
"Hahh ... haahh ...." Napas Chelsea terengah-engah, dia kini duduk di lantai dengan keringat yang mengucur deras keluar dari tubuhnya.
Setelah pertemuannya dengan orang penting saat itu, dia terus mengurung diri di rumah dan berlatih sampai saat ini. Karung beras yang menjadi media untuknya latihan pun kini telah robek. Dia benar-benar berlatih keras hingga memaksa tubuhnya ke batas yang ekstrim.
Kedua kaki Chelsea juga terkena imbasnya. Kakinya yang sebelumnya mulus kini memar dan bengkak, rasa sakitnya terasa menyeluruh, mulai dari telapak kaki, hingga pergelangan dan punggung kakinya.
"Sakit sekali ... aku bahkan tak tahu caraku berlatih sudah benar atau salah, seharusnya aku berlatih dengan orang profesional, tapi aku ragu ada yang mau membantu jika tahu tujuanku untuk bergabung dengan gangster."
"Tuan bilang jika sebaiknya aku membujuk Leon untuk melatihku. Tapi, siapa pula yang mau minta bantuan dari orang sombong sepertinya! Toh dia pasti juga tidak mau dan jual mahal! Pokoknya aku tidak boleh memohon berlebihan dan kehilangan harga diriku! Lebih baik aku latihan sendiri!"
Setelah dirasa sudah cukup beristirahat, Chelsea pun melihat sekarang sudah jam berapa. Dia langsung bergegas membersihkan diri untuk segera berangkat ke club. Meskipun sebenarnya Chelsea sudah muak bekerja di sana, tetapi dia tak punya pilihan lain sampai masa kontraknya habis.
Dan kali ini pun Chelsea tidak memakai sepatu hak tinggi yang biasanya dia pakai, dia memilih untuk mengenakan sepatu tanpa hak demi menyesuaikan dengan kondisi kakinya sekarang.
Begitu Chelsea memulai pekerjaannya, tak henti-hentinya dia mendapatkan sindiran dari para penjaga. Chelsea hanya bersikap acuh tak acuh, dia sudah tidak peduli lagi untuk membangun hubungan baik di lingkungan kerja. Selain itu, dia juga mendapati beberapa pelanggan yang mengeluh merindukan dirinya yang tidak masuk bekerja selama 6 hari, jika dihitung dari hari selama dirinya disekap.
Saat bar counter sedikit sepi, tiba-tiba ada seorang pria yang datang dan berkata, "Buatkan aku cocktail terbaikmu!"
"Baik, segera saya buatkan ... Eh? Tuan!?" Chelsea melongo, dia tak percaya jika wajah pria yang memesan minuman barusan sama seperti pria yang telah mewawancarai dirinya di bawah tanah.
"..." Chelsea tertegun, dia berpikir sikap seperti apa dan bagaimana yang sebaiknya dia tunjukkan pada pria itu sekarang.
Chelsea kemudian kembali berekspresi datar, melakukan beberapa atraksi seperti bartender pada umumnya dan segera menyajikan pesanan pria tersebut. "Silakan Tuan."
"...." Pria itu membisu, lantas bergantian menatap Chelsea dan cocktail itu berulang kali.
"Apakah Anda tidak puas? Jika iya, saya bisa buatkan yang lain lagi," ucap Chelsea dengan tatapan heran, dia berpikir jika selera pria ini sangat tinggi.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin tahu kenapa sikapmu tiba-tiba berubah begini, tadi kau kaget karena mengenaliku, tapi sekarang kau justru bersikap seolah-olah tidak kenal."
"Ah ... saya tidak bermaksud membuat Anda tersinggung. Tetapi, saya rasa sikap ini yang paling tepat untuk saya tunjukkan. Hubungan di antara kita, m-maksud saya sebaiknya tidak ada orang lain yang tahu jika saya adalah orangnya Tuan."
__ADS_1
"Pffttt ... HAHAHAHA!" Pria itu tiba-tiba tertawa keras dengan logatnya yang khas.
Di satu sisi Chelsea kebingungan, dia pikir apa yang lucu darinya sampai membuat pria itu tertawa. "Emm ... Tuan, saya akan jujur. Club malam ini adalah tempat yang berbahaya, jadi saya rasa penting untuk melindungi diri dari hal yang tidak diinginkan, lebih baik kita bersikap tidak saling mengenal."
"BHUAHAHAHA ...!!" Pria itu tertawa lebih keras dibanding sebelumnya, bahkan pengunjung lain pun mulai menengok ke arahnya meskipun suara iringan musik yang menyenangkan masih diputar dengan keras.
Setelah pria itu berhenti tertawa, dia lantas meneguk cocktail yang Chelsea buat untuknya sampai habis dalam sekali teguk. Sungguh pria yang aneh, pikir Chelsea saat ini.
"Haha, aku tertawa karena kau lucu."
"Saya lucu ...?" tanya Chelsea dengan tatapan bingung.
"Dengar ya, wanita! Aku lupa siapa namamu! Tapi yang jelas kau jangan meremehkan aku! Dan kau tidak perlu memperingatkan aku soal bahaya, aku sangat mengenal Damar si bangs*t pemilik club ini! Lucu jika kau memperingati aku soal bahaya temanku sendiri!"
"A-apa ...." Chelsea ternganga, dia tidak habis pikir dengan informasi penting yang barusan pria itu ucapkan dengan begitu mudah.
Jadi, pria misterius pemilik DG CLUB bernama Damar! Dan dia berteman dengan Tuan! Pantas saja waktu itu aku diperlakukan seperti itu, ternyata ini memang lingkaran pertemanan para gangster!
Tiba-tiba saja ada seseorang yang berlari mendekat, dia adalah sosok yang familier dan tidak lain adalah Kaitlyn.
"Ahh ... astaga, kenapa Anda di sini? Harusnya sekarang Anda berada di ruang VIP! Bos Damar sudah menunggu Anda!" ucap Kaitlyn pada pria itu.
"Cih, biarkan dia menunggu sedikit lebih lama lagi. Lagi pula ... aku di sini juga ada keperluan kecil lain, aku ingin melihat dia," ucapnya sambil melirik ke arah Chelsea.
Kaitlyn yang melihat hal itu langsung berekspresi syok. "Hah?! Ada apa di antara kalian?! Bos Dika serius demi dia?!"
"...." Lagi-lagi Chelsea terdiam, dia tidak mengerti dengan apa yang sedang dibahas oleh kedua orang itu. Di sisi lain dia terkejut karena mengetahui sebuah fakta lain, jika atasan yang dia ikuti ternyata bernama Dika.
"Heh," Dika menyeringai. Lalu merangkul Kaitlyn dan menyeretnya untuk perlahan menjauh. "Dia wanitaku! Bilang pada Damar agar jangan mengusiknya!" ucapnya dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Apa?!" ucap Chelsea dan Kaitlyn bersamaan.
"Sudahlah, jangan kaget begitu. Ayo pergi, si bangs*t itu tidak suka menunggu lama!" ucap Dika yang langsung segera menyeret Kaitlyn pergi.
__ADS_1
Sedangkan di satu sisi, Chelsea masih mematung dan terperangah. Di otaknya masih terngiang-ngiang pengakuan mengejutkan dari Dika yang menyatakan bahwa dirinya adalah wanitanya. "Sial, apa maksudnya tadi?"
Apa dia sudah mengincar untuk mempermainkan aku? Tapi bukan ini yang aku inginkan. Aku tidak mau dicap sebagai wanita mainan yang bisa dianggap remeh. Mungkin aku akan disegani untuk sementara waktu, tapi akhirnya aku akan tetap berakhir digantikan jika aku dicap sebagai wanitanya.
Sial, sebenarnya apa tujuannya? Dia sungguh ingin mempermainkan aku atau justru ingin memberi perlindungan untukku?
***
Di sebuah ruangan VIP yang tersembunyi di dalam DG CLUB. Kedua pria yang statusnya sudah diketahui sebagai gangster, kedua petinggi itu duduk berhadapan dan saling menatap dengan serius.
"Apa kau tahu, kau sudah membuang-buang waktuku dengan membuatku menunggu!" ucap Damar penuh kekesalan.
"Hei, santai saja. Cuma beberapa menit, jangan terlalu emosi untuk masalah sepele," jawab Dika tanpa rasa bersalah.
"Ck, kau santai sekali! Apa kau sudah siap menghadapi acara perekrutan anggota tetap nanti? Kemungkinan besar ketua akan hadir, mengingat dia sudah melahirkan 3 bulan yang lalu, aku yakin itu!"
"Kurasa tidak, kau melupakan satu faktor penting! Masih ada suaminya, jujur saja aku juga mulai tidak suka padanya karena selalu membatasi pergerakan ketua. Asalkan informasi kita tidak bocor, ketua bisa mengakali hal ini untuk diam-diam kabur dari pengawasan suaminya!"
"Ya, kau benar. Mari kita kesampingkan dulu hal itu, pertemuan kita kali ini demi membahas tentang masalah kuota jumlah anggota yang akan direkrut. Aku mewakili divisi 4, dan kau divisi 2. Untuk sekarang, divisi 4 masih dalam kendali. Bagaimana denganmu?" tanya Damar.
"Divisi 2 juga sama. Aku tahu apa yang kau khawatirkan, jumlah orang yang tertarik bergabung lebih banyak dari dugaan. Sisi positifnya, mereka akan saling membunuh untuk berebut kuota yang tersisa. Ketua sangat suka kegilaan seperti ini, yang terbaik yang akan tersisa. Lalu sisi negatifnya, dari sekian banyaknya orang itu, waktu kita tidak cukup jika harus memastikan setiap identitas yang mereka punya."
"Kau benar! Peluang bagi penyusup akan meningkat! Ketua sangat benci terhadap penghianat, jadi kali ini aku ingin membuat acara perekrutan berjalan lancar! Setidaknya dengan begitu, kita bersembilan bisa bersantai dan berkumpul lagi!"
Tiba-tiba saja Dika melemparkan beberapa lembar kertas ke atas meja. Lalu berkata, "Bacalah! Divisi 3 yang memberikan rencana itu, dan divisi 1 juga telah mempertimbangkannya."
"Cih, si anak rumahan itu cuma mau muncul saat ketua ada! Dia pikir kertas-kertas ini bisa mewakili dirinya?!"
"Jangan protes dan baca saja, lagi pula kita bisa menghajarnya bersama nanti! Hahaha ...."
"Hahaha! Kau benar!"
Kedua orang itu pun secara naluriah langsung menunjukkan tawa iblis mereka.
__ADS_1