Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Menyingkap Kebenaran - Violent Zone (1)


__ADS_3


"Leon lama sekali," gumam Chelsea yang saat ini mondar-mandir di depan pintu masuk area Golden Eyes. Dia masih menunggu Leon untuk masuk ke area itu dan mengerjakan tugas bersama-sama.


Chelsea merasa begitu cemas, dia memikirkan jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada Leon. Atau bahkan bisa saja saat ini Marcell telah menyerang dan menghabisi Leon secara diam-diam.


TAP TAP TAP ...


Terdengar suara langkah kaki melangkah mendekat. Seketika Chelsea mendongak, tersenyum semringah ketika melihat Leon yang kembali dalam keadaan baik-baik saja. Namun, senyumannya langsung hilang ketika menyadari ekspresi Leon yang tampak murung.


"Ada apa Leon? Apa yang habis kau bicarakan dengan Kepala Divisi? Semuanya baik-baik saja, kan?" tanya Chelsea dengan nada khawatir, kulit di keningnya sampai ikut mengerut.


Leon memasang senyum yang dipaksakan, dia tak mau jika Chelsea merasa khawatir terhadap masalahnya. "Iya, semuanya baik-baik saja."


"Jangan berbohong padaku! Aku tahu kalau kau tak mungkin memasang tampang begitu jika semuanya memang baik-baik saja. Katakan saja padaku, Leon. Kita sudah pernah berjanji untuk saling terbuka dan jujur. Jika itu kabar buruk, maka aku akan mempersiapkan diriku untuk menerimanya!" bujuk Chelsea supaya Leon mau membuka mulut dan mengatakan yang sebenarnya.


Leon tertegun sejenak, dia berpikir jika ini bukan saat yang tepat jika menceritakan kepada Chelsea mengenai segalanya. Dia kemudian tersenyum tipis dan mengusap kepala Chelsea dengan lembut. "Bukan sesuatu yang serius. Kepala Divisi bilang padaku kalau tinggal 2 hari lagi waktu kita bekerja di sini."


"Eh? Kenapa secepat itu Kepala Divisi 1 memberhentikan penugasan kita? Apakah selama ini kinerja kita buruk?" tanya Chelsea yang masih memerlukan kejelasan lebih lagi.


Leon lantas menarik tangannya kembali dan berkata, "Bukan karena itu, hanya saja 2 hari lagi sudah ada tugas baru yang lebih penting bagi kita. Jadi itulah mengapa kita diberhentikan, kau tenang saja, kita akan tetap mendapatkan bayaran yang sepatutnya kita dapatkan."


"Aku tak mempermasalahkan soal bayaran. Tapi aku penasaran soal tugas baru kita, bisakah kau jelaskan padaku lebih rinci lagi? Ceritakan padaku apa saja yang Kepala Divisi bilang padamu!" pinta Chelsea yang begitu penasaran.


"Jangan buru-buru untuk tahu, Kepala Divisi juga tidak menjelaskan secara rinci kepadaku. 2 hari lagi saat bertugas, kau akan tahu sendiri tanpa perlu dijelaskan. Ayo masuk! Si banci Kaitlyn itu pasti sudah menunggu kita!" ajak Leon yang langsung berjalan melewati Chelsea begitu saja. Dia masuk ke dalam area Golden Eyes lebih dulu.


"Leon ..." gumam Chelsea yang masih berdiam diri di tempat, memandangi punggung Leon yang makin menjauh.


Tidak biasanya Leon begini, apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku? Tapi soal apa? Lagi pula yang dibilang Leon juga sedikit janggal, padahal Nisa sudah berkata langsung jika tugas di Divisi 1 jadi tugas terakhirku. Tapi, barusan Leon bilang jika 2 hari lagi aku akan mendapatkan tugas baru. Apakah tugas itu juga berhubungan dengan Divisi 1? Jika memang begitu, maka semua ini masuk akal.


Ah, sudahlah! Lagi pula tidak ada gunanya aku terus menaruh keraguan pada Leon. Aku percaya padanya! Aku yakin jika Leon memang mau membantuku dan melakukan yang terbaik!


"Leon, tunggu aku!" seru Chelsea seraya bergegas mengejar jalannya Leon.


Karena sebuah hal yang Leon sembunyikan dari Chelsea, malam ini interaksi di antara mereka berdua menjadi tak banyak seperti biasanya. Keduanya sama-sama diam dan tak membicarakan apa pun selain yang berhubungan dengan pekerjaan. Meskipun interaksi di antara keduanya berkurang, mereka tetap berhasil mengerjakan tugas sebagai tim pengawal bayaran dengan baik.


***


Hari berganti, karena Chelsea dan Leon baru akan bekerja pada malam hari, maka di siang hari mereka berdua mempunyai waktu senggang untuk beristirahat ataupun melakukan kegiatan lainnya yang mereka suka. Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda. Chelsea tak bermain ke rumah Leon ataupun berlatih seperti biasa di kala dia senggang.


Selama ini Chelsea juga tak hanya meningkatkan kemampuan bertarungnya saja. Dia tahu betul jika musuhnya adalah seseorang yang mempunyai nama di lingkaran sosial. Sebisa mungkin, Chelsea mengorek informasi soal Nisa maupun semua anggota keluarga Kartawijaya dari internet. Walaupun informasi yang didapat dari internet tak begitu memuaskan, setidaknya Chelsea juga mendapatkan beberapa informasi yang berguna.


Seperti halnya sekarang, karena sebelumnya dia pernah diajak Ivan pergi ke Darlings Bakery, yang mana dia disuruh untuk menemani dan mengasuh Keisha dan berujung kenal dengan si koki genit Akira. Sampai saat ini, Chelsea masih mengingat dengan jelas seperti apa tampilan seragam sekolah yang Keisha pakai kala itu. Dia memanfaatkan hal ini untuk mencari tahu di mana Keisha bersekolah secara diam-diam.


Pada akhirnya Chelsea berhasil mengetahui jika seragam sekolah itu adalah seragam sekolah khusus yang dimiliki oleh sekolah TK Langit Biru. Sebuah TK swasta yang fasilitasnya sudah terjamin dan tidak diragukan lagi.


"Sebentar lagi harusnya mereka keluar," gumam Chelsea sambil melihat arloji yang ada di tangan kirinya. Dia kembali melihat dan mengawasi dengan teropong binocular, bersembunyi di atas pohon, di balik dedaunan yang rindang.


Chelsea terus mengawasi sejak pagi tadi, saat tak ada orang yang melihatnya memanjat ke atas pohon tersebut. Bahkan dia juga membawa beberapa keripik sebagai camilan untuk mengganjal perut.


Seperti yang sudah Chelsea duga, tak berselang lama kemudian para orang tua banyak berdatangan untuk menjemput anak-anak mereka. Setiap kelas dimulai dari yang terkecil, satu per satu keluar. Anak-anak kecil yang menggemaskan itu menampakkan senyuman ketika melihat sudah dijemput oleh ibu dan ayah mereka.


"Ck, di mana Keisha si bocah menyebalkan itu? Kenapa dia tidak muncul-muncul juga? Apa mungkin dia tidak masuk sekolah?" gerutu Chelsea yang merasa sebal karena tak kunjung melihat keberadaan Keisha.


"Eh?! I-itu ...." Chelsea terkesiap, tangannya ikut gemetar sampai teropong jarak jauh itu terlepas dari tangannya. Namun, untung saja tidak sampai jatuh ke bawah karena dia telah mengalungkan tali teropong di lehernya.


Dia yang semula kesal, perasaannya langsung berubah saat melihat seseorang yang sudah lama dia rindukan. Dadanya tiba-tiba merasa sesak ketika melihat Luciel yang sedang berlari di halaman sekolah sambil tersenyum riang.


"Luciel ... sekarang kau sudah bersekolah. Maafkan mami ... selama ini mami tak cukup baik untuk memenuhi keinginanmu, mami bersyukur masih dapat melihatmu memakai seragam sekolah. Syukurlah kau baik-baik saja ..." ucapnya dengan gemetar.


Chelsea mengatur napasnya, dia sadar jika ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menjadi emosional. Dia menyeka setitik air mata di pipinya, lalu kembali memakai teropong untuk melanjutkan pengintaian.


"Keisha, tali sepatumu lepas!" teriak Luciel sambil menuding ke arah bawah.


"Luciel bohong! Keisha tidak akan tertipu!" bantah Keisha tanpa melihat kondisi sepatunya. Dia terus berlari demi mengejar Luciel, karena sebelumnya mereka berdua telah bermain, berlomba siapa yang paling cepat sampai di pintu gerbang sekolah.

__ADS_1


BRUUKKK ...


Keisha tersungkur, jatuh terjerembap dan mukanya mengenai tanah halaman sekolah.


"Keisha!!" teriak Luciel yang langsung menghampiri Keisha. Dia juga membantu Keisha untuk berdiri lagi.


"Apa Keisha baik-baik saja?" tanya Bu guru wali kelas yang juga langsung menghampiri, dia melihat segalanya mulai dari Keisha berlari sampai dengan Keisha terjatuh. Dia juga merasa waswas, takut akan disalahkan karena lalai dalam menjaga Keisha yang identitasnya lebih spesial dari anak-anak yang lain.


Bu guru wali kelas itu membantu membersihkan baju dan celana Keisha dari debu tanah. Dia menyadari jika kedua lutut Keisha lecet dan mengeluarkan sedikit darah.


Karena teriakan Luciel yang keras tadi, alhasil teman-teman yang lain juga ikut berkerumun. Mereka yang sudah dijemput orang tua mereka, fokusnya berubah pada Keisha.


"Keisha siihhh ... tadi kan Luciel sudah bilang kalau tali sepatumu lepas ..." ucap Luciel yang mencari pembelaan diri. Bermaksud menjelaskan jika Keisha terjatuh bukan sebab ulahnya.


"Eemmm ...." Keisha menunduk, meskipun kedua lututnya terasa sakit dan perih, sebisa mungkin dia berusaha supaya tidak menangis.


"Ada apa ini?" tanya Nisa yang tiba-tiba datang, diikuti oleh Natasha. Mereka berdua sama-sama terkejut saat melihat Keisha terluka.


Luciel seketika berlari ke arah Natasha. "Mama, tadi Luciel dan Keisha main kejar-kejaran ... Luciel sudah memberi peringatan kalau tali sepatunya Keisha lepas. Tapi Keisha tidak percaya, lalu Keisha jatuh sendiri ... bukan karena Luciel ..." jelas Luciel yang tidak mau jika dia disalahkan atas semua ini.


"Iya, mama tahu. Tidak apa-apa, Sayang ..." ucap Natasha sambil mengusap kepala putranya.


"Bunda ..." ucap Keisha yang wajahnya sudah memerah, seakan bisa menangis kapan saja. Nisa yang menyadari itu semua lalu mendekat dan berjongkok di depan Keisha.


"Apakah sakit?" tanya Nisa yang kemudian hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Keisha. Nisa tersenyum tipis, lalu mengusap pipi anaknya yang bulat itu. "Apa Keisha mau menangis?" tanyanya lagi.


"Tidak mau ..." jawab Keisha sambil menggeleng pelan.


"Bagus, tandanya Keisha sudah besar! Ayo, sini!" ucap Nisa seraya mengulurkan kedua tangannya. Kini putra kecilnya itu mendekap padanya dan menyembunyikan wajahnya dari semua pandangan teman-temannya.


"Bunda ... Keisha mau pulang ..." pintanya sambil merintih kesakitan.


"Iya, Sayang ... mari kita pulang!"


"T-tunggu sebentar!" cegah Bu guru.


"Emm ... saya cuma ingin menyarankan, walaupun Keisha cuma lecet sedikit, sebaiknya lukanya segera dibersihkan di sini juga. Jika Nyonya ... m-maksud saya Bundanya Keisha tidak keberatan, saya akan ambilkan kotak P3K!" ucap guru itu kelabakan. Entah kenapa dia merasa tertekan dengan tatapan mata Nisa yang terkesan menusuk kepadanya.


"Boleh," jawab Nisa singkat.


"Baiklah, tolong tunggu sebentar!" Bu guru langsung berlari ke dalam demi mengambil kotak P3K.


"Mama ... Luciel mau menunggu Keisha, kita pulangnya nanti saja, ya?" pinta Luciel yang merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Keisha.


Natasha tersenyum dan mengangguk. "Baik, mari kita temani Keisha sama-sama!"


Musibah kecil ini sudah terlewati, anak-anak yang lain sudah tidak begitu penasaran lagi, mereka pada akhirnya sudah mau diajak pulang oleh orang tua mereka. Sedangkan Keisha, dia didudukkan pada sebuah bangku yang ada di halaman yang teduh. Ditemani oleh sang bunda dan Luciel yang juga menemani dirinya.


Nisa menerima kotak P3K yang dibawakan oleh guru wali kelas. Dia sendiri yang membersihkan dan merawat luka anaknya dengan hati-hati. Keahlian Nisa dalam merawat luka tampak begitu terampil, semua itu tidak terlepas dari semua pengalaman yang selama ini dia dapatkan. Dulu, dia sering sekali terluka dan selalu merawat luka di tubuhnya sendiri. Dan sejak awal, dia juga sudah menanamkan sikap pada Keisha supaya tidak menangis hanya karena hal-hal kecil.


"Nah, sudah selesai!" ungkap Nisa begitu selesai menempelkan plester di lutut putranya.


"Hemm?" Keisha menunduk, juga meluruskan kakinya untuk melihat seperti apa lukanya setelah dirawat oleh sang bunda.


"Keisha, apa masih sakit?" tanya Luciel yang tampak khawatir.


"Sudah tidak sakit lagi."


Luciel makin merasa tidak enak karena sikap Keisha yang jadi berubah dingin terhadapnya. "Keisha ... Luciel minta maaf, kalau saja Luciel tidak mengajak Keisha main kejar-kejaran, Keisha tidak akan jatuh. Keisha jangan marah sama Luciel, ya?"


"Keisha tidak marah kok ... tadi Keisha cuma malu karena jatuh dilihat sama teman-teman."


"Jadi, Keisha masih mau main sama Luciel lagi, kan?"


"Tentu saja!"

__ADS_1


Natasha tersenyum, lalu berjongkok di sebelah putranya. "Baiklah, kalau begitu jadikan ini pelajaran bagi kalian berdua. Lain kali jangan berlarian sembarangan lagi, oke?"


Keisha dan Luciel sama-sama mengangguk. Tak ada lagi yang menjadi alasan untuk mereka berlama-lama di sana. Akhirnya, Nisa menggendong Keisha lagi dan mengajaknya untuk segara pulang.


Saat digendong menuju ke tempat parkir, tiba-tiba saja Keisha mendekat ke telinga sang bunda dan berbisik, "Bunda ... Keisha merasa tidak nyaman ...."


"Hm?" Seketika Nisa berhenti melangkah, melirik ke segala arah untuk menemukan kejanggalan.


Ternyata Keisha juga merasakannya. Perasaan tidak nyaman seperti ini memang muncul karena sedang diawasi. Tapi siapa? Berani-beraninya mengawasi anakku, apa dia cari mati?


"Bunda, ayo jalan! Keisha mau cepat-cepat pulang!" pinta Keisha sambil mengguncangkan tubuhnya.


"Ah, iya Sayang." Mendadak Nisa menyeringai, sambil menatap ke salah satu pohon besar yang ada di taman yang letaknya tak terlalu jauh dari sekolah.


"Sial," umpat Chelsea yang seketika berhenti menggunakan teropong binocular. Setelah terdiam beberapa saat, sekali lagi dia mencoba menengok lewat teropong. Yang dia lihat adalah mobil yang Nisa tumpangi sudah melaju meninggalkan lahan parkir.


"Apa-apaan itu tadi? Aku yakin sekali jika Nisa melihat kemari. Apa jangan-jangan dia sadar kalau sedang diawasi? Tapi apa itu mungkin? Jika memang benar, berarti instingnya benar-benar tajam. Memang seperti julukannya, ternyata mengawasi ketua gangster sulit untuk tidak ketahuan."


"Tapi sudahlah, sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Aku sudah memastikan di mana lokasi Keisha bersekolah, jika mendesak, aku bisa memanfaatkan hal ini untuk mengancam Nisa lewat anaknya. Sebenarnya aku tidak tega jika melibatkan anak kecil, tapi jadi licik sedikit untuk menghadapi iblis juga tidak masalah. Dan terlebih lagi, aku juga sudah melihat jika Luciel baik-baik saja."


Lagi-lagi Chelsea termenung. Setelahnya dia menghela napas dan tersenyum pahit. "Sepertinya yang Nisa katakan waktu itu memang benar. Luciel jadi lebih bahagia saat aku tidak ada."


***


Hari dengan cepat berganti, tibalah saatnya bagi Chelsea dan Leon untuk mengerjakan tugas mereka yang baru. Di hari yang paling Leon khawatirkan ini, sebelum meninggalkan rumah, dia berpesan banyak hal kepada Liana. Leon mengatakan jika ada kemungkinannya dia tidak akan pulang dalam beberapa hari ke depan.


Hari ini Leon juga menjemput Chelsea ke rumahnya. Mengajaknya untuk berangkat bertugas bersama-sama.


"Leon, kita akan bertugas ke mana? Apa tugas baru kita masih berhubungan dengan kasino?" tanya Chelsea penasaran.


"Bukan, tapi ini juga masih berhubungan dengan Divisi 1. Kali ini kita akan pergi ke Pelabuhan Barat," jawab Leon tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan kota yang lalu lintasnya sedang padat.


"Ohh ...." Chelsea hanya mengangguk, tak mengajukan pertanyaan lagi. Karena dia sudah tahu jika Pelabuhan Barat memang termasuk ke dalam wilayah kekuasaan organisasi ini. Lagi pula ini juga bukan pertama kalinya dia akan ke sana. Untuk sekarang, dia masih belum merasa adanya kejanggalan.


Selang satu jam lebih kemudian, akhirnya Chelsea dan Leon tiba di tempat tujuan. Di pelabuhan itu, tampak banyak sekali anggota Divisi 1 yang berlalu lalang. Mereka mengangkat barang-barang persediaan untuk dimasukkan ke dalam kapal.


Chelsea sedikit merasa heran, kapal pesiar yang sedang berlabuh ini tampak tak asing di ingatannya. Samar-samar, dia merasakan sesuatu ketika memandangi kapal yang ukurannya besar itu.


"Leon, apakah tugas baru kita adalah membantu anggota Divisi 1 mengangkut bahan persediaan?" tanya Chelsea tanpa mengalihkan pandangan mata dari kapal pesiar itu.


"Bukan," jawab Leon singkat.


"Lalu apa? Apakah kita akan diam saja di sini? Apa tugas kita itu jadi pengawas?" tanya Chelsea lagi, kali ini dia mulai memperhatikan Leon yang menurutnya mulai bertingkah aneh.


"...." Leon membisu. Dia tak tahu harus berkata apa lagi. Tugas baru itu tak pernah ada, semuanya hanya kebohongan yang dia ciptakan. Dan kini, Leon sudah tak mampu lagi untuk menyembunyikan segalanya dari Chelsea. Dia tak mampu lagi untuk menciptakan kebohongan baru.


Tiba-tiba saja Leon menarik tangan Chelsea, menyeretnya ke sebuah celah yang tercipta di antara kontainer.


"Ada apa Leon? Kenapa membawaku kemari?" tanya Chelsea dengan wajah bingung.


"Maafkan aku, ini bukan seperti yang kau kira. Soal tugas baru atau apa pun itu, itu semua tidak pernah ada. Aku mengarangnya!" ungkap Leon dengan raut penuh rasa bersalah.


"Apa?! Tapi kenapa, Leon? Kenapa kau harus menipuku? Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?" protes Chelsea.


Leon tak langsung menjawab. Dia justru memegang wajah Chelsea dengan kedua tangannya, serta menatap kedua manik mata berwarna hazel itu lekat-lekat. "Aku minta maaf, tapi yang pasti, ketua mengatur supaya kita berdua naik ke kapal itu. Tapi aku akan jujur padamu, jika kita sudah naik ke kapal itu, hidup dan mati kita jadi taruhannya!"


"Maka dari itu dengarkan aku, Chelsea! Ini belum terlambat! Kita jangan naik ke kapal itu, oke? Demi kebaikan kita bersama!" bujuk Leon dengan tatapan sungguh-sungguh.


"Aku tak mengerti Leon. Kau yang mengajakku kemari, tapi sekarang kau malah melarangku tanpa alasan yang jelas. Kenapa tidak boleh naik ke kapal? Sebenarnya kapal apa itu?"


Leon menggigit bibirnya sendiri, begitu sulit baginya untuk mengatakan kebenaran yang selama ini dia sembunyikan.


"Kenapa diam, Leon?! Ayo jawab aku! Jawab! Sebenarnya kenapa?!" pinta Chelsea sambil mengguncangkan tubuh Leon.


"Karena kapal itu berhubungan dengan balas dendammu! Juga berhubungan dengan kematian kakakmu!"

__ADS_1


"A-apa?!" Chelsea terperangah.


"Benar, kau pastinya sudah tidak asing lagi dengan Violent Zone. Kapal itu menyimpan semua hal yang ingin kau tahu! Kapal itu adalah kapal pesiar terkutuk, Violent Cruise!"


__ADS_2