
Nisa menyeringai, meremehkan Chelsea karena dia bertingkah tidak sabaran. Chelsea langsung menanyakan sesuatu yang menjadi dasar dari balas dendamnya. Namun, bukannya menjawab pertanyaan itu, Nisa malah meletakkan cangkir teh miliknya ke atas meja dan mengambil ponsel.
Nisa terlihat mencari sesuatu di ponsel itu. Dan ketika sudah menemukan apa yang dia cari, dia menyodorkan ponselnya ke atas meja. Memperlihatkan kepada Chelsea tentang sesuatu yang menarik di layar ponselnya. "Lihatlah, manis bukan?" tanya Nisa sambil tersenyum.
"I-ini ...." Chelsea tersentak, tubuhnya ikut gemetar saat melihat sebuah foto Luciel yang tampak tertawa bahagia bersama dengan Nisa. Chelsea masih tak percaya, dia mengambil ponsel itu dan memperhatikan gambar itu dengan saksama. Ingin memastikan apakah itu benar-benar Luciel atau bukan.
"T-tidak mungkin, selama ini aku terus mencari keberadaan anakku! Bagaimana anakku bisa bersamamu?!" tanya Chelsea dengan nada tinggi, sorot matanya juga tampak merah karena teramat marah. Pikirnya, Nisa pasti telah melakukan sesuatu yang buruk terhadap Luciel.
Lagi-lagi Nisa tak langsung menjawab, dia justru mengulurkan sebelah tangannya ke arah Chelsea. "Kembalikan dulu ponselku, aku membelinya dengan uang suamiku. Aku tak mau ponsel itu rusak di tanganmu."
"Ck, ini ambil!" Chelsea berdecak kesal dan mengembalikan ponsel milik Nisa dengan cara yang kasar.
Di satu sisi Nisa menyimpan ponselnya kembali, lalu bersandar pada sofa sambil bersedekap tangan. "Astaga, Chelsea ... harus aku katakan kalau sebaiknya kau berhenti berteriak. Dan kau juga orang yang terlalu tidak sabaran. Akulah yang mengundangmu untuk datang kemari, jadi akulah yang berkuasa di sini. Aku pula yang menentukan pembicaraan apa yang akan kita bahas di sini."
"Kau telah mengajukan dua pertanyaan penting kepadaku. Soal kematian kakakmu dan soal anakmu. Jujur saja, aku tak punya cukup waktu untuk menjelaskan kedua hal itu padamu. Jadi, pilihlah salah satu! Penjelasan soal masalah mana yang lebih ingin kau dengar?" tanya Nisa dengan sebelah alis yang terangkat.
"K-kauuu ...." Kedua tangan Chelsea mencengkeram erat pegangan kursi. Dia teramat geram dengan sikap Nisa yang berlaku seenaknya terhadapnya. Baik itu masalah soal mendiang kakaknya ataupun soal Luciel sama-sama penting baginya.
Nisa benar-benar sialan! Dia sengaja membuatku menentukan pilihan yang sulit. Ini sudah 10 tahun, tentu saja aku sangat ingin mengetahui kejadian sebenarnya yang membuat kak Liam terbunuh. Tetapi, baru saja aku tahu soal keberadaan mengenai Luciel. Dan ternyata Luciel ada di tangan iblis ini!
Sial, meskipun aku sangat ingin balas dendam untuk kematian kak Liam yang tidak adil, itu tetap tidak bisa mengubah kenyataan kalau kak Liam sudah tiada. Sedangkan Luciel, dia masih hidup. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini untuk kembali bersama dengan Luciel lagi! Aku tak bisa membiarkan Luciel bersama lebih lama lagi dengan iblis ini!
"Aku pilih anakku! Jelaskan padaku soal mengapa anakku bisa bersamamu!" ungkap Chelsea dengan sorot mata tajam.
"Hoo ... baiklah, ternyata kau memilihnya," ucap Nisa seolah merasa kaget dengan pilihan yang Chelsea ambil.
Astaga, ternyata benar apa yang aku pikirkan. Luciel memang jauh lebih berarti baginya. Memang cocok untuk jadi kuda hitamku. Aku pikir, setelah lepas dari tanganku maka aku akan kehilangan kendali soal Luciel, tapi siapa sangka dia justru jadi yang paling berguna. Bahkan lebih berguna jika dibandingkan dengan Leon. Leon adalah poinku, sedangkan Luciel adalah kuda hitamku.
"Chelsea, kau sebenarnya tak perlu terlalu mengkhawatirkan anakmu. Dia sekarang sudah memiliki kehidupan yang lebih baik, bahkan ... sepertinya tidak masalah jika kau tidak muncul lagi di hadapannya."
"Apa maksud kata-katamu itu, hah?! Kau mau aku menyerahkan anakku begitu saja pada iblis sepertimu?! Jangan harap! Kau tidak pantas untuk merawat anakku! Kembalikan anakku sekarang juga!" pinta Chelsea dengan tatapan menuntut. Dia begitu tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan Nisa.
Nisa tertawa kecil. "Haha ... memangnya siapa yang bilang jika aku mau merawatnya? Asal kau tahu, anak laki-laki yang kau sebut-sebut sebagai anakmu itu, saat ini dia sudah hidup bahagia dengan orang tua aslinya."
"A-apa?! Jadi kau ...!" Chelsea terkesiap.
"Iya, aku sudah tahu. Dilihat dari wajah saja Luciel begitu mirip dengan Daniel. Meskipun begitu, aku tetap melakukan tes DNA untuk mencari kepastian. Bocah laki-laki yang kau akui sebagai anakmu, dia bukan anak kandungmu, tetapi anak adikmu! Kau membawa kabur bayi kecil milik Daniel dan Natasha!"
Tiba-tiba saja Nisa berhenti bersandar, dia duduk tegap dan memandang Chelsea dengan tatapan serius. "Kurasa aku sudah menjawab pertanyaanmu, Luciel sudah aman bersama dengan orang tua aslinya! Silakan pergi, aku tak punya cukup waktu untuk meladenimu!"
"T-tidak, tunggu! Berikan aku waktu sebentar lagi!" pinta Chelsea yang merasa tidak rela jika dia harus pergi sekarang juga.
__ADS_1
"Hmm ...." Nisa berlagak melihat arloji yang terpasang di tangan kirinya sambil berkata, "Baiklah, 5 menit! Tapi, aku tidak akan menjawab pertanyaan kecuali yang berhubungan dengan Luciel!"
"B-bagaimana bisa kau mengenal Luciel? Apa kau menculiknya?" tanya Chelsea langsung saja tanpa membuang-buang waktu lebih lama lagi.
"Tidak, aku sama sekali tidak berniat menculiknya. Aku bertemu dengan Luciel saat malam hari, dia sendirian di jalanan. Dia tampak begitu menyedihkan saat melihat bermacam-macam kue dari luar bakery milikku. Aku mengajaknya masuk dan memberikannya sepotong kue. Dia mau menceritakan padaku soal apa yang sedang dialaminya. Akhirnya aku membawanya pulang, setidaknya aku merawat Luciel selama sebulan."
"Tunggu sebentar, apa dalam waktu sebulan itu, Luciel tidak pernah menanyakan soal aku?" tanya Chelsea lagi.
"Yahh ... bisa dibilang dia selalu merindukanmu, dia banyak bicara soal seperti apa sosokmu, karena bagaimanapun kaulah yang selama ini telah membesarkan dirinya. Hanya saja ... untuk sekarang, mungkin Luciel sudah beranggapan jika kau membuangnya," jawab Nisa yang sengaja memancing emosi Chelsea.
"Tidak! Bukan seperti itu! Aku tidak pernah bermaksud untuk membuangnya! Pasti ini karena waktu itu! Gara-gara aku disekap oleh bawahanmu, jadinya aku tidak pulang selama beberapa hari! Kau katakanlah pada Luciel, jika aku tidak pernah membuangnya! Aku selalu menyayanginya!" bantah Chelsea.
"Heh, kenapa harus aku yang mengatakannya? Kau sendiri saja yang bilang, Luciel tinggal di kediaman utama keluarga Kartawijaya. Harusnya kau sudah tahu di mana tempatnya, silakan datang dan jelaskan sendiri padanya," ucap Nisa yang seketika membuat ekspresi Chelsea berubah 180 derajat.
"Aku tidak bisa ..." gumam Chelsea sambil mengepal erat kedua tangannya.
Sial, ini jadi semakin rumit! Aku bersyukur jika Luciel selama ini baik-baik saja. Akan tetapi, pasti saat ini Natasha tahu jika aku masih hidup. Dan ayah ... dia pastinya juga sudah tahu. Sial, padahal selama ini aku berusaha mati-matian untuk tidak muncul lagi di hadapan ayah. Jika aku menemui Luciel, sama saja aku merusak usahaku sendiri selama ini.
Aku belum membalas dendam atas kematian kakak, tapi di satu sisi aku sudah terancam karena identitasku sudah ketahuan. Yang aku takutkan, ayah akan menyuruh orang untuk mencari tahu keberadaanku. Sial, jika situasinya jadi begini, aku harus lebih lama lagi di organisasi supaya aku bisa menghindar dari pengawasan ayah. Aku tak mau kembali dan jadi bonekanya lagi.
Sekarang, haruskah aku memohon bantuan pada Nisa? Tapi, jika aku melakukannya, mau ditaruh di mana harga diriku?
"...." Diam-diam Nisa tertawa puas dalam hati. Dia begitu senang lantaran bisa mempermainkan Chelsea seperti apa yang dia mau.
"Hm? Kenapa kau mendadak diam? Silakan saja jika kau ingin bertemu dengan Luciel. Kau pasti akan disambut dengan hangat oleh semua orang, terutama adikmu." Nisa berpura-pura bodoh, dia menanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah dia tahu.
"Kenapa? Bukankah kau harus meluruskan kesalahpahaman? Gara-gara kau, aku dituduh jadi dalang di balik kebakaran itu. Meskipun polisi sudah menyelidiki penyebab kasus itu dan menyatakan jika aku terbebas dari tuduhan. Tetap saja aku menanggung kebencian dari adikmu itu. Beberapa tahun ini, dia sudah cukup menyusahkan aku. Dan lucunya, dia jadi berubah baik padaku karena aku menemukan Luciel."
"Jujur saja, aku tak tertarik untuk tahu alasanmu memalsukan kematianmu. Tapi aku peringatkan padamu, cepat atau lambat kau harus memberikan penjelasan bagi semua orang. Terutama keluargamu!" ucap Nisa penuh penekanan.
"...." Chelsea masih terdiam, begitu sulit untuknya mencerna semua kebenaran yang baru dia ketahui saat ini. Terlebih lagi, dia tak begitu paham kenapa Nisa seolah terus mendesak dirinya untuk muncul di hadapan semua orang.
"Kenapa? Kenapa kau terkesan seperti mendesakku supaya aku menemui keluargaku?" tanya Chelsea.
"Emm ... jujur saja, aku tak begitu peduli soal hubungan keluargamu. Hanya saja, keluarga itu bagaikan rumah. Aku mengatakan itu semua karena ingin memberitahumu sesuatu."
"Sesuatu soal apa?" tanya Chelsea lagi.
Nisa menyeringai, pada akhirnya telah tiba saatnya untuk mengatakan apa yang sejak tadi dia inginkan. "Soal sisa waktu yang kau punya."
"Apa?!" Seketika Chelsea bangkit dari kursi, bahkan dia mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkan pistol itu ke arah kepala Nisa.
"Pffttt ... hahaha!" Nisa malah tertawa.
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa?!" tanya Chelsea yang makin erat mencengkeram pistolnya.
"Karena kau lucu. Kau menyalahartikan perkataanku, yang aku maksud sisa waktu yang kau punya, itu bukanlah sisa hidupmu. Akan tetapi, sisa waktu yang kau punya di organisasi ini tidak banyak."
"Apa maksudmu tidak banyak?! Itu sama saja kau mau menyingkirkan aku!"
"Pffttt ...." Lagi-lagi Nisa tertawa. Sedangkan Chelsea makin merasa muak karena tingkah laku Nisa yang tak begitu jelas.
"Ckck, betapa lucu dan naifnya dirimu ... Jika aku memang mau menyingkirkanmu, aku tak perlu menunggu waktu. Saat ini juga pun bisa, karena kau telah melakukan pelanggaran yang berat secara berulang-ulang. Pertama, kau berlaku tidak hormat dan menghinaku. Kedua, kau berani menodongkan senjata padaku. Jika saja di ruangan ini ada orang lain, maka kau sudah akan mati saat kau mengeluarkan pistol murahanmu itu!"
"Tapi sudahlah, lagi pula aku bukan orang yang mudah terbawa perasaan. Bukan pertama kali ini ada orang yang menodongkan senjata padaku. Yang aku maksud waktumu tidak banyak, itu soal waktumu di organisasi ini. Karena aku tak mau orang sepertimu terus berada di kelompok yang aku pimpin. Itulah maksudku, aku menyuruhmu pulang sebelum aku mengusirmu."
"Mengusirku?" tanya Chelsea seraya menurunkan pistol miliknya.
"Ya, harusnya kau sudah diberitahu kalau tugasmu selanjutnya ada di Divisi 1. Tugas ini akan menjadi tugas terakhirmu. Setelah kau menyelesaikan tugas ini, keluarlah dari kelompokku secara hormat! Jangan pernah membocorkan apa pun kepada siapa pun! Jika sampai kau melakukannya, aku akan membalasmu berkali-kali lipat! Camkan ini baik-baik!"
Chelsea tak mampu lagi berkata-kata. Pikirannya terus bergejolak dengan hatinya sendiri. Dia sungguh ingin mengakhiri semuanya sekarang juga. Dia sungguh ingin menarik pelatuk pistol itu supaya mengenai Nisa. Hanya saja, dia sadar jika dia melakukan itu, maka nantinya dia akan mati sia-sia. Mati tanpa mengetahui kebenaran soal kakaknya, dan mati tanpa berjumpa kembali dengan Luciel.
"Yak! 5 menit sudah habis, silakan keluar! Apa perlu aku menyuruh orang untuk menyeretmu?" tanya Nisa dengan tatapan sombongnya.
"Tidak perlu!" jawab Chelsea dengan ketus. Dia langsung menyimpan pistolnya dan bergegas keluar dari kamar yang menyesakkan itu.
Meskipun berkali-kali tersulut emosi, setidaknya Chelsea masih mendapatkan hasil. Kini sesuatu yang selalu menjadi beban di hatinya telah hilang. Kini dia tak lagi terlalu mencemaskan Luciel karena sudah mengetahui jika dia telah aman bersama dengan orang tua kandungnya.
Chelsea keluar dari kasino itu dengan dipenuhi amarah, bahkan selama di mobil dalam perjalanan pulangnya, dia terus memaki dan mengutuk Nisa tiada henti.
"Sialan kau Nisa! Benar-benar wanita iblis! Kau sengaja membuat posisiku semakin sulit! Bukan cuma memegang kebenaran soal kematian kak Liam, bahkan Luciel dan Natasha juga berada dalam genggamanmu! Sial, jika seperti ini, aku tak bisa sembarang bertindak! Bisa saja kau menyakiti mereka demi membalasku!"
***
Masih berada di dalam kamar VVIP nomor 11. Nisa tak bergegas kembali menemui suami dan putranya yang mungkin sudah menyadari jika dia pergi meninggalkan mereka. Nisa tampak begitu santai, dia meminum teh miliknya hingga habis. Dan saat dia melihat teh milik Chelsea yang masih utuh, dia kemudian mengambilnya dan juga meneguknya.
"Hahh ... sungguh sayang jika teh mahal yang diimpor ini dibiarkan dingin begitu saja. Harus aku akui kalau dia cukup pintar, dia bisa berpikir jika ada kemungkinannya aku menaruh racun di teh ini. Tapi ... dia juga bodoh, teh itu adalah minuman yang sangat sensitif, jika diberi sesuatu maka aromanya akan berubah. Tetapi teh ini ... sungguh nikmat," gumamnya yang kemudian lanjut menyeruput.
TOK TOK TOK!
"Ya? Ada apa?" tanya Nisa pada seseorang yang telah dia tugaskan berjaga di luar.
"Kendaraan Mad Dog telah terlihat mendekati area kasino, Ketua!"
"Bagus, kau sambut dia dan ajak dia masuk kemari! Oh ya, sekalian buatkan teh yang baru lagi!" titah Nisa dengan suara lantangnya.
"Baik, Ketua!" jawabnya di balik pintu.
__ADS_1
"Hehehe ...." Nisa tertawa cekikikan, seolah sedang menertawakan hal yang teramat lucu.
Sepertinya Leon ingin menemuiku karena mau meminta sesuatu dariku yang berkaitan soal Chelsea. Astaga, menggemaskan sekali pasangan baru ini. Mereka tidak saling jujur dan justru sama-sama menyembunyikan hal penting dari satu sama lain. Chelsea menemuiku tanpa memberitahu Leon, dan Leon ke sini untuk menemuiku tanpa sepengetahuan Chelsea. Haha, jika saja mereka saling terbuka, mereka akan lebih menghemat tenaga dan waktu untuk menemuiku bersama-sama.