
Perbincangan antara Leon dan Chelsea berakhir, tak ada lagi yang mereka bahas. Masing-masing hanya berbicara dalam hati ketika mereka saling bergantian merawat luka. Dan begitu mereka selesai membersihkan semua luka, langsung tidur begitu saja tanpa mengucapkan selamat malam dan tanpa sepatah kata lainnya.
Tanpa terasa hari berlalu dengan begitu cepat, hari ini adalah hari-hari terakhir mereka di atas kapal. Karena keputusan Nisa adalah sesuatu yang mutlak, maka kapal pesiar akan berlabuh sesuai waktu yang telah dia tetapkan. Yaitu malam ini.
Dari pagi hingga menjelang malam, tak ada interaksi khusus yang terjadi di antara mereka berdua. Walaupun Chelsea tak lagi menghindar dari Leon, saat bersamanya ia hanya bicara mengenai hal yang seperlunya saja.
Pukul 23:30 waktu setempat, kapal Violent Cruise telah berlabuh di dermaga Pelabuhan Barat untuk menurunkan para tamu VIP. Di saat-saat ini, Marcell sebagai Mr Oni kembali muncul dan mengawasi dari kejauhan, memastikan jika semua tamu VIP yang penting turun dari kapal dengan aman dan selamat.
"Huft ...." Chelsea menghela napas ketika gilirannya untuk turun dari kapal telah tiba. Baginya, pelayaran di Violent Cruise ini akan menjadi sebuah pengalaman yang tak pernah terlupakan. Di atas kapal ini dia berhasil mengetahui alasan di balik tewasnya sang kakak.
"Ayo, kita turun!" ajak Leon.
"Oke," jawab Chelsea sambil mengangguk.
Leon dan Chelsea turun bersama-sama dari kapal. Mereka menjadi yang terakhir turun, untuk menghindari tatapan kecurigaan dari para tamu VIP yang lainnya. Rasanya lega setelah turun hidup-hidup dari kapal Violent Cruise yang menyesakkan itu. Dan kapal itu segera kembali berlayar tak lama setelah mereka berdua turun.
"Benar-benar tidak menyangka kita bisa kembali dengan selamat. Aku kira Ketua akan benar-benar menghabisi kita di atas kapal itu," ucap Leon sambil memandangi kapal yang berlayar menjauh.
"Iya, kau benar," jawab Chelsea singkat.
"...." Leon membisu seraya melirik sekilas ke arah Chelsea.
Haiss ... ternyata masih saja tak mau berbicara banyak denganku. Apa jangan-jangan dia tersinggung dengan ucapanku semalam? Tetapi aku mengatakan itu semua juga demi kebaikan dirinya sendiri. Semoga saja Chelsea mau mengerti.
Leon tak mau lagi berlama-lama di sana, dia mengajak Chelsea untuk segera kembali ke rumah. Leon menaiki mobilnya yang sebelumnya sudah dia taruh dan sembunyikan di sekitar area Pelabuhan Barat. Berselang kurang lebih satu setengah jam kemudian, akhirnya Leon tiba di wilayah mereka sendiri dan memulangkan Chelsea.
"Terima kasih atas tumpangannya," ucap Chelsea seraya melepaskan sabuk pengaman. Dia tak bercakap lebih banyak lagi dan langsung turun dari mobil Leon.
"Hahh ...." Leon hanya bisa menghela napas serta berharap supaya Chelsea baik-baik saja. Meskipun dia cemas, dia tak kuasa berbuat apa-apa di saat Chelsea begitu dingin dan terkesan menghindari kontak dengannya.
Leon menginjak gas dan melaju dengan kecepatan normal menuju ke rumahnya. Pikirannya teralihkan dan berganti memikirkan adiknya yang sudah dia tinggal selama berhari-hari. Setibanya Leon di rumah, dia melihat keadaan rumah yang tertata rapi. Hanya saja bunga hias di depan rumah sedikit layu.
"Liana," gumam Leon dengan senyuman tipis. Meskipun dia tahu kalau Liana tidak menyiram bunga, dia tetap merasakan kebanggaan tersendiri ketika adiknya itu sudah memiliki perkembangan, sadar jika menjaga rumah tampak bersih adalah hal yang penting.
Leon menaiki tangga dan hendak menuju ke kamarnya sendiri supaya bisa segera membersihkan diri. Tetapi, dia merasa janggal ketika melewati kamar adiknya. Pintu kamar Liana masih terbuka dan terlihat cahaya terang keluar dari kamar.
"Hm? Apa Liana belum tidur?" Leon yang penasaran pun memutuskan untuk masuk ke kamar adiknya. Sebelumnya dia pikir adiknya itu belum tidur lantaran masih bermain dengan ponselnya. Tetapi sekarang dia tahu kalau dia telah salah sangka, Liana saat ini masih terjaga dan menulis catatan di meja belajarnya.
"Eh?! Kakak sudah pulang?!" tanya Liana dengan senyum semringah, dia bahagia karena kepulangan Leon yang mendadak.
"Iya, kakak baru saja sampai rumah. Tapi, ini sudah lewat jam 1 malam. Kenapa kau masih nekat belajar?"
"Ah itu ... karena sebentar lagi akan ada try out. Wali kelas berkata padaku supaya menganggap simulasi ini sebagai ujian yang sebenarnya. Jadi, aku belajar lebih giat supaya hasil try out maupun ujian nanti akan bagus!" jawab Liana seraya mengucek mata.
Leon bisa melihat dengan jelas jika adiknya ini sebenarnya sudah mengantuk. Dia lantas melangkah mendekat dan mengusap kepala Liana dengan lembut. "Giat belajar itu baik, tetapi kau juga harus perhatikan waktunya. Istirahatlah kalau sudah lelah, jangan terlalu memaksakan dirimu. Sekarang tidurlah."
"Tapi ... aku ingin mendapatkan nilai yang bagus. Aku tak mau membuat Kakak kecewa padaku," bantah Liana dengan kepala tertunduk. Dia merasa rendah diri, karena selama ini nilainya di sekolah selalu pas-pasan dengan ketuntasan minimal.
"Justru kakak akan lebih kecewa ketika nanti kau sakit karena terlalu memaksakan diri. Tutup bukumu dan lanjutkan lagi besok. Kau bisa belajar di pagi hari dengan pikiran yang segar setelah tidur nyenyak. Dengan begitu kau akan lebih fokus dan belajarmu jadi lebih efektif. Sekarang tidur, oke?" bujuk Leon dengan nada halus.
"Oke, aku akan segera tidur. Tapi ngomong-ngomong ... bagaimana pekerjaan Kakak? Kakak bilang tugas Kakak adalah melakukan tugas pengawalan di kapal pesiar bersama kak Chelsea. Apakah berada di kapal pesiar itu menyenangkan?" tanya Liana penasaran.
"Kakak di sana karena tugas, Liana. Mana sempat kakak bersenang-senang?" Leon terkekeh.
"Humph! Tapi biarpun di sana karena tugas, Kakak pastinya juga sudah melihat banyak hal yang keren. Apalagi melihat laut yang luas. Jadi ceritakan semua pengalaman itu padaku!"
Sejenak Leon termenung, dia paham mengapa Liana memaksanya bercerita. "Hei, apa kau mau naik kapal pesiar?"
__ADS_1
"Ehmm ... i-iya," jawab Liana dengan wajah merona.
"Baiklah. Kakak janji saat liburan sekolahmu tiba nanti akan mengajakmu jalan-jalan ke kapal pesiar."
"Sungguh?" tanya Liana dengan sorot mata berbinar.
"Iya, sungguh. Mana mungkin kakak bohong padamu."
"Yeyyy! Terima kasih Kak Leon! Aku sayang Kakak!" Liana berteriak girang, bahkan juga memeluk Leon saking senangnya dengan apa yang Leon janjikan.
"...." Leon tersenyum ketika adiknya ini memeluknya dengan erat. Dia tetap bahagia meskipun pelukan Liana ini tidak hati-hati dan mengenai lukanya yang belum sepenuhnya pulih. Namun, sejurus kemudian senyuman Leon menghilang. Karena tiba-tiba teringat pada Chelsea.
Chelsea begitu sulit melepaskan dendam perihal kematian kakaknya. Sekarang aku paham kenapa itu bisa terjadi. Hubungannya dengan William Adinata bisa diibaratkan seperti aku dengan Liana. Andai saja Liana terluka karena ulah seseorang, maka aku juga tidak akan segan untuk membalas dendam pada orang itu.
Akan tetapi, tak peduli seerat apa pun hubungan kakak adik antara Chelsea dan William. Yang aku inginkan hanya keselamatan Chelsea saja, dan itu hanya akan terjadi jika Chelsea mampu melupakan dendamnya. Semoga saja Chelsea bisa melewati ini semua. Sangat disayangkan jika Chelsea harus terluka demi seseorang yang telah tiada.
***
Matahari telah terbit. Pagi hari ini adalah pagi hari yang seperti biasanya, Liana sarapan makanan buatan Leon serta berangkat sekolah diantar oleh Leon. Semuanya berjalan dengan baik, sampai Leon menghubungi Dika sang kakak angkat.
Leon datang ke markas Divisi 2, yaitu CIDA HOME atau biasa disebut sebagai Kedai Pembunuh. Leon datang dengan maksud menemui Dika, bertanya apakah ada tugas baru yang harus dia urus. Namun, jawaban yang Dika berikan terkesan marah pada Leon. Dika berteriak dan mengatakan jika Leon tak perlu lagi ikut campur soal tugas Divisi dan menyuruhnya fokus saja pada percintaannya dengan Chelsea.
Meskipun begitu, Leon tetap diam dan tak membantah. Dia sadar jika apa yang dia lakukan telah membuat orang yang paling dia hormati merasa kecewa. Leon juga mengerti arti dari sikap Dika yang berubah, hal itu menegaskan jika kepercayaan Dika kepadanya telah luntur.
Alhasil, Leon kembali ke rumahnya dan melakukan perkerjaan rumah seperti biasanya. Dan ketika sore hari tiba, Leon juga menjemput Liana pulang ke sekolah.
"Hahh ... hari ini panas sekali!" keluh Liana seraya melemparkan tas ranselnya di sofa ruang tamu. Dia juga langsung menancapkan sedotan ke minuman dingin yang telah Leon belikan di jalan.
Setelah menyeruput dan melegakan dahaga, Liana kembali berkata, "Oh ya, tumben Kak Leon menjemputku lebih awal. Biasanya sedikit terlambat karena menghabiskan waktu dan sibuk berduaan dengan kak Chelsea. Kali ini ada yang berbeda, apa kak Chelsea tidak berkunjung kemari?"
"Ehmm ... ya, seharian ini dia belum kemari. Aku juga belum mendapatkan kabar darinya," jawab Leon dengan nada canggung.
"Tidak, tidak ada masalah yang terjadi. Mungkin saja dia lelah dan butuh istirahat di rumah."
"Yaa ... itu bisa jadi, Kakak saja baru kembali pagi tadi. Pasti kak Chelsea benar-benar lelah," ucap Liana sambil menganggukkan kepala.
Sore sampai malam harinya masih tak ada tanda-tanda Chelsea berkunjung ke rumah Leon. Esok harinya pun sama, Chelsea masih tak menampakkan diri ataupun membalas pesan yang Leon kirimkan serta menjawab telepon darinya. Semua hal ini membuat Leon khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Chelsea, alhasil Leon memutuskan untuk pergi ke rumah Chelsea.
Sesampainya di rumah Chelsea, Leon menjumpai jika pintu rumah itu kebetulan tidak terkunci. Hal ini membuat pikirannya membayangkan macam-macam. Karena dia tahu betul jika Chelsea tidak mungkin seceroboh ini ketika ke luar rumah dan lupa mengunci pintu.
"Chelsea, apa kau ada di rumah?" tanya Leon dengan suara lantang ketika memasuki rumah.
Hening, sama sekali tidak ada suara yang menjawab pertanyaan Leon. Leon mulai bertambah cemas, dia memeriksa setiap ruangan di rumah itu satu per satu. Mulai dari ruang tamu, dapur, garasi, gudang, dan yang terakhir tinggal kamar.
Leon sempat ragu ketika hendak membuka pintu kamar Chelsea. Namun, demi mendapatkan kepastian maka Leon memantapkan diri untuk membuka pintu itu.
"Chelsea?!"
Benar saja, alangkah terkejutnya Leon begitu melihat Chelsea yang pada siang hari ini terbaring di atas ranjang. Saat dia mendekat, dia menyadari jika Chelsea berkeringat dingin serta meracau tidak jelas. Dan begitu dia menyentuh dahi Chelsea, tubuhnya juga panas.
"Sial, jangan-jangan ini pengaruh luka itu!"
Leon ingat betul jika sebelumnya Chelsea sempat mendapatkan luka di lengan atas tangan kirinya. Pikirnya, demam ini mungkin saja pengaruh dari luka itu yang mengalami infeksi. Leon mengguncangkan tubuh Chelsea untuk membuatnya bangun, tetapi Chelsea masih saja menutup mata dan meracau tidak jelas.
"Kalau begitu maafkan aku!" Leon merobek baju yang Chelsea pakai. Dan benar saja, dia mendapati jika luka di tangan Chelsea sudah sedikit bengkak dan kemerahan. Tebakannya benar jika demam ini adalah akibat dari luka sayatan tersebut.
Meskipun Leon kaget, dia tak panik dan kebingungan. Berkat pengalamannya selama ini, dia sudah paham bagaimana caranya merawat luka yang menunjukkan gejala infeksi. Leon bergegas pergi ke apotek terdekat, membeli obat antibiotik, salep, obat pereda nyeri dan pereda demam.
Setelah Leon kembali dari apotek, dia segera merawat luka di tangan Chelsea. Mulai dari membersihkan lukanya dan mengompres, hingga mengoleskan obat antibiotik dan salep yang mempercepat penyembuhan.
__ADS_1
"Haiss ... Chelsea, kenapa kau bisa ceroboh begini?" gumam Leon ketika telah selesai memberikan penanganan awal untuk luka itu. Karena tak mungkin baginya untuk memakaikan Chelsea baju, Leon hanya menutupi tubuh Chelsea dengan selimut supaya dia tetap hangat.
Berselang sekitar setengah jam kemudian, Chelsea mulai merasakan efek dari obat dan perlahan membuka matanya. Sekarang dia sudah merasa begitu baik ketika demamnya berangsur turun.
"Uhmm ...." Ketika pandangan Chelsea telah jelas, dia sedikit kaget karena menyadari jika baju yang ia pakai telah dirobek, luka di tangannya juga sudah dirawat. Padahal dia tak pernah ingat melakukan ini semua.
TAK TAK TAK!
"Hm? Sepertinya suara berisik itu asalnya dari dapur. Apakah yang melakukan semua ini adalah Leon?"
Chelsea menyibakkan selimut, turun dari ranjang dan lekas mengambil baju dari lemari untuk menutupi tubuhnya. Dia turun ke bawah dan hendak memeriksa suara berisik itu. Ketika dia tiba di dapur, dia terkejut karena memang Leon-lah yang menjadi sumber suara berisik tadi.
"Eh? Sejak kapan kau bangun?" tanya Leon yang terkejut dengan kedatangan Chelsea.
"Baru saja ...." jawab Chelsea dengan suara pelan. Dia masih belum punya cukup energi untuk berbicara keras.
"Baguslah kalau kau sudah bangun. Tadinya aku mau mengantarkan makanan ke kamarmu, tapi sekarang kau sudah datang sendiri ke sini. Jadi duduklah, sebentar lagi akan siap!" pinta Leon yang kemudian kembali fokus mengaduk sesuatu di dalam panci.
"Iya," jawab Chelsea yang lantas duduk di meja makan. Dia masih tak menyangka jika Leon akan datang tanpa diminta, merawat lukanya dan bahkan sekarang juga memasakkan makanan untuknya.
Tak berselang lama kemudian makanan yang dimasak oleh Leon telah siap, lalu menyajikan makanan itu ke atas meja makan. Yang Leon sajikan adalah semangkuk sup ayam dan segelas teh herbal yang dicampur dengan madu.
"Ayo, makanlah, supaya kau lekas membaik!" pinta Leon yang kemudian turut duduk di sebelah Chelsea.
"Terima kasih," jawab Chelsea sambil mengangguk. Dia terlalu malu untuk meminta disuapi oleh Leon, akhirnya dia memakan sup itu sendiri dengan tangannya yang masih tampak gemetaran.
"Biarkan aku menyuapimu!" ucap Leon menawarkan diri.
Chelsea merespons hanya dengan mengangguk, dia sedikit malu namun juga enggan untuk menolak ketika Leon berinisiatif menyuapinya. Ketika Chelsea menyerahkan sendok makan itu ke tangan Leon, kemudian Leon langsung menyuapinya sup sedikit demi sedikit.
Ketika sup maupun teh herbal telah Chelsea habiskan, Leon segera mengambil peralatan makan yang kotor itu untuk dicuci. Setelah Leon kembali padanya lagi, dia lantas berkata, "Bagaimana? Apa aku sudah merasa lebih baik?"
"Iya, terima kasih Leon. Semua ini berkat dirimu."
Leon tersenyum lembut, ikut merasa senang ketika kekasihnya ini sudah tampak jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. "Baguslah. Tetapi ... bagaimana bisa kau ceroboh begini? Apa kau lupa untuk merawat lukamu sendiri?"
"Maaf, aku memang ceroboh. Belakangan ini terlalu banyak yang mengganggu pikiranku, tinggal tersisa empat hari lagi sebelum aku mendatangi markas utama."
Leon menghela napas, lalu meraih kedua tangan Chelsea dan menggenggamnya dengan penuh kehangatan. "Chelsea ... jangan terlalu mencemaskan soal itu. Bukannya ini yang selama ini kau inginkan? Kau pernah bilang padaku jika kau ingin menjalani hidupmu dengan bebas. Maka jangan lagi pikirkan balas dendam, pikirkan soal kebaikan dirimu sendiri. Setelah kau mengundurkan diri nanti, kau akan terbebas dari aturan organisasi yang juga mengekangmu selama ini."
"Sebenarnya itu juga yang aku takutkan. Jika aku berhenti dari organisasi ini, otomatis aku akan kembali ke kehidupanku yang sebelumnya. Aku tak mau jika aku harus kembali menjadi boneka ayahku. Aku tak mau terkekang lagi dan tak bisa melakukan apa yang sesuai dengan keinginanku sendiri."
Leon termenung sejenak ketika melihat ekspresi wajah Chelsea yang tampak sendu. Dia juga mengetahui jika Chelsea benar-benar memiliki trauma dan ingin lari dari kehidupannya semula.
"Bagaimana jika setelah kau mengundurkan diri, kau hidup saja denganku?"
"H-hidup denganmu ... maksudmu kau mau menikahiku?!" tanya Chelsea dengan tatapan lekat-lekat. Berharap jika Leon tak menarik ucapannya.
"Ehmm ... yaa, bisa diartikan begitu." Leon tersipu malu, membuang wajahnya ke samping. Dia tak menyangka jika tawarannya malah berubah menjadi lamaran dadakan.
"Tapi Leon ... jika aku menikah denganmu, bukannya sama saja aku menjadi beban tambahan bagimu? Biaya pengeluaranmu sehari-hari akan bertambah, tanggung jawabmu jadi berlipat ganda, belum lagi bagaimana nanti aku berhadapan dengan keluargaku saat aku mengenalkanmu pada mereka? Biarpun aku benci ayahku, aku masih punya ibuku. Restu dari orang tua juga penting, kan? Pernikahan itu adalah hal sakral."
"A-aku ...." Leon tergagap, dia tak tahu harus menjawab apa ketika Chelsea membombardir dirinya dengan pertanyaan.
"Maafkan aku Chelsea, aku tak berpikir sampai ke sana. Yang aku pikirkan, dengan hidup bersamaku aku akan berjanji tidak akan mengekang hidupmu. Aku tidak berpikir kalau yang aku katakan ternyata bukan solusi yang tepat, rupanya hanya membuat semakin rumit. Jika nanti berhadapan dengan keluargamu yang terpandang itu, mustahil juga mereka mau menerima menantu yang bekerja sebagai gangster."
"Tetapi bukan berarti aku tidak serius terhadapmu! Aku siap dengan segala konsekuensinya jika kau bersedia hidup bersamaku!"
Sejenak Chelsea terdiam, lalu dia malah tertawa karena melihat Leon yang saat ini salah tingkah tampak lucu baginya. "Pffttt ... baiklah, aku paham maksud baikmu. Tawaran hidup bersama akan aku pertimbangkan."
__ADS_1
Tentu saja pasti akan aku pertimbangan, mana mungkin aku akan melepaskan kesempatan untuk memiliki orang yang begitu perhatian dan peduli padaku di setiap waktu. Jika nanti aku mendapatkan takdir baik setelah kembali dari markas utama, aku akan benar-benar menerima tawaran dari Leon ini!