Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Kemarahan Leon


__ADS_3


LIANA, ARTIS REMAJA PENDATANG BARU YANG MEMILIKI SEJUTA PESONA》》》


Hal tersebut seolah-olah menjadi headline dari berita yang belakangan ini memenuhi berbagai media massa. Liana yang semula hanya seorang pelajar biasa, kini dia menjadi seorang bintang yang terkenal di mana-mana. Bukan hanya karena promosi yang gencar dilakukan oleh Moon Department Store, akan tetapi pada asalnya Liana memang cantik dan ramah, sifatnya itu membuat dia menjadi orang yang memiliki banyak penggemar.


Berkat membintangi iklan produk Moon Department Store yang menjadi ajang debut nya, Liana semakin banyak dikenal oleh khalayak ramai. Di saat popularitasnya yang sedang dalam masa tinggi ini, beberapa kali Liana sempat diundang untuk menghadiri acara TV Show. Dan beberapa kali dia juga sempat menolak lantaran dia masih pelajar dan harus fokus karena sebentar lagi dia akan menghadapi masa ujian.


Liana telah menghasilkan uang dalam jumlah banyak di usianya yang masih muda, dia memiliki kebanggaan tersendiri karena hal ini. Akan tetapi, tak hanya Liana seorang yang mendapatkan keuntungan, Moon Department Store juga mendapati keuntungan lantaran penjualan produk mereka kian naik.


Hal itu sempat jadi hal yang ada di luar perkiraan Nisa. Dia yang sebelumnya hanya ingin mempermainkan si gadis kecil itu, kini dia semakin tertawa jahat dan puas karena mendapat keuntungan yang sepadan. Rencananya hampir sempurna, hanya tinggal menanti kepulangan Leon yang akan menentukan apakah rencana jahatnya berhasil atau tidak.


Diam-diam Nisa juga melakukan perang dan menusuk Tommy dari belakang. Dia adalah seorang ketua gangster yang berkuasa, dan dia memanfaatkan pengaruhnya ini sebaik mungkin untuk menghalangi atau bahkan membereskan orang suruhan Tommy.


Nisa melakukan itu semua karena tak ingin Tommy menemukan Chelsea. Dia masih ingin bermain-main yang lama dengannya. Hal itu semakin membuat Tommy frustrasi, dia tak tahu siapa yang selalu menggagalkan usahanya untuk menemukan putrinya. Meskipun menemui banyak halangan, Tommy tak pernah berhenti mengirimkan orang. Karena dia pikir menemukan Chelsea secepat mungkin adalah jalan terbaik untuk membuat perusahaannya segera kembali berjaya.


Dalam semasa waktu ini, kehidupan Liana berubah drastis. Akibat kepopuleran yang dia punya, dia akhirnya memutuskan untuk merekrut seorang manajer. Bahkan manajer tersebut juga merupakan orang yang Nisa atur untuknya.


Sebenarnya Chelsea yang merupakan mantan direktur perusahaan entertainment bisa mengambil peran itu. Namun, untuk sementara waktu Chelsea tak bisa melakukan perbuatan yang mencolok. Dia sudah salah langkah ketika menyampaikan keinginannya untuk berhenti pada Dika kala itu. Dia tak mau melawan sekarang dan membuat situasi memanas, telebih lagi dia khawatir jika keputusannya akan berakhir membahayakan orang-orang yang penting baginya. Seperti halnya Leon dan Liana.


Semua hal itu tadi adalah keuntungan yang Liana dapatkan. Akan tetapi, dia juga mengalami kerugian karena dia mendadak jadi populer. Teman-teman sekolah yang biasanya selalu menghinanya kini berubah jadi mengakrabkan diri dengannya. Bahkan para guru yang sebelumnya menganggap Liana selayaknya siswa biasa, kini mereka juga memberikan perlakuan khusus bagi Liana.


Meskipun Liana polos, tapi dia tidak bodoh. Dia tahu jika semua orang-orang itu hanya ingin mengambil keuntungan darinya. Satu-satunya orang yang bisa dia percayai di lingkungan sekolah tidak lain adalah pacarnya, Ian.


BRAKK!


Ian menutup pintu dengan keras dan segera menguncinya dari dalam. Ian juga menyeret Liana masuk bersamanya ke dalam ruangan penyimpanan alat-alat olahraga itu.


"Sekarang sudah aman," ucap Ian pada Liana yang sebelumnya merasa panik.


"Benarkah?" tanya Liana yang kemudian mengintip keluar dari sebuah jendela yang ada di dekat pintu.


"Jangan mengintip keluar!" seru Ian seraya menarik Liana untuk menjauh dari jendela yang berkaca bening tersebut.


"Emm ... oke." Liana mengangguk pasrah. Kemudian dia menengok ke kanan kiri dan memperhatikan sekeliling. Di sekitarnya hanya ada tumpukan alat-alat olahraga milik sekolah. Dan saat ini dia baru sadar jika sekarang dia hanya bersama dengan pacarnya di ruangan yang sempit ini.


"Apa kita di sini berdua saja sungguh tidak apa-apa?" tanya Liana dengan ekspresi gugup. Pikirannya sudah berkelana memikirkan hal yang macam-macam.


"Tentu saja, lagi pula kamu sudah mengenalku. Aku tak mungkin melakukan hal macam-macam denganmu," jawab Ian seraya menghidupkan sakelar lampu.


"Emm ... bukan itu maksudku, tentu saja aku percaya kamu. Tapi bagaimana jika ada orang lain yang tahu dan nantinya mereka menuduh kita berdua macam-macam? Aku tak mau itu terjadi, bisa-bisa nanti kita dikeluarkan dari sekolah."

__ADS_1


"Tenang saja, itu tidak akan terjadi." Ian lantas duduk di lantai. Dia juga mengeluarkan beberapa buah buku dari tas ranselnya yang sejak tadi memang dia bawa.


"Kita di sini untuk belajar. Karena kamu yang sekarang sangat populer, belajar di perpustakaan juga percuma. Tidak akan ada yang menghukum kita karena belajar bersama," jelas Ian dengan senyuman.


"Oke ...." Liana kemudian duduk di sebelah Ian. Dia juga mengeluarkan buku dan alat tulisnya.


Hal seperti ini sudah tidak asing lagi bagi mereka, memang benar adanya jika mereka berpacaran. Akan tetapi mereka tak melupakan status mereka sebagai pelajar, Liana dan Ian lebih sering belajar bersama daripada bermesraan. Ian yang lebih pintar dari Liana juga dengan sabar menjelaskan materi pelajaran.


Sebelum Liana jadi populer, mereka biasanya akan belajar di perpustakaan. Kini mereka terpaksa belajar di ruangan sempit seperti ini karena banyak mendapatkan gangguan dari orang-orang. Banyak sekali yang mengerubungi Liana untuk mengakrabkan diri dengannya. Liana merasa terganggu dengan semua itu, alhasil dia meminta Ian untuk mengamankan dirinya ketika waktu istirahat datang.


KRING KRING KRING ...


Bel sekolah berbunyi nyaring tiga kali, menandakan waktunya untuk kembali masuk kelas telah tiba. Liana yang mendengar bel itu seketika fokusnya jadi buyar, dia juga merasa malas karena waktu istirahat telah usai.


"Ck, cepat sekali sudah masuk ..." keluh Liana.


"Yahh ... karena ini memang sudah waktunya untuk masuk kelas. Ayo beres-beres, sebelum guru datang ke kelas!" ajak Ian sambil merapikan buku-buku miliknya.


"Huh, oke. Aku cuma kesal saja karena sudah masuk kelas, padahal aku belum paham soal yang tadi kamu ajarkan. Jujur saja, aku lebih mengerti diajari olehmu ketimbang oleh guru," keluh Liana lagi sambil menggembungkan pipinya.


Ian yang merasa gemas pun mencubit pipi pacarnya itu. "Sudah ... nanti sepulang sekolah kita bisa lanjut lagi."


"Apa kamu ada urusan dengan perkerjaanmu lagi? Bukankah manajermu sudah mengurus jadwalmu agar menyesuaikannya dengan kegiatan belajar dan sekolahmu?"


"Iya, manajer Orchid memang sudah mengatur jadwal yang fleksibel untukku. Hanya saja yang aku maksud urusan penting itu adalah soal kepulangan kakakku. Hari ini kak Leon akan pulang, tadinya aku ingin sesekali menjemputnya di bandara. Tapi kakak bilang padaku kalau sebaiknya aku di rumah saja. Aku sudah menjelaskan soal pekerjaanku di telepon. Dari nada bicaranya ... sepertinya dia tidak terlalu setuju," jelas Liana dengan ekspresi murung.


Ian yang turut merasa prihatin lalu mengusap kepala Liana. "Tenang saja, yang penting jujurlah pada kakakmu. Aku yakin kalau kakakmu akan mengerti alasanmu menerima pekerjaan ini. Ayo, kita masuk kelas!"


"Baiklah," jawab Liana dengan senyum tipis.


Liana dan Ian segera keluar dari ruang penyimpanan itu dan bergegas kembali ke ruang kelas mereka masing-masing. Untung saja mereka keluar dari ruangan itu dan tidak ada seorang pun yang melihat. Jadi apa yang Liana khawatirkan tadi tidak terjadi.


Hanya saja yang terus Liana khawatirkan adalah soal bagaimana nantinya dia akan memberikan penjelasan kepada Leon. Sejak pulang sekolah, Liana tak pergi ke mana-mana dan terus berada di rumah untuk menunggu kepulangan kakaknya. Hingga saat untuk mereka bertemu telah tiba.


KLAK ...


Pintu rumah terbuka, jelas saja jika Leon yang membukanya dengan berbekal kunci cadangan. Biasanya Liana akan berteriak dan menyambut kepulangan kakaknya ini dengan senyuman. Akan tetapi, kali ini Liana jauh lebih tenang dan hanya duduk dengan perasaan gugup.


"Hahh ...." Leon menghela napas. Setelah dia tiba di rumah, dia akhirnya melihat sendiri apa saja yang Liana jelaskan padanya di telepon. Ada penjaga dari Divisi 1 yang berjaga di rumah, beberapa furnitur baru yang kelihatannya lebih mahal dibanding yang sebelumnya mereka punya.


"Liana, kakak pulang!" ucap Leon dengan nada suara yang terdengar datar.

__ADS_1


"Selamat datang di rumah, Kak. Syukurlah Kakak pulang dalam keadaan selamat dan baik-baik saja," ucap Liana dengan nada kaku. Jelas sekali Leon melihat jika adiknya itu sedang merasa takut padanya.


"...." Leon diam seribu bahasa. Dia meninggalkan koper miliknya dan oleh-oleh yang dia bawa begitu saja di lantai tempat dia berdiri saat ini. Kemudian Leon melangkah, ikut duduk di sebuah sofa ruang tamu yang ada di sebelah Liana.


"Maaf ..." ucap Liana dengan kepala tertunduk. Dia begitu merasa bersalah sampai tak kuasa untuk menatap mata sang kakak.


"Jadi kau sudah tahu apa salahmu?" tanya Leon yang langsung ke inti permasalahan. Dia memang orang yang tidak suka bertele-tele. Dia langsung menanyakan apa yang ingin dia tahu tanpa melepas rindu dengan adiknya terlebih dulu.


Liana menganggukkan kepala, lantas berkata, "Iya, Kak. Aku sudah tahu apa salahku. Aku mengambil keputusan penting tanpa bertanya pada Kakak lebih dulu."


"Lalu? Penjelasan apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Leon lagi.


"Tadinya aku ingin memberitahu soal ini pada Kakak. Hanya saja aku takut kalau Kakak akan tersinggung. Padahal Kakak sudah bekerja sampai ke luar negeri juga demi aku. Tapi ... aku melakukan ini bukan karena merasa kurang dengan apa yang Kakak berikan. Aku cuma ingin menjadi mandiri, aku tak mau menyusahkan Kakak terus."


"...." Sejenak Leon tertegun, hatinya merasa tersentuh ketika adik kecilnya sudah punya pikiran untuk bersikap mandiri dan beralasan supaya tidak menyusahkan dirinya.


"Liana, ingin menjadi mandiri itu baik. Tapi ingatlah kalau kau masih kecil, kau tak perlu terburu-buru menjadi dewasa. Kita berbeda Liana, kakak masih mampu untuk menanggung semua kebutuhanmu. Kakak ingin kau punya nasib yang berbeda dengan kakak, kau tak perlu mengkhawatirkan soal uang. Kau itu masih menjadi tanggung jawab penuh kakak. Sekarang katakan pada kakak, bagaimana soal sekolahmu?"


"Ehmm ... memang ada banyak perubahan. Sekarang banyak teman dan guru yang ingin menjalin kedekatan denganku. Dan jujur saja ... waktu belajarku jadi berkurang banyak," jawab Liana dengan nada ragu. Dia ragu untuk menjelaskan lebih detail lagi karena takut jika Leon akan menyalahkan dirinya.


"Haiss ... sudah aku duga. Terus, bagaimana soal kontrak pekerjaanmu? Berapa tahun kau terikat kontrak? Dan bagaimana kau bisa menjalin kontrak itu sedangkan kau masih di bawah umur?"


"S-sebenarnya aku berbohong, aku bohong kalau aku sudah mendapatkan izin dari Kakak. Dan untuk masa kontrakku, itu satu tahun .... Tapi kakak tenang saja, mereka tidak menipuku! Mereka sudah memberikan bayaranku sesuai kontrak! Jadi aku sudah punya biaya hasil kerja kerasku sendiri untuk mendaftar ke sekolah SMA favorit nanti!" ucap Liana yang menjelaskan ambisinya. Berharap agar Leon mau mengerti soal sisi positif dia mengambil pekerjaan ini.


"Yaa ... itu pun kalau kau lulus. Awas saja jika nilaimu sampai anjlok! Sudah pacaran dan sekarang sok bekerja," ucap Leon yang sontak saja seperti menusuk ke hati Liana.


"A-aku akan belajar, aku akan berusaha menjadi pintar dan dapat rangking 3 besar. Aku tak akan mengecewakan Kakak ..." jawab Liana dengan senyum yang dipaksakan. Hatinya benar-benar serasa seperti tertusuk dengan perkataan Leon barusan.


"Sudahlah, kakak maafkan tindakanmu kali ini. Yang jelas, kakak minta kontak nomor telepon manajermu sekarang!"


"O-oke!" Liana kelabakan mencari sesuatu di saku bajunya, dan setelah ketemu segera menyerahkan kartu nama manajernya pada Leon. Sedangkan Leon, dia langsung merampas kartu nama itu dengan cepat.


Tiba-tiba saja Leon berdiri dan melangkah pergi ke arah pintu. "Simpan oleh-oleh yang kakak bawa. Kakak mau keluar, ada urusan sebentar!"


"Baiklah, hati-hati Kak!"


Setelah keluar dari rumah, Leon segera memanasi mobilnya yang sudah lama tidak dia gunakan. Dari raut wajahnya, dia tampak murka dan serius. Dia punya firasat buruk begitu membaca kartu nama manajernya Liana. Setelah Leon selesai memanasi mobil, dengan kecepatan tinggi dia melesat begitu saja menuju ke sebuah tempat.


"Sial, ini kartu nama orang kepercayaan ketua! Si bunga anggrek, kode nama Orchid! Ketua sampai mengerahkan orang kepercayaannya untuk berada di samping Liana! Bahkan Liana juga menjadi bintang iklan dari perusahaan milik keluarganya ketua!"


"Ck, sebenarnya apa yang sudah aku lewatkan?! Apa ini ada hubungannya dengan isyarat tidak jelas dari kak Yhonsen sewaktu di luar negeri? Pokoknya ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera menemui ketua dan meminta penjelasan langsung darinya! Meskipun dia adalah orang yang sangat aku hormati, aku tidak bisa membiarkan dia jika ingin mengusik Liana!"

__ADS_1


__ADS_2