Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Pertunjukan Pentas Drama Luciel dan Keisha


__ADS_3


Hari demi hari telah berganti, tanpa terasa saat ini sudah 20 hari sejak latihan pertama pementasan drama musikal. Selama 20 hari terakhir ini sudah banyak yang terjadi, tak cuma sibuk latihan dan mempersiapkan acara pentas. Akan tetapi, Natasha sendiri juga memanfaatkan waktu ini untuk semakin menjalin keakraban dengan Luciel.


Bermacam-macam cara telah Natasha lakukan, entah itu mengantar dan menjemput anak-anak sekolah, membelikan camilan dan mainan untuk mereka, bahkan dia juga berusaha untuk menjalin komunikasi yang baik dengan Nisa.


Untungnya, perjuangannya itu tidak berakhir sia-sia. Meskipun dia belum bisa mendapatkan kepercayaan dari Nisa dan membuatnya luluh, di satu sisi dia sudah berhasil membuat Luciel dan Keisha jatuh hati kepadanya. Keisha yang dulunya merasa jika Natasha adalah sosok orang yang menyebalkan, kini Keisha sudah mengubah persepsinya terhadap Natasha.


Hari ini adalah hari gladi bersih, latihan hari ini adalah yang terakhir kali sebelum pementasan pada acara yang sesungguhnya. Sebelumnya pihak sekolah telah memberikan kelonggaran kepada wali murid. Mereka tidak diwajibkan untuk mengikuti latihan setiap hari di sekolah, karena mengingat jika masing-masing orang punya kesibukan yang berbeda. Pihak sekolah juga mengerti jika para wali murid bisa berlatih dengan anak-anak mereka sendiri ketika berada di rumah.


Karena hari ini adalah gladi bersih, maka para guru meminta agar semua wali murid dapat hadir untuk persiapan terakhir. Dekorasi panggung, persiapan para tokoh, peralatan untuk pentas, kostum dan persiapan tata rias juga sudah beres.


Namun, setelah gladi bersih selesai dilakukan di aula pertemuan sekolah. Tiba-tiba saja Bu guru yang membimbing jalannya pentas drama menepi sebentar untuk menerima telepon dari seseorang. Dan ekspresi Bu guru tampak begitu panik sekaligus sedih. Bahkan guru-guru dari kelas lain pun juga berekspresi sama setelah mereka semua mendekat dan berdiskusi.


Seorang wanita yang menjabat sebagai kepala sekolah TK Langit Biru akhirnya memutuskan untuk mendekati para wali murid dari berbagai kelas yang kini berkumpul di satu tempat. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada seluruh anak-anak dan para orang tua. Saya barusan mendapat kabar buruk, gedung teater yang telah kami pesan mengalami kerusakan. Atap plafon nya tiba-tiba rusak dan jatuh."


"Dengan berat hati saya katakan kalau pentas pertunjukan yang tadinya akan diselenggarakan besok, terpaksa harus diundur. Saya mohon maaf dan pengertian dari semuanya," jelas kepala sekolah lagi.


"Diundur? Jadi pementasannya sudah tidak bertepatan lagi dengan orang tua," celetuk salah satu wali murid.


"Astaga, kenapa harus diundur? Aku sudah mengajukan cuti pada bosku untuk besok," ucap wali murid yang lain lagi.


"Jangan begini lah, Bu. Kami para orang tua juga punya kesibukan masing-masing. Kami tidak sepenuhnya punya waktu luang yang banyak. Meskipun mayoritas dari kami wanita, banyak dari kami yang masih harus bekerja."


"Benar, Bu Kepala Sekolah. Tolong carikan solusi yang terbaik, apakah tidak bisa jika kita melakukan pertunjukan di tempat lain?"


"Jika ingin mencari teater yang lain, takutnya juga tidak akan dapat, Bu. Soalnya banyak juga sekolah lain yang melalukan pertunjukan untuk memperingati hari spesial besok. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," jawab kepala sekolah sambil menundukkan kepala menanggapi setiap keluhan dari para orang tua.


"Bunda, apakah besok Keisha tidak jadi pentas?" tanya Keisha pada Nisa. Setelahnya Nisa hanya menghela napas dan mengusap kepala putra kecilnya itu.


"Bunda juga tidak tahu, sayang. Nanti kita tunggu kabar dari Bu guru lagi. Bunda sebenarnya juga menyayangkan hal ini, kita semua sudah berlatih sungguh-sungguh. Bunda juga kesal kenapa atap plafon teater itu harus rusak sekarang."


"Sudahlah Kakak ipar, mari kita berpikir dan ambil sisi positifnya saja. Untung saja jatuhnya hari ini, jika jatuhnya besok saat anak-anak sedang pentas maka itu akan lebih berbahaya," ucap Natasha.


"Hahh ... kau benar, tapi sekali lagi para orang tua murid lain punya kesibukan sendiri-sendiri." Nisa tertunduk lesu, dia sama seperti wali murid lain yang kecewa dengan jadwal pentas yang harus diundur.


Ck, ada-ada saja masalah baru. Aku lelah terus-terusan datang ke sekolah untuk latihan kalau ternyata hasilnya tanpa kepastian begini. Tapi di satu sisi aku juga tidak tega melihat anakku bersedih. Apa aku coba diskusikan ini dengan Keyran saja untuk meminjamkan salah satu asetnya, gedung Galaxy Square Hall?


Ah, tidak-tidak ... masalahnya bukan itu. Tentu saja Keyran akan setuju-setuju saja jika itu demi anaknya. Tapi yang jadi masalah adalah gedung itu terlalu mewah dan besar untuk seukuran pementasan drama anak TK. Dan terlebih lagi aku tidak yakin jika anggaran sekolah ini apakah mampu atau tidak untuk membayar biaya sewanya. Bahkan jika anakku sekolah di sini, aku juga tidak akan memberikan diskon, karena ini namanya adalah bisnis.


Nisa masih tertegun, dia mencoba berpikir untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang sedang terjadi sekarang. Di sisi lain Natasha sibuk dengan ponselnya, dan setelah beberapa saat tiba-tiba dia memperlihatkan raut wajah yang bahagia.


"Bu guru, bagaimana jika tempat pertunjukkannya diadakan di teater milik keluargaku saja?" tanya Natasha dengan nada ramah, berharap agar Bu kepala sekolah menyetujui tawarannya.


"Ah, ini ... mungkin masih perlu didiskusikan bersama lagi," jawab kepala sekolah yang kemudian melirik ke arah guru-guru yang lain.


"Keluargamu punya gedung teater?" tanya Nisa.


"Tentu saya punya ... apa Kakak ipar sudah lupa kalau keluargaku berbisnis di bidang entertainment? Meskipun kami sudah tidak sejaya dulu lagi, tapi kami sama sekali tidak pernah menjual aset-aset milik kami. Kami punya beberapa gedung teater, dan ada salah satu lokasinya yang terdekat dengan daerah ini. Adinata Artpreneur Theater, gedung teater itulah yang aku tawarkan pada Bu guru," jelas Natasha yang kemudian tidak dibalas apa-apa lagi oleh Nisa.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Natasha, para orang tua dan guru-guru pun mulai saling berdiskusi. Beberapa saat setelah mereka bertukar pendapat, Bu kepala sekolah pun mendekat ke arah Natasha. Kemudian dia berkata, "Sepertinya saran dari Anda boleh juga, tetapi hari orang tua itu besok, apakah bisa tetap dilaksanakan meskipun persiapannya dilakukan mendadak?"


"Bisa, para pekerja kami adalah orang-orang yang kompeten! Mereka pasti mampu melakukan persiapan meskipun waktunya mepet. Dan aku juga sudah memastikan, pengurus teater sudah bilang jika belum ada orang yang menyewa gedung itu untuk besok. Jadi ... acaranya tetap bisa dilakukan besok sore, kan?" tanya Natasha yang sudah begitu yakin saat melihat ekspresi semua orang yang tampak setuju dengan usulannya.


"Baiklah, ini kabar baik bagi kita semua! Acara pertunjukan kita tidak jadi diundur. Saya sangat berterima kasih kepada Nona Natasha karena telah memberikan solusi pada kami!"


Sontak saja para guru dan wali murid merasa senang. Karena pertunjukan yang mereka harap-harapkan akhirnya tetap bisa berjalan sesuai rencana. Terlebih lagi bagi para anak-anak, mereka semua yang awalnya sudah murung kini kembali tersenyum ceria lantaran besok mereka semua bisa melakukan pertunjukan. Mereka semua tersenyum pada Natasha seolah-olah mengekspresikan rasa terima kasih mereka.


"Terima kasih Tante! Tante Natasha memang penyelamat!" ucap Luciel dengan senyum bahagianya.

__ADS_1


"Iya, Tante Natasha adalah tante terbaik!" sahut Keisha yang juga ikut bahagia.


"Haha, sama-sama ... tentu saja tante tidak bisa diam saja dan membiarkan malaikat kecil tante bersedih." Natasha tersenyum sambil menatap kedua bocah laki-laki itu. Dan tatapan matanya kepada Luciel terkesan punya arti yang lebih dalam. Seakan-akan saat ini Natasha memang sedang menatap anaknya sendiri. Hatinya merasa lega saat melihat Luciel tersenyum bahagia.


***


Esok harinya, sekitar pukul jam 3 sore orang-orang sudah berdatangan ke Adinata Artpreneur Theater. Karena kemarin Natasha juga telah berpesan kepada semua orang, kalau mereka diperbolehkan untuk membawa keluarga besar, teman dan yang lainnya agar semakin memeriahkan acara jika mereka mau. Natasha bilang begitu bukan hanya sebatas demi mendapatkan kesan baik dari orang-orang, tetapi dia juga menyesuaikan dengan kondisi teater yang memang memiliki kapasitas banyak.


Natasha sendiri juga meminta suaminya untuk melihat pertunjukan. Tuan Muchtar dan Nyonya Ratna pun tak terkecuali, mereka semua sangat menantikan seperti apa penampilan keluarganya di atas panggung. Akan tetapi, Natasha juga mengajak satu orang lagi yang mengundangnya saja membutuhkan tenaga ekstra. Dia tidak lain adalah ayah kandungnya, Tommy Adinata.


Tommy akhirnya mau datang lantaran merasa jika masih harus menghormati Tuan Muchtar yang merupakan besannya. Meskipun sebenarnya dia merasa enggan, karena dia menganggap acara pertunjukan ini tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktunya. Hal itu juga tidak dapat dipungkiri karena kesibukannya sendiri. Anaknya yang tersisa satu-satunya cuma Natasha, dan kemampuan Natasha dalam berbisnis cenderung masih kurang jika dibandingkan dengan mendiang kedua kakaknya. Jadi, Tommy mau tidak mau harus mengandalkan dirinya sendiri.


"Bagaimana anak-anak? Apakah kalian semua sudah siap?" tanya kepala sekolah pada anak-anak yang akan tampil.


"Sudah, Bu guru!" jawab anak-anak serentak.


"Bagus! Semoga nanti berjalan lancar ...." Diam-diam kepala sekolah itu merasa gugup. Tidak pernah terpikirkan seumur hidupnya jika dia akan mengadakan pertunjukan yang kini dihadiri oleh dua keluarga konglomerat yang berkuasa. Dia berkeringat dingin, berharap dan cemas bersamaan.


Tak berselang lama acara pertunjukan memperingati hari orang tua pun dimulai. Acara diawali oleh kepala sekolah yang memberikan sambutan kepada semua orang. Lalu langsung dilanjut oleh penampilan dari kelas pertama.


Pertunjukkan pembuka adalah pertunjukkan paduan suara dari anak-anak kelas TK kecil. Sesuai namanya, paduan suara ini terdiri dari anak-anak yang sebagian besar usianya masih 4 tahun. Suara mereka yang menggemaskan dan lucu memiliki kesan tersendiri di dalam pertunjukan paduan suara ini.


Setelah pertunjukkan pembuka selesai ditampilkan, pertunjukkan pun dilanjut oleh kelas lain yang juga tak kalah menghibur. Di sini para orang tua juga sangat antusias, banyak dari mereka yang mengabadikan momen ini dengan merekam serta mengambil gambar.


Pertunjukkan terus berlangsung, hingga tibalah saatnya kelas Luciel dan Keisha untuk tampil sebagai pertunjukan penutup. Pertunjukkan diawali oleh Luciel dan Natasha yang naik ke atas panggung bersamaan, mereka berdua juga memakai kostum yang sama karena mempunyai peran yang sama pula.


"Lihat itu, Luciel sangat mirip denganmu ..." bisik Nyonya Ratna pada Daniel yang kini duduk di kursi sebelahnya.


"Iya, ibu. Aku tahu," jawab Daniel tanpa mengalihkan pandangan matanya dari istri dan Luciel yang ada di atas panggung.


Ibu benar, rupa Luciel memang sangat mirip denganku. Tapi sebenarnya kenapa bisa begini? Padahal aku sangat yakin jika aku tidak pernah bermain dengan wanita lain lagi setelah aku menikah dengan Natasha. Anakku satu-satunya cuma Samuel, dan dia sudah meninggal dalam insiden kebakaran 6 tahun yang lalu. Apa mungkin Luciel adalah Samuel? Ah, tidak ... tidak mungkin yang mati bisa hidup kembali.


Luciel lalu tersenyum dan melirik ke arah Natasha, mengisyaratkan jika ini sudah memasuki bagiannya.


"Kita semua menikmati cahaya mentari dan rembulan yang sama. Udara bersih juga termasuk salah satu kebutuhan utama kita. Jadi, mari kita tanamkan kesadaran untuk terus menjaga lingkungan!"


Natasha dan Luciel saling bertatapan, menyesuaikan agar setelah ini mereka berdua bisa bicara bersamaan.


"Berikut adalah persembahan drama musikal yang berjudul ... Keajaiban Pohon! Yang akan dibawakan oleh teman-teman kita! Mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah ...!!"


Para penonton seketika bertepuk tangan, Luciel dan Natasha segera menyingkir ke samping, tirai panggung yang berwarna merah dan besar pun dibuka bersamaan dengan musik yang dimainkan. Begitu tirai dibuka, langsung disuguhkan oleh anak-anak yang memakai bermacam-macam kostum.


Ada yang memakai kostum bunga, kupu-kupu, matahari, air, kumbang dan lain-lain. Dan Keisha sebagai tokoh utama, dia memakai kostum berwarna hijau yang memerankan sebuah pohon kecil. Sebagai pembukaan dari drama musikal, mereka semua menari sebelum memulai alur cerita drama.


Setelah tarian itu selesai, Luciel kembali membacakan teks narasi. "Dikisahkan di sebuah desa terdapat sebuah pohon kecil. Pohon kecil itu kesepian, dia seorang diri, tidak lagi punya teman karena sudah habis ditebang."


Setelah Luciel selesai membaca, Keisha langsung berakting menangis. "Huhu ... huhuhu ... di mana semua teman-teman? Kenapa mereka harus ditebang?"


Lalu datanglah seekor kupu-kupu cantik. Yang memerankan kupu-kupu tidak lain adalah Amalia. Dia datang menghampiri si pohon kecil sambil menari selayaknya seekor kupu-kupu yang sedang terbang. "Wahai pohon kecil, kenapa kamu menangis?"


"Aku kesepian ... tidak ada pohon lain selain aku," jawab Keisha yang masih larut dalam aktingnya.


"Ke mana perginya pohon yang lain?" tanya kupu-kupu.


"Mereka semua ditebang oleh manusia ... Ketika sudah jadi pohon besar, mereka langsung ditebang. Supaya aku tidak ditebang, aku tidak mau jadi besar!"


"Pohon kecil, kenapa kamu ingin begitu? Itu tidak baik ..."


"Pokoknya aku tidak mau! Kupu-kupu pergi sana!"

__ADS_1


Luciel kembali berkata, "Pohon kecil marah, dia tidak mau menjadi besar karena takut akan ditebang. Kini, selain kesepian, pohon kecil juga kelaparan."


"Uhhh ... aku lapar," Keisha berakting lemas, seolah-olah seperti pohon yang layu.


Muncul seorang anak yang memakai kostum bunga. Dia menari-nari dengan daunnya yang hijau segar dan kelopak bunga miliknya yang indah. "Halo pohon kecil, kenapa daunmu jadi layu?"


"Aku tidak mau makan, jika makan maka aku akan bertambah besar. Dan kalau sudah besar maka manusia akan menebangku," jawab Keisha si pohon.


"Itu tidak baik, pohon kecil. Menjadi besar tidak selamanya berakhir buruk. Coba lihat ke sana, di kejauhan sana ada pohon yang besar!"


"Hm? Di mana?"


Tiba saatnya bagi Nisa untuk muncul. Dia muncul dari sisi kiri panggung dan juga mengenakan kostum pohon yang besar.


"Pffttt ... itu Nisa!" Keyran seketika membungkam mulutnya sendiri, dia sangat kaget dengan tampilan lucu istrinya. Dia yang biasanya selalu melihat istrinya berpenampilan modis dan sexy, kini dia melihat istrinya memakai kostum pohon yang tidak cocok dengannya.


"Sialan kau," gumam Nisa yang sadar kalau dia sedang ditertawakan oleh suaminya. Akan tetapi, Nisa tetap tersenyum dan berakting sebagai pohon besar dengan totalitas.


Dan kemudian muncul anak-anak yang memakai bermacam-macam kostum hewan. Seperti ulat, tupai, burung, laba-laba dan semut. Anak-anak itu berlarian mengelilingi Nisa, menggambarkan jika mereka semua hidup bahagia tinggal di pohon besar yang sama.


"Wahh ... di sana ramai sekali," ucap Keisha si pohon kecil dengan ekspresi kagum.


"Benar, pohon kecil. Di sana ada ibu pohon yang besar. Dan ibu pohon tidak pernah kesepian, karena banyak sekali hewan-hewan yang membutuhkan dia dan tinggal di sana," jawab si bunga.


"Kenapa tidak ada hewan yang mau tinggal di sini? Aku kan jadi kesepian ...."


"Karena batang pohon milikmu masih terlalu kecil untuk ditinggali. Jika pohon kecil ingin jadi seperti ibu pohon, maka pohon kecil harus makan untuk bisa bertambah besar," jelas si bunga lagi.


"Tapi bunga, bagaimana jika nanti para manusia menebangku setelah aku jadi besar?"


"Tidak usah takut pohon kecil. Tidak semua manusia suka menebang pohon, ada juga manusia yang mau merawat tumbuhan seperti kita. Misalnya saja aku, aku adalah tumbuhan bunga yang memiliki bunga-bunga yang cantik. Para manusia mengagumiku, dan mereka juga merawatku dan memetik bungaku."


"Huhh ... mereka jahat sekali, jika suka padamu seharusnya jangan memetik bungamu."


"Iya, pohon kecil. Tapi walaupun mereka suka mengambil bungaku, aku tetap akan terus tumbuh dan terus berbunga lebih banyak lagi. Jadi tidak usah takut, kita ini tumbuhan yang punya banyak keajaiban ...."


"Keajaiban apa?"


"Buzzz buzzz ...." muncul seorang anak yang memakai kostum lebah. Dia mendekati pohon kecil dan bunga. "Wahh ... di sini ada bunga dan pohon kecil!"


"Hai, lebah! Apa kamu mau makan nektar di bungaku?" tanya bunga.


"Iya, bunga! Aku sangat lapar ... aku sudah berkelana jauh ... dan aku melihat ada banyak manusia yang kesusahan. Mereka semua dikelilingi oleh air," jawab si lebah.


"Kenapa manusia dikelilingi oleh air?" tanya pohon kecil.


"Mereka terkena bencana, dan itu karena tidak ada pohon di sekitar mereka. Pohon mampu menyimpan air, dan pohon juga menghasilkan oksigen untuk manusia. Pohon sangat penting bagi kehidupan, aku tadi juga kaget saat melihat ada pohon kecil di sini, aku kira semua pohon sudah habis ditebang," jawab lebah lagi.


"Bahkan lebah juga bilang begitu. Jadi pohon kecil tidak usah ragu lagi! Pohon punya banyak manfaat untuk semuanya ..." sahut si bunga.


"Emm ... baiklah, pohon kecil sudah mengerti! Pohon kecil ingin tumbuh jadi pohon besar seperti ibu pohon! Pohon kecil ingin memberikan keajaiban bagi semuanya!"


Luciel sebagai narator pun kembali bicara, "Pohon kecil tidak lagi bersedih, setelah mendapat penjelasan dari bunga dan lebah, akhirnya pohon kecil sudah mengerti keajaiban apa saja yang bisa dia lakukan sebagai pohon."


Iringan musik kembali dimainkan. Anak-anak kembali menari bersamaan, dan tarian mereka saat ini menceritakan bagaimana tumbuhan memproses makanan atau yang biasa disebut dengan istilah fotosintesis. Anak dengan kostum matahari, air, CO2 atau karbon dioksida, mereka semua yang termasuk ke dalam faktor utama proses fotosintesis ikut menari.


Bahkan Nisa yang berperan sebagai ibu pohon juga ikut menari, meskipun dia hanya menggerak-gerakkan tangannya dan berputar. Dia tidak bisa terlalu banyak bergerak lantaran kostum yang dia pakai cukup merepotkan.


Pentas drama musikal itu kembali dilanjutkan. Di akhir kisah, Keisha si pohon kecil sudah tidak kesepian lagi. Karena para manusia telah menyadari pentingnya lingkungan hijau, dan mereka bersama-sama melakukan penanaman kembali di tempat di mana pohon-pohon telah mereka tebangi.

__ADS_1


Pentas diakhiri dengan tarian dari semua orang dan ucapan penutup serta kesan pesan. Tirai kembali ditutup, penonton bertepuk tangan dengan meriah, dan pertunjukan untuk hari ini telah usai. Semua orang yang bermain kini telah dibebaskan jika ingin pulang. Hampir semua dari mereka bergabung dengan keluarga masing-masing untuk berfoto bersama. Secara keseluruhan kini bisa dibilang acara pertunjukan yang diadakan oleh sekolah TK Langit Biru berjalan dengan lancar.


__ADS_2