Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Persaingan Untuk Luciel


__ADS_3


Keyran dan Nisa sama-sama terperangah, mereka berdua sama sekali tidak menyangka jika Luciel telah mengatakan ingin didampingi oleh Natasha. Mereka berdua pun saling menatap, meskipun tanpa bicara apa-apa, mereka berdua bisa paham jika mereka sama-sama keberatan dengan permintaan Luciel barusan.


Karena mereka berdua sudah tahu bagaimana sikap buruk Natasha di masa lalu yang begitu membekas bagi mereka, dan sampai sekarang mereka berdua juga masih menyimpan dendam dan terus waspada kepada Natasha.


Nisa kemudian berjongkok agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan Luciel. Kemudian dengan nada lembut dia pun berkata, "Emm ... Luciel, mengapa Luciel ingin didampingi oleh tante Natasha?"


"Karena tante Natasha adalah orang yang ramah dan baik. Dia juga perhatian kepada Luciel. Dan Luciel yakin kalau tante Natasha tidak keberatan mendampingi Luciel saat latihan pentas drama nanti," jawab Luciel dengan tatapan polosnya, dia benar-benar menganggap jika Natasha adalah sosok orang yang baik.


"...." Nisa tertegun, tentu saja dia tidak bisa menolak permintaan Luciel tanpa alasan yang jelas. Dan tidak mungkin juga baginya untuk menceritakan kejahatan Natasha di masa lalu kepada anak sekecil ini.


Nisa yang merasa bingung kemudian menoleh ke arah Keyran dan menatapnya untuk meminta pendapat, akan tetapi suaminya itu hanya diam karena juga tak punya alasan yang cocok untuk menolak.


"Luciel tidak ingin merepotkan ayah. Jadi boleh ya, mengajak tante Natasha?" tanya Luciel dengan tatapan berharap.


"Emm ... baiklah, nanti akan kami coba bicarakan dulu dengannya." Nisa terpaksa mengiyakan dulu permintaan Luciel, meskipun sebenarnya dia sangat ingin menolak dan enggan menjalin komunikasi serta berhubungan baik dengan Natasha.


"Yeyyy! Terima kasih mami! Luciel sayang mami Nisa!" Luciel tersenyum semringah dan langsung merangkul Nisa dengan kedua tangan kecilnya.


"Mami juga sayang, Luciel ..." ucap Nisa seraya membalas pelukan itu.


Begitu pelukan itu lepas, seketika Luciel berkata, "Ayah, Luciel tadi mencari Ayah karena ingin meminjam lem kertas. Apakah Ayah punya?"


"Ayah punya, tapi ada di ruang kerja. Luciel mau ikut ambil atau tidak?" tanya Keyran dengan senyum lembut.


"Luciel mau ikut!" jawab Luciel penuh semangat, dia senang lantaran akhirnya bisa melanjutkan kembali membuat kerajinan tangan yang belum selesai.


***


Hari berganti dan pagi hari yang sibuk seperti biasanya kembali tiba. Pagi ini ketika Nisa sedang menyusui kedua bayi kembarnya, Bibi Rinn yang merupakan kepala pelayan di kediaman villa ini datang menghampirinya.


"Permisi Nyonya," ucap Bibi Rinn yang begitu masuk langsung bersuara pelan supaya kedua bayi mungil itu tidak kaget dan menangis.


"Ada apa Bibi?" tanya Nisa yang masih menimang-nimang bayi perempuannya.


"Ada tamu yang datang, Nyonya. Saat ini Nyonya Natasha bersama Nyonya Besar sedang menunggu di ruang tamu," jawab Bibi Rinn.


"Hah?! Untuk apa mereka berdua pagi-pagi datang ke sini?" tanya Nisa dengan tampang heran.


"Emm ... sepertinya ingin memberikan sesuatu, soalnya tadi saya melihat keduanya membawa sesuatu dan katanya mau diberikan kepada Nyonya," jawab Bibi Rinn lagi.


"Haiss ... ada-ada saja mereka," keluh Nisa sambil memutar bola matanya dengan malas. Sejurus kemudian dia kembali berkata, "Suruh mereka tunggu sebentar lagi, Bibi. Setelah menidurkan Nora maka aku akan segera turun dan menemui mereka."


"Baik Nyonya." Bibi Rinn membungkukkan badannya sedikit dan setelah itu langsung keluar dari kamar untuk melakukan apa yang Nisa perintahkan padanya.


"Ck, sebenarnya apa yang dilakukan Natasha? Aku malas bertemu dengannya," gumam Nisa penuh kekesalan.


Begitu Nisa memastikan jika kedua bayinya sudah tertidur lelap, dia pun bergegas untuk turun dan melihat adik iparnya yang datang bersama dengan ibu mertuanya.


"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Nisa yang langsung saja pada intinya. Bahkan dia sampai lupa harus bersikap sopan dan santun terhadap orang tua seperti ibu mertuanya.


"Kedatanganku ke sini karena ingin memberikan ini," ucap Natasha seraya meletakkan beberapa buah paper bag ke atas meja tamu.


"Kemarin malam Daniel baru pulang dari luar kota. Dan dia membeli oleh-oleh untuk semuanya. Jadi aku antar ke sini agar kakak ipar tidak perlu repot-repot mengambil oleh-oleh ini ke kediaman utama," jelas Natasha dengan senyum ramah.


"Ya, terima kasih," jawab Nisa dengan senyum yang tidak ikhlas. Setelah itu dia langsung duduk di sofa tanpa mengecek dulu apa oleh-oleh yang dibawa oleh Natasha. Tentu saja rasa bencinya pada Natasha membuatnya sama sekali tidak tertarik pada oleh-oleh itu. Bahkan dia juga telah berencana untuk membuang oleh-oleh itu begitu Natasha pergi dari rumahnya nanti.


"Ibu mertua datang karena ingin menemani Natasha atau apa?" tanya Nisa pada Nyonya Ratna.


"Iya, Nisa. Kedatanganku ke sini karena ingin menemani Natasha. Dan sekalian ingin melihat cucu-cucuku yang manis, aku sudah merindukan mereka," jawab Nyonya Ratna dengan senyumnya yang lembut. Dia tampak tidak tersinggung dengan sikap Nisa yang kurang sopan padanya. Di usianya yang kini tidak muda lagi, dia bisa memaklumi hal tersebut. Lantaran dia sendiri juga sadar akan sikap Daniel di masa lalu yang sempat ingin mencelakai Nisa.


"Ah, sepertinya ibu mertua datang di waktu yang kurang tepat. Saat ini anak-anak masih sibuk bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tapi tak apa, jika waktunya masih sempat maka anak-anak bisa bermain sebentar dengan ibu mertua. Kalau begitu tunggu sebentar ya, aku akan panggilkan mereka."

__ADS_1


Huh, merindukan cucu apanya? Sebelumnya saja kau bahkan jarang datang ke sini untuk menengok Keisha. Kau datang hanya saat anakku lahir dan berulang tahun. Hanya ayah mertua saja yang sering datang kemari tanpa mengajakmu. Aku tahu betul jika yang ingin kau temui hanya Luciel. Tentu saja kau memihak putra kandungmu dan menantu kesayanganmu sendiri untuk merebut hak asuh Luciel dariku.


Baru setelah Nisa beranjak dari sofa, tiba-tiba saja ada Keisha yang berlari ke arahnya. "Bundaaaa!" teriaknya sambil berlari. Dan di belakangnya ada Luciel yang juga mengikuti.


"Hosh ... hoshh ... Keisha cepat sekali larinya," ucap Luciel yang napasnya terengah-engah karena lelah mengejar Keisha.


"Eh? Kenapa kalian berlari-larian? Ini bukan saatnya bermain ya, kalian harus siap-siap berangkat ke sekolah," ucap Nisa yang menasihati kedua bocah itu.


Keisha tak menggubris nasihat dari Nisa. Bahkan dia melompat-lompat seakan ingin memberikan sesuatu kepada Nisa. "Bunda, Bunda! Ternyata Luciel punya-"


"Jangan dikatakan Keisha! Jangan beritahu mami!" larang Luciel yang segera berlari ke arah Keisha. Namun Keisha yang usil itu justru kembali berlari lagi. Dan kini kedua bocah itu saling kejar-kejaran dengan memutari Nisa yang berada di tengah.


"Keisha ... Luciel ... ayo berhenti!" ucap Nisa yang mulai pening dengan tingkah kedua anak itu.


"Hahaha, ayo tangkap Keisha kalau Luciel bisa!" Keisha terus berlari dan tertawa terbahak-bahak.


"Awas ya Keisha kalau sampai tertangkap!" teriak Luciel yang terus berusaha untuk mengejar dan menangkap Keisha.


"Stop!" teriak Nisa seraya mengulurkan kedua tangannya. Dia akhirnya berhasil menghentikan kedua bocah laki-laki yang aktif itu.


"Nah, sekarang katakan ada apa!" pinta Nisa sambil terus memegangi kedua bahu anak itu. Mencegah agar mereka berdua tidak lari ataupun membuat ulah yanh lain lagi.


"Hihihi, Keisha bilang ya ..." Keisha tertawa cekikikan.


"Tidak Keisha! Jangan bilang!" teriak Luciel.


"Oke, jadi kalian ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku. Baiklah kalau begitu, maka Bunda akan merajuk pada kalian berdua jika kalian terus begini!" ancam Nisa yang berlagak serius. Dan tentu saja kedua bocah polos itu termakan oleh ancaman konyol itu.


"Bunda jangan merajuk pada kami! Baiklah, Keisha akan bilang! Ternyata Luciel punya ini, bunda!" ungkap Keisha sambil menyodorkan selembar kertas.


"Hm? Apa ini?" tanya Nisa yang kebingungan dengan sebuah kertas kusut itu.


"Ishh ... Bunda! Masa tidak tahu! Ini surat cinta! Luciel sudah punya pacar!"


"Tidak Mami! Keisha yang bicara sembarangan! Luciel sama sekali tidak punya pacar!" bantah Luciel dengan kedua pipinya yang merona karena malu.


"Tidak mau! Luciel masih kecil, Luciel tidak mau menikah!"


"Sssttt ... diam sebentar, oke?" Nisa langsung melihat kertas kusut yang diberikan oleh Keisha. Dan benar saja, begitu Nisa membaca tulisan berantakan di kertas itu, ternyata memang terdapat nama Amalia yang tertulis dalam surat itu.


"Haiss ... kalian ini, ini bukan surat cinta. Lagi pula kalian itu masih kecil, tidak ada kata pacaran dan menikah bagi anak seusia kalian," ucap Nisa sambil geleng-geleng kepala.


"Tuh kan ... Luciel sudah bilang begitu, tapi Keisha yang tidak mau percaya!" celetuk Luciel yang mencari pembelaan.


"Tapi Bunda, kertas itu warnanya merah muda! Artinya Amalia mengajak Luciel untuk pacaran dan menikah!" jawab Keisha lagi yang bersikeras.


"Keisha, kertas merah muda tidak punya arti seperti itu. Ini kertas yang sama seperti kertas yang lainnya. Tidak peduli warnanya hijau, merah atau biru. Amalia memang menulis surat untuk Luciel, tapi bukan untuk mengajak pancaran, melainkan mengajak berteman. Apa sampai sini Keisha sudah paham? Dan sebenarnya dari mana Keisha tahu istilah soal pacaran dan menikah?" tanya Nisa dengan tatapan serius. Karena dia merasa baik Keyran maupun dirinya tidak pernah mengajarkan hal seperti ini pada putra kecilnya.


"Dari film, paman Reihan yang mengajak Keisha untuk menonton," jawab Keisha dengan wajah tertunduk. Dan paman Reihan yang dia maksud adalah adik kandung Nisa yang sampai sekarang belum menikah. Nisa adalah anak pertama dari tiga bersaudara.


Nisa langsung menepuk jidatnya. "Astaga, ternyata dia!"


Dasar Reihan si adik busuk itu! Aku titipkan Keisha kepadanya dan aku suruh menjaganya dengan baik, tapi dia malah mengajari yang tidak benar! Dia meracuni keponakannya sendiri dengan hal sesat semacam ini. Sial, sepertinya aku harus bilang ke ayah agar memaksa si playboy itu untuk cepat-cepat menikah agar dia mau bertobat. Setiap hari kerjanya cuma keluyuran main-main tidak jelas dan gonta-ganti pacar.


"Benar kan apa kata Luciel? Keisha sih tidak percaya ..." keluh Luciel dengan tampang cemberut.


Nisa menghela napas, lalu mengusap kepala kedua bocah itu sambil berkata, "Ya sudah, jangan bertengkar lagi, ya. Keisha juga minta maaf dulu ke Luciel, lain kali tidak boleh seperti ini lagi."


"Baik, Bunda." Keisha lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Luciel. "Maafkan Keisha ya, lain kali Keisha tidak akan mengejek Luciel lagi."


"Iya, Keisha. Luciel memaafkan," jawab Luciel sambil menyambut tangan Keisha dengan senyuman.


"Nah, begini baru benar! Anak-anak Bunda tidak boleh saling mengejek ataupun bertengkar. Main yang akur, ya. Dan sekarang karena kalian sudah ada di sini, ayo sapa nenek dulu."

__ADS_1


"Nenek?" Keisha dan Luciel serentak langsung menatap ke arah Nyonya Ratna. Mereka baru sadar dengan kehadirannya lantaran tadi hanya fokus bermain kejar-kejaran.


Mereka berdua pun menghampiri wanita tua yang duduk di sofa itu. Lalu secara bersamaan pula berkata, "Halo nenek ..." sapa kedua bocah itu dengan senyuman.


"Halo juga cucu-cucuku yang manis. Bagaimana kabar kalian? Apa kalian sudah sarapan?" tanya Nyonya Ratna seraya mengelus masing-masing pipi bulat berisi kedua anak itu.


Namun, tatapan Nyonya Ratna kepada Luciel mempunyai arti yang lebih dalam dibandingkan dengan Keisha. Bukan karena dia sengaja membeda-bedakan cucunya, akan tetapi karena rupa Luciel yang begitu mirip dengan Daniel sewaktu kecil. Hal ini membuatnya merasa seperti bernostalgia.


"Belum," jawab keduanya dengan kompak.


"Kenapa belum sarapan?" tanya Nyonya Ratna lagi.


"Karena Luciel menunggu Keisha," jawab Luciel.


"Keisha mau menunggu bunda," jawab Keisha.


"Ahaha ... aku juga menunggu suamiku selesai bersiap dulu untuk sarapan bersama ..." jawab Nisa dengan senyum  canggung.


"Hatchu ...! Ke mana orang-orang?" (Keyran bersin, kini posisinya telah berada di ruang makan seorang diri. Sekarang dia juga sedang menunggu istri dan anak-anaknya untuk sarapan bersama. Dia sama sekali tidak tahu jika ibu tiri dan adik iparnya sedang berkunjung.)


"Ohh ... begitu ya, baguslah jika kalian memang membiasakan diri untuk selalu sarapan bersama." Nyonya Ratna tersenyum, dia tidak mengetahui jika orang-orang itu sebenarnya sedang melempar kesalahan satu sama lain.


Pandangan mata Luciel seketika melihat ke arah laij. Dia langsung tersenyum semringah begitu melihat Natasha juga berkunjung. Dengan semangat menggebu-gebu dia menghampiri Natasha yang kini sedang duduk di sofa sebelah.


"Tante Natasha! Selamat pagi!" sapa Luciel sambil meringis.


"Haha, selamat pagi juga Luciel. Ngomong-ngomong ... lucu sekali melihat Luciel bermain kejar-kejaran dengan Keisha tadi. Dan sepertinya Luciel populer juga di sekolah. Sehari Luciel dapat surat berapa banyak?" tanya Natasha yang seakan sudah begitu merasa akrab dengan Luciel.


"Ishh ... Tante Natasha jangan ikut-ikutan mengejek Luciel!"


"Haha, maaf. Tante Natasha tidak akan menggoda Luciel lagi," ucap Natasha seraya mencubit pipi Luciel dengan gemas. "Oh iya, tante ke sini bawa oleh-oleh loh!"


"Oleh-oleh?!" tanya Luciel dan Keisha bersamaan.


"Iya, om Daniel baru pulang dari luar kota. Oleh-olehnya ada di atas meja, ayo bukalah!"


Luciel dan Keisha seketika bersemangat. Mereka berdua langsung menyerbu semua paper bag itu satu per satu. Mereka bahagia sekali saat mengetahui jika di dalam tas-tas itu terdapat banyak sekali berbagai jenis olahan makanan manis.


"Woahhh ... ada pie cokelat! Bunda, apakah Keisha boleh makan ini? Keisha janji setelah makan akan gosok gigi lagi!" tanya Keisha dengan tatapan berharap, dia sangat ingin mencicipi makanan manis rasa cokelat yang jadi kesukaannya itu.


"Baiklah, Keisha boleh makan tapi tidak boleh terlalu banyak. Luciel juga ya, harus dibatasi sebelum gigi Luciel juga sakit seperti Keisha!"


"Baik!" Kedua bocah itu dengan cepat memakan dan menghabiskan sebuah pie cokelat.


Begitu Luciel menelan habis pie cokelat itu, tiba-tiba dia kembali menoleh ke arah Natasha dan berkata, "Nanti siang tante Natasha datang ke sekolah, ya!"


"Eh?!" sontak saja ketiga wanita itu terkejut. Terlebih lagi Nisa, dia tidak menyangka jika Luciel akan mengatakan hal ini sendiri pada Natasha. Dia tidak habis pikir dengan keakraban yang begitu cepat terjalin di antara keduanya.


"Memangnya ada apa, Luciel? Kenapa Luciel ingin tante Natasha datang ke sekolah?" tanya Natasha yang pura-pura bodoh dan tidak tahu. Tentu saja dia sudah mengharapkan hal ini terjadi, mengingat jika dia kemarin juga mendengarkan pemberitahuan dari bu guru saat menjemput Luciel dan Keisha pulang sekolah.


"Nanti siang akan ada latihan pertunjukan drama musikal yang harus diikuti oleh orang tua juga. Mami Nisa akan mendampingi Keisha, harusnya ayah Keyran yang akan mendampingi Luciel. Tetapi, ayah Keyran katanya ada rapat nanti siang. Jadi Luciel ingin meminta bantuan pada tante Natasha, apakah tante Natasha keberatan membantu Luciel?"


"Ohh ... begitu ya. Baiklah, nanti siang tante Natasha pasti akan datang! Tante kan punya banyak waktu luang!" jawab Natasha tanpa keraguan sedikit pun.


"Horee! Terima kasih tante Natasha! Tante memang orang yang baik!" Luciel tersenyum gembira. Akhirnya dia tidak perlu khawatir lagi jika nantinya tidak ada yang akan mendampingi dirinya ketika latihan.


"Nisa, pertunjukan yang tadi Luciel katakan itu sebenarnya pertunjukan apa?" tanya Nyonya Ratna kepada menantu pertamanya.


"Itu adalah sebuah pertunjukan yang diadakan oleh sekolah dalam rangka untuk memperingati hari orang tua. Mungkin saja pihak sekolah ingin menggunakan cara seperti ini agar ikatan antar anak dan orang tua semakin erat. Dan aku juga meminta maaf mewakili suamiku, Keyran. Harusnya aku tidak perlu merepotkan Natasha untuk datang mewakili tugas kami," jawab Nisa.


"Itu tidak masalah. Lagi pula Natasha juga adalah bagian dari keluarga. Meminta bantuan dari anggota keluarga memang lebih baik daripada meminta bantuan dari orang luar. Dan kau jangan terlalu sungkan, aku tahu jika sekarang kau super sibuk. Mengurus dua anak yang sedang dalam masa aktif dan dua bayi yang baru berusia 4 bulan. Aku tahu jika itu tidak mudah, jadi jika kau butuh bantuan, kau bisa menghubungi Natasha kapan saja."


"Baik, ibu mertua. Aku mengerti ..." jawab Nisa dengan senyuman palsu.

__ADS_1


Huh, baiklah jika pada akhirnya begini! Aku terima tantangan dari kalian! Mari bersaing mendapatkan Luciel! Kalian semua berniat untuk merebut Luciel dariku, padahal aku yang lebih dulu menemukannya. Aku tidak tahu apa yang membuat kalian semua jadi begitu terobsesi untuk memiliki Luciel sampai terang-terangan bertindak seperti ini di depanku.


Meskipun begitu, akan kubuat kalian merasa senang dahulu. Setelah kalian merasa tujuan kalian hampir tercapai, baru saat itu aku akan tunjukkan pada kalian jika usaha kalian itu sia-sia saja. Aku sudah menetapkan rencanaku untuk menjadikan Luciel sebagai penerus organisasi gelapku nantinya. Mari kita lihat siapa yang akan tertawa di akhir nanti. Pemenangnya masih belum jelas!


__ADS_2