
"Keisha, Luciel, sudah ya makan camilannya. Ayo sarapan, setelah itu berangkat sekolah," bujuk Nisa dengan senyuman kepada kedua bocah yang masih mengunyah jajanan manis berupa pie cokelat.
"Baik Bunda," jawab Keisha yang langsung mendekat ke arah bunda nya.
"Baik Mami," jawab Luciel yang kemudian mengikuti Keisha.
"Mari Ibu mertua, mari sarapan bersama kami," ajak Nisa pada Nyonya Ratna.
"Ah, terima kasih atas tawarannya. Tapi, aku sudah sarapan, dan Natasha juga," jawab Nyonya Ratna sambil melirik ke arah menantu kesayangannya.
"Ibu benar Kakak ipar, kami berdua sudah sarapan. Oleh-oleh juga sudah kami serahkan pada Kakak, jadi sekarang kami permisi pulang dulu."
"Oh, kenapa buru-buru pergi? Apa kalian tidak ingin menemui Keyran dulu? Tuan rumah ini belum tahu soal kedatangan kalian, loh. Padahal jarang-jarang kalian datang ke sini. Dan apakah Ibu mertua tidak ingin menyapa anak ibu sebelum pergi?" tanya Nisa dengan nada sedikit menyindir.
"Ahh ... baiklah, menyapa sebentar juga tidak masalah," jawab Nyonya Ratna dengan senyum canggung.
Sejak dulu memang seperti ini, Nyonya Ratna sebisa mungkin berusaha menghindar dari pandangan Keyran. Tentu hubungan yang tidak harmonis ini ada penyebabnya, dan itu adalah akibat dari sebuah kejadian di masa lalu.
Dulu, Nyonya Ratna sebenarnya hanya seorang pelayan yang bekerja di kediaman utama. Suatu ketika dia tiba-tiba mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas, dan setelah 3 tahun berlalu dia tiba-tiba kembali lagi ke kediaman dengan membawa seorang anak laki-laki, anak itu tidak lain adalah Daniel.
Alasannya kembali karena dia tidak punya harapan lain lagi. Saat itu Daniel yang baru berumur 2 tahun memiliki keadaan yang tidak baik, dia sakit dan sangat butuh pengobatan sesegera mungkin. Karena dia tidak punya cukup uang untuk berobat, akhirnya dia mengaku jika anaknya adalah hasil dari kesalahan satu malam yang dia lakukan bersama Muchtar Kartawijaya.
Awalnya semua orang tidak percaya, karena kala itu Tuan Muchtar juga dikenal sebagai seorang pria yang sangat menyayangi istrinya. Namun, setelah dilakukan tes DNA ternyata hasilnya menunjukkan jika Daniel benar-benar adalah anak biologisnya. Sudah terlanjur seperti itu Tuan Muchtar akhirnya mau mengakui kesalahannya, dia berdalih jika dia melakukan kesalahan itu secara tidak sengaja karena mabuk.
Nyonya Kenanga, ibunya Keyran dan istri sah saat itu begitu syok mengetahui tindakan tercela suaminya. Pertengkaran pun tidak bisa dihindari, dan kenyataan pahit itu membuat tubuh nyonya Kenanga menjadi lemah, dia sering dibuat pingsan dan mudah sakit karena mentalnya yang tertekan.
Namun, sebagai seorang ayah, Tuan Muchtar juga tidak bisa mengabaikan anaknya yang sakit begitu saja. Dia akhirnya mau mengakui Daniel sebagai anaknya dan juga membiayai seluruh biaya pengobatan Daniel sampai sembuh. Meskipun begitu, Tuan Muchtar sama sekali tidak ada niatan untuk memperistri Ratna. Di satu sisi Ratna pun juga tidak menuntut, dia paham betul jika statusnya terlalu rendah dan hina untuk jadi istri seorang konglomerat.
Akan tetapi, sesuatu yang tidak dibayangkan terjadi. Nyonya Kenanga berlapang dada dan membujuk suaminya untuk menikahi Ratna. Mungkin karena Kenanga pada dasarnya adalah orang yang baik, dia mengerti bagaimana penderitaan Ratna sebagai sesama perempuan. Kenanga seperti itu karena merasa tidak adil jika Ratna tidak menikah, karena bagaimanapun suaminya telah melecehkan wanita itu sampai memiliki anak. Dan dia juga berterima kasih pada Ratna karena tidak melaporkan perbuatan tercela suaminya kepada pihak berwajib.
Berbeda halnya dengan Keyran, saat itu Keyran masih berusia 5 tahun dan hanya bertindak sesuka hati yang dia anggap benar. Dia tidak pernah mengakui Nyonya Ratna sebagai ibu tirinya dan Daniel sebagai adiknya. Bahkan dia juga kerap berlaku kasar dan buruk terhadap Daniel. Keyran menganggap jika kehadiran kedua orang itu adalah sumber masalah yang telah membuat ibu tercintanya sering menangis dan jatuh sakit.
Hingga suatu ketika terjadi sebuah tragedi. Nyonya Kenanga meninggal dunia saat Keyran menginjak usia 7 tahun. Sejak saat itu dia terpuruk karena tak lagi merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. Dan hal tersebut juga merupakan luka dalam bagi Tuan Muchtar. Sejak saat itu dia selalu memperlakukan Keyran lebih spesial dan memberikan perhatian lebih. Hingga dia sendiri tidak menyadari jika hal itu telah menimbulkan kecemburuan pada diri Daniel.
Itulah mengapa sejak kecil kedua anak yang kini sudah dewasa itu tak pernah akur. Bahkan sampai sekarang Keyran tak pernah memanggil Nyonya Ratna sebagai 'ibu' melainkan hanya sebatas 'tante'. Keyran bahkan pernah tidak mengizinkan anaknya untuk menyebut Nyonya Ratna sebagai 'nenek', tetapi untungnya Nisa berhasil membujuknya. Dan ini juga merupakan alasan utama mengapa Keyran tak pernah mau menginap lama di kediaman utama, dia enggan melihat wajah orang yang tidak dia sukai.
Di satu sisi Nyonya Ratna juga sama. Hingga kini dia merasa jika dirinya sama sekali tidak berhak mencampuri urusan Keyran. Dia sendiri juga sering menasihati Daniel untuk tidak memperkeruh hubungan yang sejak awal memang tidak pernah baik ini. Dia merasa tidak ada masalah antar keduanya sudah lebih dari cukup, oleh karena itu dia juga membatasi diri dengan Keyran agar anak tirinya itu tidak merasa terusik dengan kehadirannya.
"Mari, meskipun Ibu mertua dan Natasha sudah sarapan. Kalian masih bisa mencicipi buah-buahan, aku sendiri juga merasa tidak enak jika tidak menyambut tamu dengan baik. Mari ikuti aku, jangan sungkan," ucap Nisa yang mempersilakan kedua orang itu untuk mengikutinya ke ruang makan.
Setelah mereka tiba di ruang makan, Keyran terkejut dengan kedatangan ibu tirinya dan adik iparnya yang tiba-tiba. Belum sempat Keyran mengajukan pertanyaan, Nisa sudah mendekat padanya dan berbisik, "Mereka datang karena ingin mengantar oleh-oleh. Dan aku juga yang mengajak mereka ke sini."
"Ohh, begitu."
"Ayaahhh!" teriak Keisha yang begitu tiba langsung berlari ke arah Keyran. "Ayah sudah selesai siap-siap?"
"Iya, ayah sudah menunggu Keisha dan yang lain untuk sarapan bersama. Tapi, ini artinya Keisha sudah tidak merajuk pada ayah lagi, kan?"
Keisha langsung mengangguk. "Em! Keisha tidak merajuk lagi, dan lain kali Ayah jangan mengagetkan Keisha saat minum. Leher Keisha sakit karena tersedak."
"Baik, baik ... Ayah sudah tahu salah. Ayah minta maaf, ya. Tapi ... tunggu sebentar!" Tiba-tiba Keyran mengambil tisu yang ada di atas meja makan. Dia menggunakan tisu itu untuk mengelap sisa cokelat yang ada di ujung bibir putra kecilnya.
"Keisha habis makan apa sampai berlepotan begini?"
"Keisha dan Luciel habis makan pie cokelat oleh-oleh dari tante Natasha. Bunda sudah kasih izin kok, jadi Keisha boleh makan. Pie nya enak sekali, iya kan Luciel?"
"Iya, benar enak sekali," jawab Luciel sambil mengangguk.
"Oke, kalau begitu sekarang Keisha harus makan nasi dan sarapan dulu! Agar nanti saat pelajaran Keisha dan Luciel tidak kelaparan!"
"Iya, Ayah!" jawab kedua anak itu bersamaan.
Mereka semua pun duduk dan mulai menyantap sarapan mereka. Sedangkan Natasha dan Nyonya Ratna, untuk menghargai niat baik Nisa akhirnya mereka setuju untuk duduk lebih lama. Mereka berdua memakan buah-buahan yang dikupaskan oleh pelayan seperti apa yang Nisa sarankan.
Selang beberapa saat kemudian Keyran sudah selesai menyantap sarapannya lebih dulu daripada yang lain. Sambil menatap ke arah Natasha, dia pun berkata, "Natasha."
"Y-ya?! Ada apa Kakak ipar?" tanya Natasha dengan gugup bercampur kaget. Setiap kali dia berhadapan dengan Keyran, entah mengapa nyalinya langsung menciut. Baginya, aura Keyran terkesan lebih menekan ketimbang Daniel saat sedang marah.
"Siang ini aku ada rapat, aku tidak bisa hadir di sekolah untuk mendampingi Luciel. Aku ingin meminta bantuanmu untuk menggantikan aku, apa kau bisa?" tanya Keyran dengan tatapan datar.
"O-ohh ternyata soal itu ... bisa, aku bisa! Kakak ipar tidak perlu khawatir, aku bisa meluangkan waktuku siang nanti. Dan sebenarnya Luciel sudah mengatakannya sendiri padaku tadi," jawab Natasha dengan perasaan lega. Dia lega karena ternyata Keyran hanya menanyakan hal sederhana padanya.
"Oh ya, benarkah itu Luciel?" tanya Keyran pada Luciel yang kini sedang duduk di sebelah kirinya.
"Iya Ayah, Luciel sudah mengatakannya sendiri," jawab Luciel sambil meringis.
"Bagus, Luciel tidak malu dan berani minta tolong pada orang lain," puji Keyran sambil mengusap kepala Luciel dengan lembut.
"Emm ... jika pagi ini Kakak ipar juga sibuk, aku bisa mengantarkan anak-anak berangkat ke sekolah!" celetuk Natasha yang tiba-tiba menawarkan diri.
"Tidak perlu, akulah ibu mereka dan aku masih sanggup mengantar anak-anakku berangkat sekolah sendiri!" pungkas Nisa yang langsung menyadari maksud dari tujuan Natasha.
__ADS_1
"Aduh, Kakak ipar ini ... aku kan cuma menawarkan. Lagi pula setelah dari sini nanti aku ada keperluan lain yang arahnya sejalan dengan tempat sekolah anak-anak," jawab Natasha yang bermaksud menunjukkan jika niatnya memang murni untuk membantu.
"Keperluan apa? Apa itu lagi-lagi belanja? Apa kau tidak punya alasan lain untuk menghamburkan uangmu?" cecar Nisa lagi yang bermaksud menyindir jika yang Natasha bisa hanya membuang-buang uang.
"Haha, Kakak ipar bisa saja ... Aku bermaksud pergi ke salon langgananku untuk melakukan perawatan rutin. Bagiku sama sekali bukan menghamburkan uang namanya jika untuk merawat diri. Jika Kakak ipar ada waktu senggang, mungkin lain kali kita bisa ke salon bersama. Pasti belakangan ini Kakak ipar tidak punya waktu karena sibuk mengurus anak, saranku sesibuk apa pun jangan sampai lupa merawat diri ..." balas Natasha yang tak mau kalah.
"Wah ... wah ... aku terkesan karena adik ipar begitu menaruh perhatian padaku. Kau benar, menjadi ibu yang baik bagi anak-anak memang menyita banyak waktu dan membuatku sibuk. Tetapi tidak perlu mencemaskan soal itu, aku sudah punya suami yang super perhatian. Aku tidak perlu datang ke salon, tapi beauty therapist sendiri yang datang ke sini. Jadi aku tak perlu keluar rumah untuk merawat diri. Zaman sudah maju dan semakin berkembang, jadi pikiran pun juga tidak boleh jalan di tempat," ucap Nisa dengan tatapan menusuk.
"Ehem!" Nyonya Ratna sengaja batuk untuk mengakhiri pertikaian saling menyindir di antara kedua menantunya.
"Maaf, anggur ini sedikit asam," ucapnya yang bermaksud mencari alasan kenapa dia tiba-tiba batuk.
"Hm?" Keisha yang duduk di sebelah Nyonya Ratna langsung mengambil sebuah anggur dan memakannya. "Tidak asam kok, Nenek. Anggur ini manis ..." ucapnya dengan tatapan yang polos.
"Ahaha ... mungkin karena umur nenek yang sudah tua jadi rasanya jadi lain ..." jawab Nyonya Ratna dengan senyuman canggung.
"Ssttt ... Keisha, ayo lanjut makan! Nanti akan Ayah antar ke sekolah sekalian berangkat ke kantor," ucap Keyran yang bermaksud memecah suasana canggung ini.
"Baik, Ayah ..." jawab Keisha yang kemudian langsung kembali melanjutkan makan.
"Luciel sudah selesai!" sahut Luciel sambil menaruh sendok ke atas piringnya yang sudah tidak bersisa makanan di atasnya.
"Wahh ... sudah habis, Luciel ambil tas sekolah di kamar dulu, ya? Nanti tinggal berangkat!" pinta Nisa.
"Iya Mami," jawab Luciel sambil mengangguk.
"Luciel, Luciel ... tolong ambilkan tas sekolah punya Keisha juga!" pinta Keisha yang buru-buru mengunyah makanannya.
"Oke!"
Setelah mereka semua selesai sarapan, Keyran juga berangkat ke kantor sekalian mengantar anak-anak ke sekolah. Dan bersamaan dengan itu pula, Nyonya Ratna dan Natasha juga permisi untuk pulang ke kediaman.
"Hahh ... akhirnya mereka semua pergi!" Nisa menghela napas lega. Dia yang kini sedang berada di teras depan rumah lalu kembali masuk ke dalam.
Saat Nisa melihat Bibi Rinn yang tengah membereskan meja makan, tiba-tiba saja dia berucap, "Bibi Rinn, piring dan semua peralatan makan yang barusan dipakai oleh kedua tamu itu dibuang saja!"
"Baik, Nyonya ..." jawab Bibi Rinn dengan nada patuh. Selama ini dia memang sudah hafal dengan sikap Nisa maupun Keyran. Jadi dia tidak merasa heran lagi saat majikannya menyuruh membuang peralatan mahal yang semuanya diimpor itu.
***
Siang hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Natasha akhirnya tiba. Dia sangat bersemangat menjalankan rencananya untuk semakin menjadi lebih dekat dan akrab dengan Luciel. Bahkan saking semangatnya, dia adalah orang yang pertama kali datang di antara para orang tua murid yang lain.
Setelah jam pelajaran anak-anak berakhir, harusnya mereka sudah boleh pulang. Itu akan terjadi jika pada hari biasanya, tetapi kali ini mereka semua belum boleh pulang. Sesuai arahan dari para guru, para murid dan orang tua berkumpul di gedung aula pertemuan untuk memulai kegiatan latihan pementasan.
"Bundamu belum datang, Keisha?" tanya Natasha yang diam-diam merasa senang dengan kesusahan anak kecil itu.
"Belum, bisakah tante menelepon bunda agar cepat datang kemari?" tanya Keisha dengan tatapan berharap.
"Ckck, kakak ipar itu bagaimana sih? Masa membiarkanmu menunggu. Baiklah, tante akan coba menghubunginya, itu pun jika dia mau mengangkatnya," gerutu Natasha sambil mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia sengaja berkata begitu agar membuat Keisha memiliki kesan buruk terhadap Nisa.
DRAP DRAP DRAP
"Maaf aku terlambat," ucap Nisa yang tiba-tiba muncul sambil berlari secepat mungkin. Setelah itu dia juga meminta maaf kepada para guru dan orang tua murid lain karena telah membuatnya menunggu.
"Bundaaa ... kenapa baru sampai?" tanya Keisha dengan wajah dan kedua mata yang memerah. Tadinya dia sudah hampir menangis lantaran khawatir jika Nisa benar-benar tidak datang.
"Maafkan Bunda sayang, tapi ban mobilnya bocor."
Sial, tadinya aku cuma ingin mengecek sebentar kondisi di lapangan. Tapi siapa sangka aku malah dihadang oleh orang-orang yang mencoba untuk membunuhku. Untung saja ada Marcell yang lokasinya tidak jauh dari sana, jadinya aku bisa percayakan untuk mengurus mayat orang-orang itu padanya.
"Mami, ini noda apa?" tanya Luciel sambil menunjuk sebuah noda merah yang ada pada ujung lengan baju Nisa.
"Emm ... i-ini ... tadi itu Mami tidak hati-hati, jadi jari Mami tertusuk jarum saat mau memakai peniti," jawab Nisa asal.
Astaga, aku ceroboh. Darah orang tadi ada yang tertinggal di bajuku. Untung saja Luciel sudah melihatnya, bisa gawat kalau Keyran yang lihat. Bisa-bisa aku nanti diinterogasi dan dihukum lagi olehnya, pokoknya nanti begitu sampai rumah aku harus cepat-cepat ganti baju.
"Apakah sakit?" tanya Luciel dan Keisha bersamaan. Kedua bocah polos itu benar-benar khawatir pada Nisa.
"Sudah tidak apa-apa sayang ... cuma luka kecil, sekarang sudah sembuh," jawab Nisa sambil tersenyum.
"Mohon perhatian ya untuk semuanya, karena sekarang sudah lengkap maka latihan pentas drama musikal akan dimulai. Pertama-tama, saya selaku wali kelas mengucapkan terima kasih banyak kepada para wali murid yang sudah berkenan untuk hadir dan meluangkan waktunya."
"Sesuai keputusan dari pihak sekolah, kelas kita mendapatkan jatah untuk menampilkan pertunjukan drama musikal. Karena pertunjukan ini spesial untuk memperingati hari orang tua, maka para orang tua juga akan ikut berperan mendampingi anak-anak. Harapannya adalah agar hubungan antara anak dan orang tua semakin terjalin erat."
"Kali ini kita akan mulai dari pembagian peran terlebih dulu. Harap para orang tua mengerti, soalnya peran setiap murid sudah saya putuskan. Tetapi tenang saja, saya tidak pilih kasih dalam memberikan peran untuk murid. Murid yang cenderung suka bernyanyi maka akan saya berikan peran yang sesuai, murid yang suka menari juga akan saya berikan yang sesuai. Jadi pembagian peran sudah saya sesuaikan dengan kemampuan masing-masing murid."
Setelah guru wali kelas memberikan penjelasan serta pengertian, dia pun membagikan kertas yang sudah ditulisi oleh peran apa yang akan dimainkan oleh setiap murid. Karena kecerdasan Keisha dan Luciel ada di atas rata-rata, keduanya sama-sama mendapatkan peran yang penting.
"Bu guru, narator itu apa? Kenapa Luciel dapat peran jadi narator?" tanya Luciel.
"Narator adalah orang yang menyampaikan cerita drama kepada penonton. Luciel dipilih jadi narator karena Luciel lancar dalam membaca," jawab sang guru.
"Wahh ... hebat Luciel!" puji Natasha.
__ADS_1
"Iya, Bu. Kemampuan membaca Luciel paling menonjol di kelas. Jadi, Anda nanti akan berbagi dalam membacakan narasi cerita dengan Luciel," jelas bu guru pada Natasha.
"Baik, pasti akan aku lakukan dengan baik," ucap Natasha dengan senyuman ramah.
Haha, syukurlah mendapat bagian jadi narator. Untung saja aku tidak dapat bagian untuk memerankan kambing atau hewan semacamnya.
"Bu guru, kenapa Keisha jadi pemeran utama? Maksudnya apa?" tanya Keisha penasaran.
"Pemeran utama adalah pemeran yang sering muncul di atas panggung. Dan Keisha juga harus berakting dengan baik, soalnya itu menentukan keberhasilan pentas drama."
"Bunda, Keisha saya pilih jadi pemeran utama karena kemampuan Keisha dalam menghafal sangat baik. Karena pasti bagi pemeran utama mendapat banyak dialog yang perlu dihafalkan. Jadi nanti bunda tolong menyesuaikan, ya," jelas bu guru pada Nisa.
"Baik, bu guru," jawab Nisa dengan senyum palsu.
Sudah aku duga bakal jadi begini. Kemampuan menghafal Keisha memang baik, bahkan terlalu baik. Aku jadi harus bersikap selalu hati-hati ketika bicara saat ada dia. Aku jadi tidak leluasa karena Keisha akan mengingat semuanya entah itu hal baik maupun buruk.
"Baiklah, pembagian peran sudah selesai. Kalau begitu akan saya umumkan drama apa yang akan kita pentaskan nanti! Yaitu ... kisah Malin Kundang!"
Seketika semua orang langsung heboh. Memangnya siapa yang tidak mengenal kisah dongeng nusantara tentang Malin Kundang si anak durhaka? Tentu saja mereka semua tahu, dan para orang tua murid menganggap jika tema itu cocok untuk memperingati hari orang tua. Mengajarkan pada anak-anak jika durhaka pada orang tua itu salah.
"Keisha tidak mau!" teriak Keisha yang seketika mengagetkan Bu guru.
"Eh? Kenapa Keisha tidak mau?" tanya Bu guru.
"Keisha tidak mau jadi anak durhaka lalu dikutuk jadi batu," jawab Keisha sambil menggeleng.
"Keisha, ini kan hanya drama. Jadi tidak sungguhan, Keisha hanya perlu berpura-pura," bujuknya.
"Pokoknya tidak mau!" jawab Keisha yang kemudian memeluk kaki Nisa dengan erat. "Keisha sangat sayang pada bunda! Keisha tidak mau jadi durhaka pada bunda! Meski cuma pura-pura Keisha juga tidak mau!"
"Haha ... mohon pengertiannya ya, Bu guru. Keisha memang seperti ini. Emm ... bagaimana jika cerita drama nya saja yang diubah? Lagi pula belum terlambat jika diubah sekarang," ucap Nisa dengan senyum canggung.
"Ah, boleh juga ... apakah ada yang mau usul?" tanya Bu guru sambil memandang para wali murid yang lain.
"Bagaimana kalau drama putri dan pangeran? Putri Salju dan 7 Kurcaci!" ucap salah satu wanita yang merupakan ibu dari Amalia.
"Eitss ... tidak bisa! Itu tidak pantas diperankan oleh anak kecil! Di akhir si putri akan bangun dari tidur karena dicium oleh pangeran! Aku tidak mau anakku yang masih kecil berakting ciuman! Kalau kau ingin bermain peran itu, cium saja anakmu sendiri!" celetuk Nisa dengan ketus.
"Huh, aku cuma memberi usul. Kalau tidak setuju, tidak perlu sengit seperti itu!" balasnya.
"Harap tenang, mari kita cari solusinya tanpa keributan," ucap sang guru berusaha meredakan suasana.
"Emm ... apakah Bunda nya Keisha punya usulan? Bunda yang paling tahu soal apa yang disukai Keisha," tanya Bu guru pada Nisa.
"Anakku paling suka petualangan! Jadi aku pikir ... mainkan saja drama bajak laut! Kita bertualang bersama-sama mencari harta karun!"
"Horeee! Keisha mau harta karun!" teriak Keisha sambil melompat.
"Luciel juga mau! Luciel mau melawan gurita raksasa!" sahut Luciel yang mulai bersemangat.
"Amalia juga mau berburu emas!"
"Aku juga mau!"
"Tidak bisa!" sahut Natasha yang sontak saja membuat semua anak-anak yang tadinya bersemangat kini beralih menatapnya.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Nisa.
"Astaga Kakak ipar, drama bajak laut tidak cocok untuk memperingati hari orang tua. Meskipun banyak anak-anak yang suka, memang apa pengajarannya? Bajak laut itu kan suka menjarah, dan itu tidak baik. Kalau memberi usulan setidaknya tolong yang masuk akal," jelas Natasha dengan tatapan sinis.
"Ya sudah kalau tidak masuk akal, lalu kau punya usul apa?" tanya Nisa dengan nada malas.
"Sebentar, biar aku pikirkan ..." Sejenak Natasha tertegun dan berpikir. Lalu setelahnya dia berkata, "Bu guru, akhir-akhir ini di beberapa daerah terjadi bencana banjir, kan?"
"Iya, betul. Memangnya Anda ingin mengangkat tema itu?"
"Benar, aku ingin memberi usul mengenai drama mencintai lingkungan! Kita bisa membuat pertumbuhan pohon sebagai jalan utama cerita. Selain mempererat hubungan orang tua dan anak, kita juga bisa memberikan edukasi mengenai perkembangan tumbuhan dan kesadaran untuk merawat lingkungan," jelas Natasha.
"Hmmm ... sepertinya menarik, anak-anak bisa berperan jadi pohon, bunga, matahari, kupu-kupu dan yang lainnya. Bagaimana dengan para wali murid yang lain?"
Para orang tua itu pun saling bertukar pendapat satu sama lain. Dan tampaknya mereka semua setuju dengan usulan dari Natasha.
"Baiklah, kalau begitu maka akan saya buat naskah dan perkembangan ceritanya!" jawab Bu guru yang mulai antusias.
"Terima kasih atas usulan Tante Natasha!" ucap Luciel sambil meringis.
"Iya, terima kasih Tante!" sahut Keisha.
"Terima kasih Tante Natasha!"
"Tante Natasha hebat!"
"Haha, ini bukan apa-apa." Natasha tersenyum semringah, dia senang karena usulannya diterima dengan baik oleh semua orang. Terlebih lagi Luciel juga menyanjungnya, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Natasha. Dan ada satu hal lagi yang membuatnya lebih bahagia, yaitu kali ini dia merasa bisa lebih unggul dari Nisa.
__ADS_1