Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
9 Family


__ADS_3


Hari demi hari berganti, latihan yang Chelsea jalani semakin lama tingkat kesulitannya semakin bertambah. Meskipun dia diminta untuk berlatih teknik capoeira yang berfokus pada tendangan, tetapi Leon menjarinya bukan hanya pada tendangan saja.


Media yang dijadikan target sasaran oleh Chelsea pun juga semakin keras. Bukan lagi karung yang diisi beras, dia beralih menggunakan karung yang diisi oleh pasir, dan saat semakin mahir dia beralih menggunakan batang kayu.


Kaki mulus Chelsea lama kelamaan juga mulai beradaptasi, yang semula mudah memar dan bengkak sekarang telah menjadi lebih kebal. Dia terus latihan dan memaksa tubuhnya hingga ke ambang batas. Dia juga mengatur waktunya dengan baik, siang hari berlatih bersama saat Leon senggang, lalu malam harinya bekerja di club.


Dan waktu yang selalu dinanti-nantikan oleh Chelsea akhirnya tiba, yaitu saat masa kontraknya dengan DG CLUB berakhir. Hari ini jam 3 dini hari, Chelsea secara pribadi bertemu dengan Kaitlyn untuk membahas masalah kontrak dan bayarannya.


"Saya berhenti!" ungkap Chelsea penuh keyakinan tepat di hadapan Kaitlyn.


Kaitlyn menyeringai. "Heh, semangatmu masih tetap sama. Saat melamar sebulan yang lalu dikau juga semangat seperti ini. Saat berhenti dikau juga begitu bersemangat. Apa dirimu yakin tidak ingin memperpanjang kontrak?"


"Ya, saya sangat yakin!"


"Haiss ... sayang sekali, padahal orang kompeten seperti dirimu yang kami butuhkan," ucap Kaitlyn sambil geleng-geleng kepala. Dia yang merasa tidak bisa membujuk Chelsea lagi kemudian menyerahkan sebuah amplop putih kepadanya.


"Gajimu, Mayra sayang~"


Chelsea langsung menyambar amplop tersebut dengan cepat, lalu mengecek isinya apakah sudah sesuai atau tidak dengan kesepakatan kontrak. Setelah menghitung dengan saksama, Chelsea mengerutkan kening sambil berkata, "Kenapa jumlahnya lebih banyak dari yang seharusnya?"


"Ah, soal itu bos yang menyuruh. Anggap saja sebagai kompensasi karena menyekap dirimu saat itu."


"Kompensasi ya ..." gumam Chelsea dengan tatapan sinis.


Gara-gara disekap aku jadi kehilangan Luciel! Diberi kompensasi milyaran pun tak akan cukup untuk mengganti kehilanganku!


"Saya rasa tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya permisi!"


Chelsea bergegas melangkah pergi dari night club itu, tanpa melihat ke belakang, dan tanpa berharap akan menginjakkan kaki lagi di sana. Semua yang berhubungan dengan DG CLUB dengannya seolah-olah telah dia lenyapkan. Dia membakar seragam dan bahkan mengganti nomor teleponnya yang dia gunakan saat melamar.


Chelsea kini telah jauh berubah, sebulan yang lalu dia sangat takut menghadapi dunia. Dan sekarang dia berpenampilan apa kadarnya. Pikirnya, semua orang telah melupakan rupa Chelsea Almayra Adinata yang tewas 6 tahun lalu. Sekarang dia hidup dengan raga yang sama, namun dengan nama yang berbeda.


Chelsea berjalan pulang melewati gang kecil yang gelap seorang diri. Dan saat di perjalanan yang begitu tenang, tak disangka dia dihadang oleh 6 orang pria. Benar saja, di tengah kota metropolitan ini masih ada penjahat yang berkeliaran bebas.


"Minggir!" bentak Chelsea tanpa rasa takut, dia berpikir jika pria-pria itu telah membuntutinya sejak keluar dari DG CLUB. Menyimpulkan jika mereka memang disuruh untuk merampas uangnya yang baru saja dia terima.


"Hajar dia!" Keenam pria itu langsung maju menyerang Chelsea begitu saja.


Di sisi lain Chelsea dengan sigap menghindar. Dia telah salah sangka jika para pria itu mengincar uangnya. "Mau apa kalian?! Siapa yang menyuruh kalian?!"


"Membunuhmu!" jawab salah seorang pria yang postur badannya paling besar.


"Membunuhku? Tapi aku tidak pernah merasa pernah mencari masalah dengan kalian!"


"Memang tidak, kamilah yang mencari masalah denganmu!"


"Sial, ternyata tidak bisa diajak komunikasi!"

__ADS_1


Seketika Chelsea teringat dengan apa yang Leon ajarkan padanya. Dia harus bersikap tanpa ampun jika ingin bertahan hidup. Chelsea mengeluarkan pisau lipat miliknya untuk menghadapi para pria yang asalnya tidak jelas itu.


Di luar dugaan dari Chelsea, yang dia hadapi saat ini levelnya berbeda dengan preman yang sempat dia kalahkan ketikan menyelamatkan Liana kala itu. Namun yang namanya hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Chelsea berhasil melumpuhkan semua pria itu dan menang tanpa luka sedikit pun.


"Hahh ... haahh ...." Chelsea mengatur napasnya. Lalu mengelap pisaunya yang kotor dengan darah sebelum kembali menyimpannya. Dia juga melihat sekeliling, apakah ada orang atau kamera pengawas yang terpasang di sekitar sana.


"Syukurlah tidak ada," ucap Chelsea dengan tubuhnya kini sedikit gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidup dia membunuh orang. Tetapi, mau menyesal pun sudah terlambat, jalan yang telah dia pilih tidak menyisakan jalan untuk kembali.


"Leon benar, aku berlatih sekeras apa pun tidak ada gunanya jika tanpa pertarungan langsung. Mentalku masih belum cukup!" ucap Chelsea bermaksud menyugesti diri sendiri. Dia juga mengepalkan tangan seerat mungkin agar tubuhnya berhenti gemetaran.


Karena kejadian tidak mengenakkan barusan, Chelsea memutuskan untuk mengambil jalan lain. Yaitu jalan raya umum yang masih ada beberapa orang yang berlalu lalang. Saat Chelsea melewati sebuah minimarket yang buka 24 jam, tak disangka dia bertemu seseorang yang dia kenal berjalan keluar dari minimarket itu.


"Leon?!" ucap Chelsea spontan yang saat itu juga membuat Leon menengok ke arahnya.


"Kau?" tanya Leon yang seketika menyembunyikan kantong plastik belanjaan di belakang punggungnya.


"Oh, tidak kusangka aku berpapasan denganmu. Memangnya kau sedang beli apa di jam seperti ini?" tanya Chelsea sambil berusaha mengintip isi dari kantong plastik itu.


"Ck, bukan urusanmu!" jawab Leon yang kemudian memalingkan wajahnya karena malu.


"Eh?!" Chelsea membelalak, karena kantong plastik itu berwarna putih, samar-sama dia bisa menebak apa yang ada di dalamnya. "Kau beli pembalut?"


"Ini untuk Liana!"


"Pffttt ... haha, tidak usah malu. Justru aku kagum, kau adalah seorang kakak yang sangat baik!"


"Cih, nada bicaramu menjelaskan segalanya! Kagum apanya? Jelas-jelas kau mengejekku!" Leon merasa kesal, dia berjalan pergi mendahului Chelsea tanpa berkata apa pun lagi.


"Darah siapa ini?" tanya Leon dengan tatapan curiga.


"Aku tak tahu, tiba-tiba saja ada sekelompok pria yang berniat membunuhku. Aku hanya melawan untuk mempertahankan diri." Chelsea kemudian menarik tangannya kembali.


"Kapan? Apa itu terjadi baru saja?"


"Iya. Mungkin saja mereka adalah orang suruhan DG CLUB. Aku memutuskan untuk berhenti hari ini, menurutku mereka tidak terima jika aku keluar, lalu mengirim orang untuk membunuhku."


"Tidak, kau salah!" Seketika ekspresi Leon berubah panik. "Sial, ternyata sudah dimulai!"


"Dimulai? Apa yang dimulai?" tanya Chelsea kebingungan.


"Aku tidak bisa menjelaskannya di sini. Ayo ke rumahku saja!"


"B-baiklah," Chelsea langsung setuju karena menganggap bahwa hal yang tidak dia ketahui ini sangat serius.


Setibanya mereka di rumah, Leon langsung memberikan barang yang dia beli kepada Liana. Dan untuk Chelsea, dia tanpa ragu mengajaknya untuk masuk ke kamar pribadinya. Leon juga segera mengambil ponselnya, mengirim sebuah pesan penting kepada seseorang.


Di sisi lain Chelsea terus diam karena kebingungan dengan tingkah Leon yang tidak biasa seperti ini. Di saat Leon sudah lebih tenang, dia pun menghampiri Chelsea dan duduk di sebelahnya.


Leon menghela napas. "Hahh ... sepertinya ini sudah saatnya."

__ADS_1


"Saatnya untuk apa?" tanya Chelsea sedikit gugup.


"Memberikan informasi yang ingin kau tahu. Dan ini berkaitan dengan pria tidak dikenal yang menyerangmu."


"Emm ... baiklah, aku akan mendengarkan."


"Sebelumnya aku akan memberikan informasi umum dulu. Organisasi yang akan kau masuki ini sangat besar, dan dibagi menjadi 4 divisi utama. Masing-masing divisi punya peran penting yang berbeda. Ada 9 orang yang sangat disegani dan posisinya paling tinggi!"


"Mereka adalah 9 eksekutif yang punya kekuasaan mutlak, mereka disebut 9 Family! Ketua sendiri yang memimpin para Family. Dan kak Dika juga termasuk ke dalam salah satu Family!"


Tiba-tiba Chelsea mengangkat tangan. "Maaf menyela, apa kau mengenal semua para Family?"


"Ya, aku kenal mereka semua. Tapi aku tidak akan memberitahumu siapa saja mereka, informasi ini hanya boleh diketahui saat kau sudah resmi menjadi anggota tetap!"


"Begitu ya ... baiklah, silakan lanjutkan!" Chelsea kembali diam dan bersiap mendengarkan.


"Seperti yang aku bilang tadi. Divisi terbagi menjadi 4, dan kita ada di bawah naungan divisi 2. Divisi 2 juga dibagi menjadi dua cabang, cabang dalam negeri dan cabang luar negeri. Kak Dika yang mengepalai cabang dalam negeri, dan untuk cabang luar negeri dikepalai oleh seorang Family yang lain."


"Sesuai dengan namanya. Cida Home, orang awam akan beranggapan jika itu cuma nama sebuah kedai biasa. Tapi, sebenarnya itu adalah nama yang disamarkan. Kata asalnya adalah Homicida, diambil dari bahasa latin. Atau Homicide, diambil dari bahasa inggris. Artinya sama-sama pembunuhan. Jadi, orang yang tahu kebenaran soal tempat itu akan menyebutnya sebagai Kedai Pembunuh!"


"Tadi juga sudah aku katakan, Kedai Pembunuh dibagi menjadi dua cabang. Hal itu dibedakan menurut targetnya. Dan kami juga akan melayani jika klien meminta jasa perlindungan. Apa sampai sini kau sudah paham?"


Chelsea mengangguk. "Yaa ... singkatnya kau ini bekerja sebagai pembunuh sekaligus pengawal bayaran. Dan kau bilang ke Liana jika pekerjaanmu sebagai bodyguard. Jadi kau tidak sepenuhnya berbohong, licik juga."


"Mari jangan bahas itu sekarang. Penjelasanku belum selesai!" Leon mengambil napas panjang dan berkata, "Ini soal sekelompok pria yang menyerangmu. Mereka bukan orang suruhan, tapi memang mau membunuhmu atas keinginan mereka sendiri."


"Eh? Tapi kenapa? Aku punya salah apa pada mereka?" Chelsea kebingungan.


"Bukan salahmu, tapi ini karena informasimu bocor. Ketua sudah menetapkan aturan jika perekrutan anggota tetap dibatasi, kuota anggota yang akan diterima kali ini terbatas, tapi banyak orang yang menginginkannya."


"Kenapa mereka ingin? Apa mereka juga mau membalas dendam sepertiku?" tanya Chelsea lagi.


"Kau ini ... jangan menyamakan mereka semua dengan kisah hidupmu. Mereka tentu punya alasan masing-masing. Dan kebanyakan dari mereka adalah sampah masyarakat, kau pikir ada tempat yang mau memperkerjakan para kriminal seperti mereka? Tentu saja menjadi gangster yang punya banyak uang adalah pilihan mereka. Dan kau belum tahu saja, jika kau resmi menjadi anggota tetap maka ada banyak keuntungan yang bisa kau dapatkan."


"Keuntungan seperti apa?"


Leon menyeringai. "Jika kau lolos, nanti kau akan tahu sendiri."


"Huh! Menyebalkan! Tapi ... kira-kira aku sudah tahu garis besarnya. Mungkin saja informasiku yang ingin bergabung bisa bocor karena mereka tahu aku sering bertemu denganmu. Tapi, kenapa tadi kau sepanik itu? Apa kau mengkhawatirkan aku?"


Leon tersentak. "Sembarangan! Jangan terlalu percaya diri! Aku hanya khawatir jika lokasi perekrutan juga bocor! Tinggal seminggu lagi acara perekrutan dimulai! Aku tidak mau acara yang sangat dinantikan ini jadi berantakan!"


"O-ohh ... kukira kau khawatir padaku." Chelsea tersenyum canggung.


"Lagi pula kita tidak sedekat itu. Memangnya apa yang perlu aku khawatirkan tentangmu?" tanya Leon seakan merendahkan Chelsea.


"Aku cuma berpikir jika aku gagal maka akan mempermalukanmu, secara kau sendiri yang telah mengajariku selama ini. Aku berpikir soal nama baikmu ... bukan soal perasaan khawatir antar jenis seperti yang kau pikir!" ucap Chelsea yang kemudian memalingkan wajahnya.


"Hmm, kau ada benarnya juga! Intinya mulai sekarang kau harus bertahan hidup setidaknya sampai seminggu lagi! Terserah kalau kau mau sembunyi di lubang cacing ataupun semut! Aku tidak mau waktu yang aku habiskan untuk melatihmu akan jadi terbuang sia-sia jika kau jadi mayat!"

__ADS_1


"Iya-iya ... terima kasih atas motivasinya," ucap Chelsea dengan nada malas.


"Pokoknya awas saja jika kau sampai gagal!" bentak Leon sekali lagi yang kemudian juga memalingkan wajahnya.


__ADS_2