
DRRTT DRRTT
DRRTT DRRTT
Ponsel Nisa yang berada di atas meja tiba-tiba berdering, dia yang kini sedang menyusui anaknya langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo, bagaimana hasilnya?" tanya Nisa pada seseorang di telepon.
"Anak yang Bos minta untuk diselidiki itu, hasilnya menunjukkan jika dia tidak terdaftar sebagai penduduk di negara ini. Kemungkinan besar dia adalah imigran ilegal."
"Apa? Imigran ilegal?!" tanya Nisa seakan tidak percaya.
"Benar, jika Bos mau menyelidiki lebih lanjut. Maka aku akan memeriksa semua catatan penerbangan maupun pelayaran gelap yang terjadi dalam sebulan terakhir."
"Tidak perlu, jika seperti ini justru kemungkinan Luciel memang sengaja dibuang semakin besar. Bisa saja orang tuanya sudah melarikan diri ke negara lain lagi. Tapi, aku punya satu tugas lagi untukmu! Urus dokumen soal adopsi!"
"Apa?! Bos sungguh mau menjadikannya anak angkat?! Tapi bagaimana dengan suamimu?!"
"Urus saja apa yang aku minta! Lagi pula bertambah satu anak lagi tidak masalah," jawab Nisa acuh tak acuh.
"Bos ... jangan-jangan kau berniat untuk menjadikan anak itu sebagai penerusmu?" tanya pria di telepon itu dengan nada curiga.
Nisa menyeringai, "Masih terlalu cepat untuk memutuskan hal itu. Kau kerjakan saja apa yang aku minta, lebih cepat lebih baik!"
"Baik, Boss."
***
Masih di dalam ruangan gelap yang penuh dengan kehampaan. Chelsea tak tahu sudah berapa lama dia terkurung di dalam penjara bawah tanah. Sama sekali tak ada cahaya selain dari sebuah lampu yang remang-remang.
Tubuhnya kini begitu lemas, dia mulai kehilangan harapan untuk keluar dari dalam sana. Pandangannya buyar, tubuhnya begitu rapuh seakan-akan bisa pingsan kapan saja. Karena terakhir kali dia menolak untuk memakan makanan yang disiapkan, oleh sebab itu hukumannya bertambah. Tak ada lagi makanan yang diberikan, hanya air putih biasa yang diberikan agar dia tak mati kehausan di dalam sana.
BANGG!
Pintu besi itu kembali terbuka, Chelsea berpikir jika akan ada seorang penjaga yang membawakan minuman untuknya. Namun, kali ini berbeda. Penjaga itu hanya diam berdiri di tempat dan menatap tajam ke arah Chelsea.
"Kau bisa keluar. Bos telah mengampunimu!"
__ADS_1
"S-sungguh?" tanya Chelsea seraya berusaha bangkit dengan kakinya yang gemetaran.
"Tentu, aku tidak punya alasan untuk menipumu."
Pintu besi yang selalu tertutup rapat kini telah terbuka lebar. Chelsea akhirnya kembali mendapatkan semangat hidup lagi. Tetapi, saat dia baru selangkah keluar tiba-tiba saja penjaga itu membungkus kepala Chelsea dengan kain hitam.
"Apa-apaan ini?! Kau bilang tidak akan menipuku!" teriak Chelsea sambil meronta sekuat tenaga.
"Diamlah! Aku melakukan ini agar kau tak tahu jalan yang akan kau lewati!"
Penjaga itu menahan kedua tangan Chelsea ke belakang, lalu mendorongnya serta memberikan aba-aba agar Chelsea berjalan dengan benar. Saat penutup kain hitam itu dibuka, Chelsea sedikit bingung lantaran dia berada di bar counter yang biasanya dia jaga. Dan di meja bar pun, sudah ada tas dan semua barang-barang miliknya.
Ada satu sosok lagi yang mengagetkan Chelsea, dia tidak lain adalah Kaitlyn. "Halo, Mayra sayang~ Maaf telah menyusahkan dirimu~" sapanya dengan sikap sok akrab sambil membenahi rambut Chelsea yang berantakan.
"Jangan sentuh aku!" teriak Chelsea yang seketika menepis tangan Kaitlyn.
"Ahh ... ini sakit," ucap Kaitlyn sambil memasang tampang sedih. Namun setelahnya dia menyeringai, tiba-tiba menyodorkan sebuah dokumen yang tidak asing ke atas meja.
"...." Chelsea diam seribu bahasa, dia tahu betul jika itu adalah dokumen kontrak dengan DG CLUB yang telah dia tandatangani.
"Nona Mayra yang manis, harusnya sudah tahu apa saja isi dari dokumen ini. Namun, karena tanggung jawab diriku yang telah menerima dikau di sini, maka daku akan menjelaskan satu poin terpenting." Kaitlyn langsung membuka dokumen itu, lalu menunjuk pada sebuah tulisan dengan kuku jarinya yang panjang.
"...." Chelsea masih diam, tidak dapat dipungkiri jika dia teramat sangat marah sekarang. Namun dia masih mencoba menahannya dengan mengepalkan kedua tangan sekuat mungkin.
Meskipun menyadari hawa kemarahan itu, Kaitlyn justru malah menampakkan senyum iblisnya. "Haha, konsekuensinya tentu saja adalah dirimu, dan juga keluarga kecilmu~"
"Jangan! Jangan coba-coba menyentuh putraku!"
"Duhai Mayra cantik, dirimu mudah sekali terbakar. Tenang saja, kami juga bukan orang yang tidak tahu aturan. Asalkan dirimu bertingkah sesuai dengan prosedur, maka kami tidak akan mencampuri urusanmu. Soal gajimu tetap akan diberikan tanpa pemotongan, tapi tetap harus bekerja sesuai masa kontrak! Sebagai bentuk rasa bersalah kami, dirimu bisa libur 3 hari untuk memulihkan kondisi."
"Baik, aku paham! Permisi!" Chelsea dengan cepat membawa semua barangnya dan bergegas untuk pergi meninggalkan club. Saat ini dia hanya memikirkan soal Luciel yang masih menunggunya sendirian di rumah.
Setelah Chelsea benar-benar pergi, Kaitlyn lantas melirik ke sebuah sudut. Yang sejak tadi ada seorang pria yang berdiri di sana, dia tidak lain adalah Damar, sang pemilik DG CLUB yang misterius.
Damar yang sejak tadi mengamati lalu berjalan mendekat ke arah Kaitlyn. Dia menatap tajam wanita jadi-jadian itu sambil berkata, "Awas saja jika dia sampai melapor dan tempat ini diperiksa oleh polisi. Aku akan menghubungi ketua untuk mengembalikanmu ke kapal!"
"Percayalah padaku Bos Damar yang tampan. Tapi ... tumben Bos langsung melepasnya begitu saja, biasanya langsung bunuh agar tidak menimbulkan risiko. Apa jangan-jangan Bos Damar tertarik pada Mayra?"
"Ck, tutup mulutmu! Aku cuma bosan mempermainkan orang lemah sepertinya. Dan lagi, acara perekrutan anggota tetap sebentar lagi. Aku tidak mau ada masalah sekecil apa pun yang terjadi pada divisiku! Aku bisa kehilangan muka di hadapan ketua!"
__ADS_1
"Ah ... diriku hampir lupa, tapi akankah ketua hadir saat perekrutan nanti?" tanya Kaitlyn penasaran.
"Semoga saja, ketua sudah vakum selama 9 bulan. Dan kau sebagai bagian dari divisi umum, sebentar lagi ketua pasti akan memberikan kabar pada kepala divisimu."
"Hiks ... kepala divisi tidak menyukaiku lagi."
"Salahmu sendiri tampil telanjang di depannya! Kau pikir itu tidak menjijikkan?! Aku yang membayangkannya saja merasa jijik! Kau membuatnya marah dan dia malah melemparmu padaku!" bentak Damar penuh kekesalan.
***
Di sisi lain Chelsea yang kini sudah bebas telah tiba di rumah. Dia membuka pintu rumah begitu saja sambil berteriak, "Luciel! Mami pulang!!"
Raut wajah bahagia Chelsea perlahan sirna, lantaran sama sekali tidak ada suara yang menyahut teriaknya. Luciel yang biasanya langsung berlari dan memeluknya, kini suara derap langkahnya saja tidak ada.
"Luciel?" Chelsea yang merasa curiga pun mulai mengecek ruangan yang ada di rumahnya satu per satu. Namun dia tak menemukan keberadaan Luciel di mana pun juga.
"Luciel! Kau di mana sayang?!" teriak Chelsea sekencang mungkin. Saat ini dia mulai panik ketika menyadari tas milik Luciel satu-satunya juga tidak ada.
"Apa jangan-jangan Luciel meninggalkan rumah? Bagaimana jika dia bertemu penjahat?!" Pikiran Chelsea seketika membayangkan jika sesuatu yang buruk telah menimpa putra kesayangannya.
"Sial, itu tidak boleh terjadi!" Chelsea seakan kehilangan akal sehatnya. Dia langsung berlarian keluar rumah tak tentu arah sambil terus meneriakkan nama Luciel.
Chelsea semakin kesulitan karena tak ada satu orang pun di kota itu yang berteman dengannya. Dia tak bisa meminta pertolongan pada siapa pun.
"Uhh ... aku harus bagaimana? Tidak mungkin jika melapor pada polisi, bisa-bisa identitasku ketahuan ..." gumam Chelsea penuh kekhawatiran. Air matanya juga mengalir, meratapi bagaimana rumitnya kehidupan yang dia jalani sekarang.
Chelsea tak punya pilihan lagi selain terus mencari seorang diri. Hingga malam tiba dan hujan turun dengan derasnya, dia tetap bersikeras untuk mencari keberadaan Luciel. Luciel adalah satu-satunya yang berharga baginya, dia tak memedulikan kondisi tubuhnya sendiri asalkan bisa secepatnya menemukan putranya.
Namun, tubuh manusia tetap ada batasnya. Meskipun dengan tekat yang begitu kuat, tubuh Chelsea seakan sudah tidak sanggup untuk melanjutkan pencarian lagi. Akhirnya pun dia tumbang di tengah-tengah derasnya hujan.
CPLAS ... CPLAS ...
Seorang pria berpayung hitam berjalan sendirian di tengah gelapnya malam. Pria itu hendak pulang dan melewati gang sempit yang sepi, jalan itu sudah biasanya menjadi rute yang dia lewati. Tetapi, langkah kakinya terhenti saat menyadari ada seorang wanita yang tergeletak di sana.
"Hm?" Pria itu penasaran, lalu mengecek apakah wanita itu masih bernapas atau tidak.
"Ck, bukan urusanku!" Pria itu kembali berjalan, melewati Chelsea begitu saja. Namun, tidak sampai 2 meter dia langsung berbalik dan menggendong wanita tak dikenal itu.
"Jika kau sampai mati, maka saat mayatmu ditemukan nanti polisi akan mengolah kasus di tempat ini. Sialnya rumahku ada di dekat sini, aku tidak mau jadi saksi dan berurusan dengan polisi!"
__ADS_1