakuan yang spesial. Sambil melirik ke arah Natasha, dengan suara yang pelan dia pun berkata, "Bagus, kamar ini jadi salah satu bukti jika Luciel disayangi oleh keluarga Kartawijaya ini."
"...." Natasha hanya membalas dengan senyuman tipis di ujung bibirnya. Setidaknya kali ini dia tidak perlu dimarahi ataupun dihina dan dicaci dengan disebut sebagai anak ataupun menantu yang tidak berguna.
Di satu sisi Luciel merasa jika saat ini dia bebas melakukan apa saja karena sekarang dia berada di kamarnya. Dia menaruh buku baru pemberian Tommy di atas rak bersama buku yang lainnya. Lalu dia mengambil mainan miliknya yang lain, dia duduk di atas karpet dan berniat memainkan mainan itu bersama dengan mobil-mobilan pemberian sang kakek.
__ADS_1
Natasha tersenyum ketika melihat anak laki-lakinya begitu aktif dan suka bermain. Hatinya terasa begitu bahagia ketika melihat senyuman yang terukir di bibir putranya. Ada rasa kepuasan tersendiri bagi Natasha, dia puas karena merasa jika dirinya termasuk seorang ibu yang berhasil membahagiakan anaknya.
Tiba-tiba saja Tommy mendekati Luciel yang sedang asyik bermain. Dia duduk di sebelahnya, Luciel yang menyadari hal itu pun tiba-tiba saja menyodorkan sebuah mobil mainan kepada Tommy. "Ayo main sama Luciel, Kek!"
"Tidak mau," jawab Tommy singkat.
Seketika ekspresi wajah Luciel yang semula antusias kini berubah murung setelah mendengar penolakan dari kakeknya. "Kenapa Kakek tidak mau main sama Luciel?"
"...." Tommy tak menjawab. Dia justru merebut mainan dari tangan Luciel lalu menaruhnya di sisi lain yang jauh dari jangkauan Luciel. "Cukup Luciel, kakek minta Luciel berhenti bermain. Luciel belajar saja, ya?"
"Belajar? Tapi kan ... Luciel sudah belajar di sekolah, Luciel sudah belajar di bimbel bersama Keisha, dan Luciel juga sudah selesai mengerjakan PR dari bu guru. Sekarang adalah waktunya Luciel main, Luciel mau main sebentar lagi sebelum disuruh tidur siang sama mama ..." jawab Luciel yang menjelaskan pada sang kakek tentang kegiatan rutinnya.
"Luciel, dengarkan kakek baik-baik! Jangan tiru kebiasaan yang merugikan seperti itu! Kau berbeda dari anak-anak yang lain! Kau adalah pewaris keluarga Adinata dan Kartawijaya! Jadi kau harus dibiasakan untuk belajar sejak kecil untuk mempersiapkan masa depan yang baik untukmu!" ucap Tommy dengan wajahnya yang tegas. Sontak saja Luciel menunduk dan kembali merasa takut terhadapnya.
"Cukup Ayah! Jangan katakan itu semua pada anakku!" bantah Natasha yang seketika mendapatkan balasan tatapan sinis oleh Tommy.
"Memang apa yang kau tahu?" Tommy lantas berdiri, dia ingin meladeni putrinya yang ini karena sudah berani membantahnya.
"Bagiku kau itu cuma bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan! Soal mengurus anak jangan kira kau lebih paham dibanding denganku! Luciel itu cucuku, aku bisa mengaturnya untuk menjadi seseorang yang luar biasa di masa depan nanti!"
"Kau pikir kau bebas mengaturnya hanya karena dia anakmu? Caramu itu sangat salah untuk mendidik dan membesarkan seorang pewaris! Kau terlalu memanjakan anakmu hingga membuatnya lalai dan hanya tahu soal bermain!"
"Luciel masih kecil, Ayah! Dia belum siap untuk semua itu!" bantah Natasha lagi.
"Kauuu!!" Amarah Tommy semakin tersulut, dia makin merasa jengkel karena perkataannya terus menerus dibantah oleh Natasha.
"Lalu kau ingin seperti ini terus sampai kapan? Sampai kau sadar jika semuanya sudah terlambat? Apa kau ingin kalau Luciel jadi orang tidak berguna sama sepertimu? Harusnya kau introspeksi dirimu sendiri! Jangan biarkan anakmu mengikuti jejakmu!" bentak Tommy lagi. Dia sama sekali tidak peduli mengeluarkan nada suaranya yang tinggi di hadapan bocah seperti Luciel.
"Cukup Ayah! Aku mohon cukup! Ayah yang harusnya introspeksi diri! Jika memang cara yang Ayah pakai selama ini benar, maka tidak mungkin kak Chelsea sampai harus memalsukan kematiannya demi bisa lepas dari Ayah! Aku mohon perlakukan kami selayaknya keluarga Ayah! Kami bukan boneka yang bisa Ayah kendalikan semau Ayah! Ayah terlalu serakah jadi orang!" teriak Natasha sekeras mungkin sampai urat lehernya terlihat.
PLAK!
Satu tamparan keras melayang begitu saja di pipi mulus Natasha.
"Jaga bicaramu! Jangan berani berteriak padaku! Ingat, tanpa aku, kau itu bukan siapa-siapa!"
"Kakek jahat! Luciel benci Kakek Tommy!" teriak Luciel yang langsung membanting mainan mahal yang tadinya Tommy hadiahkan padanya. Terlihat air mata yang mengalir deras di pipinya, dia sangat takut dan tidak terima jika mama tersayang mendapatkan tamparan.
"Luciel!" Natasha tak peduli rasa sakit di pipinya, dia langsung berlari menghampiri dan memeluk Luciel dengan erat. "Sshhh ... mama tidak apa-apa, Luciel tenang, ya ..." bujuk Natasha untuk menangkan anaknya yang menangis.
Natasha lalu menggalangi pandangan Luciel dari Tommy. Dia juga menatap ayahnya itu dengan tatapan nanar.
"Benar jika Luciel adalah cucu Ayah. Tapi Luciel itu anakku! Aku yang lebih berhak untuk mendidiknya dengan caraku sendiri! Jangan harap bisa menjadikan Luciel sebagai boneka Ayah! Silakan pergi! Tidak aku antar!"
"Huh!" Tommy mendengus kesal dan segera pergi begitu saja dari kamar cucunya.
Sedangkan di satu sisi Luciel masih menangis sesenggukan. Seumur hidupnya, baru pertama kali ini dia menyaksikan adegan kekerasan. Terlebih lagi mamanya yang jadi korban tamparan yang keras itu.
"Tolong maafkan Luciel, Mama ... gara-gara Luciel, jadinya Mama ditampar oleh kakek ...."
"Sshhh ... tidak sayang, itu tidak benar. Ini bukan salah Luciel ..." ucap Natasha sambil menepuk-nepuk pelan punggung anaknya.
__ADS_1
"Huaaa ... Luciel tidak mau bertemu dengan kakek jahat itu lagi!" teriaknya dengan tangisan yang semakin keras.