Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Pelukan Hangat yang Dirindukan


__ADS_3


Di malam yang gelap, Chelsea seorang diri menatap layar monitor laptopnya di meja ruang tengah. Di atas meja itu juga sudah terdapat beberapa barang, yang paling banyak di antaranya adalah foto-foto David Damian yang telah paparazi kumpulan untuknya.


"Heh, sudah saatnya!" ucap Chelsea sambil memandang foto-foto itu dengan seringai jahatnya.


Malam ini Chelsea di rumah lantaran sudah lewat seminggu, yang artinya tugas pengawalan DG CLUB telah selesai. Dia senang sekali lantaran tidak lagi harus menginjakkan kaki di tempat yang dia benci. Dan malam ini dia senggang lantaran diberi kelonggaran berupa libur selama 3 hari sebelum dia menerima tugas selanjutnya. Dan kesempatan untuk langkah awal balas dendam Chelsea pun juga dimulai.


"Bersiaplah David Damian ... sebentar lagi kariermu akan hancur! Dulu sudah banyak publik figur yang gugur di tanganku, menghancurkanmu sama saja seperti bernostalgia dengan pekerjaanku dulu."


***


Di sisi lain pada saat yang sama. Tangan Luciel masih mengeluarkan darah, dan dia diajak oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Natasha. Natasha merasa harus secepatnya mengobati anak ini, karena dia tidak ingin ada masalah sekecil apa pun yang terjadi di acara ini. Dia tidak mau dicap sebagai penanggung jawab acara yang gagal.


Demi menghindari tatapan dari para tamu, Natasha tidak bisa mengajak Luciel ke rumah induk. Dia pun memutuskan untuk mengobati Luciel di tempat lain. Yaitu di sebuah paviliun yang ada di dekat taman. Paviliun yang sepenuhnya terbuat dari ornamen kayu itu tampak sangat damai. Tanpa basa-basi lagi, Natasha langsung mengajak Luciel masuk ke dalamnya.


"Tunggu di sini sebentar, oke?" pinta Natasha sambil mendudukkan Luciel di sebuah sofa panjang.


Luciel hanya mengangguk. Dan tak berselang lama kemudian Natasha kembali dengan membawa sebuah kotak P3K. "Tolong rentangkan tanganmu!" pinta Natasha yang langsung dituruti oleh Luciel.


Natasha lalu melepaskan tuxedo yang anak kecil itu pakai, dia juga membantu Luciel untuk menggulung lengan kemeja yang sudah kotor dengan darah. Dengan cepat dia segera membersihkan luka di tangan kecil dan rapuh itu.


"Sakit ..." rengek Luciel dengan suara gemetar.


"Tahan sebentar, oke? Tante akan lakukan dengan hati-hati!"


"...." Luciel mengangguk, dia mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak berteriak ataupun menangis karena rasa perih di tangannya.


Selang beberapa menit kemudian Natasha selesai, kini tangan Luciel sudah dibalut oleh perban dengan rapi. "Huft ... untung saja lukamu tidak dalam, apakah masih terasa sakit?"


Luciel menggeleng, lalu berkata, "Sudah tidak sakit, terima kasih banyak Tante Natasha sudah menolong Luciel ...."


"Oh, jadi namamu Luciel. Tapi bagaimana kejadiannya sampai Luciel bisa terluka?"


"Ehmm ...." Sejenak Luciel membisu, dia masih tidak mau jujur dan takut dimarahi jika ketahuan memanjat pohon. "Ini karena Luciel tidak hati-hati."


"Begitu yaa, apa Luciel terpisah dari orang tua Luciel?"


"Tadinya Luciel bermain dengan saudara Luciel, tapi dia sudah lama pergi dan tak kunjung kembali lagi. Rumah ini sangat besar, maukah Tante Natasha menunjukkan jalan?"

__ADS_1


"Baiklah, Tante akan membantu Luciel bertemu kembali dengan orang tua Luciel! Sekarang katakan, siapa nama ibumu?"


"May- namanya Nisa!" ucap Luciel dengan tatapan polosnya. Tadinya dia hampir saja menyebutkan nama Mayra, tetapi dia lebih memilih menyebut Nisa sebagai ibunya.


Luciel mulai berubah, dia tidak se optimis seperti dulu lagi. Sudah lama dia berpisah dari Chelsea dan sampai sekarang tidak ada kabar, dia benar-benar merasa kecil kemungkinannya jika dia bisa kembali bersama dengan sang mami tersayang. Dan mirisnya lagi, tanpa diketahui oleh siapa pun, ibu kandungnya sekarang sedang bicara dengannya.


"Nisa?!" Natasha terkesiap. Dia mulai mengingat-ingat nama tamu mana selain nama istri kakak iparnya yang amat dia benci. Akan tetapi, dia merasa yakin jika tidak ada nama Nisa di antara para tamu yang hadir.


Natasha merasa janggal, lalu dia mulai memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh Luciel dari atas sampai bawah dengan saksama. Dia baru menyadari jika pakaian Luciel saat ini sama persis dengan pakaian yang dikenakan oleh keponakannya.


"Apa nama ibumu adalah Nisa Sania? Ayahmu adalah Keyran? Dan saudaramu itu adalah Keisha?" tanya Natasha berusaha memastikan sekali lagi.


"Wahh ... jawaban Tante semuanya benar!" jawab Luciel sambil mengangguk dengan cepat.


"Pantas saja kau ditinggal sendirian, Keisha ... anak itu memang nakal!"


"Tidak kok! Keisha adalah saudara Luciel paling baik!" bantah Luciel secara spontan.


"Ya, terserah kau saja," balas Natasha dengan nada malas. Sikapnya ke Luciel seketika berubah menjadi dingin.


Natasha sangat tidak suka dengan Nisa, mereka berdua tidak pernah akur maupun cocok. Selama ini Natasha tetap bersikukuh jika Nisa yang menjadi dalang dibalik peristiwa kebakaran yang merenggut nyawa anak dan kakaknya. Meskipun semua bukti menunjukkan Nisa tidak bersalah, tetapi rasa dendam ini tetap dia pelihara selama 6 tahun lamanya.


"Ayo Tante, tadi katanya mau membantu Luciel!" pinta Luciel dengan tatapan berbinar.


Mereka berdua lalu keluar dari paviliun itu. Namun, saat di luar tiba-tiba saja Natasha kembali menggandeng tangan Luciel dan menyeretnya ke arah yang berlawanan yang harusnya dia ambil.


"Tante Natasha mau membawa Luciel ke mana?"


"Ssttt! Kita akan lewat jalan lain, jalan rahasia!" jawab Natasha asal.


"Woahh ... ada jalan rahasia juga!" ungkap anak itu dengan tatapan kagum.


"Tentu saja ada, jadi menurut saja, oke!"


Huh, ternyata bocah ini memang anak angkatnya Nisa! Bisa gawat kalau aku mengantarkan anak ini padanya dalam keadaan berantakan begini! Bisa-bisa nanti dia menuduhku melakukan sesuatu untuk melukai anak angkatnya demi mencemarkan nama baikku! Aku harus memberikan Luciel pakaian yang baru! Agar Nisa nanti tak punya kesempatan untuk menjelekkan namaku!


Natasha terus berjalan tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Luciel. Sedangkan jalan rahasia yang dia maksud tentu saja tidak ada. Jalan yang dia lewati adalah jalan memutar, di mana harus melewati dapur tempat di mana para pelayan berkumpul. Dia melakukan semua itu demi menghindari tatapan dari para tamu.


Setibanya mereka di bagian rumah induk. Natasha mengajak Luciel untuk memasuki sebuah ruangan. Dan ruangan itu tampak sedikit berbeda jika dibandingkan dengan ruangan yang lainnya. Terdapat banyak sekali mainan yang serba lucu dan sebuah keranjang bayi di kamar itu. Kamar itu tidak lain adalah kamar khusus yang disiapkan oleh Daniel dan Natasha untuk bayi mereka yang telah tiada.

__ADS_1


Biasanya Natasha selalu mengurung diri di kamar tersebut ketika merindukan bayinya, dan dia tidak pernah mengizinkan masuk seorang pelayan pun yang hendak membersihkan kamar itu. Akan tetapi, sekarang dia membawa Luciel masuk ke dalam sana, walaupun sebenarnya dia tidak suka dengan identitasnya sebagai anak angkat dari Nisa.


Begitu masuk ke dalam kamar itu, lagi-lagi Natasha melepaskan Luciel sendiri. Dia beralih ke arah lemari dan mencari pakaian yang ingin dia berikan pada Luciel.


"..." Luciel menatap takjub, dia tidak menyangka jika ada kamar sebagus ini di mana semua mainan yang dia impikan ada di dalamnya. Hingga tiba-tiba saja perhatiannya teralihkan pada sebuah bingkai gambar berukuran besar yang terpajang di dinding. Gambar itu adalah gambar seorang bayi yang mungil.


"Ada gambar adik bayi, lucunya ..." gumam Luciel dengan sebelah tangannya yang mencoba meraih bingkai gambar itu.


"Luciel, kemarilah!" panggil Natasha tiba-tiba.


"Iya, Tante!" Seketika Luciel mengurungkan niatnya dan segera menghampiri Natasha.


"Ini untuk Luciel! Baju Luciel tadi kan robek, jadi ganti dengan yang ini ya!" pinta Natasha seraya menunjuk pada setelan jas anak kecil yang ada di atas sofa, setelan jas itu masih terpasang dengan hanger baju.


"Terima kasih, Tante Natasha!" jawab Luciel dengan senyum ceria nya.


Luciel pun segera mengganti bajunya dengan baju baru pemberian Natasha. Namun, dia tampak sedikit kesulitan lantaran model jas itu sedikit lebih rumit dari yang sebelumya dia pakai.


"Tante, bisakah bantu Luciel?" tanyanya malu-malu.


"Baiklah." Tanpa Natasha sadari, saat ini dia kehilangan kendali. Sebelumnya sama sekali tidak pernah dia bersikap ramah kepada anak kecil, bahkan kepada Keisha saja dia selalu bersikap ketus dan sinis. Tetapi, begitu dengan Luciel. Dia merasa ada yang berbeda darinya yang mampu membuat Natasha memberikan perhatian lebih kepadanya.


"Nah, sekarang Luciel sudah rapi!" ucap Natasha begitu selesai merapikan dasi kupu-kupu di leher Luciel.


"Terima kasih, Tante!" Sekali lagi Luciel tersenyum. Dan tiba-tiba saja dia menuding ke arah gambar bayi yang tadi sempat menarik perhatiannya. "Tante Natasha, apakah ini adalah kamar adik bayi itu?"


"Iya, ini adalah kamarnya. Dia adalah anak tante."


"Lalu sekarang adik bayinya ada di mana?" tanya Luciel lagi.


"Dia sudah lama meninggal," jawab Natasha dengan senyum pahit.


Saat melihat Luciel, dia langsung membayangkan jika putranya masih hidup, mungkin saja sudah sebesar Luciel sekarang. Ditambah dengan baju yang dikenakan oleh Luciel, baju itu memang dirancang khusus oleh Natasha untuk mengenang putranya. Setiap tahun dia selalu membuat baju untuk putranya yang telah tiada. Menghibur dirinya sendiri dengan cara yang menyiksa seperti ini


Kini Natasha tak mampu lagi mengendalikan perasaannya, dadanya terasa amat sesak. Tanpa sadar dia menjatuhkan air mata tanpa bersuara.


Luciel yang menyadari itu pun langsung berinisiatif untuk menghapus air mata di pipi Natasha. Bahkan setelahnya Luciel juga memeluk Natasha dengan erat. "Jangan terlalu sedih ya, Tante ... adik bayi pasti sudah tenang di surga sekarang ... Adik bayi pasti akan aman karena sudah dijaga oleh Tuhan ...."


"I-iya ...." Tangis Natasha semakin deras saat tangan kecil Luciel memeluk dirinya. Bahkan tanpa sadar dia membalas pelukan Luciel dengan begitu erat. Membayangkan jika Luciel saat ini adalah perwujudan dari putranya, yaitu Samuel.

__ADS_1


Namun, di satu sisi Luciel juga merasa sedikit aneh. Ada perasaan yang tidak asing saat memeluk Natasha. Dia langsung teringat akan sentuhan lembut dan kehangatan yang akrab, rasanya persis seperti dia memeluk seseorang yang teramat dia rindukan.


Dan mirisnya, tanpa diketahui oleh keduanya. Sebenarnya mereka berdua memanglah ibu dan anak kandung. Meskipun sudah berpisah selama 6 tahun lamanya, dan kini mereka bertemu dengan identitas yang berbeda. Akan tetapi, ikatan perasaan kasih sayang antara mereka masih terikat.


__ADS_2