
"Noah, Nora, neneen ...!" panggil Nisa dengan senyuman kepada kedua bayinya yang saat ini sama-sama tengkurap di atas ranjang kamarnya.
Kedua bayi itu langsung tersenyum dan menampilkan gigi mungil mereka yang baru tumbuh. Mereka berdua juga mendorong dan menarik tubuh kecil mereka dengan tangan untuk bergerak maju menghampiri sang bunda.
"Hahaha," Nisa tertawa karena merasa terhibur dan gemas melihat kedua bayinya seperti sedang berlomba siapa yang paling cepat untuk sampai kepadanya.
Sesekali mereka berdua berguling karena masih belum terlalu bisa merangkak. Hal itu semakin membuat Nisa merasa gemas terhadap mereka berdua. Akan tetapi, tiba-tiba saja ada seseorang yang merangkak mendahului kedua bayi itu. Dia tidak lain adalah Keyran. Ayah dari kedua bayi itu tak mau mengalah dan menghampiri istrinya lebih dulu.
"Hap! Aku yang menang! Sekarang berikan padaku, neneen!" ucap Keyran seraya memeluk erat istrinya.
"Darling ... ini tidak berlaku bagimu, oke? Aku ingin melakukan stimulasi pada anak-anak kita supaya lebih pintar merangkak. Dan kau, jangankan merangkak, kau bahkan sudah mampu melakukan banyak hal yang kadang membuatku sampai tidak berdaya. Jadi kau tidak boleh berlomba dengan anakmu!" seru Nisa sambil melepaskan pelukan Keyran dari tubuhnya.
"Ayolah Nisa ... jangan pelit begitu," bujuk Keyran seraya mendekat ke telinga istrinya. Dia juga meniup daun telinganya karena sudah tahu di bagian mana saja yang sensitif pada tubuh istrinya.
"H-heiii! Nakal!" teriak Nisa yang langsung bergeser menjauh. Kedua pipinya juga merona karena tindakan suaminya yang tiba-tiba menggodanya.
Tanpa Nisa sadari, Noah dan Nora sudah merangkak dan semakin dekat. Namun bukannya mengarah padanya, justru mereka berdua mengarah ke arah sang ayah.
"Yayayaaa ..." celoteh kedua bayi itu sambil menggerak-gerakkan tangannya.
"Hm? Anak-anak ayah mau ikut ayah, ya?" tanya Keyran dengan senyuman. Dia langsung menyambut kedua bayinya dan memangku Noah dan Nora bersamaan. Akan tetapi, kedua bayi itu kompak beralih memukul-mukul Keyran dengan tangan kecil mereka.
"Pffttt ... ya! Benar! Ayo pukul ayah kalian, jangan biarkan ayah seenaknya merebut jatah kalian! Dan jangan biarkan ayah membuat adik baru untuk kalian!" Nisa terkekeh dengan tingkah bayinya yang di luar dugaan.
"Huh! Jangan jadi nakal sama seperti bunda, ya!" balas Keyran yang kemudian menciumi pipi kedua bayinya secara bergantian.
"Bundaaaa!" teriak Keisha yang tiba-tiba memasuki kamar itu. Dia langsung berteriak dan masuk begitu saja karena melihat pintu kamar yang tak tertutup.
"Ya, Sayang?" tanya Nisa pada putra kecilnya itu.
"Hm?" Keisha lalu melihat dan memperhatikan jika kedua adik kembarnya ternyata juga berada di sana. "Adik Noah dan Nora kenapa belum tidur?"
"Haha, itu karena mereka belum mengantuk dan masih mau bermain," jawab Keyran yang perhatiannya tak luput dari kedua bayinya.
"Keisha juga mau main!" ucap Keisha yang kemudian langsung ikut naik ke ranjang besar itu. Dia juga bertepuk tangan untuk menghibur kedua adiknya. Seolah dia telah melupakan apa tujuannya kemari.
"Keisha, kenapa tadi berteriak? Apa Keisha kesusahan saat mengerjakan PR?" tanya Nisa.
"Eh, bukan!" Keisha lalu beralih mendekati Nisa. Merangkulnya dan bergelayut manja padanya. Nisa dan Keyran yang menyadari hal itu hanya tersenyum, mereka berdua sudah hafal seperti inilah sikap Keisha jika menginginkan sesuatu.
"Bunda ... tadi di sekolah, Bu guru bilang kalau PR minggu ini adalah tugas untuk bersosialisasi di luar. Saat hari Senin nanti, Keisha disuruh maju dan menceritakan kegiatan apa saja yang Keisha lakukan di akhir pekan. Teman-teman Keisha juga akan bercerita, nanti kita semua bisa berbagi pengalaman."
Nisa mengangguk dan berkata, "Ya, lalu? Apa yang Keisha inginkan?"
"Akhir pekan nanti Keisha mau diajak liburan ke tempat yang bagus! Bunda mau, kan?" tanya Keisha dengan senyum manisnya. Berharap agar sang bunda luluh dengan sikapnya ini.
"Baiklah, akhir pekan nanti ayo kita main ke pantai!"
"Pantai? Tidak mau! Keisha sudah sering ke pantai!" bantah Keisha dengan wajah cemberutnya.
"Lalu Keisha maunya pergi ke mana?" tanya Nisa lagi.
"Keisha mau pergi ke Belgia! Keisha pernah baca buku kalau negara Belgia jadi negara penghasil cokelat terbaik di dunia! Keisha mau mencoba cokelat itu, Bunda!"
"Tidak bisa!" ungkap Nisa dengan tegas.
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa?" tanya Keisha dengan tampang kecewa.
"Keisha ... negara Belgia itu terlalu jauh, Sayang. Waktu penerbangan ke sana saja butuh hampir 20 jam. Tidak cocok bepergian ke luar negeri jika waktu liburnya hanya 2 hari. Keisha mengerti, kan?" bujuk Nisa supaya putranya ini tidak meminta yang aneh-aneh lagi.
"Kalau begitu kita pergi ke negara yang dekat-dekat saja! Yang terbang selama 2 jam! Pasti waktunya cukup!" bantah Keisha lagi yang masih bersikeras.
"Tetap tidak bisa, Sayang. Jika kita pergi berlibur, harus mengajak ayah dan adik-adik bayi juga. Dan belakangan ini ayah punya banyak perkerjaan di kantor. Sedangkan berlibur ke tempat yang jauh itu butuh persiapan yang banyak. Begini saja, nanti kalau liburan semester tiba, kita bisa berlibur ke luar negeri!"
Keisha makin cemberut karena kesal permintaannya tidak dituruti. Dia melepaskan pelukan dari Nisa dan beralih menatap Keyran. "Ayah ... Ayah kan punya jet pribadi, kita pakai itu saja buat berlibur!"
Keyran tersenyum kecil, lalu sebelah tangannya maju untuk mengusap kepala anaknya. "Keisha ... jangan nakal, oke? Dengarkan ucapan bunda, pergi ke luar negeri itu tidak sesederhana itu. Butuh banyak persiapan dan tenaga yang banyak juga. Jika Keisha mau berlibur ke tempat yang agak jauh, maka ayah bisa mengajak Keisha untuk berlibur ke luar kota!"
"Tidak mau! Ayah sekarang jadi payah! Keisha mau ayah baru yang lebih keren!" celetuk Keisha yang sudah begitu kesal.
"Hei, dari mana kau belajar kata-kata itu?!" bentak Keyran yang tidak habis pikir dengan perkataan yang anak laki-lakinya ucapkan. Sontak saja Keisha juga menundukkan kepala lantaran takut sudah dibentak oleh sang ayah.
"Apa kau yang mengajarinya?" tanya Keyran dengan tatapan tajam pada Nisa.
"T-tidak, jangan menuduhku sembarangan," jawab Nisa yang kemudian memalingkan wajahnya.
"Hmph, bisa-biasanya menyebut orang sepertiku payah," gerutu Keyran yang kemudian beralih menatap kembali ke arah Keisha. "Baiklah kalau begitu! Mari kita pergi ke luar negeri! Akan aku tunjukkan kalau aku bukan ayah yang payah!"
Bukannya senang dengan perkataan Keyran barusan, Keisha justru menatapnya dengan tatapan seperti ingin menangis. "Tidak usah Ayah, Keisha tidak mau menyusahkan Ayah ... Keisha janji tidak akan begitu lagi."
"Haiss ...." Keyran menghela napas, dia sadar kalau dirinya telah salah karena membentak Keisha terlalu keras.
"Aa-aa-aaa ..." ucap si kecil Noah dengan tangan mungilnya yang melambai ke arah Keisha.
"Keisha di rumah saja, Keisha mau main bersama adik," ucap Keisha tanpa antusias.
Keyran dan Nisa lalu saling menatap satu sama lain. Mereka berdua sama-sama merasa bersalah ketika melihat anak mereka yang kini telah kehilangan semangat. Nisa yang tak mau putranya terus seperti itu, tiba-tiba saja meraih tubuh Keisha dan memangkunya di atas pahanya.
"Keisha mau ke luar negeri karena mau punya pengalaman baru. Keisha sudah mengunjungi semua tempat wisata di kota ini. Kalau Keisha maju ke depan dan menceritakan pengalaman Keisha, nanti bisa-bisa Bu guru dan teman-teman Keisha jadi bosan. Nanti Keisha akan diejek tidak dibawa ke tempat yang baru," jawab Keisha masih dengan wajahnya yang murung.
"Ohh ... jadi begitu, bagaimana kalau akhir pekan nanti kita liburan saja ke villa milik bunda yang ada di bukit? Nanti kita bisa sama-sama memanen stroberi, dan Keisha bisa menceritakan itu ke teman-teman!" bujuk Nisa dengan senyumannya. Namun, putra kecilnya itu hanya membalas dengan gelengan kepala.
"Emm ... kalau tidak mau, bagaimana kalau kita ke danau saja? Nanti kita memancing ikan bersama-sama! Atau kita bisa pergi ke bukit dan berkemah, nanti kita bakar jagung bersama-sama dan bercerita kisah seram saat malam!"
"Tidak mau ... Keisha sudah pernah melakukan itu semua," jawab Keisha sambil menggeleng pelan.
"Bagaimana kalau Keisha datang ke pabrik milik ayah dan melihat proses produksi?" tanya Keyran.
"Itu membosankan ... Keisha mau melihat sesuatu yang belum pernah Keisha lihat," jawabnya lagi yang masih tak mau menerima setiap tawaran ayah dan bundanya.
"Keisha, jika ini benar tugas sekolah. Ngomong-ngomong ... Luciel akan pergi ke mana?" tanya Nisa.
"Luciel mau mengajak tante Natasha dan om Daniel ke peternakan. Luciel mau melihat sapi perah dan caranya membuat susu sapi yang dijual. Tapi, Keisha juga sudah pernah ke sana." Ekspresi wajah Keisha kian murung. Dia makin sedih karena seakan tak ada tempat baru yang menyenangkan untuk dia kunjungi.
"Keisha, bagaimana kalau Keisha ceritakan saja pengalaman sewaktu bermain ke air terjun yang besar waktu itu? Keisha belum pernah menceritakannya pada teman-teman, kan? Jika begitu, Keisha ceritakan soal itu saja!" bujuk Keyran.
"Itu kan sudah minggu lalu, memangnya Ayah mau Keisha bohong ke teman-teman?" tanya Keisha dengan tatapan polosnya.
"Ehmm ... Tidak usah kalau begitu! Keisha tidak boleh jadi pembohong," celetuk Keyran yang kemudian tersenyum canggung dan membuang pandangan matanya.
"Huuu ... benar, kan? Lebih baik Keisha di rumah saja!" seru Keisha yang sudah tak semangat lagi mengerjakan tugasnya.
"K-Keisha, bagaimana kalau kita berkunjung ke markas besar milik bunda!?" ucap Nisa tanpa pikir panjang karena tak mau anaknya kecewa.
__ADS_1
"Markas besaaarrr ...?" tanya Keisha dengan sorot mata yang langsung berubah antusias.
"Tidak boleh!" bentak Keyran sambil melotot pada Nisa. Tentu saja dia langsung melarang. Mana mungkin ayah sepertinya mengizinkan putra kecilnya yang masih polos untuk bermain ke markas besar para gangster.
"Kenapa tidak boleh? Bunda sendiri yang mengajak Keisha! Bunda adalah boss besar, jadi wajar saja kalau bunda punya markas yang besar! Keisha mau ke sana, Ayah! Keisha penasaran seperti apa markas besar itu!" protes Keisha yang sudah membulatkan tekad ingin berkunjung ke tempat tersebut.
"Keisha ... kau tidak sepenuhnya mengerti apa maksud ayah. Ayah melarang karena memikirkan kebaikanmu! Tempat itu adalah tempat yang mengerikan!" ucap Keyran sekali lagi dengan penuh penekanan.
"Keisha tidak takut, Ayah! Keisha sudah pernah ke rumah hantu! Tidak ada hantu sungguhan yang menyeramkan!"
"Ayah bilang tidak boleh ya tidak boleh!!" tegas Keyran.
"Huaaa ... Ayah sudah tidak sayang Keisha lagi!" Anak itu langsung menangis dengan kerasnya. Bahkan tanpa sebab yang jelas, si kembar juga ikut menangis.
"Sshhh cup ... cup ... jangan menangis," ucap Keyran sambil menengok ke arah Noah dan Nora secara bergantian. Kini kepalanya makin pening karena ketiga anaknya menangis bersamaan.
"Nisa, bantu aku!" pinta Keyran yang semakin kewalahan.
"Ini kan salahmu sendiri," jawab Nisa spontan.
"Nisaaaa!" bentak Keyran yang mulai kehilangan kesabaran.
"Huhuu ... suamiku tidak sayang aku lagi!" ucap Nisa yang malah pura-pura ikut menangis untuk menggoda suaminya.
"Nisa! Jangan main-main!"
"Haha, oke-oke ...." Nisa lalu mendekat, dia meraih Nora yang biasanya memang paling sulit untuk didiamkan ketika menangis. Nisa menimang-nimang Nora dan tak berselang lama tangisannya berhenti.
"Nah, kau sudah tahu sendiri kan bagaimana susahnya jadi aku?" tanya Nisa pada Keyran yang juga telah berhasil menenangkan Noah.
"Iya, aku sudah tahu." Keyran lalu melihat ke arah Keisha yang masih belum berhenti menangis. Dia merasa bersalah karena membuat putranya bersedih, dia juga takut jika Keisha nantinya akan merajuk padanya.
"Keisha ... jangan menangis lagi, oke? Ayah akan mengajak Keisha pergi ke tempat mana pun Keisha mau!" bujuk Keyran.
"Huaaa ... pokoknya Keisha mau ke markas besar!" rengek Keisha yang makin menjadi-jadi.
"Keisha, apa saja boleh kecuali tempat itu. Bagaimana kalau ke tempat yang sama dengan Luciel? Keisha suka sekali bermain bersama Luciel, kan?"
"Tidak mau ... Ayah jahat!" Keisha langsung turun dari ranjang dan memeluk kaki Nisa yang sejak tadi masih menimang-nimang Nora. "Bunda ... Keisha benar-benar mau pergi ke markas besar! Boleh, kan? Bunda kan sayang Keisha ...."
"Ehmm ...." Nisa tak langsung menjawab. Dia melirik ke arah Keyran untuk meminta pendapatnya. Jika dia seenaknya memutuskan sendiri, justru dia yang akan bertengkar dengan Keyran.
Keyran menghela napas kasar dan kemudian berkata, "Baiklah! Aku izinkan kalian pergi ke markas itu! Tapi dengan satu syarat! Atur semuanya sebaik mungkin! Jaga Keisha terus, dan bilang pada anak buahmu supaya tidak macam-macam! Aku tidak mau jika sampai pikiran Keisha teracuni di tempat itu!"
"Baiklah, Darling! Percayakan saja padaku!" Nisa lantas beralih menatap putra kecilnya. "Keisha, ayah sudah memberikan izin. Keisha jangan sedih lagi, ya?"
Keisha mengangguk, setelah menarik ingus dia pun berkata, "Keisha sayang Bunda ...."
"Keisha tidak sayang ayah?" tanya Keyran.
"Hemm ... sekarang Keisha masih marah sama Ayah! Besok baru Keisha sayang sama Ayah!" jawab Keisha sambil menggembungkan pipinya.
"Keisha, tidak boleh begitu, tadi ayah melarang juga karena sayang dengan Keisha. Jadi, Keisha tidak boleh begitu ya lain kali. Paham?" bujuk Nisa dengan nada lembut.
"Iya Bunda ... Keisha paham," Keisha yang masih sesenggukan mendekat ke arah Keyran dan meminta maaf padanya.
"Haiss ... dasar," gumam Nisa sambil tersenyum tipis ketika memperhatikan tingkah putranya.
__ADS_1
Astaga, gara-gara perkataanku yang aku ucapkan dengan asal, pada akhirnya malah jadi begini. Aku harus bilang ke anak buahku supaya mereka menghentikan kegiatan kasino saat Keisha berkunjung. Dan sialnya, aku terpaksa harus memundurkan lagi rencanaku pada Leon.
Ck, tak apalah. Mungkin sebaiknya aku memang harus memberikan mereka waktu untuk bernapas santai sebentar. Kasihan juga saat aku tahu kalau Chelsea keguguran. Ini juga mengingatkan aku saat kehamilan pertamaku yang juga gagal.