
"Ayo sayang, katakan bunciisss!" pinta Nisa pada Luciel dan Keisha. Sudah seminggu setelah kunjungan mendadak Tua Muchtar waktu itu. Waktu untuk acara tahunan ulang tahun perusahaan telah tiba. Kini, kedua bocah laki-laki yang manis itu telah berpakaian rapi dengan baju yang bermodel sama.
"Buncis!!" ucap Keisha dan Luciel bersamaan. Tampak gigi putih mereka yang kecil saat meringis.
CKREK!
Nisa langsung memotret momen itu dengan kamera miliknya. Dan kedua bocah itu pun seketika berhenti berpose, lalu berlari mendekat pada Nisa.
"Bunda, Keisha mau lihat!" pinta Keisha sambil melompat-lompat.
"Luciel juga mau lihat!" ucap Luciel yang bertingkah sama persis dengan Keisha.
"Baik, baik ..." jawab Nisa yang setelahnya dia berjongkok di antara kedua anak itu. Dia memperlihatkan hasil jepretan foto yang baru saja dia ambil.
"Lihat ini, kalian berdua terlihat sangat menggemaskan! Aku sampai ingin memakan kalian, haha!" ucap Nisa dengan senyum bodohnya, kebiasaannya dari dulu belum berubah. Setiap kali melihat anak yang menggemaskan dia selalu kehilangan kendali, bahkan tak terkecuali pada anaknya sendiri.
"Ishh ... mau memakan kami? Bunda kanibal!" celetuk Keisha dengan tampang cemberut.
"Haha, tidak sayang. Bunda cuma bercanda, mana mungkin bunda tega mau memakan anak yang sangat lucu seperti kalian." Sekali lagi Nisa memperhatikan hasil jepretan itu, lalu dia berkata, "Wahh ... lihat ini! Senyum Luciel manis sekali, gigi Luciel sangat putih."
"Luciel rajin gosok gigi," jawab Luciel dengan wajah yang tersipu malu.
"Bagus, Luciel anak yang pintar!" puji Nisa sekali lagi sambil mengusap kepala Luciel.
"Gigi Keisha juga putih, Bunda!" sahut Keisha tak mau kalah.
"Iya sayang, bunda juga lihat. Tetapi, gigi Keisha sering sakit, kan? Bunda tahu loh ... Keisha suka makan cokelat diam-diam sebelum tidur, lalu setelah itu tidak gosok gigi lagi!"
"Hehehe ..." Keisha hanya meringis, menampilkan tampang imutnya agar Nisa tidak memarahinya lagi.
"Besok lusa pokoknya Keisha harus pergi ke dokter gigi sesuai jadwal! Nanti bunda akan ingatkan ayah untuk mengantar Keisha, dan Keisha tidak boleh ada alasan apa pun saat itu. Mengerti?"
"Iya Bunda, Keisha mengerti ...."
BRAKK!!
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar dengan kasar, dia tidak lain adalah Keyran.
"Sedang apa kau di sini?! Ayo cepat kita berangkat!" bentak Keyran pada istrinya.
"Aku sedang memotret anak-anak, nanti akan aku cetak dengan ukuran yang besar. Kau kemarilah, aku juga akan memotretmu!"
"Ck, kita tidak punya waktu banyak, Nisa! Kita harus berangkat ke kediaman utama sekarang juga! Lagi pula di sana nanti juga akan ada sesi berfoto! Kau bisa meminta fotografer profesional untuk memotretmu ratusan kali jika kau mau!"
"Iya, iya ..." jawab Nisa dengan nada malas.
"Keisha, Luciel! Ayo ikut ayah, nanti bunda akan menyusul!" pinta Keyran.
"Baik," jawab Kedua bocah itu yang kemudian segera mengikuti Keyran.
Keluarga kecil itu pun bergegas berangkat menuju ke kediaman utama keluarga Kartawijaya. Hari di mana acara tahunan yang memperingati awal mula berdirinya perusahaan properti nomor satu, yaitu HW Group telah tiba.
Acara pesta ini diselenggarakan di kediaman utama keluarga Kartawijaya. Dan kali ini Natasha yang menjadi penanggung jawab utama. Para tamu yang diundang pun juga tidak sembarangan, seperti karyawan yang berprestasi dengan jabatan tertentu, stakeholder, mitra bisnis, keluarga dari kalangan konglomerat lain, hingga media peliput berita.
Namun, karena keluarga kecil Keyran termasuk ke dalam bagian keluarga inti. Maka dia harus tiba di kediaman utama sebelum para tamu-tamu itu berdatangan. Dan ini juga pertama kalinya bagi Luciel untuk mengunjungi kediaman kakeknya.
"Wahh ... besar sekali!" gumam Luciel dengan sorot mata takjub. Kediaman ini adalah bangunan paling besar yang pernah Luciel lihat.
"Ayo sayang, kita masuk!" ajak Nisa dengan senyuman.
__ADS_1
"Baik!" jawab Luciel dan Keisha bersamaan.
Nisa pun menggandeng kedua anak itu. Keisha di sebelah kanannya, dan Luciel di sebelah kirinya. Sedangkan Keyran, dia mendorong kedua bayi kembarnya yang kini berada di dalam baby stroller.
Begitu mereka melewati pintu masuk utama, sudah banyak pelayan yang siap untuk menyambut kedatangan mereka. Para pelayan pun juga tak henti-hentinya memperhatikan si bayi kembar yang lucu, kebanyakan dari mereka baru pertama kali melihat bayi barunya tuan muda mereka.
Namun, tak sedikit juga dari mereka yang saling berbisik dan membicarakan mengenai Luciel. Sosok anak yang tiba-tiba diadopsi oleh nyonya muda mereka. Terlebih lagi, beberapa pelayan yang usianya tidak lagi muda, yang sudah bekerja di kediaman selama bertahun-tahun, mereka juga menganggap bahwa Luciel sangat mirip dengan tuan muda Daniel.
"Kalian akhirnya tiba juga," ucap Tuan Muchtar dengan senyuman. Dia turut menyambut kedatangan keluarga kecil putranya.
"Iya Ayah, maaf sedikit terlambat," jawab Keyran.
"Mami angkat ..." ucap Luciel dengan nada pelan. Sejak tadi dia terus bersembunyi di belakang Nisa, baru pertama kali dia mendapat perhatian dari begitu banyak orang, tidak dapat dipungkiri jika anak yang biasanya selalu menghabiskan waktu di dalam rumah itu merasa gugup.
"Ya? Sini sayang, jangan takut. Ayo beri salam pada Kakek, dan ada Nenek juga di sini!" bujuk Nisa dengan senyum lembut.
"Ehmm ..." Luciel mengangguk, dia sedikit penasaran dengan rupa seseorang yang disebut Nisa sebagai neneknya. Luciel pun memberanikan diri untuk melangkah sedikit lebih maju. Kemudian dengan senyuman manisnya, dia berkata, "Selamat malam Kakek, Nenek."
"Selamat malam juga Luciel!" balas Tuan Muchtar.
Deg!
"...." Nyonya Ratna terdiam. Benar saja, begitu melihat rupa Luciel. Dia langsung teringat dengan putranya, yaitu Daniel. Nyonya Ratna adalah istri kedua Tuan Muchtar, ibu kandung dari Daniel. Sedangkan istri pertama Tuan Muchtar, ibu kandungnya Keyran sudah meninggal sejak Keyran masih kecil.
Tiba-tiba saja Nyonya Ratna berjongkok, dengan tangan gemetar mencoba untuk membelai wajah Luciel. "S-siapa namamu, Nak?"
"Namaku Luciel, Nenek!" jawab Luciel dengan senyum polosnya.
"Nama yang bagus ..." ucap Nyonya Ratna yang tanpa sadar sudah menjatuhkan setitik air mata. Sontak saja Luciel yang melihat itu pun terkejut, tangan kecilnya meraih wajah wanita tua itu dan perlahan mengusap air matanya.
"Jangan menangis, Nenek ... Luciel tidak nakal."
"Siapa sebenarnya Luciel? Kenapa dia begitu mirip sekali dengan Daniel sewaktu kecil?"
"Tenangkan dirimu dulu, hal inilah yang sedang aku coba selidiki."
"Baiklah," jawab Nyonya Ratna dengan pasrah.
Di sisi lain Keyran dan Nisa hanya terdiam. Mereka berdua sama-sama merasa aneh dengan tingkah yang ditunjukkan oleh Nyonya Ratna barusan.
Kini suasana menjadi sedikit canggung, dan tiba-tiba saja Keisha maju dan menarik celana kakeknya. "Kakek, apakah ikan Keisha yang Kakek belikan waktu itu sudah besar?"
"Hahaha, Keisha saja jarang datang ke sini untuk memberinya makan. Jadi mana mungkin ikannya besar?" tanya Tuan Muchtar bermaksud menggoda cucunya.
"Huph! Jadi ikan Keisha sudah mati ya! Kenapa Kakek tidak memberinya makan! Itu kan ikan kita!" protes Keisha dengan tampang cemberutnya.
"Haha, Kakek bercanda. Ikan Keisha masih hidup, dan sekarang sudah dipindahkan ke kolam yang lebih besar yang ada di taman."
"Yeyy!" Ekspresi Keisha seketika berubah menjadi senang. Dan tiba-tiba saja dia menarik tangan Luciel untuk mendekat kepadanya.
"Bunda! Keisha mau melihat ikan di taman! Bolehkah Keisha juga mengajak Luciel jalan-jalan?" tanya anak itu dengan tatapan berharap pada ibunya.
"Boleh sayang .... tapi, ada syaratnya! Keisha dan Luciel harus jadi anak baik! Tidak boleh mengambil bunga yang jadi dekorasi, tidak boleh sembarangan berlari, tidak boleh berteriak sembarangan, tidak boleh mengganggu pelayan, dan tidak boleh mengganggu para tamu! Paham?"
"Paham!" jawab Keisha dan Luciel disertai anggukan kepala.
"Oke, anak pintar! Ayo tos dulu!" Nisa lalu mengulurkan kedua telapak tangannya. Dan kedua bocah itu dengan kompak memberikan tos kepada Nisa. Bahkan saking senangnya mereka, sebelum pergi mereka berdua tak lupa untuk juga mengajak Keyran, Tuan Muchtar dan Nyonya Ratna untuk melakukan tos.
"Nisa, bisakah kau ceritakan tentang Luciel lebih banyak padaku?" tanya Tuan Muchtar tiba-tiba.
"Eh, tapi ... bukankah aku sudah pernah menjelaskannya waktu itu?" tanya Nisa kebingungan.
__ADS_1
"Masih ada beberapa hal lagi yang mau aku tanyakan."
"Nisa, kau temani saja ayahku dulu. Biar aku saja yang membawa si kembar untuk istirahat ke kamar," ucap Keyran pada istrinya.
"Baiklah, hati-hati!" balas Nisa dengan senyum lembut.
Sebenarnya ada apa ini? Aku mulai curiga jika ayah mertuaku ini sedang merencanakan sesuatu. Terlebih lagi sikap ibu mertua tadi juga aneh. Untuk berjaga-jaga ... sebaiknya aku menutupi beberapa fakta soal Luciel.
***
Di sisi lain, Keisha dan Luciel masih asyik dalam dunia mereka sendiri. Keisha juga mengajak Luciel untuk berkeliling di kediaman yang luas itu. Hingga mereka berdua sampai di taman. Mereka tampak begitu senang memberikan makanan untuk ikan-ikan.
"Ikan milik Keisha yang mana?" tanya Luciel dengan antusias.
"Yang itu! Yang berwarna oranye dan putih!" jawab Keisha sambil menunjuk ke salah satu ikan.
"Waahhh .... cantik sekali! Ayo Keisha, kita kasih makan lebih banyak lagi! Biar ikannya cepat gendut! Nanti kalau ikannya sudah punya anak, boleh ya Luciel minta satu?"
"Boleh kok! Nanti Keisha akan beri 10 anak ikan!"
"Yeyy .... terima kasih Keisha!"
Kedua bocah itu kegirangan dengan apa yang mereka bahas. Meskipun sebenarnya mereka tak tahu apakah ikan itu jantan atau betina. Saat Keisha ingin menuangkan pakan ikan lagi, tiba-tiba saja tak ada satu butir pun yang keluar.
"Yahhh ... habis!"
"Terus bagaimana? Kasihan ikan yang lain belum kebagian makanan."
"Luciel tunggu sebentar di sini, ya! Keisha akan minta pelayan untuk cari makanan ikan!"
"Baiklah, Keisha!"
Luciel pun setuju untuk menunggu Keisha mencari pakan ikan. Tetapi, sudah lewat beberapa menit sejak Keisha pergi dan belum kembali. Luciel pun mulai merasa gelisah, di rumah yang sebesar itu sama sekali tidak ada yang dia kenal. Terlebih lagi para tamu juga mulai berdatangan.
Para orang dewasa itu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, bahkan ada juga yang sempat menaruh perhatian kepada Luciel. Lantaran baju yang dikenakan oleh Luciel sama persis seperti yang keluarga Kartawijaya kenakan. Mereka penasaran dan bertanya-tanya siapakah Luciel ini.
"Uuhhh ... kenapa Keisha lama sekali?" gumam Luciel yang mulai merasa tidak nyaman. Akhirnya pun dia memutuskan untuk menjauh dari kolam itu lantaran sudah tidak nyaman karena banyak sekali orang-orang yang memperhatikan dirinya.
Luciel memutuskan untuk menyendiri, dia merasa terasingkan dengan semua yang sedang terjadi sekarang. Dan benar saja, tempat yang dia pilih tidak lain adalah dengan memanjat ke atas pohon yang ada di area taman. Luciel memperhatikan setiap orang dari atas pohon yang tak terlalu tinggi itu. Hingga dia melihat seseorang yang dia kenal.
"Ah, itu dia mami angkat!" Luciel tersenyum semringah. Akhirnya dia melihat seseorang yang dia kenali. Dia sangat bahagia karena punya kesempatan untuk tidak tersesat di rumah sebesar ini.
Luciel tergesa-gesa turun dari pohon, bahkan saking cepatnya, dia jadi lengah. Tangan kanannya tidak sengaja terserempet sebuah ranting pohon yang cukup tajam. Yang bahkan membuat lengan bajunya robek dan tangannya terluka.
"Akkhhh!" teriak Luciel karena rasa perih di tangannya. Tidak ada yang mendengar teriakan Luciel karena memang jauh dari kerumunan para tamu.
Namun, tiba-tiba ada seorang wanita yang lewat. Dia terkejut karena melihat anak sekecil Luciel berkeliaran sendirian.
"Nak, apa kau terpisah dari orang tuamu?" tanya wanita itu sambil menepuk bahu Luciel dari belakang.
"Hiks ..." Luciel berbalik, dan wajahnya tampak memerah. Seolah-olah bisa menangis kapan saja karena luka di tangannya.
"Eh?!" Wanita itu terkejut begitu melihat tangan darah di tangan Luciel. "Dari mana kau mendapat luka ini?"
"...." Luciel membisu, dia takut dimarahi jika menjawab jujur terluka karena tidak hati-hati saat memanjat pohon.
"Sudahlah, ayo ikut aku dulu! Aku akan mengobatimu!" Wanita yang tidak tega itu langsung menyeret Luciel begitu saja.
"Tante ini siapa?" tanya Luciel dengan ekspresi khawatir.
"Aku yang bertanggung jawab atas acara ini, kediaman ini juga rumahku. Namaku Natasha!"
__ADS_1