Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Anak yang Rewel


__ADS_3


Sore hari di sebuah villa besar yang mewah. Sebuah keluarga kecil tampak begitu bahagia dan berkumpul bersama. Keluarga kecil itu adalah milik Keyran Kartawijaya sebagai seorang kepala keluarga. Di ruangan bayi kembarnya, dia menemani istrinya yang kini sedang menyusui bayi mereka.


Yang berada di atas pangkuan Nisa kini adalah giliran Noah, sedangkan Nora yang sudah kenyang setelah menyusu kini telah tertidur pulas di dalam keranjang bayinya. Anak pertama mereka yang menggemaskan juga berada di sana. Keisha juga ikut menghibur adik bayi kecilnya. Dan saat ini bocah laki-laki itu tampak sedikit bingung setelah menghabiskan segelas susunya.


Dia mengamati sang adik bayi yang sedari tadi menyusu pada sang bunda. "Bunda, kenapa Noah minum susunya Bunda terus?" tanya Keisha dengan tatapan polosnya.


"Haha, karena Noah masih kecil. Jadi dia harus minum susunya Bunda agar dapat nutrisi," jawab Nisa sambil menertawakan pertanyaan yang dilontarkan putranya.


"Apa Noah tidak bisa minum susu yang sama dengan Keisha? Susu yang diminum Keisha kan juga ada nutrisinya biar cepat tumbuh tinggi!" tanya Keisha lagi.


"Keisha ... ayo sini, biar ayah jelaskan!" Keyran lalu menarik tubuh kecil Keisha dan mengangkatnya untuk duduk di atas pangkuannya.


"Kenapa Ayah? Kenapa Noah dan Nora harus minum susunya Bunda terus? Kenapa harus berbeda dengan susu yang Keisha minum?"


Keyran tersenyum, dia merasa jika Keisha yang punya rasa ingin tahu terlihat sangat menggemaskan. Kemudian dia menyentuh perut putranya dan mengelusnya. "Jadi begini, perut Keisha dan adik bayi itu berbeda. Keisha kan sudah berumur 5 tahun, sedangkan adik bayi baru berumur 5 bulan. Kalau adik bayi minum susu yang sama dengan yang Keisha minum, perutnya masih belum kuat."


"Sedangkan susu yang diberikan bunda adalah yang terbaik. Dan itu juga merupakan makanan utama bagi adik bayi. Nutrisinya juga lebih bagus kalau dibandingkan dengan yang Keisha minum. Jadi adik bayi yang masih kecil harus minum susunya bunda agar dapat nutrisi yang cukup dan tubuhnya jadi sehat supaya tidak mudah sakit," lanjut Keyran lagi.


"Begitu yaa ..." Keisha menganggukkan kepala, seakan dia menunjukkan jika dia telah paham dengan penjelasan yang diberikan oleh ayahnya. Dia kembali memperhatikan adik kecilnya yang terus menyusu dengan kuat. Dan sejurus kemudian dia tiba-tiba berkata, "Bunda, apakah Keisha boleh minum susunya bunda juga seperti adik bayi?"


"Eh?! I-itu tidak boleh," jawab Nisa dengan senyum canggung. Dia juga merasa kaget lantaran putranya yang sudah tidak balita mengatakan jika dia ingin menyusu padanya lagi.


"Kenapa tidak boleh? Noah terlihat suka sekali minum, pasti rasanya enak! Tadi ayah juga bilang kalau nutrisi susunya bunda adalah yang terbaik! Jadi Keisha mau mencobanya, Bunda!" pinta Keisha dengan tatapan memaksa.


"Keisha jangan minta yang aneh-aneh ya, Keisha kan sudah pernah minum susunya bunda selama dua tahun. ASI bunda tidak akan cukup jika Keisha juga meminumnya, sekarang saja Noah juga harus berbagi dengan Nora. Terlebih lagi ASI bunda juga tidak memiliki nutrisi yang cukup untuk Keisha," jelas Nisa yang berusaha memberikan pengertian pada putranya.


"Kenapa bisa tidak cukup? Tadi kan Ayah bilang kalau nutrisinya adalah yang terbaik! Bunda pelit!"


"Haiss ..." Nisa hanya menghela napas, lalu melirik ke arah suaminya untuk bergantian yang menjelaskan.


"Keisha, dengarkan ayah. Keisha sudah besar, Keisha juga sudah bisa bermain bola, sekolah dan melakukan banyak hal. Dan Keisha juga sudah bisa makan nasi, nugget, ice cream dan lain-lain. Sedangkan adik bayi belum bisa melakukan banyak hal dan makan makanan itu semua. Itulah mengapa ASI bunda jadi makanan utama bagi adik bayi. Jadi, bunda bukannya pelit, tetapi bunda memang tidak bisa memberikannya pada Keisha. ASI bunda tidak akan cukup untuk tiga orang. Keisha sudah mengerti, kan?" tanya Keyran yang bermaksud membujuk Keisha.


Keisha lalu mengerucutkan bibirnya, seolah tak puas dengan penjelasannya ayahnya. "Tapi Ayah ... Keisha penasaran rasanya seperti apa, Keisha sudah lupa karena saat itu Keisha masih kecil."


"Keisha tidak perlu penasaran. Rasa susunya bunda tidak jauh berbeda dengan susu yang tadi Keisha minum. Rasanya hanya seperti susu yang lebih manis, seperti ditambahi gula."


"Hm? Kenapa Ayah bisa tahu? Memangnya Ayah minum susunya bunda?" tanya Keisha dengan tatapan sedikit iri dan curiga.


"Eemm ... soal itu, a-ayah ...." Keyran tergagap. Tanpa sadar dia telah mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh dia katakan pada anak sekecil Keisha.


Di satu sisi Nisa yang mendengarnya langsung melotot dan diam-diam memberikan cubitan di pinggang suaminya.


"Aawww ... maaf! Aku minta maaf! Aku tidak sengaja!"

__ADS_1


"Bundaaa!" Keisha yang sudah tidak membutuhkan penjelasan lagi langsung menarik-narik tangan Nisa. "Keisha mau minum sedikit saja! Ayah kan sudah besar! Kenapa ayah boleh minum? Sedangkan Keisha tidak boleh?!"


"Keisha ... ayah itu berbohong, ayah sama sekali tidak pernah merasakannya. Jadi Keisha tidak usah penasaran lagi, oke?" bujuk Nisa dengan senyuman yang dipaksakan. Dia masih marah dengan suaminya yang telah membeberkan hal yang tidak sepantasnya anak mereka tahu.


"Iya Keisha, bunda benar! Yang tadi itu cuma karangan dari ayah saja!" sahut Keyran yang mendukung pembelaan istrinya.


"...." Keisha hanya diam dan berekspresi cemberut. Dia kesal lantaran tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.


Tiba-tiba saja muncul seorang pelayan dari luar pintu yang memang dibiarkan terbuka tersebut. Dia adalah Bibi Rinn, kepala pelayan di kediaman ini.


"Permisi, Tuan dan Nyonya ... ada tamu," ucap Bibi Rinn dengan nada hormat.


"Siapa, Bibi?" tanya Keyran penasaran. Dia sedikit heran karena ada orang yang bertamu di jam seperti ini. Biasanya dia akan mendapatkan kabar dulu dari orang yang bertamu jika memang memiliki urusan penting yang akan dibahas.


"Tamunya adalah Tuan Muda Daniel beserta istri dan anaknya," jawab Bibi Rinn.


Seketika Keisha menoleh dan ekspresinya berubah menjadi senang. "Apa Luciel juga ikut?!"


"Iya, Tuan Muda Kecil ..."


"Keisha mau bertemu dengan Luciel!" seru Keisha yang kemudian langsung turun dari pangkuan ayahnya. Dia berlari menghampiri Bibi Rinn serta menggandeng tangannya.


"Ayo Bibi! Antarkan Keisha bertemu Luciel!" pintanya dengan wajah antusias.


"Aku juga akan di sini dulu, nanti aku akan turun bersama istriku," ucap Keyran.


"Baik Tuan, Nyonya ... akan saya sampaikan. Saya permisi," ucap Bibi Rinn yang segera pergi bersama dengan Keisha.


Kedua pasangan suami istri itu kini mulai merasa sedikit lebih lega. Syukurlah Bibi Rinn datang di saat yang tepat dan membawa kabar yang bagus. Kini mereka berdua tak perlu lagi mengucapkan kalimat kebohongan demi membujuk dan menipu putra kecil mereka.


"Anak kita yang itu punya rasa ingin tahu yang tinggi sekali, ya. Bahkan juga ingin tahu bagaimana rasa ASI ku," ucap Nisa begitu bayangan Keisha dan Bibi tak terlihat lagi.


"Haha, bagaimanapun itu juga merupakan sesuatu hal yang bagus. Semakin tinggi rasa ingin tahunya, semakin banyak pula yang dia tahu," sahut Keyran.


"Ya, kau benar. Guru di sekolah pun juga bilang hal yang sama padaku. Keisha cenderung lebih aktif dari anak-anak yang lain. Dia juga suka mengajukan banyak pertanyaan saat pelajaran."


Keyran tersenyum tipis, lalu bersandar di bahu istrinya dan berkata, "Aku minta maaf soal yang tadi ... memang salahku karena tadi sempat keceplosan."


"Yaa ... sudahlah, tak apa. Tapi awas saja jika kau mengulanginya lagi! Aku tak tahu harus berkata apa dan memberikan alasan apa kalau sampai Keisha tahu soal kelakuanmu yang liar itu!"


"Haha, mau bagaimana lagi? Ayah benar kan, sayang? Rasanya memang enak, ya!" Keyran tertawa sambil mencubit pelan pipi Noah yang masih menyusu.


Tiba-tiba saja Noah melepaskan bibirnya dari dada sang bunda. Kini perut kecilnya sudah kenyang, dia sama sekali tidak tampak mengantuk dan menatap kedua orang tuanya dengan manik matanya yang bulat seperti boneka.


"Bubuu ..." ucap Noah dengan logat bicaranya yang belum jelas. Tampak senyuman di bibirnya yang mungil.

__ADS_1


"Noah sudah kenyang, hm?" tanya Nisa dengan senyum lembut. Nisa mengarahkan dadanya pada Noah lagi, akan tetapi bayi kecil itu justru menghindar.


"Yayaa ...." Noah berusaha untuk duduk, dia juga menggerak-gerakkan kedua tangan kecilnya.


"Sepertinya dia mau ikut aku." Keyran lalu mengulurkan kedua tangannya. Dia menggendong putra kecilnya itu dengan senyuman. Bahkan dia juga memainkan tubuh kecilnya, mengangkat tinggi-tinggi kemudian rendah secara berulang. Noah juga tampak tertawa senang dengan permainan ayahnya.


"Jangan begitu Key, Noah baru saja habis minum. Takutnya dia akan muntah," ucap Nisa seraya membetulkan pakaian untuk menutupi dadanya.


"Haha, sudah ya sayang! Nanti Noah main lagi sama ayah!" ucap Keyran yang kemudian memberikan kecupan di pipi Noah yang bulat dan berisi.


"Haiss ... jam tidur si kembar sekarang sudah berbeda, aku jadi harus mengeluarkan tenaga yang ekstra untuk mengurus mereka. Saat Noah bangun, Nora tidur. Dan saat Nora mengantuk, Noah bangun," ungkap Nisa seraya menyandarkan tubuhnya di sofa yang terasa letih dengan nyaman.


"Haha, aku akui kau ibu yang hebat. Aku janji akan meluangkan waktuku lebih banyak lagi untuk membantumu. Dan belakangan ini ayahku juga sudah mengatur untuk mengalihkan sebagian pekerjaanku pada Daniel agar aku punya waktu luang lebih banyak," jelas Keyran yang masih tak luput untuk menghibur Noah.


"Yaa ... begitu bagus juga, setidaknya kau dan Daniel tidak seperti dulu lagi yang selalu bersaing. Semua ini tak luput juga karena berkat keberadaan Luciel ...." Nisa tersenyum tipis lalu bersandar pada bahu suaminya dan memejamkan mata dengan nyaman. Rasanya hari ini seperti hari-hari lain sebelumnya yang melelahkan namun penuh arti.


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


"Nisa, ponselmu bunyi," ucap Keyran.


"Iya-iya ... aku tahu." Seketika Nisa membuka mata dan beranjak dari sofa. "Sialan! Mengganggu waktu santaiku saja!" umpat Nisa sesaat sebelum mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo? Ada urusan apa?" tanya Nisa dengan nada malas.


"Saya hanya ingin mengabari jika semua persiapan sudah beres. Gadis bernama Liana sudah siap ditargetkan besok," ucap seseorang di telepon.


"Bagus, pokoknya lakukan yang sudah aku perintahkan! Jangan terlalu lambat dan jangan terlalu terburu-buru!" ucap Nisa penuh penekanan.


"Baik, akan saya laksanakan."


TUT TUT ...


Panggilan telepon yang sempat mengganggu waktu berharga Nisa akhirnya berakhir. Setelah meletakkan ponselnya di atas meja yang semula, Nisa langsung kembali duduk di sebelah suaminya.


"Telepon dari anak buahmu, ya?" tanya Keyran.


"Iya, kau benar."


"Hahh ..." Keyran menghela napas, kemudian beralih menatap ke arah Noah lagi. "Kalau Noah sudah besar nanti jangan ikut-ikut bunda, ya! Noah tiru ayah saja jadi pengusaha!"


"Humph! Kau ini ada-ada saja! Terserah anak kita nantinya mau jadi apa! Kau jangan mengatur dan memaksakan apa yang dia suka!"

__ADS_1


__ADS_2