Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Canggung


__ADS_3


BLUP BLUP BLUP ...


"Sial!" celetuk Leon yang seketika mematikan kompor. Sup yang dia masak telah mendidih dan airnya sampai meluber keluar. Dia ceroboh karena sejak tadi dia terus termenung, memikirkan soal malam panas yang telah dia lewati. Pikiran itu seakan-akan terus berputar di dalam kepalanya.


Semalam sungguh pengalaman yang pertama kali dan tak akan pernah dilupakan olehnya. Bahkan percintaan panas itu berlangsung lebih lama dari yang dia duga. Obat perangsang itu sungguh memiliki efek yang kuat, sampai membuat penggunanya terus meminta lagi dan semalam baru berhenti saat jam setengah tiga pagi.


Chelsea tertidur pulas setelah kelelahan, sedangkan Leon, sejak selesai melakukan percintaan itu dia tidak bisa tidur. Dia merasa puas sekaligus gelisah, puas karena nafsunya yang tersalurkan, dan gelisah karena memikirkan apa yang akan terjadi pada hubungan sebagai rekan nantinya.


Dan terlebih lagi ada sesuatu hal yang mengganjal di hati Leon. Dia terus berpikir soal darah yang pertama kali keluar saat percintaan tadi malam.


"Darah itu ... kenapa bisa? Aku tidak mengerti, Mayra bilang padaku jika dia sudah punya anak," gumam Leon yang penuh keraguan. Dia ragu untuk berspekulasi karena tak terlalu paham di bidang seperti ini.


Mayra bilang jika dia punya anak dan suaminya sudah mati. Tetapi darah itu ... apa jangan-jangan dia sebenarnya masih perawan dan berbohong padaku? Jika dia benar-benar berbohong, sebenarnya apa motif aslinya agar bisa bergabung?


"Ah, sial! Aku tak tahu harus percaya yang mana!" gerutu Leon yang mulai frustrasi.


Di sisi lain di dalam kamar, cahaya matahari yang sudah bersinar terang nan hangat masuk ke dalam menembus kaca jendela. Sinar itu menyoroti mata Chelsea yang membuatnya silau, tidurnya jadi terganggu.


"Uuhhh ...." Perlahan Chelsea membuka kedua matanya. Dia mengerjap beberapa kali hingga pandangannya yang kabur perlahan menjadi lebih jelas. Dia bangkit dan duduk pelan-pelan, kepalanya masih terasa pusing. Dia sedikit kebingungan sedang berada di mana dirinya sekarang.


Kamar yang dia tempati tak jauh berbeda dengan desain kamar hotel yang dia tempati sendiri. Akan tetapi, dia sadar jika ada yang aneh. Dia bingung kenapa dia telanjang dibalik selimut, dia lebih syok lagi saat melihat dress merahnya yang cantik, sepatu high heels berserta pakaian dalamnya telah berserakan di lantai.


Chelsea panik, dia segera menyibakkan selimut dari tubuhnya. Dan benar saja dia melihat bekas noda percintaan semalam tertinggal di sprei, bahkan masih terlihat basah dan ada noda merah yang merupakan darah Chelsea tercampur di dalamnya.


"A-apa yang terjadi?" gumam Chelsea dengan tubuh yang gemetar. Dia berpikir sekeras mungkin dan mencoba mengingat apa saja yang telah terjadi padanya. Lalu, setelah berusaha mengingat-ingat, terbesit gambaran adegan percintaan panas yang dia lakukan bersama Leon.


"J-jadi ... semua itu bukan mimpi!" Chelsea langsung membungkam mulutnya sendiri. Perasaannya kini terasa campur aduk, marah, malu, sedih, dan yang pastinya bingung.


Dia marah dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Dia malu karena dia ingat betul jika dirinya yang lebih dulu menggoda Leon. Dia sedih lantaran kesuciannya terenggut tanpa adanya ikatan sakral pernikahan. Dan sekarang dia amat bingung harus melakukan apa untuk keluar dari situasi yang memalukan ini.


Saat Chelsea berpikir dan melihat sekeliling, perhatiannya tertuju pada sebuah benda yang berada di atas nakas. Benda itu adalah sebuah setelan baju yang dilipat dan ditumpuk dengan rapi, ada juga secarik kertas berada di atas lipatan baju itu.


"Apa ini?" Chelsea langsung meraih selembar kertas itu, lalu membaca tulisan yang tertera di atasnya.


°°°

__ADS_1


Ambillah baju yang aku siapkan untukmu. Dress yang kau pakai di acara pesta semalam sudah robek. Bersihkan dirimu sebelum kau pergi dari kamar.


Tertanda, Leon.


°°°


"Huft ... setidaknya ini tak terlalu buruk," ucap Chelsea sambil bernapas sedikit lebih lega. Dia merasa lega lantaran jika pria yang bercinta dengannya adalah Leon, yang merupakan seseorang yang dia kenal dan bukan orang asing. Akan tetapi, dia masih kebingungan untuk bersikap bagaimana saat berhadapan dengannya nanti.


Dengan keadaan tubuh yang masih letih, Chelsea lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Namun, ketika dia mengambil langkah pertama, seketika dia merasakan sakit di antara kedua kakinya. "Sshhh ... masih sakit," desis Chelsea sambil meringis kesakitan.


Chelsea menahan rasa nyeri itu, lalu berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar mandi. Dia membasuh wajahnya terlebih dahulu, dan setelah itu dia terkejut saat melihat bayangan dirinya di cermin yang berada tepat di atas wastafel.


Mulai dari leher, dada, bahkan semakin ke bawah dipenuhi oleh tanda merah bekas kecupan. Wajah Chelsea seketika memerah saat melihat banyaknya tanda kecupan yang tertinggal di tubuhnya.


"I-ini semua ... dilakukan oleh Leon? Dia benar-benar ganas sekali," gumam Chelsea sambil menyentuh salah satu bekas kecupan yang ada di lehernya. Pikirannya kembali berpikir tentang hal kotor, membayangkan semalam saat bagaimana Leon menciumi tubuhnya.


Tunggu sebentar! Jika Leon saja yang tidak dalam pengaruh obat sampai berbuat seperti ini. Lalu aku sendiri yang dalam pengaruh obat kuat bagaimana? Apa jangan-jangan aku lebih bertindak agresif dibanding dia?


PLAK!


Chelsea lalu dengan cepat membersihkan dirinya, dan setelah selesai mandi dia juga memakai pakaian yang telah Leon siapkan untuknya. Akan tetapi, dia lagi-lagi merasa ragu. Dia tak punya cukup keberanian untuk membuka pintu dan melangkah keluar dari kamar.


"Huft ... ayolah, tak mungkin aku berada di dalam kamar selamanya!" gumam Chelsea yang memantapkan diri. Dia membuka pintu itu sedikit, bermaksud untuk mengintip seperti apa keadaan di luar sekarang.


"Oh, kau sudah bangun?" tanya Leon yang saat ini duduk di kursi meja makan. Dia sadar jika gagang pintu kamarnya tiba-tiba bergerak.


"Ehmm ... iya," jawab Chelsea dengan nada canggung. Sekarang dia tak punya alasan lain lagi untuk menghindar karena sudah terlanjur ketahuan. Dia membuka pintu kamar lebar-lebar dan dengan perlahan berjalan keluar.


Di satu sisi Leon menyadari jika Chelsea tidak berjalan dengan baik. Lalu dia dengan spontan berkata, "Apakah masih sakit?"


"Eh, anu ... tidak terlalu," jawab Chelsea tanpa menatap wajah Leon. Dia malu untuk berkata jujur jika miliknya saat ini masih terasa begitu nyeri.


"Duduklah, aku sudah siapkan sup untukmu. Makan itu agar kau merasa lebih baik!" pinta Leon dengan raut wajah dingin yang dipaksakan. Sebenarnya dia sendiri pun juga gugup menghadapi situasi sekarang.


"Iya," jawab Chelsea yang kemudian segera duduk. Dia juga menyantap sup buatan Leon yang enak itu dengan lahap. Seakan-akan seperti orang yang sudah tidak makan berhari-hari. Sebenarnya dia memang lapar, mengingat jika semalam tenaga yang dia habiskan untuk percintaan sangat banyak.


Ketika sedang makan, sesekali Chelsea melirik ke arah Leon. Saat tatapan kedua orang itu bertemu, mereka seketika membuang pandangan ke arah lain. Terlebih lagi Chelsea, dia malu setengah mati saat melihat ada bekas kecupan yang dia tinggalkan di leher Leon. Pikirnya, dialah yang telah meninggalkan tanda cinta itu di sana. Keduanya tak menyangka jika akan suasana di antara mereka akan berubah menjadi super canggung seperti ini.

__ADS_1


Begitu Chelsea selesai memakan sup, dia mengangkat mangkuk kosong itu. Berniat untuk mencucinya sendiri, tetapi saat itu juga Leon langsung berkata, "Taruh saja, nanti biar aku saja cuci sendiri!"


"Ah, o-oke ...." Chelsea kembali duduk dan perasaannya semakin gugup.


"Mayra, aku mau bicara serius," ucap Leon yang seketika membuat Chelsea makin salah tingkah.


"A-aku minta maaf! Aku memang bodoh! Aku sama sekali tidak bermaksud untuk memperkosamu! Aku dijebak! Aku dijebak karena kecerobohanku sendiri! Maaf sudah merugikanmu!" celetuk Chelsea begitu saja sambil menyatukan kedua tangannya. Sebenarnya dia sendiri merasa aneh, lantaran dia juga dirugikan karena keperawanan yang dia jaga selama ini telah hilang. Tetapi, dia tidak menyangkal fakta jika dirinya sendiri yang pertama kali menyulut api gairah.


"Eh?" Leon kebingungan, dia dibuat bingung di bagian di mana dirinya seolah-olah menjadi korban. Padahal dia justru yang mendapatkan keuntungan.


"Tunggu sebentar, tadi kau bilang kau dijebak? Oleh siapa?" tanya Leon yang mulai serius.


"Kemarin malam, aku ingat betul jika tidak memakan atau meminum sesuatu yang aneh-aneh. Tetapi, setelah aku berbincang dan bersulang dengan ketua tim. Aku tiba-tiba merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhku, aku tidak bisa mengendalikan diriku ataupun berpikir dengan jernih. Satu-satunya yang aku ingat adalah, peristiwa terakhir saat aku masih sadar di dalam mobilmu. Dan kejadian semalam itu, aku tak tahu, aku kira itu cuma mimpi yang rasanya begitu nyata. Dan ... bercinta denganmu, sebenarnya aku sedikit bersyukur karena itu kau. Setidaknya bukan orang lain ..." ucap Chelsea dengan menunduk, dia tidak berani untuk melihat raut wajah Leon saat ini.


"Ehmm ..." Leon tersipu, dia merasa bahagia lantaran wanita yang telah bercinta dengannya tidak mengharapkan orang lain selain dirinya.


Tiba-tiba Leon tersadar jika ini bukan saat yang tepat untuk tersipu malu memikirkan soal perasaannya. Sejurus kemudian dia berkata, "Jadi kau mencurigai ketua tim yang menjebakmu. Tetapi, apa motifnya? Maksudku, bukannya aku tidak percaya padamu. Tetapi aku paham seperti apa sifat ketua tim, dia hanya akan bertindak sesuai perintah Pak Dewan. Jangan-jangan kau menyinggung Pak Dewan tanpa sepengetahuanku?"


"Soal itu, mungkin saja ..." jawab Chelsea dengan nada ragu.


"Kenapa mungkin? Cepat katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Leon dengan tidak sabar.


"Baiklah, akan aku katakan. Sebenarnya ini sedikit memalukan, Pak Dewan ... dia melamarku untuk jadi istrinya yang keempat! Tentu saja aku tidak mau, memangnya dia pikir aku ini wanita macam apa?! Mungkin karena itu Pak Dewan berniat jahat padaku!" ungkap Chelsea dengan sorot mata penuh kebencian.


"Ah, ternyata begitu ..." jawab Leon dengan senyum canggung.


Pantas saja Pak Dewan mau membalas dendam. Dia itu sosok orang yang keras, dia akan bertindak jika keinginannya tidak terpenuhi. Untung saja Mayra cukup pintar dan mencariku, jika semalam dia bersama pria lain, tentu saja aku akan cari perhitungan dengan ketua tim.


Tiba-tiba saja suasana kembali menjadi hening. Tak ada percakapan apa pun lagi di antara keduanya. Dan setelah beberapa saat, Leon memberanikan diri untuk mengawali topik pembicaraan lagi.


"Mayra, kau tahu jika hubungan di antara kita ini adalah rekan. Dan semalam ... sudah terjadi sesuatu di antara kita yang melewati batas hubungan rekan. Kejadian semalam bukan perkara enteng, tidak boleh ada perasaan di antara rekan. Tugas kita akan jadi berantakan. Agar hubungan sebagai rekan kita tidak rusak, bagaimana kalau kita lupakan saja kejadian semalam dan menganggap semalam itu tidak pernah terjadi?" tanya Leon.


"A-apa katamu?!" Tiba-tiba saja Chelsea berdiri, mendekat pada Leon dan menarik kerah bajunya sekuat mungkin. Entah kenapa tiba-tiba emosinya tersulut.


"Kau brengsek! Yang terjadi semalam itu tidak bisa dilupakan begitu saja! Kita sudah seperti ini! Persetan dengan hubungan sebagai rekan! Aku tidak masalah punya hubungan yang lebih dari itu!" teriak Chelsea penuh amarah. Dia marah lantaran tidak terima jika kejadian yang membuat kesuciannya hilang akan dilupakan begitu saja.


"Eh? Barusan kau bilang apa ...?" Leon ternganga seakan tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2