Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Bocah yang Tidak Mudah Dihadapi


__ADS_3


"Eh, ketua menyuruhku mencari seseorang?" gumam Ivan saat membuka pesan di ponselnya. Dia langsung membaca keseluruhan isi pesan yang baru saja dikirimkan oleh Nisa padanya.


"Hmm ...." Ivan mengerutkan dahi, memperhatikan sosok yang Nisa jelaskan di gambar yang terlampir di pesan itu.


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres." Ivan langsung beralih dan menghubungi nomor Nisa agar dia bisa bicara lebih jelas lewat panggilan telepon. Hanya selang beberapa detik kemudian Nisa langsung mengangkat panggilan telepon darinya.


"Kenapa kau meneleponku? Apakah yang aku minta belum jelas?" tanya Nisa yang suaranya terdengar malas.


"Emm ... yaahh sebenarnya aku memang ingin meminta kejelasan lagi. Jika yang Boss cari memang wanita tadi. Maka sudah ketemu, tidak perlu mengerahkan semua Divisi untuk mencarinya. Sekarang dia sedang membersihkan rumah anjingku."


"Apa?! Apa kau sungguhan?! Bagaimana bisa Chelsea si mantan direktur sedang membersihkan rumah anjingmu?!" tanya Nisa lagi dengan suara keras.


"Tentu saja bisa, dia itu anggota Divisi 2 yang aku sewa untuk bersamaku sampai beberapa waktu. Dan dia bilang kalau namanya Mayra. Memang apa masalahnya?"


"...."


"Boss! Halo! Ini masih tersambung, kan?!" tanya Ivan karena Nisa tak lagi bicara.


"Ah, maafkan aku! Ini lebih rumit dari yang aku kira. Siang nanti datanglah ke bakery! Ajak sekalian dia bersamamu, nanti lebih rincinya aku akan menghubungimu lagi!"


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir. Ivan yang masih belum memahami apa-apa hanya menurut saja, meskipun sebenarnya dia kebingungan dengan sikap aneh ketuanya.


"Haiss ... lagi-lagi begini, pasti gangguannya kumat. Dan dia pasti sedang merencanakan rencana gila. Tapi siapa sebenarnya Mayra itu? Apa dia memang sepenting itu sampai kelihatannya mengancam ketua?"


"Ah, sudahlah. Masih nanti siang, aku akan bersantai dulu!" Ivan meletakkan ponselnya begitu saja. Lalu kembali berbaring di atas sofa besarnya yang nyaman. Akan tetapi, begitu dia menutup mata tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu. Dia langsung bangkit dan duduk di kursi kerjanya.


"Sial, nanti siang itu terlalu mepet! Aku lupa kalau pasti boss kecil juga akan diajak! Pokoknya sebisa mungkin aku harus menyelesaikan mainan baruku untuknya! Hehe, lalu aku akan mendapat julukan paman terbaik!"


Ivan mengambil kotak peralatan, dia juga menyalakan semua lampu seakan sudah siap bereksperimen untuk membuat penemuan mainan baru. Tentu saja dia ingin mendapatkan kesan yang lebih baik dari sang boss kecil.


Di sisi lain masih ada Chelsea yang sedang membersihkan rumah anjing seperti yang Ivan bilang tadi. Tak pernah terbayangkan bagi seorang nona besar sepertinya harus melakukan pekerjaan seperti ini.


GUK GUK!


"Iya-iya ... kita akan bermain setelah aku selesai membersihkan rumahmu!" ucap Chelsea demi menanggapi Bond yang sejak tadi menggonggong dan memainkan bola di sebelahnya.


"Haiss ...." Chelsea menghela napas. Entah kenapa dia mulai merasa jenuh lantaran Ivan selalu memberikan perintah yang macam-macam untuknya.


Aku harus bersyukur atau apa? Tugasku di Divisi 3 sebagian besar cuma mengerjakan tugas selayaknya asisten rumah tangga. Yang bisa aku syukuri cuma aku tak perlu mengerjakan pekerjaan kotor seperti membunuh orang lagi. Akan tetapi, selama di sini aku menyaksikan banyak hal kotor yang Kepala Divisi 3 lakukan.


Jangkauan Cyber itu sangat luas, bahkan bisa disebut dunia ada di genggaman tangan. Dan pelanggan yang menggunakan jasa dark web Ivan berasal dari seluruh penjuru dunia. Mereka juga sekumpulan orang tidak normal. Memang apa yang menyenangkan dengan melihat video tidak senonoh dan penyiksaan?


Selain hal tidak manusiawi itu, Ivan juga menyediakan jasa pembunuhan, jual beli data, hewan langka maupun senjata. Bahkan semalam aku diajak untuk melakukan transaksi lagi. Dan semalam itu dia mengedarkan obat-obatan terlarang yang disembunyikan di dalam bangkai hewan.


Yang tidak aku sangka adalah Ivan tergabung dalam organisasi pengedaran narkoba yang menjangkau seluruh dunia. Aku ingat betul jika semalam orang-orang itu menyebut organisasi itu sebagai New World. Dan Ivan juga mengepalai Cabang New World untuk negara ini. Sial, jika saja aku warga biasa, aku pasti akan dapat penghargaan besar jika menyerahkan semua informasi ini pada polisi.


Harus aku akui kalau ketua memang genius. Dia bisa mengendalikan organisasi serumit ini dengan baik. Divisi 2 menyediakan para pembunuh profesional, lalu Divisi 3 yang menawarkan jasa pembunuhan secara tertutup pada pelanggan. Di saat Divisi 3 mempunyai obat-obatan, aku yakin kalau nanti akan disalurkan ke Divisi 4, lebih tepatnya ke DG CLUB untuk disalahgunakan oleh orang-orang kaya yang mementingkan reputasi baik mereka.


Intinya seluruh Divisi ini saling berhubungan, hanya Divisi 1 saja yang belum aku pahami bagaimana cara kerja mereka. Leon pernah bilang jika Divisi 1 adalah Divisi umum yang paling diperhatikan oleh ketua. Semoga saja setelah tugasku di sini selesai, aku akan ditugaskan di Divisi 1. Aku ingin mengenal organisasi ini lebih dalam lagi.


Tak lama kemudian Chelsea telah selesai membersihkan rumah anjing milik Bond. Dan setelahnya dia langsung mengajak Bond untuk bermain lempar tangkap bola. Chelsea tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Ivan yang menyuruhnya untuk merawat Bond sebaik mungkin ketika Ivan sedang tidur.


Selama Chelsea ditugaskan di Divisi 3 ini. Sedikit demi sedikit dia mulai paham seperti apa kebiasaan sang Kepala Divisi. Ivan lebih banyak tidur di siang hari dan beraktivitas di malam hari, Ivan juga tak pernah membuat makanannya sendiri. Setiap kali dia lapar, dia selalu meminta Chelsea untuk membelikan makanan mewah dari restoran yang ada di pusat kota.


GUK! GUUKK!


"Eh, maaf aku melamun." Chelsea langsung menerima bola yang telah Bond ambilkan. Sesaat sebelum dia melempar bola itu lagi, tiba-tiba saja Ivan muncul sambil membawa sebuah tas berwarna hitam.

__ADS_1


"Ayo ikut aku!" ucap Ivan yang kemudian beralih menatap ke arah anjingnya. "Bond jaga rumah, ya!"


GUK!


"Baik, Kepala Divisi," jawab Chelsea yang kemudian meletakkan bola milik Bond ke tanah. Lalu segera mengikuti jalannya Ivan.


Kali ini sedikit berbeda dari biasanya, Ivan tidak meminta Chelsea menyetir mobil, akan tetapi dia sendirilah yang mengajak Chelsea untuk naik ke mobil mewahnya dan mengemudi sendiri.


"Apa kau bisa mengurus anak?" tanya Ivan tiba-tiba di kala perjalanan.


"Bisa, saya bisa!" jawab Chelsea secara spontan. Dia sudah membesarkan bayi seorang diri selama lebih dari 6 tahun, kemampuannya dalam mengurus anak sudah tidak diragukan lagi.


"Baguslah, soalnya nanti kau akan mengurus anaknya ketua," jelas Ivan sambil terus fokus menatap jalanan.


"A-anaknya ketua?!" Chelsea terkesiap, dia tidak habis pikir akan mendapatkan tugas sepenting ini begitu cepat. Apakah hari yang dia nantikan itu adalah hari ini? Apakah hari ini pada akhirnya dia akan bisa bertemu dengan ketua? Memikirkan semua hal itu seketika membuat Chelsea merasa gugup.


Ivan melirik sekilas, lalu berkata, "Apa kau gugup?"


"Emm ... sedikit, ngomong-ngomong berapa usianya anak ketua?" tanya Chelsea penasaran.


"5 tahun 4 bulan 28 hari," jawab Ivan secara spontan.


"...." Sejenak Chelsea terdiam, dia tidak habis pikir jika Ivan akan begitu mengingat umur seorang anak. "Emm ... baiklah, saya bisa mengurusnya. Silakan percayakan pada saya!"


"Oh iya, pokoknya nanti kau harus memanggilnya Boss Kecil! Dia sangat suka dengan sebutan itu!" ucap Ivan penuh penekanan.


"Baik, akan saya ingat."


Perjalanan ke tempat yang di tuju termasuk menempuh jarak yang jauh, Ivan melaju sekencang mungkin demi mempersingkat waktu. Dan sekitar hampir setengah jam berlalu, mereka berdua akhirnya tiba di tempat yang dituju. Tempat itu bernama Darlings Bakery, sebuah toko roti terkenal milik Nisa. Tetapi karena sebelumnya Chelsea selalu berada di luar negeri, dia tak tahu siapa pemilik dari toko roti tersebut.


"Ayo, masuk! Boss Kecil ada di dalam!" ajak Ivan dengan antusias, dia sudah tidak sabar memperkenalkan mainan baru yang telah dia buat.


CRING!


Ivan langsung berjalan ke sudut, terlihat seorang anak kecil laki-laki yang sedang memakan kuenya sendiri. Anak kecil itu tidak lain adalah Keisha, sekarang dia juga tampak masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Hai, Boss Kecil!" sapa Ivan yang kemudian langsung duduk di kursi yang ada di sebelah Keisha.


"Hai, Paman Ivan ..." balas Keisha sambil melambaikan tangan kecilnya. Akan tetapi, setelahnya dia tampak berekspresi sendu.


"Kenapa Boss Kecil sedih?" tanya Ivan penuh perhatian. Chelsea yang melihatnya saja kaget, dia tidak menyangka jika Ivan yang aneh dan kejam bisa memasang wajah perhatian seperti itu.


"Keisha kesepian ... Saudara Keisha yang selalu menemani Keisha bermain sudah pindah rumah, ikut orang tuanya," jawab anak itu dengan wajah sedih. Seakan tidak bernafsu saat menyantap kue yang lezat di hadapannya.


"Ya sudah, kalau begitu Boss Kecil tidak usah sedih lagi! Paman Ivan punya sesuatu yang baru!" Ivan lalu membuka tas ransel hitam miliknya. Dia mengambil sebuah benda dari dalam tas itu. Benda itu adalah sebuah robot kecil yang didominasi oleh warna putih. Ivan juga meletakkan sebuah remote control kecil di atas meja tersebut.


"Ini apa?!" tanya Keisha yang mulai tertarik.


"Ini adalah robot dance! Sini, paman kasih tahu bagaimana cara memainkannya!"


Keisha langsung bergeser lebih dekat dan memperhatikan baik-baik tangan Ivan. "Jika Boss Kecil pencet yang ini, maka robotnya akan mengeluarkan musik dan otomatis menari! Lalu jika pencet yang ini, maka robotnya bisa menirukan apa saja suara yang Boss Kecil ucapkan! Lalu yang satu ini ..." Ivan terus menjelaskan setiap bagian dan fungsi dari mainan yang tadinya baru selesai dia buat tersebut. Dan di satu sisi Keisha juga terus memperhatikan bagaimana cara mengoperasikan robot itu.


"Woahh .... keren! Robot dance ini untuk Keisha, kan?" tanya Keisha dengan tatapan berbinar, dia benar-benar menginginkan robot itu untuk jadi miliknya.


"Tentu saja!" jawab Ivan dengan senyuman.


"Horee! Paman Ivan yang terbaik!" seru Keisha yang langsung merebut remote control dari tangan Ivan.


"Hehehe ..." Ivan tersenyum puas, dia sangat puas saat disebut sebagai paman terbaik oleh boss kecilnya.


"Terima kasih Paman Ivan. Oh iya, Paman Ivan sudah ditunggu di mobil!" ucap Keisha tanpa melihat ke arah Ivan, pandangannya terpaku pada mainan barunya.

__ADS_1


"Iya, tapi sebelum itu mari berkenalan dengan dia dulu!" ucap Ivan seraya sambil menunjuk ke arah Chelsea.


"Hm?" Keisha mendongak, menatap Chelsea dari atas sampai bawah. Lalu setelahnya dia berkata, "Dia pacarnya Paman? Baiklah, karena dia perempuan maka Keisha merestui kalian!"


"Bukan! Dia bukan pacar! Dia cuma pengasuh yang paman bawa untuk menemanimu bermain," jelas Ivan yang kelabakan. Dia terlihat sangat enggan saat dikira berpacaran dengan Chelsea.


Huh, apa-apaan? Aku tidak sudi dikira pacaran dengannya. Dia bukan seleraku, seleraku itu adalah gadis muda yang polos dan rambutnya diikat dua! Bukan wanita dewasa sepertinya.


"...." Chelsea diam dan hanya memasang senyum canggung. Diam-diam dia juga merasa kecewa, lantaran tidak bisa bertemu dengan ketua seperti yang dia harapkan.


"Sudah ya, Paman pergi dulu! Boss Kecil silakan ajak dia main apa saja yang Boss Kecil inginkan!" Ivan langsung bergegas pergi dari toko, meninggalkan Keisha bersama dengan Chelsea berdua saja.


"Emm ... halo," sapa Chelsea yang berusaha mengakrabkan diri dengan Keisha.


"Halo Bibi," jawab Keisha singkat, dia masih menaruh seluruh perhatiannya pada mainan barunya.


"...." Chelsea terdiam, dia tidak menyangka jika bocah yang akan dia asuh akan sedingin ini terhadapnya. Padahal sebelumnya dia telah merencanakan untuk jadi akrab dengannya dan mengorek informasi sebanyak mungkin darinya.


Tiba-tiba saja Chelsea mendekatkan diri dengan cara duduk di sebelah Keisha. Dia juga menyendok kue itu dan mengarahkannya pada Keisha. Di satu sisi Keisha juga membuka mulutnya dan mengunyah kue itu tanpa peduli siapa yang sedang menyuapi dirinya makan.


"Boss Kecil," panggil Chelsea.


"Ya?" tanya Keisha sambil melirik sekilas.


"Siapa nama Boss Kecil? Mari berkenalan dengan bibi!" bujuk Chelsea dengan senyum ramah.


"...." Tiba-tiba saja Keisha terdiam, lalu tanpa alasan yang jelas malah menatap Chelsea dengan tatapan curiga.


Bunda bilang di dunia ini banyak orang jahat yang ingin menculik Keisha karena pengaruh yang keluarga ayah punya. Jadi Keisha tidak boleh menyebutkan nama lengkap Keisha pada orang asing seperti bibi ini. Keisha tidak mau kalau bibi ini sampai tahu jika Keisha adalah cucu dari keluarga Kartawijaya.


"Namaku Keisha, tapi Bibi harus panggil Keisha dengan sebutan Boss Kecil!" ucap Keisha dengan tampang sok memerintah, dia meniru ekspresi ayahnya ketika sedang memerintah para karyawan.


"Haha, baiklah Boss Kecil." Chelsea tersenyum canggung.


"Emm ... bolehkah bibi tahu siapa nama ayahnya Boss Kecil?" tanya Chelsea yang langsung ke inti. Dia ingin tahu siapa nama ketua yang selama ini selalu misterius baginya.


"Kenapa Bibi bertanya siapa nama ayahnya Keisha? Dengar ya Bibi, Keisha tahu kalau ayah Keisha itu tampan dan punya banyak uang. Tapi ... ayah sudah menikah dengan bunda Keisha! Jadi Bibi jangan harap bisa menggoda ayahnya Keisha!" ucap Keisha sambil melotot, dia mulai merasa jika bibi ini memang punya tujuan yang buruk padanya. Ini bukan pertama kalinya dia berhadapan dengan wanita yang selalu ingin mencari tahu soal ayahnya.


"Tidak, Boss Kecil salah paham. Bibi tidak bermaksud untuk menggoda ayahnya Boss Kecil. Bibi cuma mau mengenal keluarga Boss Kecil saja, agar kita semakin akrab," jelas Chelsea dengan senyum canggung. Dia mulai merasa jika anak yang dia asuh ini tidak mudah untuk dihadapi.


"Kenapa Bibi mau jadi akrab dengan Keisha?" tanya Keisha balik.


"Emm ... tentu saja agar semakin leluasa saat bicara. Dan nantinya kita juga bisa main bersama!"


"Tapi Keisha sedang tidak mau main sama Bibi, Keisha sekarang mau main sama robot dance!" ucap Keisha dengan ekspresi yang terkesan mulai tidak nyaman dengan kehadiran Chelsea.


"B-baiklah kalau begitu, Boss Kecil silakan bermain ...." Seketika Chelsea membisu. Dia tidak bicara sepatah kata pun lagi karena khawatir akan semakin dianggap sebagai pengganggu oleh Keisha.


Sial, sial, sial! Aku sudah meremehkan bocah ini. Ternyata anak dari ketua gangster memang berbeda, dia sangat sulit didekati. Huh, padahal aku ingin mengorek informasi sebanyak mungkin soal ketua darinya. Jika ini tidak bisa berjalan dengan baik, mungkin aku harus menyelidiki sendiri. Anak ini masih memakai seragam sekolah, aku tinggal mencari tahu ini seragam sekolah mana. Lalu saat aku tidak bertugas maka aku akan mengintai di sekolah itu.


***


Di sisi lain ada Ivan yang saat ini berada di dalam mobil yang sedang melaju kencang bersama dengan sang ketua. Nisa terus fokus pada jalanan yang ramai itu.


Ivan yang masih kurang paham dengan arah tujuan mereka tiba-tiba saja berkata, "Kita mau ke mana, Boss?"


"Ke DG CLUB," jawab Nisa singkat. Dia tidak menjelaskan apa maksudnya pergi mengajak Ivan ke club yang masih tutup saat siang.


"Oh, lalu apa benar tidak apa-apa meninggalkan boss kecil bersamanya?" tanya Ivan lagi.


"Tidak apa-apa, Keisha itu pintar. Wanita itu memang targetku, dan aku sudah memasang alat penyadap di bawah meja yang dipakai Keisha untuk berjaga-jaga. Lagi pula di sana ada Akira, aku bisa tenang. Tapi yang terpenting, kau sudah membawa data yang sebelumnya aku minta, kan?"

__ADS_1


"Sudah," jawab Ivan sambil mengangguk.


"Bagus! Soalnya ini adalah masalah yang rumit! Aku mau mengadakan pertemuan mendesak seluruh Kepala Divisi hari ini!"


__ADS_2