
Ayah adalah sosok yang paling jahat dan tidak berguna. Itulah jawaban yang diberikan oleh mami Mayra yang sampai saat ini masih Luciel ingat. Sejak bayi dia tidak pernah bertemu dengan sosok ayah kandungnya. Meskipun selama ini dia dihantui oleh rasa penasaran, dia memutuskan untuk tetap mempercayai apa yang mami Mayra katakan.
Dan sekarang, sosok ayah kandung telah muncul di hadapan Luciel. Perasaan anak kecil yang murni itu terasa bercampur aduk, dia senang sekaligus marah. "Apa Om Daniel memang ayah kandung Luciel?" tanya Luciel yang ingin memastikan sekali lagi.
"Iya, Luciel. Wajah kita saja begitu mirip, sudah pasti kau adalah anakku. Ini papa, sayang ..." ucap Daniel seraya ingin menggapai wajah putra kecilnya itu. Namun sayang, Luciel melangkah mundur untuk menghindari sentuhannya.
"Kalau memang Luciel adalah anak Om Daniel, kenapa baru mencari Luciel sekarang?! Luciel selama ini malu diejek tidak punya ayah oleh teman-teman ... katanya Luciel anak yang dibuang. Mami Mayra juga sering diejek oleh orang lain. Mami selama ini bekerja keras sendirian untuk Luciel ...."
Luciel menangis, dia meluapkan semua perasaannya. Selama ini dia juga selalu bohong pada mami Mayra jika dia tidak apa-apa tidak punya ayah. Tetapi hati kecilnya tak lagi bisa berbohong sekarang, dia selalu merasa iri dengan anak-anak lain yang mempunyai ayah yang menyayangi mereka.
"Papa jahat!! Mami Mayra benar! Papa kandung Luciel memang jahat!!"
Seketika Daniel merasakan nyeri di dadanya, seperti sesak dan teriris. Dia tak pernah menyangka jika Luciel akan berteriak memaki dirinya. Perlahan dia meraih kedua tangan kecil Luciel. Lalu dengan suara gemetar berkata, "Papa memang bukan orang yang baik, papa masih jauh dari kata sempurna. Tetapi, papa tidak pernah membuang Luciel. Papa sangat menyayangimu, Nak ...."
"Bohong!!!" teriak Luciel lagi.
"Papa tidak bohong. Papa selalu menyayangimu dan baik papa maupun mama tak pernah berniat untuk membuangmu. Ada sebuah kejadian yang memisahkanmu dari kami. Kami sangat bahagia saat kau lahir, kami membuat pesta yang meriah untuk merayakan kehadiranmu. Tapi sayangnya pesta itu berubah jadi bencana, terjadi kebakaran yang menghanguskan segalanya. Kami pikir kau sudah tiada karena kebakaran saat itu," jelas Daniel yang berharap agar Luciel mau mempercayainya.
"Papa benar, sayang. Kejadian kebakaran itulah yang memisahkanmu dari kami. Saat itu kau masih sangat kecil, kau baru berusia dua minggu. Kami pikir kau tiada dan kakakku, Chelsea, yang kau sebut sebagai mami Mayra itu juga kami kira telah tiada. Itulah mengapa kami tidak pernah mencarimu, Luciel. Karena kami tak pernah tahu jika kau masih ada di dunia ini, mama dan papa tidak pernah membuang Luciel ..." lanjut Natasha yang bermaksud menguatkan alasan Daniel sebelumnya.
"...." Luciel masih menangis, semua yang dikatakan oleh Daniel dan Natasha terlalu berat untuk dia cerna. Dia masih sulit mempercayai jika selama ini dirinya tidak dicari karena sudah dianggap meninggal.
"Hahh ...." Nisa menghela napas. Tiba-tiba dia beranjak dari sofa, berjalan mendekati Luciel dan memegang bahunya.
"Mami Nisa ..." rengek Luciel sambil menatap ke arah Nisa.
Nisa tersenyum tipis, lalu mengusap air mata di pipi Luciel sambil berkata, "Kenapa Luciel menangis? Harusnya Luciel senang, sekarang Luciel telah bertemu dengan orang tua asli Luciel. Sekarang Luciel tidak akan diejek oleh siapa-siapa lagi."
"Apa itu semua benar?" tanya Luciel lagi, memang saat ini Nisa adalah orang yang paling dia percayai.
"Iya, sayang. Semua itu benar, papa dan mama Luciel tidak berbohong soal kebakaran itu. Ayo, berikan pelukan pada mereka!" bujuk Nisa yang kemudian perlahan bergeser mundur untuk memberikan ruang lebih bagi keluarga yang baru lengkap itu.
"Papa ... Mama ..." panggil Luciel dengan suara lirih.
Daniel dan Natasha langsung memeluk putra kecil mereka yang selama ini mereka kira telah tiada. Tangis haru pecah begitu saja, mereka berdua begitu bahagia, ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi orang tua.
"Papa berhutang banyak padamu, sayang. Setelah ini papa janji! Papa janji akan membuat Luciel jadi anak paling bahagia! Papa janji tidak akan membiarkan Luciel terpisah dari kami lagi!" ungkap Daniel dalam tangis bahagianya. Dia sangat bahagia karena akhirnya Luciel mau menerimanya.
Keluarga kecil itu telah berpisah selama 6 tahun lamanya. Mereka tidak pernah menyangka jika akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang mengejutkan seperti ini. Terlebih lagi bagi Daniel, selama ini dia selalu memupuk benih kebencian dengan Keyran maupun Nisa. Dia tidak habis pikir jika berkat orang yang dia benci, ternyata dia bisa bersatu dengan putra semata wayangnya kembali.
Pelukan yang mereka lakukan berlangsung cukup lama. Ada kerinduan yang tertumpuk selama 6 tahun lamanya. Mereka baru berhenti berpelukan ketika tangisan Luciel telah berhenti.
"Mama, kenapa mami Mayra bilang pada Luciel kalau ayah adalah sosok yang paling jahat?" tanya Luciel dengan tatapan polosnya, diam-diam dia juga merasa khawatir jika suatu hari nanti Daniel akan bersikap jahat padanya.
"Sayang ... itu tidak benar. Ayah itu selalu menyayangi anak-anak mereka. Salama ini Luciel mendapatkan perlakukan yang baik dari ayah Keyran, kan? Papa asli Luciel pun begitu, pasti akan memperlakukannya Luciel dengan baik dan menyayangi Luciel sepenuh hati," jawab Natasha yang tidak ingin anaknya memiliki rasa trauma atau ketakutan pada sosok ayah.
"Tapi kenapa mami Mayra bohong?" tanya Luciel lagi.
"Kebohongan ini demi kebaikan Luciel, mungkin supaya Luciel tidak merindukan sosok ayah. Tetapi yang jelas, Luciel tidak perlu khawatir pada apa pun! Mama dan papa akan terus menyayangi Luciel!"
Sebenarnya yang dibilang kak Chelsea tidak sepenuhnya salah. Aku yakin alasan kakak bilang begitu karena rasa traumanya pada ayah. Harus aku akui kalau cara ayah mendidik kami memang keras. Tetapi sudahlah, yang sudah terjadi tak perlu diulangi lagi. Jadikan ini sebagai pelajaran, yang terpenting sekarang aku dan Daniel harus fokus pada Luciel. Soal kak Chelsea sepertinya aku tak perlu terlalu khawatir, dia kakak yang tangguh, aku yakin jika dia saat ini baik-baik saja di luar sana.
"Mama benar, Luciel. Jadi Luciel tidak perlu khawatir pada kami. Sekarang Luciel mau kan ikut papa dan mama pulang ke rumah?" bujuk Daniel sekali lagi.
__ADS_1
"Sekarang?" tanya Luciel.
"Iya, mulai sekarang Luciel akan tinggal bersama papa dan mama."
Mendadak ekspresi wajah Luciel jadi murung. Lalu dengan ragu dia berkata, "Papa ... Luciel sudah membuat sebuah janji dengan Keisha. Luciel tidak mau mengingkari janji itu."
"Oh ya, memangnya janji seperti apa yang telah Luciel buat dengan Keisha?" tanya Daniel.
"Luciel dan Keisha sama-sama berjanji kalau kami akan menjadi saudara selamanya. Janji itu dibuat saat Luciel jadi anak angkatnya mami Nisa. Tapi kalau Luciel ikut papa dan mama, artinya Luciel harus melanggar janji persaudaraan."
"Haha, itu tidak akan terjadi! Luciel selamanya akan tetap bersaudara dengan Keisha!" sahut Tuan Muchtar yang menertawakan pemikiran polos cucunya.
"Benarkah itu, Kakek?" tanya Luciel sambil menatap sungguh-sungguh pada kakeknya.
"Tentu saja, tali persaudaraan kalian tidak akan putus hanya karena berbeda orang tua. Kalian kan punya kakek yang sama, yaitu aku! Jadi kalian berdua selamanya akan tetap bersaudara!" jawab Tuan Muchtar dengan wajah bahagia. Dia bahagia karena di masa tuanya ini akhirnya bisa melihat kedua putranya sudah bahagia dengan keluarga kecil mereka masing-masing.
"Syukurlah Luciel tidak akan melanggar janji! Baiklah, kalau begitu Luciel mau ikut papa dan mama pulang!" ucap Luciel dengan senyum berseri.
Semua orang dewasa yang ada di sana tersenyum. Meskipun Nisa mengalami kegagalan dalam rencananya untuk menjadikan Luciel sebagai penerus, di dalam lubuk hatinya dia juga merasa lega lantaran kini Luciel sudah menemukan orang tua aslinya. Dan terlebih lagi, akhirnya dia sudah bebas dari tuduhan yang selalu dilontarkan Daniel jika dirinyalah yang menyebabkan kebakaran 6 tahun lalu. Permusuhan di antara mereka juga semakin menjadi-jadi karena alasan itu. Dan sekarang semuanya telah jelas, hanya tinggal menemukan dan meminta penjelasan dari Chelsea maka kesalahpahaman ini akan segera berakhir.
"Apa Luciel tidak mau berpamitan pada Keisha dulu?" tanya Keyran.
"Tentu saja Luciel harus berpamitan dengan Keisha! Luciel tidak mau Keisha sedih dan salah paham pada Luciel!" jawab Luciel tanpa keraguan.
"Baiklah, kalau begitu Keisha akan kemari dan berpamitan denganmu."
Keyran akhirnya meminta pada pelayan untuk memanggil Keisha yang saat ini masih berada di kamar. Namun, begitu sampai di sana, ada sesuatu yang salah dengan Keisha. Sejak memasuki ruang tamu, dia terus memasang tampang garang kepada Tuan Muchtar.
"Keisha marah sama Kakek!" ucap Keisha yang kemudian memalingkan wajahnya. Seakan sudah muak melihat muka kakeknya.
"Tadi kakek cuma minta Luciel yang datang kemari! Lalu sekarang baru meminta Keisha untuk kemari! Kakek pilih kasih! Kakek cuma sayang pada Luciel! Pokoknya Keisha marah pada Kakek!"
"Keisha salah paham ... tadi Luciel dipanggil kakek karena ada urusan penting," jelas Luciel yang tidak mau jika saudaranya itu terus marah.
"Urusan penting apa? Anak kecil tidak punya urusan penting! Pasti Luciel diberi hadiah secara rahasia sama kakek! Tapi Keisha tidak dikasih! Sekarang Keisha juga marah sama Luciel!" keluh Keisha dengan tampang cemberut.
"Keisha jangan marah sama Luciel, padahal Luciel mau berpamitan sama Keisha sebelum Luciel pergi," jelas Luciel.
Seketika ekspresi Keisha berubah menjadi khawatir. "Luciel mau pergi ke mana? Luciel mau meninggalkan Keisha? Tapi kan kita saudara ...."
"Keisha, mulai malam ini Luciel tidak akan tinggal bersama Keisha lagi. Luciel akan tinggal bersama papa dan mama asli Luciel," jawab Luciel sambil menggandeng tangan Daniel dan Natasha bersamaan. Bermaksud mengisyaratkan pada Keisha jika papa dan mama yang dia maksud adalah mereka.
"Hah?! Tidak mungkin kalau Om Daniel dan Tante Natasha adalah orang tua Luciel yang asli! Om dan Tante mau menculik Luciel, ya!" bantah Keisha dengan tatapan curiga.
"Tidak Keisha, Keisha salah paham ... mereka benar-benar adalah orang tua asli Luciel. Semua buktinya juga sudah ada, dan sekarang Luciel mau berpamitan dengan Keisha."
Keisha langsung menengok pada Nisa. Dengan raut wajah sedih dia pun berkata, "Bunda, apa Keisha tidak akan bertemu dengan Luciel lagi?"
"Tidak, sayang. Tentu saja kalian masih bisa bertemu, kalian bisa bertemu di sekolah. Dan jika rindu maka Keisha bisa main ke rumah kakek untuk bertemu dan bermain dengan Luciel," jawab Nisa dengan senyuman.
Keisha kembali menatap Luciel, tiba-tiba saja dia menangis dan memeluk Luciel erat-erat. "Luciel jangan lupakan Keisha, ya! Keisha akan sering main ke rumah kakek, dan Luciel juga harus sering-sering main ke rumah Keisha agar kita bisa main bersama!"
"Iya, Keisha ... Luciel pasti akan sering-sering main ke sini. Keisha jangan lupa gosok gigi ya sebelum tidur. Soalnya Luciel sudah tidak bisa lagi mengingatkan Keisha," jawab Luciel yang kemudian membalas pelukan dari saudaranya.
"Astaga, padahal kediaman utama tidak terlalu jauh dari sini," gumam Nisa yang seketika mendapat cubitan dari suaminya.
__ADS_1
"Sshhh ... diamlah, mereka masih anak-anak!"
"Iya-iya, aku tahu."
Cih, sudah dipastikan jika mereka sama-sama gagal melewati seleksiku. Calon penerusku tidak boleh jadi orang yang lembek dan mudah menangis.
"Apa kau barusan merencanakan sesuatu yang jahat?" tanya Keyran dengan tatapan curiga. Sudah lama dia bersama dengan Nisa, jadi dia sudah hafal dengan jalan pemikiran istrinya.
"Tidak, kau jangan asal menuduh!" sanggah Nisa yang langsung memalingkan muka.
Setelah Luciel dan Keisha selesai mengucapkan kalimat perpisahan. Luciel pun beralih mendekati Nisa, dia merentangkan tangan kecilnya seakan ingin meminta pelukan dari Nisa.
Nisa tersenyum lembut lalu sedikit merendah agar Luciel bisa mencapainya untuk memberikan pelukan. "Luciel baik-baik ya, dengarkan setiap nasihat mama dan papa. Dan sekarang Luciel tidak perlu memanggilku mami Nisa lagi, cukup panggil tante Nisa saja agar tidak rumit."
"Iya, terima kasih banyak karena saat itu telah menolong Luciel .... Jika Tante Nisa tidak menolong Luciel, maka Luciel tidak mungkin bisa bertemu dengan orang tua asli Luciel. Luciel juga berterima kasih karena sudah menyayangi Luciel seperti Tante menyayangi Keisha," ucapnya dengan nada gemetar. Jauh di lubuk hatinya dia merasa sedikit tidak rela berpisah dengan Nisa, selama ini sudah banyak hal menyenangkan yang telah mereka lalui bersama.
Setelah berpelukan dengan Nisa, Luciel pun beralih memeluk Keyran. Sama halnya seperti Nisa, selama ini Keyran sudah berperan penting dalam mengubah persepsinya soal ayah.
"Terima kasih sudah menyayangi Luciel selama ini, Luciel pamit ...."
"Iya, Luciel jadi anak yang baik ya. Dan jangan lupa untuk belajar. Nanti sebelum Luciel pergi, Luciel bisa kan mengemasi peralatan sekolah sendiri?" tanya Keyran dengan nada lembut.
"Iya, Luciel bisa! Luciel mau jadi anak yang mandiri!"
Setelah Luciel selesai berpamitan dengan semua orang, tak lupa juga dia membawa peralatan beserta seragam sekolahnya. Dia teramat senang lantaran sudah menemukan keluarganya yang sebenarnya. Sedangkan di satu sisi masih ada Keisha yang merasa tidak rela, akhirnya dia bersikeras untuk menahan Luciel beserta yang lainnya dengan cara meminta mereka makan malam bersama di rumahnya.
Setelah makan malam selesai, Tuan Muchtar langsung mengajak Daniel dan keluarga kecilnya untuk segera pergi ke kediaman utama. Sesampainya di kediaman utama, Luciel juga mendapatkan sambutan hangat dari Nyonya Ratna. Nyonya Ratna merasa senang sekali lantaran firasatnya selama ini ternyata benar adanya.
Seumur hidup Natasha dan Daniel, ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi mereka. Putra kecil mereka yang telah berpisah selama 6 tahun lamanya akhirnya kembali ke pelukan mereka. Kini keluarga kecil mereka telah utuh, dan semua kebahagiaan ini butuh 6 tahun untuk membuatnya terwujud.
Malam ini adalah malam yang istimewa bagi Luciel. Karena malam ini dia tidur bersama dengan orang tua aslinya. Ada papa di sebelah kanannya, lalu ada mama di sebelah kirinya.
"Astaga, dulu kau kecil sekali. Dan sekarang aku tidak menyangka kau sudah sebesar ini," ucap Natasha yang berlinang air mata. Dia kembali bernostalgia ketika mengingat kejadian yang dulu, di saat Luciel masih bayi dan juga berada di tengah-tengah mereka seperti ini.
"Mama jangan menangis ..." ucap Luciel dengan tangan kecilnya yang menghapus air mata di pipi Natasha.
"Iya, sayang. Maafkan mama, mama tidak akan menangis lagi," jawab Natasha yang kemudian memberikan kecupan di kening Luciel.
"Hmm ... haruskah kita mengubah namamu? Nama aslimu sebenarnya adalah Samuel, kira-kira anak papa lebih suka yang mana?" tanya Daniel.
"Aku lebih suka Luciel. Sejak dulu aku dipanggil dengan nama itu, rasanya aneh jika tiba-tiba Luciel berubah nama. Papa tidak keberatan, kan?"
"Tentu tidak, sayang. Baiklah kalau begitu, mulai sekarang namamu adalah Luciel Kartawijaya. Jika ada orang yang bertanya siapa orang tuamu, Luciel harus menjawab jika nama papa mu adalah Daniel Kartawijaya!" seru Daniel penuh kebanggaan.
"Dan mama mu adalah Natasha Faradilla Adinata!" celetuk Natasha tak mau kalah.
"Baiklah, Luciel akan mengingat nama papa dan mama!" jawab Luciel sambil meringis.
"Hoamm ...." Luciel menguap.
"Tidurlah sayang, besok Luciel kan masih harus sekolah," ucap Natasha sambil mengelus kepala Luciel dengan penuh kelembutan.
"Iya, selamat malam Papa, selamat malam Mama ...."
Luciel menutup kedua matanya. Perasaan ini entah kenapa terasa begitu hangat dan nyaman. Tidur bersama dengan orang tua yang lengkap, hal ini tak pernah terpikirkan oleh Luciel. Dia merasa jika Tuhan telah mengabulkan keinginan terbesarnya yang selalu dia ucapkan dalam doa.
__ADS_1
Bahkan tak butuh waktu yang lama bagi Luciel untuk terlelap. Sungguh, saat ini dia merasa seperti anak yang paling bahagia sedunia.