
"Keisha sayang bunda!" ucap bocah laki-laki itu dengan antusias sambil mendekatkan bibirnya di remote control.
"Keisha sayang bunda!" Si robot dance meniru dan mengeluarkan suara dengan intonasi yang sama persis.
Keisha tertawa, sejak tadi dia tak bosan-bosan bermain bersama robot dance pemberian Ivan tersebut. "Bunda sayang Keisha!" ucap Keisha lagi.
"Bunda sayang Kei ... bip-" Tiba-tiba saja wajah dari robot dance itu yang berupa layar monitor kecil menghitam dan padam. Robot itu kini tak merespons apa pun meskipun Keisha berkali-kali memencet tombol. Ivan membuatnya terburu-buru dengan waktu yang mepet, jadi wajar saja jika robot dance itu sudah kehabisan daya baterai.
"Kenapa mati?! Apa robot dance sudah rusak?!" keluh Keisha sambil terus memperhatikan seluruh sisi dari badan robot.
"Apa Bibi bisa memperbaiki robot dance?" tanya Keisha pada Chelsea dengan tatapan berharap. Meskipun sejak tadi dia mengabaikan keberadaannya, tetapi sekarang dia membutuhkannya.
"Maaf Boss Kecil, sayangnya bibi tidak paham soal memperbaiki robot seperti ini. Nanti kalau paman Ivan sudah kembali, coba tanyakan padanya saja, ya?" bujuk Chelsea agar Keisha tak terlalu bersedih.
"Emmm ... baiklah," jawab Keisha sambil mengangguk. Dia kembali berwajah murung saat meletakkan mainan robot dance itu kembali ke atas meja.
"Boss Kecil, ayo makan kue dulu. Tinggal sedikit lagi habis loh~ Ayo aaaa ... kereta datang, tut ... tut ... tut! Buka terowongan ..." ucap Chelsea dengan bernada. Dia berusaha sebisa mungkin untuk memasukkan sesendok kue itu ke mulut Keisha.
Astaga, bocah ini lebih sulit diatur daripada Luciel. Hampir satu jam tetapi dia belum menghabiskan kue ini, dia tidak mengunyah dan malah terus mengemut. Bahkan para pengujung toko sudah banyak yang pergi. Sebenarnya aku tidak enak berlama-lama di sini, tapi anehnya meskipun anak ini berisik dan berteriak tak ada satu pun pegawai yang menegur. Andai aku jadi ibunya, sepertinya aku tidak akan sanggup.
"Tidak mau! Terowongan sudah ditutup!" Keisha menghalangi mulut dengan kedua tangannya. Dia juga menggeleng kepala secepat mungkin.
"Ayolah ... tinggal sedikit, nanti bagaimana kalau sisa kue ini menangis? Boss Kecil tidak mau itu terjadi, kan?" bujuk Chelsea lagi.
"Apa kue bisa menangis?" tanya Keisha yang mulai termakan cerita ngawur Chelsea.
"Tentu saja bisa! Semua makanan kalau tidak dihabiskan bisa menangis, tetapi manusia tidak bisa melihatnya karena ini hal ajaib. Jika Boss Kecil tidak menghabiskan kue ini, nanti mereka akan menangis karena merindukan teman-temannya yang sudah ada di perut Boss Kecil," jelas Chelsea lagi. Dia terpaksa mengatakan kebohongan konyol supaya kue itu termakan habis.
"Tapi Bibi ... yang ada di perut Keisha nantinya akan jadi pup, apa semua kue mau jadi pup?" tanya Keisha dengan tatapan polosnya.
"Ehmm ... ini, t-tentu saja. Itu kan sudah kodrat makanan. Jadi supaya tidak menangis, Boss Kecil habiskan, ya!" Chelsea tersenyum canggung, dia tidak habis pikir jika anak sekecil ini bisa menanyakan pertanyaan yang cukup menjijikkan seperti itu.
"Baiklah, Keisha mau habiskan kue itu!" Keisha menyingkirkan tangan dari mulutnya, lalu membuka mulut lebar-lebar seperti sudah siap untuk melahap habis kue tersebut. "Aaaa ...terowongannya sudah buka!"
"Bagus!" Chelsea tersenyum lega. Akhirnya dia berhasil membujuk anak sang ketua untuk menghabiskan makanan, meskipun harus membuat kebohongan lebih dulu.
Huft ... akhirnya dia mau makan juga. Entah kebohonganku tadi baik atau tidak, tapi aku rasa itu adalah jalan terbaik. Kalau aku menceritakan ada banyak anak yang kelaparan dan kekurangan makanan di luar sana, takutnya dia justru akan menangis. Dan untuk mendapatkan perhatian dari ketua, tentu saja aku tidak bisa membuat anaknya menangis.
Karena Keisha sudah tidak bermain dengan robot dance lagi, kali ini dia mengunyah lebih cepat dibandingkan dengan tadi. Di satu sisi Chelsea juga puas, dia tak mau jika nantinya dia remehkan oleh Ivan lantaran tidak bisa menyuapi anak sang ketua dengan benar.
"Boss Kecil pintar!" puji Chelsea ketika Keisha sudah menelan potongan terakhir cheese cake tersebut.
Keisha tersenyum karena senang dipuji pintar. Sejurus kemudian dia berkata, "Bibi, sekarang Keisha mau makan ice cream!"
"Ice cream ... baiklah, tunggu sebentar ya! Bibi akan pesankan!"
"Keisha juga mau uncle Akira!" pinta Keisha lagi sambil menggebrak meja.
"Emm ... uncle Akira itu siapa?" tanya Chelsea kebingungan.
"Uncle Akira adalah baker utama di bakery ini! Keisha mau uncle Akira yang menyiapkan ice cream untuk Keisha di sini!"
"Sepertinya itu agak ..." ucap Chelsea sedikit ragu. Pikirnya, mana mungkin dia bisa seenaknya memanggil dan menyuruh koki pembuat kue untuk melayani sendiri.
"Kenapa Bibi alasan terus? Setiap kali Keisha dan bunda ke sini, uncle Akira juga yang selalu membuatkan ice cream untuk Keisha! Bakery ini milik orang tua Keisha tahuuuu!" jelas Keisha yang mulai kehilangan kesabaran. Sifat tidak sabarnya ini dia tiru dari kedua orang tuanya, karena keduanya memang sama-sama mendominasi.
"B-baiklah, kalau begitu! Akan segera bibi panggilan uncle Akira!" Chelsea kelabakan, dia juga segera pergi sambil membawa piring kotor bersamanya.
Astaga, pantas saja anak ini begitu leluasa. Ternyata orang tuanya adalah pemilik tempat ini.
__ADS_1
Meskipun sedikit merasa ragu, Chelsea memantapkan diri untuk memasuki dapur dari bakery itu meskipun itu adalah tempat yang tidak bisa dimasuki sembarangan orang. Tidak ada satu pun pelayan atau koki lain yang menegur Chelsea, lantaran mereka semua sudah tahu jika boss mereka memang mempercayakan wanita ini sebagai pengasuh anaknya.
Chelsea mendekati salah seorang baker perempuan yang sedang membawa kue yang baru keluar dari panggangan. "Permisi, aku mencari koki yang bernama Akira."
"Ohh ...." Baker perempuan itu mengangguk. Lantas menengok ke arah lain dan berteriak, "Koki genit! Ada yang mencarimu!!"
"Hm?" Salah seorang pria yang sedang mengaduk adonan tiba-tiba menoleh. Begitu dia melihat Chelsea, dia langsung berlari mendekat secepat mungkin. Bahkan dia juga berlutut, meraih tangan Chelsea dan mencium punggung tangannya.
"Ada gerangan apa sampai Nona bidadari turun dari surga dan mencariku?" tanyanya dengan senyum tanpa dosa.
"Hah?" Chelsea melongo.
"Haiss ...." Koki perempuan itu berlalu begitu saja, seolah sudah terbiasa dengan sikap Akira.
Akira yang semula berlutut lalu berdiri. Melepaskan tangan Chelsea, lalu sedikit membungkuk seperti memberikan penghormatan. "Hai, aku adalah koki utama di sini, Takazawa Akira. Bisa bertemu denganmu di sini, pasti ini ... karena takdir!"
"S-salam kenal juga, aku Mayra. Aku ditugaskan untuk mengasuh anak yang bernama Keisha. Dia bilang ingin ice cream dan bertemu denganmu," ucap Chelsea yang masih merasa canggung.
"Jadi boss kecil ingin ice cream. Baiklah, aku akan segera ke sana. Tetapi ... mohon bantuanmu ya Nona Mayra!" pinta Akira yang kemudian langsung berbalik dan menuju ke tempat di mana ice cream disimpan.
"Baik," Chelsea mengangguk dan bergegas mengikuti jalannya Akira. Jujur saja dia masih tidak begitu mengerti, pria asing berkulit putih dan bermata sipit ini terus-terusan bertingkah genit kepadanya.
Chelsea membantu Akira membawa beberapa wadah ice cream. Akan tetapi tidak sesederhana itu saja, masih ada alat lain yang dibawa. Seperti topping, scoop, cone dan sebuah tongkat panjang. Semua barang-barang itu diletakkan di atas troli makanan.
Tanpa menunda lebih lama lagi, Akira mengajak Chelsea untuk membawa troli makanan itu ke meja di mana Keisha masih menunggu. Sesampainya di meja Keisha, Chelsea juga membantu Akira untuk memindahkan semua barang-barang itu ke atas meja.
"Horee! Uncle Akira cepat lakukan pertunjukan!" pinta Keisha dengan wajah yang sangat antusias.
"Pertunjukan?" tanya Chelsea dengan tatapan bingung.
"Sshhh ... tolong Nona menepi sebentar, akan aku tunjukkan kehebatan seorang Takazawa Akira agar Nona terkesan."
Akira segera mengambil tongkat panjang. Bukannya langsung memberikan ice cream pada Keisha dengan senyuman, dia justru memain-mainkan ice cream itu terlebih dulu.
Akira memutar-mutar ice cream dengan tongkat panjang, hingga membodohi Keisha dengan memainkan cone ice cream. Keisha semakin terhibur dengan aksi yang sekelas dengan sulap ini, ice cream itu sama sekali tidak meleleh meskipun dimainkan oleh Akira.
"Bukannya ini seperti penjual ice cream turki saat mempermainkan para turis," gumam Chelsea dari kejauhan. Akhirnya dia mengerti alasan kenapa Keisha menginginkan bertemu dengan Akira.
"Hup! Sudah selesai, silakan dinikmati!" ucap Akira sambil menancapkan sebuah sendok ke atas ice cream sebagai sentuhan terakhir dari atraksi.
"Horee! Keisha senang sekali, Uncle Akira hebat!" puji Keisha yang langsung melahap ice cream tersebut dengan riang.
"Emm ... biar aku bantu!" ucap Chelsea yang menawarkan diri untuk membantu mengembalikan peralatan itu ke dapur.
"Haha, tidak perlu Nona. Aku tidak bisa membiarkan seorang wanita bekerja terlalu keras." Akira segera membereskan semuanya dan mengembalikan barang-barang itu ke dapur seorang diri.
Tak lama kemudian Akira kembali lagi. Akan tetapi, Chelsea akhirnya menyadari sesuatu ketika memperhatikan tingkah laku Akira dari kejauhan. Akira menyapa dan bersikap ramah kepada setiap pelanggan wanita yang dia temui, namun dia bersikap sebaliknya pada pelanggan laki-laki.
"Ckck, pantas saja dia disebut koki genit," gumam Chelsea.
"Uncle Akira! Keisha mau nonton tv! Keisha mau lihat kartun nanas dalam laut!" pinta Keisha.
"Baiklah!" Akira segera mengganti saluran televisi seperti yang Keisha minta. Di bakery ini memang disediakan televisi untuk menghibur para pelanggan.
Begitu acara kartun di televisi sudah tayang, Keisha tampak menikmati ice cream miliknya dengan tenang. Dia tidak rewel seperti tadi. Hal ini membuat Chelsea merasa lega lantaran Keisha tidak meminta yang macam-macam lagi, dia bisa beristirahat dan tinggal menunggu Ivan kembali.
Tiba-tiba saja Akira mendekati Chelsea yang sedang duduk sendirian di meja yang berbeda dengan Keisha. Dia duduk di sebelah Chelsea dan berkata, "Apa kau adalah anggota baru?"
"Eh?!" Sejenak Chelsea tertegun. Dia terkejut karena ternyata Akira yang merupakan seorang koki juga mengetahui perihal organisasi gangster ini.
"Benar, aku baru bergabung belum lama ini. Aku bergabung dalam Divisi 2. Lalu sepertinya kau sudah lebih dulu bergabung ketimbang aku, kau bergabung dalam Divisi mana?" tanya Chelsea.
__ADS_1
"Aku? Aku tak bergabung dalam Divisi mana pun, aku direkrut langsung oleh ketua. Ketua sendiri yang menugaskan aku untuk jadi kepala koki di bakery ini," jawab Akira dengan santainya.
"Eh? Ketua sungguhan yang merekrutmu? Tapi aku rasa tidak sesederhana itu ..." Tiba-tiba Chelsea memelankan nada bicaranya. "Kau tahu bukan? Ketua yang aku maksud itu adalah ketua gangster loh."
"Haha, tentu saja aku tahu. Meskipun aku koki, kau jangan remehkan aku. Bisnis ini adalah bisnis yang dikelola langsung oleh ketua. Bahkan ada kalanya ketua vakum dari organisasi, tetapi saat itu dia masih akan tetap memperhatikan bakery ini. Aku jadi kepala koki karena ketua percaya padaku, terkadang aku juga ikut berdiskusi soal resep baru dengan ketua."
"A-apa? Jadi ketua suka membuat roti?!" tanya Chelsea seakan tidak percaya. Ketua yang ada di pikirannya adalah sosok yang kejam, genius dan manipulatif. Dia benar-benar sulit mempercayai jika orang yang mengetuai organisasi yang kejam ini akan memiliki hobi membuat roti.
"Bukan suka lagi, tetapi ketua memang jago dalam bidang pastry. Dia juga sudah mendapatkan banyak sertifikat dari berbagai ajang perlombaan."
"...." Chelsea ternganga. Dan sejurus kemudian dia berkata, "Ngomong-ngomong ... bagaimana bisa kau direkrut oleh ketua? Apa karena kau berbakat dalam bidang pastry juga?"
"Tidak juga, pada awalnya aku sama sekali tidak mengerti apa-apa. Tetapi ... ini cerita yang panjang, kau yakin mau mendengarkannya?" tanya Akira.
"Ya, tentu!" jawab Chelsea dengan raut wajah serius.
"Astaga, aku tidak mengira jika Nona Mayra benar-benar penasaran tentang diriku! Mungkin saja setelah ini kita bisa jadi lebih dekat!" seru Akira yang sifat genitnya tiba-tiba kumat.
"...." Chelsea terdiam, dia tidak mau menanggapi Akira yang seperti ini. Pikirnya, untuk apa menjadi lebih dekat dengan pria lain saat dia sekarang sudah punya Leon sebagai kekasihnya.
"Ehem, baiklah. Aku tidak mau membuat Nona penasaran lebih lama lagi. Jadi ... aku akan mulai bercerita. Pada awalnya aku bisa bertemu dengan ketua yaitu saat aku masih ada di negaraku, yaitu Jepang. Saat itu aku yang begitu menyedihkan dengan beruntung bertemu dengan ketua yang sedang liburan babymoon."
"Tunggu sebentar, babymoon ke Jepang?" tanya Chelsea.
"Iya, babymoon saat boss kecil masih ada di dalam kandungan. Jadi bisa dikatakan kalau aku sudah bergabung selama umur boss kecil. Sekitar 5 tahun lebih!"
"Baiklah, cepat lanjutkan ceritamu!" pinta Chelsea seakan tidak sabar.
Wah-wah ... Ketua ternyata adalah orang yang romantis. Begitu memanjakan istrinya sampai liburan babymoon ke Jepang.
"Nah, saat itu bertepatan dengan acara festival halloween. Aku kabur dari kejaran orang yang ingin membunuhku. Aku berbaur di dalam festival itu, dan tanpa sengaja ketua bertemu denganku yang saat itu dalam kondisi terluka cukup parah."
"Tunggu dulu, kenapa bisa ada orang yang mau membunuhmu? Memangnya kau sudah membuat masalah macam apa?" tanya Chelsea penasaran.
"Sebenarnya aku adalah mantan Yakuza. Aku bergabung dalam Klan Yamaguchi. Dan aku berbuat kesalahan dengan membunuh seorang Oyabun dari klan itu."
^^^*Oyabun (bos): panggilan untuk pemimpin Yakuza ^^^
"A-apa?!" Chelsea terperangah. Dia tidak habis pikir jika koki genit ini adalah seorang mantan Yakuza, mafia terkenal asal Jepang.
"Iya, dan ketua mau menolongku karena dia kasihan sekaligus dia juga punya urusan dengan Klan Yamaguchi. Sebenarnya bukan ketua yang mempunyai urusan, tetapi ketua sebelumnya. Mungkin kau belum tahu, tetapi ketua yang menjabat saat ini adalah ketua generasi kedua. Yang aku maksud orang yang juga mempunyai urusan dengan Klan Yamaguchi adalah ketua generasi pertama. Ketua kasihan padaku dan mungkin karena memandang masalah masa lalu, jadinya ketua membawaku ke negara ini."
"Setibanya aku di sini, ketua memberikan identitas baru untukku serta mengajariku cara berkomunikasi. Awalnya aku juga akan ditempatkan di Divisi 2, tetapi ketua melihat jika bakatku kurang cocok. Soalnya aku selalu dianggap payah, padahal aku ini adalah laki-laki sejati, dan aku sudah bersumpah tidak akan menyakiti perempuan!"
"...." Chelsea diam seribu bahasa dan menatap Akira dengan ekspresi malas.
Tentu saja kau tidak cocok, kau saja genit pada setiap perempuan. Kau akan langsung terbunuh jika lawanmu adalah perempuan. Orang sepertimu memang tidak berguna jika ditempatkan di Divisi 2.
"Intinya begitu, haha! Dan aku juga telah bersumpah! Aku akan mengabdikan seluruh hidupku pada ketua! Terlebih lagi ketua adalah wanita yang manis!"
"A-apa?! Ketua seorang wanita?!" tanya Chelsea dengan kedua mata yang membulat. Ekspektasinya tentang ketua yang selama ini dia bayangkan langsung hancur begitu saja.
"Tentu saja wanita, memangnya siapa yang bilang padamu kalau ketua kita seorang laki-laki? Jangan-jangan kau salah mengira kalau Kepala Divisi 1 adalah ketua kita? Tapi yahh ... wajar saja, banyak anggota baru yang juga salah mengira sepertimu."
Tiba-tiba saja Chelsea berdiri, dia juga tampak begitu panik. "K-kau tadi bilang kalau ketua adalah pemilik bakery ini, kan?"
"Iya," jawab Akira singkat.
"Sial, bodohnya aku!" Chelsea tiba-tiba berlari begitu saja setelah mengumpat. Dia berlari mendekati dinding, di dinding tersebut terdapat banyak piagam penghargaan yang terpajang.
Chelsea melihat piagam yang tersimpan rapi di dalam bingkai pigura itu. Kedua matanya langsung membulat sempurna begitu membaca siapa pemilik piagam penghargaan tersebut.
__ADS_1
"N-Nisa Sania Siwidharma .... j-jadi dia adalah ketua?!" Chelsea tergagap.