Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Apakah Sudah Berakhir?


__ADS_3


"Mamamm ...." ucap si kecil Nora. Di sekitar mulut mungilnya dipenuhi oleh bubur bayi yang berlepotan.


"Ayo aaaa ... Sayang, jangan disembur lagi, ya? Mamam yang baik seperti kakak Noah," bujuk Nisa sambil berusaha memasukkan sesendok bubur ke mulut Nora.


"Huft ... apa bubur kacang polong juga bukan selera Nora? Sebenarnya anak ini sukanya apa? Aku sudah coba macam-macam, tapi tetap saja makannya sedikit. Beda sekali dengan Noah, yang apa saja masuk ke mulutnya," gumam Nisa.


Nisa lantas kembali menyuapi kedua bayinya yang didudukkan di high chair. Dia lebih cenderung menyuapi Noah yang makan bubur dengan lahap. Sedangkan Nora, dia hanya makan sedikit. Dan justru lebih suka memainkan sendok yang kosong.


Hal semacam ini belakangan menjadi rutinitas Nisa. Sudah 5 hari dia tidak mendapatkan kabar apa pun mengenai tindakan Chelsea yang mencurigakan. Dia juga mendapatkan kabar dari Divisi 2 yang saat ini sedang memberikan hukuman ringan bagi Leon.


Pikirnya, apakah masalah ini benar-benar sudah selesai? Apakah ini memang akhir dari balas dendam 10 tahun yang lalu? Dan apakah Chelsea masih menjadi ancaman baginya? Semua hal ini terus berputar di kepala Nisa. Bahkan tidurnya juga tidak nyenyak karena memikirkan situasi damai yang tidak wajar ini.


"Nyonya!" ucap Bibi Rinn yang tiba-tiba muncul.


"Ada apa, Bibi?" tanya Nisa yang penasaran mengapa Bibi Rinn terkesan panik dan terburu-buru.


"Anu ... di luar, ada wanita aneh. Dia menutupi wajahnya menggunakan masker, dia bilang ingin bertemu dengan Nyonya. Penjaga sudah memintanya untuk melepas maskernya dan memberitahu identitasnya, tapi dia tidak bersedia dan bersikukuh untuk bertemu dengan Nyonya."


Sejenak Nisa temenung, di lalu tersenyum tipis dan berkata, "Baiklah, suruh dia masuk kalau memang mau bertemu denganku!"


"T-tapi Nyonya ... dia mencurigakan, takutnya dia punya maksud yang tidak baik," bantah Bibi Rinn dengan nada khawatir.


"Tidak apa-apa, aku mengenal orang itu. Bibi persilakan saja dia masuk."


"Baik, Nyonya ...." Bibi Rinn lekas pergi, dia tak membantah perintah Nisa lagi.


Tak berselang lama kemudian Bibi Rinn kembali dengan wanita misterius itu. Dengan perasaan yang waswas, dia menunjukkan jalan ke ruangan santai. Ruangan di mana Nisa menyuapi kedua bayi kembarnya yang berada di dekat kolam renang.


"Bibi Rinn bisa tinggalkan kami," pinta Nisa yang masih fokus menyuapi bayinya.


"Baik, Nyonya."


Setelah Bibi Rinn telah menjauh, Nisa kembali berkata, "Duduklah, kau bisa duduk di mana pun kalau kau mau."


Wanita ini masih berdiam diri di tempat. Dia masih tak percaya bahwa Nisa akan berkata demikian kepadanya.


"Jangan jadi patung begitu, katanya kau kemari karena ingin menemuiku, jadi cepat katakan apa keperluanmu. Aku sibuk, harusnya kau sendiri juga bisa melihatnya. Jadi jangan basa-basi, Chelsea!" ucap Nisa dengan tatapan sinis.


"Hahh ... sesuai yang aku harapkan. Ketua gangster sepertimu memang punya insting dan menyadari jika ini aku." Chelsea melepas masker yang menutupi hidung dan mulutnya, lalu duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari Nisa. Sejenak Chelsea masih terdiam, dia tak segera mengatakan apa yang jadi maksud kedatangannya kemari.

__ADS_1


"Bubuu ..." celoteh si kecil Noah.


"Dihabiskan dulu mamam nya, setelah itu baru main sama bunda! Ayo aaaa ... pintar!"


Pemandangan ini tak pernah dipikirkan oleh Chelsea. Dia kaget lantaran Nisa begitu telaten mengurus dan sayang pada bayi-bayinya. Selama ini dia pikir bahwa Nisa tak terlalu peduli, hanya mengandalkan pengasuh untuk merawat anak-anaknya.


"Tak aku sangka kau punya sisi yang seperti ini juga," ucap Chelsea dengan seringai sinis.


"Terus kenapa? Memang kau menyangka aku akan bagaimana?" tanya Nisa tanpa mengalihkan pandangan dari Noah dan Nora.


"Aku kira kau hanya seperlunya saja merawat anakmu. Lalu melatih mereka untuk menjadi sepertimu, secara singkatnya kau menjadikan mereka sebagai alat. Tapi ternyata itu salah, kau yang seperti ini sungguh berbeda ketika kau berhadapan denganku. Tatapanmu yang sekarang penuh kasih, tapi tatapanmu saat itu penuh dengan niat membunuh."


"Lalu? Apa masalahnya?" tanya Nisa lagi.


"Masalahnya ... sikapmu ini, tidakkah terlalu bertolak belakang? Dan tidakkah kau merasa lalu bersikap munafik di depan anak-anakmu?" tanya Chelsea dengan nada menusuk.


Sejenak Nisa membatu, berhenti menyuapi kedua bayinya. Namun, setelahnya dia malah tertawa cekikikan. "Hahaha, lucu sekali kau mengatakan ini. Yang kau ucapkan memang tidak salah, hanya saja itu menggelikan. Aku bersikap munafik? Haha, itu konyol. "


"...." Chelsea diam seribu bahasa, masih tidak mengerti di mana letak kelucuan dari pertanyaannya.


"Aku rasa kau perlu pengertian. Akan aku beritahu soal pengertian yang penting. Setiap orang tentu memiliki beberapa sisi atau sebut saja wajah. Wajah yang diperlihatkan ke teman, wajah yang diperlihatkan pada keluarga, wajah yang diperlihatkan ke publik, dan wajah yang tak ingin ditunjukkan pada siapa pun."


"Hanya karena kau sudah melihat sisiku yang kejam, licik dan tanpa ampun. Kau salah jika aku tak punya sisi penyayang. Aku tak peduli jika kau mau menyebutku munafik atau apa. Tetapi yang jelas, kau tak pantas untuk berkomentar soal hidupku."


"Sejujurnya, aku sedikit tersinggung saat kau bilang seharusnya aku memperlakukan anakku sebagai alat. Dosa orang tua tidak bisa diwariskan ke anak. Tetapi, bayang-bayang orang tua akan selalu melekat pada anak. Sebagai ibu, tentu saja aku ingin selalu memperlakukan anakku dengan kasih sayang. Tetapi di sisi lain, aku harus berlaku keras pada mereka."


"Suatu saat nanti, aku harus memberitahu anak-anakku yang sebenarnya. Aku harus mengajari mereka banyak hal, serta berbagai keterampilan yang tidak akan dipelajari oleh anak-anak pada umumnya. Karena aku yakin, bayang-bayangku tak akan pernah bisa lepas dari mereka. Aku ingin mereka dapat melindungi diri sendiri saat aku tidak ada nanti."


"Bububuu!" ucap Nora yang memotong perkataan Nisa. Bahkan dia juga kembali menyemburkan bubur dari mulutnya.


"Haiss ... Nora, jadi berantakan, nanti kau harus ganti baju!"


"Bubuu ... wawaawaa ...." Nora malah tertawa.


Nisa kembali menghela napas, lantas mengambil tisu untuk mengelap mulut Nora yang kotor.


Sedangkan di sisi lain Chelsea masih terdiam. Dia sedikit heran lantaran Nisa bisa bicara santai dengannya. "Kenapa kau saat ini begitu lengah? Apa kau tidak takut aku melakukan sesuatu dan melukai bayimu?"


Nisa menyeringai. "Heh! Lakukan saja kalau kau mampu! Di mataku saat ini, kau jelas-jelas seperti harimau yang terlalu gemuk dan bergigi tumpul. Sama sekali tidak mengancam."


"Jadi kau meremehkanku?" tanya Chelsea seakan tersinggung, terutama dengan kata-kata 'harimau yang terlalu gemuk'.

__ADS_1


"Tentu, karena kau bukan lawan yang sebanding bagiku. Kau bilang aku ini iblis, dan hanya iblis yang mampu melawan iblis. Sedangkan kau sendiri enggan jadi iblis. Itulah alasan utamamu gagal membalas dendam atas kematian kakakmu."


"Apa maksudmu? Kenapa kau mengungkit kakakku?!"


Sekali lagi Nisa menyeringai sinis, bahkan kali ini dia juga menatap Chelsea dengan tatapan tajam. "Lihatlah aku baik-baik, aku ini sama seperti kakakmu. Dari sikapmu saja, aku bisa tahu sosok William Adinata itu orang seperti apa. Rupanya dia tidak ada bedanya denganku. Kakakmu itu, pasti ketika di rumah selalu bersikap selayaknya anak dan kakak yang baik. Tetapi ketika di luar, dia akan berubah jadi iblis."


"K-kau ...!" Chelsea tak mampu membantah perkataan Nisa. Semua yang dia katakan memang benar adanya. Alasan Chelsea ingin balas dendam tentu karena William merupakan sosok kakak yang baik baginya. Tetapi, dia juga tidak bisa menyangkal soal perbuatan buruk yang telah William sembunyikan darinya.


"Sudahlah Chelsea, jangan buang-buang waktuku lagi. Bubur anakku sebentar lagi habis, artinya aku tidak bisa berlama-lama meladenimu. Sejak tadi kau belum mengatakan apa tujuanmu menemuiku!"


Chelsea mengatur napasnya. Sebisa mungkin bersikap untuk tidak memperlihatkan kekesalannya. Karena tujuannya datang kemari adalah meminta sesuatu dari Nisa. "Tujuanku kemari karena menginginkan sesuatu darimu! Kau adalah ketua utama, jadi ... aku minta kau suruh Kepala Divisi 2 untuk menyudahi hukumannya pada Leon!"


"Hah? Cuma itu?" tanya Nisa seakan tidak percaya.


"Iya! Aku tidak ingin Leon terus-terusan dihukum karena membelaku!"


"Haiss ... rupanya hal sepele," ucap Nisa tanpa antusias.


"Ini bukan hal sepele, 2 hari lagi Liana berulang tahun! Aku tidak mau dia bersedih karena ulang tahunnya harus dirayakan tanpa Leon!" bantah Chelsea yang ingin menegaskan jika masalahnya penting.


"Iya-iya ... nanti aku akan bilang ke Dika supaya pacarmu dibebaskan dari hukuman."


Cih, kukira belakangan ini Chelsea tak membuat pergerakan karena berencana membuat serangan balasan untukku. Ternyata dia diam karena otaknya sepenuhnya mengkhawatirkan Leon. Sepertinya ini akan benar-benar selesai di sini. Chelsea sudah tidak jadi ancaman buatku lagi.


"BUNDAAAA!!"  teriak Keisha dengan nyaring. Tiba-tiba muncul dan berlari. Bahkan dia masih mencangklong tas ranselnya karena baru saja pulang dari les. Belum sempat Keisha memeluk sang bunda, langkahnya terhenti saat melihat keberadaan Chelsea.


"Kenapa bibi pengasuh ada di sini?" tanya Keisha dengan tatapan polosnya.


Belum sempat Chelsea menjawab. Datang seseorang lagi, dia tidak lain adalah sang tuan rumah yang sesungguhnya, Keyran Kartawijaya.


"Keisha, ayah sudah bilang jangan berlari sembarangan! Nanti kau bisa ja-" Perkataan Keyran seketika terhenti begitu melihat Chelsea.


"K-kau! Chelsea! Kau masih hidup?! Sebentar, kau memang masih hidup, tapi kenapa kau ada di sini?!"


"A-aku ..." jawab Chelsea seraya melirik ke arah Nisa.


"Nisa! Ada apa ini? Jelaskan padaku! Keluarga Adinata saat ini mencari-cari keberadaan Chelsea! Bagaimana bisa dia justru ada di sini bersamamu?!" tanya Keyran dengan tatapan tajam bak setajam mata pedang.


"Ya, suamiku? Kami ... hanya sedang melakukan acara minum teh bersama," jawab Nisa gelagapan.


"Minum teh? Bahkan cangkir teh saja tidak ada! Jangan kira kau bisa menipuku! Dan jangan buat alasan yang aneh-aneh!" bentak Keyran penuh penekanan.

__ADS_1


"T-tidak kok ...."


Sialan, kali ini benar-benar mampuss aku. Aku harus bilang apa? Waktunya tidak tepat sekali.


__ADS_2