Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Buktikan Tekatmu!


__ADS_3


KRIEET ...


Chelsea perlahan membuka pintu besar di hadapannya. Dia memberanikan diri untuk melangkah masuk ke ruangan yang minim pencahayaan tersebut. Begitu melangkah lebih jauh ke dalam, pandangan Chelsea langsung tertuju kepada seseorang yang sedang duduk di balik sebuah meja besar.


"Jadi dia bosnya. Sepertinya dia sudah menyadari keberadaanku, tapi dia tidak bilang apa pun. Mungkin aku harus berinisiatif menyapanya terlebih dulu," gumam Chelsea.


Ketika hanya tinggal berjarak 2 langkah dari meja tersebut, Chelsea langsung membungkuk memberikan penghormatan serta berkata, "Halo, saya-"


"Duduklah!" potong pria itu tanpa melihat wajah Chelsea.


"B-baik," Chelsea langsung duduk di sebuah kursi di depan meja. Dia benar-benar penasaran dengan wajah pria yang duduk di depannya, sejak tadi pria yang memakai topi hitam itu menunduk, seperti sedang membaca sesuatu.


Ketika pandangan mata Chelsea melihat ke arah lain, dia melihat ada begitu banyak catatan yang tertempel di tembok. Sebuah gambar peta wilayah dengan banyak sekali coretan spidol merah sebagai penanda. Di atas catatan itu juga terdapat beberapa foto orang-orang yang juga diberi tanda.


Melihat semua hal itu, insting Chelsea langsung berkata jika foto orang-orang tersebut merupakan foto dari target yang akan dilindungi ataupun dibunuh.


"Leon sudah bercerita tentangmu, jadi alasanmu ingin bergabung demi balas dendam?" tanya pria itu secara tiba-tiba yang membuat Chelsea kaget.


"I-iya, saya ingin balas dendam. Saya tidak tahan saat mengetahui jika pembunuh keluarga saya masih berkeliaran bebas!"


"Lalu? Cara seperti apa yang ingin kau pakai untuk balas dendam?" tanya pria itu lagi.


"Saya ingin jadi bertambah kuat, saya ingin membunuhnya dengan tangan saya sendiri!" jawab Chelsea tanpa keraguan.


"Hm, menarik ... menghentikan pembunuh dengan membunuh." Pria itu lantas mendongak, memperlihatkan seringai bak iblis miliknya.


"...." Chelsea tak berkata sepatah kata pun, dia kaget lantaran ternyata pria itu bukanlah pria paruh baya berjanggut sangar seperti yang dia bayangkan. Tetapi pria itu tampak masih berumur 20 tahunan seperti dirinya.


"Tadi kau bilang ingin bertambah kuat, kuat seperti apa yang kau maksud?" tanya pria itu yang sontak saja membuat Chelsea tersadar dari lamunan.


"S-saya ... ingin bertambah kuat secara fisik maupun mental! Tolong latih saya! Saya janji akan jadi berguna bagi Tuan di masa depan! Saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa!"


Pria itu terdiam sejenak saat memperhatikan kesungguhan dari pandangan mata Chelsea. Sejurus kemudian tiba-tiba dia bangkit dari kursi dan berkata, "Aku akan melakukan tes kecil untukmu terlebih dulu."


Pria itu lantas berjalan ke pinggir, berdiri di belakang Chelsea dan menunjukkan sebuah benda kecil tepat di depan mata.


"I-ini ..." Chelsea sedikit bingung, dia penasaran dengan tes macam apa yang akan diberikan. Lantaran berhubungan dengan benda menggemaskan di depannya yang tidak lain adalah gantungan kunci berbentuk kucing.


"Coba rebut benda ini dariku dengan tangan kosong, waktumu 5 menit. Dimulai dari sekarang!"


Chelsea langsung meraih benda itu, tetapi pria itu berhasil menghindar dengan tangkas. Chelsea juga mulai menganggap tes sederhana ini serius, dia seketika bangkit dari kursi dan berusaha merebut gantungan kunci itu.


"Sial!" keluh Chelsea yang berkali-kali meleset, namun dia belum menyerah.

__ADS_1


"Kau boleh memukulku, itu pun jika kau bisa~" ucap pria itu dengan nada meremehkan, dia justru malah terhibur seakan-akan sedang bermain kucing-kucingan dengan Chelsea.


"Jangan meremehkan saya!" teriak Chelsea yang mulai berusaha lebih keras. Bahkan dia juga mengepalkan dan mengayunkan tangan seperti ingin meninju.


Tetapi sayang, semua tinju maupun tendangan yang dia lontarkan semuanya asal. Mau bagaimana lagi, sejak dulu Chelsea memang cuma belajar untuk menjadi pebisnis yang andal, tak pernah terbayang olehnya jika kemampuan fisik yang jarang dilatih justru sekarang sangat diperlukan.


"Hahh ... haahh ..." Napas Chelsea tersengal-sengal, dia mulai kehabisan tenaga untuk merebut gantungan kunci dari tangan pria itu.


"Baiklah, cukup!" ucap pria itu yang kemudian menyimpan kembali gantungan kunci miliknya.


"Tidak boleh! Saya tidak boleh gagal di sini! Tolong beri saya kesempatan sekali lagi!" protes Chelsea dengan tampang tidak rela.


"Aku tidak bilang jika kau gagal."


"Eh?! T-tapi ... bukankah itu tadi tes awal?" Chelsea kebingungan.


"Iya, tapi bukan tes kau diterima atau tidak. Itu tadi hanya tes menentukan kemampuan dasarmu. Hasilnya kau punya stamina yang lumayan, kekuatan dan akurasi buruk, satu-satunya kelebihanmu ada pada kecepatanmu. Dan sepertinya kau cukup lentur, apa kau berlatih yoga?"


"Benar, saya rutin berlatih yoga. Lalu apakah Tuan akan mengajari saya semua teknik beladiri untuk bertarung?" tanya Chelsea dengan tatapan berharap.


"Heh, semua teknik beladiri. Kau tamak sekali," ucap pria itu dengan nada menyindir.


"Jika tidak semua, maka tolong ajarkan saya teknik beladiri terkuat!"


"Ckck ... kau naif ternyata. Tidak ada yang namanya teknik terkuat, semua itu tergantung siapa orangnya. Dan tidak berguna juga mempelajari semua teknik jika pada akhirnya tidak bisa mengusai semuanya. Lebih baik kau belajar satu, tetapi kau mendalaminya hingga mahir."


"Pffttt ... HAHAHA!!" Pria itu tertawa begitu keras, dia merasa geli dengan semua perkataan yang Chelsea lontarkan. Namun di saat dia berhenti tertawa, tiba-tiba saja dia mengeluarkan sebuah pistol yang telah dia sembunyikan dan langsung mengarahkannya ke kepala Chelsea.


"Maksudmu senjata seperti ini?" tanya pria itu dengan senyuman iblisnya.


Chelsea menelan ludah, dia gugup setengah mati karena baru pertama kali ada senjata yang begitu dekat dengan kepalanya. "B-benar Tuan, tolong ajari saya ...."


"Hahh ..." Pria itu menghela napas lalu menyimpan  kembali pistol miliknya. "Aku akan memberitahu satu peraturan penting. Benda ini bukan mainan, jika kau sudah mengeluarkannya maka hanya tersisa dua pilihan. Kau menembak musuhmu, atau musuhmu yang akan berbalik menembakmu. Singkatnya, senjata ini berbahaya, dan jika sekali keluar maka hidup dan mati dipertaruhkan."


"Memang tidak terbantahkan semua teknik beladiri akan berakhir sia-sia saat berhadapan dengan senjata. Tapi, jika kau mahir maka kesempatanmu untuk menghindar dari tembakan jadi lebih besar. Kita ini manusia, punya tangan dan kaki. Jika kau menggunakannya dengan tepat dan efisien, hal itu sudah bisa menjadi senjata alami. Kau bisa saja membunuh dengan tangan kosong."


"Intinya, kau belum siap menggunakan senjata!" seru pria itu penuh penekanan.


"Lalu, bagaimana Tuan akan melatih saya?" tanya Chelsea dengan tatapan pasrah.


"Cih, aku tidak mau membuang waktuku untuk melatih orang yang bakatnya biasa-biasa saja sepertimu!"


"T-tapi jika Tuan tidak melatih saya, bagaimana saya bisa bertambah kuat? Saya sangat membutuhkan bimbingan!" protes Chelsea yang mulai merasa dipermainkan.


"Aku hanya akan memberikan saran untukmu, selebihnya kau usaha sendiri. Capoeira! Teknik itu cocok untukmu, gunakan kecepatanmu dan latihlah kekuatan tendanganmu. Kau harus berlatih sendiri, atau jika kau bisa ... bujuklah Leon untuk membimbingmu."

__ADS_1


"Ingat ini baik-baik, 25 hari lagi akan ada perekrutan anggota tetap. Jika kau mampu maka bertahanlah sampai saat itu tiba. Aku ingin kau membuktikan padaku sebesar apa tekatmu itu!"


Chelsea mengangguk. "Saya mengerti. Terima kasih atas perhatian Tuan!"


"Ya, kau bisa pergi sekarang!"


"Baik, saya permisi."


Ketika Chelsea sudah pergi, pria itu lantas kembali duduk di kursinya. Sekali lagi dia mengeluarkan gantungan kunci berbentuk kucing itu, dia memandangi benda itu dengan senyuman.


"Ketua ada-ada saja, memberikan hasil prakarya putra kecilnya untukku. Aku penasaran apakah cuma aku yang dapat. Haha, jika aku menceritakan ini pasti bajing*n-bajing*n itu akan iri."


"Tapi ngomong-ngomong, soal wanita itu tadi. Leon bilang padaku jika dia menemukannya dalam keadaan memakai pakaian seragam dari DG CLUB. Artinya wanita itu adalah orangnya Damar si bangs*t itu! Hehe, dia pasti makin kesal saat tahu ada satu benih lumayan yang berhasil aku rebut!"


***


Di sisi lain Chelsea akhirnya bisa bernapas lega lantaran pertemuannya dengan seseorang yang dia anggap sebagai ketua gangster berjalan cukup lancar. Dan di satu sisi masih ada Leon yang penasaran dengan apa saja yang telah dilakukan oleh Chelsea.


Tetapi, karena gengsi akhirnya Leon menggunakan cara lain untuk mengorek informasi dari Chelsea. Yaitu dengan cara berinisiatif untuk mengantar Chelsea pulang.


"Tunggu sebentar! Berhenti!" teriak Chelsea yang seketika membuat Leon mengerem mendadak.


"Ada apa?!" tanya Leon dengan tidak sabar.


"Aku ingin membeli sesuatu!"


Chelsea langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam minimarket. Tak berselang lama kemudian dia kembali sambil membawa sekarung beras seberat 25 kilogram.


"Jadi kau membeli persediaan?" tanya Leon dengan tatapan heran.


"Ya, makanku memang banyak!" jawab Chelsea dengan nada ketus.


"Hahh ... sudahlah," ucap Leon yang terdengar malas.


"Kenapa nada bicaramu begitu? Toh aku tidak pernah memintamu untuk mengantarku pulang! Justru kau yang memaksa! Sebenarnya apa tujuanmu? Apa kau mau merampok rumahku?!"


"Sembarangan! Aku bukan penjahat kelas teri macam itu! Aku ingin tahu di mana rumahmu, karena kau sudah bertemu dengan bosku, jangan harap kau bisa bersembunyi! Aku hanya ingin memastikan jika kau tak punya kesempatan untuk lari!"


"Huh, terserah kau saja! Lagi pula aku bukan pengecut, jadi aku tidak akan lari!"


Meskipun mereka berdua kembali berdebat, Leon tetap mengantarkan Chelsea hingga ke depan pintu rumahnya. Dia benar-benar memastikan jika rumah itu adalah milik Chelsea atau bukan. Sedangkan Chelsea, dia sama sekali tidak berniat untuk mengundang Leon masuk ke dalam dan langsung mengusirnya agar cepat pulang.


Kini Chelsea telah sendirian, dia langsung menaruh sekarung beras itu di dalam rumahnya. Lalu menggeser barang-barang dan perabotan lain untuk memberikan ruangan yang lebih luas.


"Baiklah, mari kita mulai! Tuan menyuruhku untuk melatih kekuatan tendangan, kalau begitu aku akan berlatih dengan menendang karung ini! Tak akan ada yang menghentikanku kecuali kakiku patah!"

__ADS_1


"Tunggulah mami, Luciel! Mami mohon jaga dirimu baik-baik, mami pasti akan segera menemukanmu!"


__ADS_2