
Pagi hari ini sedikit berbeda dari biasanya. Sejak tadi Chelsea tampak sibuk di dapur, dia sedang membuat kue cookies kesukaan Luciel. Dia sangat merindukan Luciel, dan dengan cara-cara sederhana semacam ini, setidaknya dia bisa mengobati sedikit rasa rindunya.
Begitu kue cookies itu telah dikeluarkan dari oven, Chelsea langsung bergumam, "Ah, sepertinya aku membuat terlalu banyak. Emm ... sepertinya lebih baik aku bagikan ke orang lain!"
Chelsea diam dan berpikir, dan orang yang pertama kali dia pikirkan adalah Leon. "Kemarin Leon sudah mengantarku pulang, aku berikan saja kue cookies ini padanya. Tapi mungkinkah Leon mau menerima kue cookies ini? Ah sudahlah, jika dia menolak maka aku tinggal berikan saja pada Liana!"
Chelsea lalu memasukkan kue-kue yang sudah jadi itu ke dalam stoples. Dia bermaksud untuk mengantarkan sebagian kue cookies itu ke rumah Leon. Setibanya Chelsea di sana, dia masih agak ragu untuk mengutarakan maksud baiknya.
TING TONG!
Chelsea memencet bel pintu, dan tak berselang lama kemudian pintu itu dibuka. Orang yang membukan pintu itu adalah Liana.
"Eh, Kak Mayra! Ayo Kak, masuk saja!" sambut Liana dengan senyum ramah.
"Iya," jawab Chelsea yang kemudian segera masuk ke dalam.
Begitu Chelsea duduk di kursi ruang tamu, Liana lantas berkata, "Tunggu sebentar ya Kak, aku buatkan minum dulu!"
"Tidak usah Liana! Tidak perlu repot-repot, aku di sini cuma sebentar." Chelsea lantas merogoh kantong tas kertas yang dia bawa, dia mengambil sebuah stoples berisi kue cookies dan meletakkannya di atas meja.
"Aku ke sini karena ingin memberikan ini. Ehmm ... kemarin Leon mengantarku pulang, jadi kue ini anggap saja sebagai rasa terima kasihku."
"Wahh ... ternyata Kak Mayra bisa buat kue!" Liana mendekat, membuka tutup stoples itu dan mengambil sebuah cookies untuk dicicipi. "Yum! Rasanya pun enak!"
"Haha, terima kasih ...." Chelsea kemudian menoleh ke kanan kiri, lalu dengan sedikit tersipu dia pun berkata, "Liana, ngomong-ngomong ... aku belum melihat kakakmu, di mana dia?"
"Eh?! Memangnya Kak Leon tidak mengabarimu?" tanya Liana yang kemudian hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Chelsea.
Liana menepuk jidatnya sendiri, lalu dengan tampang penuh kekesalan dia pun berkata, "Kak Leon itu bagaimana sih! Masa orang sepenting Kak Mayra tidak dikabari!"
"Emm ... memangnya ada apa?" tanya Chelsea dengan nada sedikit canggung, dia merasa aneh lantaran dianggap oleh Liana sebagai orang penting.
"Kak Leon hari ini pergi melakukan tugas ke luar negeri, dan katanya paling sebentar dia akan pergi selama seminggu. Tapi bisa-biasanya Kak Leon yang tidak peka itu malah mengabaikan Kak Mayra! Kak Mayra tolong maafkan kakakku yang bodoh itu, ya! Aku jamin meskipun dia di luar negeri, dia tidak akan melirik wanita lain!"
"Ah, i-itu ..." Chelsea tak tahu harus menjawab apa, dia memalingkan wajahnya begitu saja. Untuk keluar dari suasana canggung ini, tiba-tiba saja dia berdiri. "Aku harus pergi!"
"Eh?! Kenapa buru-buru, kak?" tanya Liana dengan tatapan heran.
"Aku sudah ada janji ingin bertemu seseorang! Aku permisi," ucap Chelsea yang langsung berjalan pergi.
"Hati-hati di jalan kak! Dan terima kasih atas kue nya!"
Setelah Chelsea pergi, kini Liana seorang diri. Dia kembali mengambil sebuah cookies dari stoples dan memakannya dengan lahap.
"Enak sekali, mungkin jika Kak Mayra senggang ... aku bisa memintanya untuk mengajariku membuat cookies seenak ini! Nanti kue buatanku akan aku berikan ke Ian saat hari valentine! Hahaha, Ian pasti akan lebih menyukaiku!" ucapnya dengan perasaan berbunga-bunga.
KLAK!
Tiba-tiba saja pintu dibuka dari luar, Liana yang menyadari itu langsung mengubah sikapnya. "Apa ada sesuatu yang ketinggalan Kak Mayra? Ehh ... Kak Leon?! Bukannya Kakak harusnya sudah berangkat?" tanya Liana yang terkejut dengan kedatangan kakaknya sendiri.
"Aku masih ada perlu sesuatu di rumah. Dan apa maksudmu dengan Mayra? Apa dia ke sini?"
"Iya, belum lama dia pergi ... Memangnya Kak Leon tidak berpapasan di jalan dengannya?"
"Tidak! Dan ada perlu apa wanita itu kemari?" tanya Leon lagi.
__ADS_1
"Ini!" jawab Liana sambil menunjukkan stoples kue cookies ke arah Leon. "Kak Mayra membuat ini khusus untuk Kakak!"
"...." Leon membisu, dia hendak pergi ke kamarnya. Namun sang adik dengan cepat mencegat langkahnya. "Minggir!"
"Tidak mau!" bantah Liana.
"Kakak bilang minggir! Tolong jangan begini, di luar rumah ada atasan kakak yang sudah menunggu!"
"Humph! Kakak ini keterlaluan! Hanya memikirkan soal perkerjaan saja, setidaknya bawalah kue ini! Kak Mayra sudah susah payah membuatnya dan mengantar ke sini, jadi terima kue ini untuk menghargai usahanya!"
"Ck, iya-iya!" Leon dengan malas akhirnya terpaksa menerima kue tersebut. Lalu langsung berjalan melewati Liana untuk mengambil sesuatu di kamarnya.
Tak berselang lama Leon pun kembali, saat dia ingin keluar rumah tiba-tiba saja langkahnya kembali berhenti. Dia melihat Liana yang tampak begitu bahagia sedang bicara di telepon dengan pacarnya dan berbincang mesra. Leon yang tak tahan pun mendekat, merampas ponsel Liana dan memutus sambungan telepon itu. Bahkan dia juga melempar ponsel Liana ke atas sofa begitu saja.
"Kakak! Kak Leon ini sebenarnya kenapa?!" tanya Liana seakan tidak terima.
"Kau ini yang sebenarnya kenapa?! Kakakmu ini mau pergi ke luar negeri! Tapi kau justru sibuk dengan pacarmu dan mengabaikan aku!"
"Humph, kita kan sudah berpamitan tadi ... Masa mau dilakukan lagi?" tanya Liana dengan wajah tanpa dosa.
"Wah ... kau ini, sebenarnya siapa yang lebih penting bagimu? Aku atau pacarmu itu?" tanya Leon dengan tatapan tajam.
"...." Sejenak Liana membisu, kemudian dia menundukkan kepala. Dia merasa jika ini pertama kalinya Leon bersikap keras padanya. "Jika bertanya soal siapa yang lebih penting, tentu saja itu Kakak ... Tapi, sekarang Kak Leon banyak kesibukan dan sering meninggalkan aku sendiri ..."
"Aku tahu jika Kakak sibuk karena pekerjaan, aku tahu jika itu juga demi aku. Tapi, tidak bolehkah aku mencari seseorang yang lain untuk menemaniku saat Kakak tidak ada?"
"Huh, jangan membodohi Kakak dengan menunjukkan tampangmu ini! Jika kau memang kesepian, maka carilah teman yang lain! Tidak harus selalu dengan pacarmu! Awas saja jika kalian berdua bermesraan di rumah saat aku tidak ada!" ucap Leon penuh penekanan. Kali ini dia tidak merasa iba pada adiknya.
"Kak Leon terlalu banyak mengatur! Jangan samakan aku dengan Kakak! Mencari teman itu tidak semudah yang Kakak kira! Kebanyakan dari mereka berteman demi memanfaatkan aku, mereka tidak ada yang tulus padaku! Jika Kakak memang sayang padaku, maka carikan aku teman! Cepatlah menikah agar aku punya kakak ipar untuk menemaniku di rumah!" teriak Liana yang tak mau terus disalahkan.
"K-kau ...!" Leon kehabisan kata-kata. Dia tidak habis pikir jika adiknya justru malah memintanya untuk menikah.
"...." Leon membisu, dia juga memegang kepalanya yang mulai terasa pening. Karena merasa tak bisa lagi berdebat melawan Liana, akhirnya dia pun pergi begitu saja.
"Hati-hati, kembalilah dengan selamat!" ucap Liana sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya, Kakak pasti akan kembali ...." jawab Leon dengan senyuman tipis.
Setelah keluar dari rumah, Leon pun segera menaiki sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dia duduk di kursi belakang, dan di sebelahnya ada seseorang pria yang juga sangat dia hormati.
"Maafkan aku, adikku sedikit rewel," ucap Leon dengan nada sopan.
"Tidak apa-apa, ayo jalan!" ucap pria itu, dan sang sopir pun segera menjalankan mobil.
Pria itu melirik ke arah Leon, dia tampak tertarik pada sebuah stoples berisi kue cookies yang sedang Leon genggam. "Apa adikmu yang membuatnya?"
"Ah, ini ... benar, adikku yang membuatnya! Ini hasil percobaan pertamanya!" jawab Leon yang berbohong, dia malu mengakui jika kue tersebut sebenarnya adalah hadiah pemberian dari seseorang.
"Ohh, begitu ya," ucap pria itu singkat.
"Ehmm ... mau mencobanya? Waktu persiapan tadi pagi-pagi sekali, Bos Yhonsen belum sarapan, kan?" Leon menawarkan asal, dia ingin memecah suasana canggung.
"Boleh."
Leon pun segera membuka tutup stoples, dia mengulurkan stoples itu agar Yhonsen bisa mengambil sendiri seberapa banyak kue cookies yang dia mau.
Saat Yhonsen mencicipi satu, tiba-tiba saja matanya membulat. "Ini ... enak sekali! Bahkan bisa dibandingkan dengan buatan ketua!"
__ADS_1
"Eh, benarkah?" Leon yang penasaran pun akhirnya juga mencicipi. Dan benar saja, rasa dari kue cookies itu benar-benar enak.
"Adik kecilmu hebat sekali, bisa membuat kue seenak ini!" puji Yhonsen yang dengan lahap menghabiskan kue cookies yang tersisa di tangannya.
"Terima kasih atas pujiannya, adikku pasti senang sekali jika aku bilang padanya kalau kue buatannya mendapat pujian darimu," jawab Leon dengan senyum canggung.
"Haha, jangan dilebih-lebihkan! Pujian darimu jauh lebih berharga baginya! Kalau bisa suruh dia belajar memasak lagi, agar nanti saat aku menikahinya maka dia sudah mahir!"
Leon tersentak. "Eh?! A-apa? Bos Yhonsen mau menikahi adik saya?"
"Astaga, aku cuma bercanda. Jangan dianggap serius. Tapi memang benar jika seleraku adalah cari istri yang pintar memasak! Aku sudah muak merasakan makanan luar negeri yang rasanya aneh! Jika kau mengenal seorang wanita yang pintar memasak, tolong kenalkan dia padaku, ya!" ucap Yhonsen dengan begitu entengnya.
"Baiklah ..." jawab Leon sedikit tidak rela.
Apa-apaan ini?! Mayra benar-benar wanita yang berbahaya! Bahkan lewat kue cookies yang dia buat saja, tanpa menunjukkan wajahnya, dia bisa menarik perhatian seorang Family lagi! Untung saja aku berbohong jika kue ini buatan Liana.
"Habiskan saja!" ucap Yhonsen tiba-tiba.
"Eh?" Leon menatap heran.
"Aku sudah sarapan, kau habiskan saja kue itu di perjalanan. Kita akan pergi ke luar negeri untuk mengerjakan misi pembunuhan menteri pertahanan negara A. Kau bisa santai sedikit, lagi pula ini bukan pertama kali bagimu ditugaskan bersamaku."
"Baiklah Bos Yhonsen, terima kasih atas kelonggarannya."
Yhonsen, itulah nama pria yang kini sedang duduk bersebelahan dengan Leon. Yhonsen adalah salah satu dari sembilan Family, dia juga berasal dari Divisi 2. Yhonsen adalah Family yang bertanggung jawab untuk mengurus Kedai Pembunuh cabang luar negeri. Dan kali ini Leon kembali dititipkan padanya, sesuai arahan dari Dika yang mengurus cabang dalam negeri.
Berbeda halnya dengan para Family yang lain. Yhonsen cenderung lebih sering berada di luar negeri, dia hanya mau kembali hanya jika ada sesuatu yang berhubungan langsung dengan ketua. Seperti halnya acara perekrutan anggota tetap yang gagal berlangsung mulus sebelumnya, kali ini dia kembali bertugas ke luar negeri dengan membawa perasaan kecewa.
***
Chelsea yang telah mengantarkan kue cookies ke rumah Leon, kini sekarang sedang berada di sebuah kafe. Dia tampak duduk bersama seorang pria, namun pria itu terlihat begitu tertutup.
Pria yang duduk sambil mengenakan topi dan masker itu pun berkata, "Apakah kau benar wanita yang membuat janji denganku semalam?"
"Iya, itu aku. Dan aku ada perlu denganmu! Aku punya pekerjaan untukmu! Aku memerlukan paparazi sepertimu untuk membuntuti seseorang!"
Chelsea tiba-tiba merogoh sakunya, dia mengulurkan selembar foto seseorang. Orang yang ada di foto tersebut tidak lain adalah David Damian. Mudah bagi Chelsea mendapatkan gambarnya, lantaran gambar aktor terkenal sepertinya sudah banyak beredar di segala media.
"Eh?! David Damian?" tanya pria itu kebingungan.
"Ya, bisakah kau melakukannya?"
"Aku bisa. Paparazi sepertiku memang bekerja untuk membuntuti pantat para artis. Hanya saja ... dia itu sangat populer, banyak paparazi yang sudah mencoba untuk membuntutinya. Tapi kebanyakan dari mereka hanya mendapatkan foto yang wajar-wajar saja. Paling foto-foto itu hanya laku di kalangan penggemar berat yang gila. Apa kau juga salah satu penggemarnya?"
"Tidak, tapi aku mau menghancurkan kariernya!"
Pria itu tersentak. "Apa? Tapi dia itu terkenal dengan sifatnya yang baik, namanya sangat bersih sampai sekarang! Dan jumlah penggemarnya juga makin banyak! Apa kau serius mau menghancurkannya?"
"Tentu saja, aku yakin aku bisa!" jawab Chelsea penuh keyakinan.
°
°
°
Mampir juga ke karya teman author~
__ADS_1