Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Grizzly Cat


__ADS_3


Leon hanya terpaku, tak berbicara sepatah kata pun, pikirannya buyar seakan tak mampu bekerja dengan benar. Dia begitu syok setelah melihat foto seseorang yang telah diperlihatkan oleh sang ketua. Foto itu adalah wanita yang merupakan musuh yang harus dia bereskan sekaligus kekasih yang belum lama ini menjalin asmara dengannya.


"Hm?" Nisa yang menyadari reaksi Leon hanya menyeringai. Lalu dia mendekat, dengan ekspresi pura-pura tidak tahu dia pun berkata, "Ada apa Leon? Apa kau mengenalinya?"


Batin Nisa diam-diam bersorak saat ini juga. Dia begitu terhibur ketika mempermainkan seseorang. Tentu saja dia tahu jika Chelsea dan Leon telah saling mengenal satu sama lain. Namun dia lebih memilih bertingkah pura-pura bodoh untuk mengelabui Leon lagi.


"Ah, s-saya ..." jawab Leon yang tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Mulutnya terasa kelu, dia tak kuasa membayangkan akan seperti apa nantinya jika dia sampai mengatakan yang sebenarnya.


"Hm? Kenapa kau gagap? Jika kau mengenalinya maka bilang saja, itu akan membuatmu mempermudah mengerjakan tugasmu. Dan jika kau tak mengenalinya, maka aku bisa meminta Divisi 3 untuk menyelidiki soal dia lebih dalam lagi," jelas Nisa yang masih bertingkah seolah-olah tak paham.


"Tidak, tolong jangan libatkan Divisi 3!" seru Leon dengan spontan. Dia paham betul bagaimana jadinya nanti jika Divisi 3 ikut turun tangan. Bisa-bisa nanti yang mengincar nyawa kekasihnya akan jadi lebih banyak orang.


"Oh, ternyata tidak perlu. Jadi kau sudah mengenalnya?" tanya Nisa dengan tatapan tajam. Dia mulai merasa kesal karena Leon masih tak mau jujur padanya. Sekali lagi dia mulai meragukan kesetiaan Leon padanya.


"Saya ...." Lagi dan lagi Leon tak melanjutkan perkataannya. Dia malah menunduk, seakan tak mau memberikan jawaban yang jelas pada Nisa. Setelah Leon berpikir sejenak, dia pun berkata, "Saya tidak mengenalinya, tapi masalah ini akan saya tangani seorang diri. Tolong berikan kepercayaan Ketua pada saya!"


"Heh!" Nisa tersenyum menyeringai, dia meremehkan jawaban yang Leon berikan padanya barusan. Dia bukan orang yang bodoh, dia tahu jika Leon bisa saja menipunya dan malah menyelamatkan Chelsea si target secara diam-diam.


"Baiklah, silakan kau tangani masalah ini dengan caramu sendiri. Tetapi, sebelum itu ...." Tiba-tiba saja Nisa berbalik. Kembali mendekati sebuah meja yang sama seperti tadi. Akan tetapi, kali ini dia membawa sebuah barang yang berbeda dari sebelumnya.


Nisa mendekati Leon dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat. Dia kembali duduk di sebelah Leon. Dan begitu dia membuka amplop itu, dia mengeluarkan kertas yang jumlahnya ada banyak. Kertas itu bukan berupa uang, melainkan lembaran-lembaran foto yang mengabadikan momen kebersamaan Chelsea ketika bersama dengan Leon maupun Liana.


Leon yang melihat itu semua kembali terkejut, dia tidak habis pikir jika sang ketua sudah mendapatkan barang bukti yang membuatnya tidak bisa mengelak lagi. Akan tetapi, dia juga tidak menyangka jika ketua telah mengawasi dirinya begitu lama. Karena Leon masih mengingat kapan waktunya momen kejadian yang diabadikan di foto-foto itu.


Dia kini akhirnya sadar jika sang ketua sudah mengawasi dirinya semenjak dia bertemu dengan Liana. Bahkan yang membuat Leon merasa gugup, di salah satu foto itu ada gambar yang memuat adegan romantis dirinya dengan Chelsea. Pikirnya saat ini, pasti semua foto-foto ini diambil secara diam-diam oleh petugas Divisi 1 yang berjaga di rumahnya atau bahkan bisa saja Orchid yang bertugas jadi manajernya Liana.


"Jadi, bagaimana? Apa sekarang kau masih mau bilang jika kau tidak mengenalinya? Apa kau berbohong padaku demi melindungi wanitamu itu? Apa kau ingin menyelamatkan dia diam-diam dan berkhianat padaku?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.


BRUGH!

__ADS_1


Tiba-tiba saja Leon berlutut di lantai yang dingin itu. Dia menundukkan kepalanya seakan-akan ingin menunjukkan rasa hormat dan bersalahnya kerena telah berbohong pada Nisa.


"Tolong jangan meragukan saya! Saya tidak mungkin berkhianat pada Ketua! Ketua yang telah memberikan saya kehidupan yang baru ini, dan saya telah mengabdi dan telah berjanji menyerahkan seluruh hidup saya di tangan Ketua!"


"Ucapan saya sebelum ini juga tidak main-main. Jika memang dia menjadi halangan bagi ketua, maka saya akan membereskannya! Tetapi ... saya mohon, saya memohon dengan sangat tolong Ketua jelaskan kepada saya seperti apa masalahnya! Saya mengaku, saya memang mempunyai kedekatan dengan dia. Tolong ... jika memang saya telah menjalin hubungan dengan orang yang salah, tolong Ketua beritahu di mana letak kesalahan saya!"


Leon berucap dengan penuh kesungguhan. Sungguh sesuatu yang berat baginya, dia dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Harus memilih di antara tuan yang telah berjasa besar dalam hidupnya ataukah seseorang yang menempati peran penting di hatinya.


Nisa menghela napas. Lalu mengusap kepala Leon dengan sentuhan yang lembut, seolah-olah seperti memperlakukan seekor anjing yang patuh. "Leon ... namamu bagus, kau juga pemberani seperti singa. Tapi asal kau tahu, aku memberikanmu kode nama Mad Dog bukan sembarangan. Kau sangat setia padaku, sifatmu itu seperti anjing. Dan anjing bisa disebut sebagai teman terbaik yang tak akan pernah berkhianat. Kau itu seperti anjing gila yang akan menuruti semua perintahku."


"Akan tetapi, belakangan ini aku merasa resah. Aku terus beranggapan jika kau pada akhirnya akan mengkhianatiku. Aku tak mau itu terjadi, tetapi sekali lagi ... aku juga ragu. Soalnya begitu melihatmu, aku jadi teringat dengan kisah lamaku," ucap Nisa dengan nada lembut. Sifat keibuannya mendadak keluar dan dia seperti sedang bicara pada anaknya.


"Ketua?" tanya Leon yang sedikit mendongakkan kepala. Dia cukup penasaran dengan apa yang ada pada dirinya yang dianggap seperti kisah lama sang ketua.


"Leon, aku tahu jika kau punya kesetiaan yang tinggi padaku. Dan aku bisa melihatnya dengan jelas dari tatapan matamu bahwa wanita itu sangat penting bagimu. Jika aku benar, apakah dia itu cinta pertamamu?"


"Iya," jawab Leon sambil mengangguk pelan.


"Haha, ternyata tebakanku benar. Tetapi ... aku juga sedikit merasa prihatin padamu. Cinta pertama itu memang indah, begitu kau tahu soal cinta, duniamu akan berubah menjadi hitam dan putih. Dan hanya karena kehadirannya, maka duniamu akan jadi berwarna. Namun ... perlu kau tahu jika cinta pertama tak selalu berakhir indah."


"Seseorang yang aku cintai telah mengenaliku dengan baik. Dia mau menerima semua kekurangan yang ada pada diriku, bahkan dia juga membantuku untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Hanya saja ... semua cinta yang telah dia berikan pada akhirnya membuatku jadi buta. Aku buta siapa jati diriku, aku buta siapa yang selama ini selalu ada untuk mendukungku. Yang aku bisa lihat adalah semua yang hanya ada pada dirinya. "


"Alhasil, aku meninggalkan dunia gelap ini dan memutus hubungan dengan rekan-rekan yang telah memperjuangkan hidup dan mati bersamaku. Lalu ... suatu ketika, sesuatu yang buruk terjadi padaku. Cinta pertamaku berakhir, ketika saat itu tiba entah kenapa diriku merasa hampa. Aku tak punya cinta ataupun orang yang bisa menjadi tempatku pulang. Aku seperti orang yang hilang arah."


"Hingga pada akhirnya, aku kembali lagi ke dunia gelap ini untuk jadi penerus dan resmi menjadi ketua generasi kedua! Sesuai namanya, Grizzly Cat! Grizzly yang berarti abu-abu. Itu sebenarnya menggambarkan bagaimana cara organisasi kita ini bekerja. Kita kadang bekerja secara jujur dan terbuka, lalu terkadang bekerja secara rahasia dan tertutup. Di antara putih dan hitam, satu kata yang tepat untuk menggambarkan itu adalah abu-abu!"


"Cat berarti kucing, seekor hewan yang imut dan lucu, tapi tanpa disadari hewan itulah yang satu-satunya bisa memperbudak manusia. Mitosnya juga mengatakan kalau kucing punya 9 nyawa. Sama halnya dengan organisasi ini, kita punya 9 Family yang bagaikan nyawa dan pilar utama organisasi ini. Aturan ini adalah sesuatu yang mutlak, tak boleh berubah sejak generasi pertama!"


"Setelah memahami semua ini, aku akhirnya dengan mantap menerima jati diriku! Dunia ini akan terasa membosankan jika tak punya orang jahat, jadi aku hanya menerima takdir yang diteruskan padaku dan menjalankan peranku sebaik mungkin. Jadi Leon, apakah kau mengerti inti dari semua ini?"


"S-saya ..." Leon terbata-bata, dia ragu untuk memberikan jawaban karena takut jika jawabannya bukan yang ingin Nisa dengar.

__ADS_1


"Jawabannya sederhana saja. Jika dia baik bagimu, maka pertahankan! Dan jika dia buruk untukmu, maka tinggalkan! Lagi pula kau juga tak perlu terlalu bimbang pada perasaanmu. Dasar dari cinta itu adalah kejujuran. Jika didasari oleh kebohongan, bisa jadi itu bukan cinta, tetapi cuma perasaan yang sengaja dipermainkan untuk sebuah tujuan. Kau mungkin sudah jujur dan mengatakan segalanya tentangmu pada wanita itu. Tetapi, bagaimana dengannya? Apakah dia juga jujur pada dirimu?"


"...." Leon membisu, entah kenapa pertanyaan yang Nisa lontarkan padanya telah membuat hatinya jadi goyah.


Tiba-tiba saja Nisa tertawa kecil dan menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, konyol juga pertanyaanku. Dia bahkan berbohong soal nama aslinya padamu. Dia sebenarnya bukan seseorang yang sering kau sebut entah siapa namanya. Dia aslinya adalah seorang direktur utama dari perusahaan besar, Chelsea Almayra Adinata."


"Mayra ..." gumam Leon yang emosinya mulai tersulut, dia juga mengepalkan kedua tangannya sekuat mungkin karena merasa tak terima jika selama ini dirinya telah dibohongi.


"Heh!" Nisa menyeringai dengan senyuman penuh kepuasan. Tujuan utamanya dalam pertemuan ini telah tercapai. Yaitu menciptakan konflik pribadi di antara sepasang kekasih baru ini.


Tiba-tiba saja Nisa mengambil sebuah dokumen yang tadi sempat dia tunjukan pada Leon. Dia menyodorkan dokumen itu dengan ekspresi seakan merasa prihatin dengan apa yang Leon alami.


"Bawa dokumen ini pulang! Tadi kau belum membaca secara keseluruhan soal identitas sebenarnya yang wanitamu sembunyikan. Baca baik-baik semua yang ada di dalam sini. Tak perlu terburu-buru, kau bisa kembali padaku jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan lebih jelas."


"Silakan keluar, pulanglah dan tenangkan dirimu dulu. Aku tahu bagaimana perasaanmu, aku juga marah saat tahu jika suamiku berbohong padaku. Jadi, aku beri kau waktu seminggu. Setidaknya itu cukup bagimu untuk membuat keputusan dengan pikiran yang jernih."


"Baik, Ketua. Saya mengerti," jawab Leon yang kemudian menerima dokumen itu. Setelahnya Leon langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Hahh ...." Nisa menghela napas panjang ketika pintu telah sepenuhnya tertutup. Dia juga menyadarkan dirinya di sofa itu dengan nyaman, seakan tubuhnya terasa begitu penat.


Lalu, tiba-tiba saja dari kegelapan muncul seseorang. Dia tidak lain adalah Dika, diam-diam tanpa sepengetahuan Leon sebenarnya sejak tadi Dika sudah ada di sana dan memperhatikan semuanya.


"Jadi, hanya itu yang kau katakan padanya?" tanya Dika sambil melihat ke arah Nisa.


"Iya, hanya itu. Tetapi itu saja sudah cukup untuk membuat hatinya goyah. Kita tak perlu memberitahunya soal yang lain lagi. Setidaknya untuk sekarang, kita perlu mencari waktu yang tepat," jawab Nisa dengan nada datar.


"Bagaimana soal kejadian Violent Zone yang berkaitan dengan kematian William Adinata?" tanya Dika lagi.


"Haiss ... itu bukan masalahku, tapi itu masalahmu! Saat itu kau yang jadi tokoh utamanya! Dan jika aku mengatakan segalanya sekarang pada Leon, itu akan membuatnya menggila karena itu berkaitan denganmu. Aku tahu betul kalau sebenarnya Leon lebih setia padamu daripada kepadaku."


Dika mengepalkan tangannya sekuat mungkin, dia juga menatap lurus ke depan dengan tatapan prihatin. "Entahlah, soal itu ... sepertinya aku masih belum siap untuk menjelaskan semuanya."

__ADS_1


Dika lalu mengangkat sebelah tangannya, di lengan tangannya itu tampak bekas luka yang cukup dalam, sampai sekarang tak mau hilang dan jadilah bekas luka yang permanen. Nisa yang menyadari tindakan Dika secara spontan berdiri, lalu menutup bekas luka itu dengan telapak tangannya.


"Kau tenang saja, jangan lupakan kalau aku adalah ketuamu! Aku sudah membuat persiapan yang matang, akan kubuat dia menyadari seperti apa sosok iblis yang sebenarnya selama ini dia bela mati-matian! Saat waktunya tiba nanti, aku akan ungkap kejahatan menjijikkan yang telah si bajing*n William itu lakukan! Jika saat itu tiba, mari kita lihat apakah dia masih akan membela manusia yang telah tiada 10 tahun lalu!"


__ADS_2