Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Merasa Goyah


__ADS_3


Dasar dari cinta itu adalah kejujuran. Jika didasari oleh kebohongan, bisa jadi itu bukan cinta, tetapi cuma perasaan yang sengaja dipermainkan untuk sebuah tujuan. Itulah perkataan yang pernah disebutkan oleh sang ketua yang terus terngiang-ngiang di benak Leon sepanjang di perjalanan.


Dan kini, akhirnya dia telah tiba di tempat tujuan. Di sini dia bermaksud menanyakan sendiri apakah selama ini dia memang dibohongi. Dia ingin memastikan apakah cintanya ini hanya sebuah perasaan yang dipermainkan. Dia ingin tahu apakah selama ini perasaan yang begitu berarti hanya sekadar kebohongan belaka.


Leon telah memencet tombol bel pintu. Sambil menanti pintu dibuka, dia merasa harap-harap cemas soal apa yang akan terjadi pada hubungannya nantinya.


KLAK!


Pintu rumah itu mendadak di buka dari dalam. Dan tampaklah Chelsea yang menyambut kedatangan Leon dengan senyuman. Tak cuma tersenyum, dia bahkan memberikan sambutan pelukan yang hangat nan erat. Seolah-olah sudah lama tak bertemu dan memang sangat merindukan pria ini.


"Selamat pagi, Leon! Sudah kukira kalau itu memang kau!" ucap Chelsea dengan nada manjanya.


"...." Leon diam seribu bahasa. Dia tak menyangka akan mendapatkan pelukan seperti ini begitu mereka bertemu. Namun, kali ini sedikit berbeda. Karena Leon telah mengetahui fakta-fakta sebenarnya yang selama ini disembunyikan darinya, dia memutuskan untuk tidak membalas pelukan itu.


Kedua tangan Leon tetap diam dan mengepal sekuat mungkin. Entah kenapa hatinya lagi-lagi merasa sakit. Pikirnya, jika semua perlakuan manis dan perhatian ini hanya kepalsuan belaka, maka ini sungguh kejam baginya. Pikirnya lagi, mungkinkah semua ini benar adanya, bagaimana jika sebenarnya semua kehangatan ini benar-benar nyata. Sungguh susah rasanya jika terus berpura-pura.


Kini dia mulai berpikir jika ketua lagi-lagi benar soal sesuatu hal. Cinta itu membuat buta, dan kini Leon telah mengalaminya sendiri. Seakan-akan dia menjadi buta, tak mampu melihat mana yang asli dan palsu, tak bisa membedakan mana yang benar dan salah.


Di satu sisi Chelsea masih girang karena kehadiran Leon. Dia lalu melepaskan pelukannya sambil berkata, "Ayo masuk dulu!"


Chelsea lantas menggandeng tangan Leon untuk bermaksud menarik dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, Leon tak berkutik dan masih berdiam diri di tempat. "Hm? Ada apa? Ayo masuk!" ajak Chelsea lagi yang masih tak memahami sikap aneh Leon.


"Tidak," jawab Leon singkat tanpa menatap mata Chelsea. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa mulutnya begitu berat, tak kuasa mengatakan apa yang sebelumnya dia ingin katakan.


Chelsea yang mendengar jawaban singkat itu hanya tersenyum tipis. "Ya sudah kalau kau tak mau masuk. Sebenarnya apa tujuan kedatanganmu ke sini? Apa kau cuma mau bicara sebentar denganku lalu pergi? Aku paham jika kau menerima tugas yang penting dan harus segera melaksanakannya."


"Tidak, aku tak menerima tugas. Aku diberi waktu libur seminggu untuk istirahat. Aku ke sini karena ... ingin mengajakmu keluar," jawab Leon yang masih tak memandang wajah Chelsea. Sangat sulit baginya jika harus berbohong sambil menatap wajah seseorang yang dia cintai.


"E-eh, maksudmu kencan?!" tanya Chelsea dengan kedua pipi yang merona. Mendadak jantungnya berdebar-debar, dia begitu gugup saat memikirkan kencan pertamanya yang datang tiba-tiba.


"Yaa ... bisa dibilang begitu, apa kau mau?" tanya Leon dengan ekspresi canggung. Tadinya dia sama sekali tidak memiliki niatan mengajak kencan, namun karena Chelsea sudah bilang begitu maka dia terpaksa mengiyakannya.


"A-aku mau, tapi aku harus siap-siap dulu! Kau masuklah, aku janji tidak akan membuatmu menunggu lama!" ucap Chelsea yang kelabakan. Bahkan di dalam benaknya saat ini, dia sudah bingung harus memilih memakai pakaian yang mana untuk tampil sempurna di kencan pertama.


"Tidak masalah, aku akan menunggumu di mobil saja."


"O-oke, kalau begitu tunggu sebentar, ya!" pinta Chelsea yang segera masuk lagi dengan langkah terburu-buru.


"Hahh ... kenapa malah jadi begini?" Leon menghela napas. Dia tidak habis pikir jika niat awalnya yang ingin meminta penjelasan malah berubah menjadi kencan dadakan.


Seperti yang Chelsea bilang tadi, dia tak berlama-lama dalam berdandan untuk tampil secantik mungkin demi memberikan kesan yang spesial dan berarti di kencan pertamanya. Dia memperhatikan seluruh detail penampilan di tubuhnya agar Leon merasa tak kecewa.


Begitu Chelsea selesai bersiap, dia langsung mengunci semua pintu rumah dan berlari menaiki mobil Leon yang terparkir agak jauh dari rumahnya.

__ADS_1


"Aku sudah siap! Kita mau ke mana?" tanya Chelsea begitu dia memasuki mobil dan duduk di kursi depan sebelah Leon berada.


Sejenak Leon tertegun begitu melihat Chelsea yang telah berdandan cantik untuk dirinya. Dia kemudian juga berpikir, apakah sikap padanya ini tulus ataukah tidak.


"Emm ... nanti kau juga akan tahu sendiri," jawab Leon asal yang tak mau mengecewakan Chelsea yang tampak begitu antusias.


"Oh, baiklah. Aku paham!" jawab Chelsea sambil tersenyum bahagia.


Hehehe, aku tidak menyangka ini akan terjadi. Leon yang biasanya tampak dingin ternyata juga bisa mau membuat kejutan untukku. Sekarang aku jadi tidak sabar ingin tahu ke mana dia akan mengajakku.


Di satu sisi Leon juga sedikit bingung ke mana dia akan pergi karena kencan ini adalah sesuatu yang terjadi di luar bayangannya. Namun, tiba-tiba saja dia teringat pada adiknya. Dia ingat betul jika Liana pernah bercerita padanya kalau melakukan kencan di bioskop adalah hal yang menyenangkan. Leon pun segera membanting setir menuju ke bioskop yang lokasinya dia ketahui. Kurang lebih sekitar 15 menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Namun, lagi-lagi sesuatu yang ada di luar perkiraan Leon terjadi. Bioskop itu sangat ramai, sebelumnya dia tak mencari informasi dulu tentang sebuah film terkenal yang akan ditayangkan perdana pada hari ini.


"Wahh ... ramai sekali, semoga kita tidak kehabisan tiket! Tapi ... aku tak sangka kalau kau juga tahu soal film terkenal yang baru akan tayang hari ini," ucap Chelsea dengan senyum bahagia seraya melirik ke arah Leon.


"Ah, iya ..." jawab Leon dengan canggung. Dia tidak bisa mengatakan kalau semua hal ini terjadi sebatas karena kebetulan saja.


Mereka berdua pun dengan sabar sama-sama mengantre di barisan panjang depan loket tiket. Entah sudah berapa menit berlalu ketika mereka hanya berdiri dan menunggu giliran maju. Dan ketika antrean mereka hampir tiba, Leon menyadari sesuatu. Dia sadar ke arah mana Chelsea melirik, yaitu ke arah orang-orang yang telah membawa popcorn dan minuman di tangan mereka.


"Apa kau mau?" tanya Leon yang seketika membuyarkan lamunan Chelsea.


"Ah, maksudmu popcorn? A-aku mau ..." jawab Chelsea malu-malu.


"Baiklah, kau tetap jaga antrean kita di sini. Aku akan pergi sebentar untuk beli popcorn. Oh ya, kau mau rasa apa?"


Tanpa berkata sepatah kata pun lagi Leon langsung keluar dari antrean pembelian tiket dan beralih untuk membeli popcorn serta minuman. Setelah pada akhirnya mereka mendapatkan tiket, tak lama kemudian pemutaran film pun dimulai.


Kebetulan sekali film yang mereka berdua tonton adalah sebuah film romantis yang bercampur dengan fantasi. Chelsea terlihat begitu menikmati film dan popcorn miliknya, sudah lama rasanya dia tidak sesantai seperti ini. Akan tetapi, berbanding terbalik dengan Leon. Meskipun film itu bagus, Leon sama sekali tidak menikmati saat-saat ini.


Karena pada dasarnya Leon adalah sosok orang yang cenderung suka menyendiri, berada di tengah keramaian banyak orang seperti ini membuatnya merasa muak dan tidak nyaman. Terlebih lagi, dia terus menerus memikirkan soal bagaimana caranya nanti ketika dia ingin meminta penjelasan. Leon masih menyusun kata-kata dan kalimat yang tepat di dalam pikirannya, supaya nantinya dia tidak kehilangan kendali saat menanyakan hal sepenting ini.


"Ahh ... bagus sekali, pemeran utama pria akhirnya bisa memutuskan untuk memilih bersama dengan orang terpenting di hidupnya. Nilaiku untuk film ini 9 dari 10! Bagaimana denganmu, Leon?" tanya Chelsea yang seketika menyadarkan Leon dari lamunan.


"Eh, tadi kau bilang apa?"


"Humph! Aku bertanya padamu soal berapa nilai yang kau berikan untuk film ini! Jangan-jangan tadi kau tidak memperhatikan filmnya, ya!" tuduh Chelsea dengan tampang cemberut.


"Oh ... jadi kau bertanya soal nilaiku pada film ini. Emm ... mungkin 4!"


"Kenapa cuma 4? Apa kau tidak suka film romantis?" tanya Chelsea penasaran.


"Iya, aku kurang suka. Bahkan sebenarnya ... aku tak terlalu suka menonton film. Bagiku semua yang tidak nyata itu percuma. Film ini hanya karangan dari seseorang, rasanya sedikit menggelikan jika imajinasi liar dari seseorang begitu banyak yang menyukainya."


"Hphm ...." Chelsea makin berekspresi masam.

__ADS_1


"Eh, aku tidak bermaksud menyindirmu. Ini hanya pandanganku saja, semua orang kan bebas memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda," jelas Leon yang mencari pembelaan untuk dirinya, sekaligus ingin menjelaskan jika dia sama sekali tidak berniat menghina selera Chelsea.


"Oh, jadi begitu ya menurutmu. Tapi kalau kau tidak suka, kenapa kau malah mengajakku kemari?" tanya Chelsea dengan nada ketus.


"Karena sepertinya kau akan menyukainya," jawab Leon yang kemudian memalingkan wajahnya.


"Eh?!" Seketika wajah Chelsea memerah.


Jadi, Leon mau ke sini karena demi menyenangkan aku? Sial, jantungku mendadak berdebar-debar lagi! Ini semua gara-gara Leon yang diam-diam ternyata menghanyutkan. Aku tidak tahu jika dia bisa seromantis ini.


Chelsea mendadak jadi gugup. Dia salah paham lagi dengan maksud Leon. Padahal yang sebenarnya adalah tempat yang ada di pikiran Leon memang cuma bioskop.


Dengan ekspresi yang tersipu malu, Chelsea pun kembali berkata, "Emm ... terima kasih sudah mengajakku ke sini dan menonton film yang bagus bersamaku. Tapi ... jangan lupakan kalau kita ini sedang kencan. Aku tak mau kalau cuma aku saja yang menikmati kencan ini, kau juga harus menikmati semua yang kita lakukan bersama! Jadi, setelah ini mari kita beralih ke tempat yang kau suka!"


"Tempat yang aku suka?" tanya Leon dengan tatapan heran.


"Iya, aku mau tahu tempat seperti apa saja yang kau suka!" jawab Chelsea tanpa keraguan.


"Baiklah, tapi apa kau suka masakan china?"


"Eh? Masakan china?"


Setelah menonton film di bioskop, mereka berdua langsung menuju ke tempat yang Leon ingin datangi. Tempat itu tidak lain adalah sebuah restoran china yang sudah lama berdiri di kota, namanya Shangri-La Restaurant.


Tempat ini memiliki dekorasi yang mengagumkan, pintunya terbuat dari perpaduan kayu dan kaca. Lantainya yang cantik dengan motif bunga etnik, ada gambar baik lukisan maupun kaligrafi China terpasang menghiasi dinding.


Dekorasi lain yang terdapat di restoran ini adalah adanya aksesoris ruang khas China. Seperti guci, lukisan kuno, bahkan lampion-lampion berwarna merah juga hadir memeriahkan suasana.


Leon memesan sebuah ruangan khusus seperti biasa setiap kali dia datang ke sini. Dengan tempat yang cukup menenangkan ini, Leon sedikit tampak menunjukkan antusiasme begitu merasakan masakan China kesukaannya.


Untung saja Chelsea juga menyukai masakan china. Jadi bisa dibilang jika makan bersama di kencan pertama ini berjalan dengan cukup lancar. Hanya saja, Leon masih tak berbicara banyak dan cenderung diam. Meskipun sesekali Chelsea mengatakan lelucon, Leon tak tertawa dan cukup merespons hanya dengan senyuman.


Tanpa terasa mereka berdua telah menghabiskan waktu bersama cukup lama. Setelah mereka meninggalkan restoran China itu, Leon mengajak Chelsea untuk mengunjungi sebuah tempat indah yang pastinya menenangkan. Tempat itu adalah sebuah danau yang ada di kota, yaitu Wonder Lake.


Ada sebuah kejadian lucu yang sebelumnya terjadi di danau ini. Danau ini adalah danau yang sama ketika mereka berdua sedang memata-matai Liana ketika berpacaran. Kini mereka berdua juga merasa lucu, saat ini mereka berdua kembali datang ke danau ini dengan status hubungan yang sudah berbeda. Yang semula rekan, kini menjadi pasangan.


Hari ini danau yang indah itu tampak cukup sepi. Leon dan Chelsea duduk bersama di sebuah bangku yang ada di tepi danau. Mereka amat merasa nyaman akan ketenangan seperti ini. Tidak ada suara berisik yang mengganggu telinga mereka, hanya ada suara alam yang menimbulkan ketenangan.


"Danau yang indah," ucap Chelsea tiba-tiba.


"Iya, kau benar," jawab Leon yang masih menatap lurus menghadap ke arah Danau.


CUP!


Tiba-tiba saja Chelsea mendaratkan sebuah kecupan di pipi Leon. Leon yang terkejut dengan serangan mendadak seperti ini hanya menatap Chelsea dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


"Terima kasih, Leon! Ini benar-benar kencan pertamaku yang menyenangkan. Meskipun hari ini kau cenderung jadi lebih pendiam, tapi aku tetap senang! Aku menanti kencan selanjutnya darimu!" ucap Chelsea dengan senyum berseri.


"Kau ..." ucap Leon dengan nada gemetar. Lagi-lagi hatinya merasa goyah. Dia tak kuasa menghancurkan senyuman dari wanita tercinta. Pada akhirnya, sampai senja hari telah tiba. Leon sama sekali tidak bisa mempertanyakan soal kejujuran identitas yang disembunyikan darinya.


__ADS_2