Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Konspirasi


__ADS_3


David hanya terdiam setelah mendengar rencana gila yang keluar dari mulut Nisa. Dia masih tidak habis pikir jika ketua yang selalu dia hormati justru ingin jika dirinya masuk ke penjara. Di sisi lain sang manajernya juga menunjukkan ekspresi yang tampak keberatan. Sedangkan Marcell, dia hanya diam meskipun sebenarnya dia juga kaget. Tak ada satu pun dari mereka yang membantah rencana gila itu.


KLAK!


Tiba-tiba seseorang yang mempunyai kartu akses membuka pintu dari luar. Dia adalah seorang pria yang tampilannya sangat rapi. Pria itu termasuk salah satu dari sembilan Family, bertanggung jawab atas Divisi 4, dan dia berprofesi sebagai seorang pengacara.


"Faris?" tanya David yang melongo dengan kedatangan rekannya yang mendadak.


"Aku yang memintanya ke sini," sahut Nisa yang mampu menjelaskan segalanya kepada semua orang yang berada di ruangan itu.


"...." Faris yang baru saja datang tak berkata apa-apa. Dia berjalan melewati semua orang dan ke samping, lalu duduk di sebuah kursi yang dekat dengan jendela. Sambil melipat kakinya, dia pun mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakan sebatang lalu menghisapnya.


"Ketua masih harus menyusui bos kecil, jadi aku di sini saja. Silakan bicara, aku akan mendengarkan," ucap Faris yang kini telah siap untuk memperhatikan rencana macam apa yang akan dikatakan oleh Nisa.


"Baiklah, semua orang yang aku butuhkan sekarang sudah lengkap. Jadi aku akan langsung saja. Pertama, orang yang membuat kekacauan ini bukanlah orang yang sembarangan. Dia berhasil menggiring opini publik secara besar-besaran untuk membuat nama David jadi tercemar. Hal buruk yang kini tersebar adalah tuduhan jika David seorang pecandu obat-obatan terlarang dan seorang homo."


"Sebenarnya kita bisa saja mengabaikan ini, jika mengingat bahwa hukum tidak akan bisa menyentuh kita. Tetapi, di sini kasusnya David adalah seorang publik figur. Akan jadi masalah jika namanya jadi buruk. Dan jalan keluar dari masalah ini cuma satu, yaitu mengikut alur!"


"Ck, mengikuti alur bagaimana?! Dengan aku dipenjara itu artinya sama saja tujuan orang yang ada di balik semua ini akan tercapai!" bantah David penuh penekanan.


"Aku mohon dengarkan aku bicara sampai habis!" bentak Nisa yang mulai kehilangan kesabaran.


"Baiklah," jawab David yang kemudian memalingkan wajahnya.


Nisa menghela napas. "Huft ... terima kasih atas pengertianmu. Yang aku maksud itu kau akan dipenjara, tatapi hal itu cuma sandiwara."


"Sandiwara?" tanya David yang mulai merasa tertarik. Meskipun dia seorang gangster, tetapi jiwanya sebagai aktor juga sungguhan. Julukan sebagai aktor sejuta umat benar-benar mencerminkan dirinya.


"Iya, dan di dalam sandiwara ini aku butuh satu pemeran tambahan," jawab Nisa sambil melirik ke arah Faris.


"Fiuhhh ..." Faris menghembuskan asap rokok dari mulutnya, kemudian dia berkata, "Baiklah, jadi apa yang harus aku lakukan?"


"Aku ingin kau menghubungi si tua mata keranjang itu, dia sangat tergila-gila dengan wanita. Kita hanya perlu menyuap dia dengan sejumlah uang untuk membiayai selingkuhannya. Kau bisa melakukannya, kan?"


"Ohh ... maksudmu pak Komisaris Jenderal! Baiklah, aku akan menemuinya! Kira-kira aku sudah mulai mengerti, ketua ingin aku membahas soal waktu kapan David akan bersandiwara, kan?"


"Tunggu dulu! Apa maksudnya aku harus bersandiwara?! Dan aku harus bersandiwara soal apa?!" sahut David.


"Hahh ..." Nisa menghela napas, juga menepuk bahu David. "Sepertinya kau masih perlu pengertian lagi. Sekarang ada dua hal yang menjeratmu, obat-obatan terlarang dan orientasi seksualmu dipertanyakan. Masalahnya, mengenai obat-obatan terlarang itu benar adanya. Dan semua kecurigaan padamu sangat kuat, jadi kau sudah tidak punya jalan untuk mundur."


"Kau hanya perlu mematuhiku maka semaunya akan beres. Jika kau memilih untuk terus menghindari pemeriksaan polisi, maka itu akan menimbulkan rasa curiga padamu semakin besar. Jadi lebih baik kau mengakuinya, dengan catatan kau harus bekerja sama dengan polisi. Kita sendiri yang akan mengatur kapan dan di mana tempatnya kau akan ditangkap. Akui jika kau menggunakan obat-obatan itu, kau bisa beralasan jika tertekan dengan pekerjaanmu. Lalu kau melampiaskan semua itu dengan cara yang salah. Jika kau menyerah sampai sini, maka fakta di belakang yang jauh lebih berbahaya akan aman."


"Kau bekerja sama dengan Divisi 4 untuk menyebarkan informasi layanan spesial DG CLUB di kalangan para artis lain. Menjerumuskan orang lain itu hukumannya jauh lebih berat, tetapi kau tenang saja. Marcell yang akan menangani ini meskipun jika harus mengancam dengan nyawa mereka. Apa kau bersedia, Marcell?" tanya Nisa sambil melirik pada Marcell.

__ADS_1


"Aku bersedia," jawab Marcell tanpa keraguan sedikit pun.


"Nah, setelah kau ditangkap dan menjalani pemeriksaan yang hanya sebagai formalitas. Faris yang paling paham soal hukum akan membantumu mendapatkan keringanan. Selama Komisaris Jenderal masih ada di genggamanku, kesempatanmu untuk bebas jauh lebih besar. Kau masuk ke penjara sama saja seperti masuk ke surga."


"Lalu bagaimana dengan tuduhan jika aku seorang homo?! Apa aku harus mengakuinya juga?!" tanya David.


"Tentu saja tidak, itu menjijikkan!" jawab Nisa spontan.


"Huft ... syukurlah batas kegilaanmu masih wajar. Aku juga tidak sudi mengaku sebagai homo meskipun itu cuma akting!"


Nisa menyeringai, lantas menusuk pipi David dengan jari kukunya yang pendek. "Pffttt ... aku masih sayang padamu, dasar bodoh! Aku tahu jika harga dirimu sangat terluka saat kau dituduh sebagai homo, padahal aslinya kau itu seorang casanova!"


"Lalu? Aku harus berakting seperti apa agar tidak dituduh homo? Apa ketua juga akan mengatur seorang wanita untuk pura-pura jadi pacar rahasiaku yang selalu menemaniku sejak lama? Aku bisa saja setuju, asalkan orang yang ketua pilih bukan Kaitlyn!"


"Hahaha, aku tidak akan melakukan itu meskipun aku menyukai bakat Kaitlyn!" Nisa terkekeh.


"Nah, begitu baru benar! Jadi wanita cantik mana yang ketua atur untukku?!" tanya David dengan tidak sabar.


"Humph! Siapa bilang aku setuju dengan skenario itu?! Yang aku butuhkan adalah seorang wanita tua yang akan berperan sebagai ibumu!"


David terkesiap. "A-apa?! Ibu ...? Tapi bagaimana dengan pendapat ayah angkat nanti?"


Nisa tersenyum tipis, memalingkan wajahnya. Kemudian dengan tatapan dingin berkata, "Tak perlu mencemaskan soal itu. Paman Damian akan mau mengerti aku. Lagi pula dia juga persis sepertimu, suka bermain dengan wanita, jadi dia tidak akan peduli dengan hal kecil semacam ini. Terlebih lagi, ayahku dan paman berasal dari generasi pertama, sudah ada perjanjian di antara kita jika tidak boleh saling mencampuri urusan."


"Ah, baiklah jika seperti itu. Lalu apa hubungannya aku memiliki ibu palsu dengan tuduhanku sebagai homo?"


"Baiklah, aku sudah mengerti." David mengusap dahinya yang terasa sedikit sakit. Tetapi, tanpa peringatan apa pun tiba-tiba dia menahan tangan Nisa dan mendekatkan wajahnya. Posisi sekarang ini persis seperti ketika dia berakting di drama romantis.


"Ketua ... terima kasih. Mungkin rasanya akan cukup susah berpura-pura berbakti pada ibu palsu. Mengingat jika satu-satunya wanita yang jadi prioritasku adalah kau ... ketua."


BUK!


Tiba-tiba saja Marcell memukul kepala David. "Singkirkan tanganmu darinya!" ucap Marcell dengan tatapan menusuk.


"Sialan kau! Kau pikir ketua cuma milikmu, hah?! Orang lain mau mesra sedikit memangnya tidak boleh?!" teriak David seakan tidak terima.


"Sudahlah, lagi pula terserah kalian mau semesra apa denganku, aku juga tidak akan termakan." Nisa lalu beralih menatap manajernya David. "Dan kau ...."


"Ya, ketua!" jawabnya dengan antusias.


"Besok temui semua pihak yang sedang terlibat project dengan David! Bilang pada mereka agar mengundurkan jadwal perilisan film, drama, dan yang lainnya! Jika mereka menuntut ganti rugi, maka berikan saja!"


"Baik, ketua!"


"Sudah, untuk sementara seperti ini dulu saja. Jika ada perkembangan apa pun segera beritahu aku. Aku harus pulang sekarang!" Nisa bangkit dari sofa, tetapi dia tiba-tiba berhenti melangkah ketika dia hendak berjalan melewati Marcell.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Marcell dengan suara lirih.


"Kekacauan ini terjadi setelah acara perekrutan anggota tetap belum lama ini. Cobalah periksa mereka semua satu per satu, mulailah pelan-pelan dari Divisi 1 dulu, setelah itu periksa juga Divisi yang lain. Jangan ada yang tahu soal ini selain para Family. Mungkin ada penyusup yang ingin menghancurkan kita dari dalam, tapi semoga ini hanya dugaanku saja."


"Baiklah, akan aku lakukan. Hati-hati di jalan."


***


Selepas mengurusi kepentingannya sebagai ketua gangster, Nisa pun memutuskan untuk segera kembali ke kediaman utama keluarga Kartawijaya. Nisa sampai di sana sekitar pukul 3 pagi dini hari. Dan benar saja, situasi di kediaman tidaklah baik. Mungkin para reporter telah bubar, tetapi suasana menyesakkan masih terasa di sana. Pesta acara tahunan yang memperingati hari berdirinya perusahaan, tahun ini berjalan tidak lancar.


Nisa langsung menuju ke kamarnya, dia melihat suaminya yang saat ini belum tertidur sedang duduk di pinggir ranjang.


"Ah, kau sudah pulang?" tanya Keyran yang hendak bangkit untuk menghampiri istrinya. Tetapi Nisa yang baru saja datang langsung mendekatinya lebih dulu dan memeluknya dengan erat.


"...." Nisa tak berkata sepatah kata pun. Dadanya saat ini terasa sesak, dia merasa gelisah, kedua tangannya gemetar, dan bahkan dia juga berkeringat dingin.


"Tenanglah, tidak apa-apa ..." ucap Keyran yang kemudian membalas pelukan dari Nisa. Dia tahu betul jika saat ini penyakit gangguan kecemasan umum yang diderita oleh Nisa sedang kambuh.


Sudah sejak lama Nisa memiliki penyakit ini. Tekanan tidak manusiawi dan banyaknya masalah serta tanggung jawab yang harus dia pikul sejak kecil, telah menyebabkan dirinya jadi seperti ini. Untuk menghilangkan perasaan cemas seperti ini, biasanya dia akan segera meminum obat antidepresan, dan jika sangat mendesak, dia bahkan menyakiti dirinya sendiri untuk mengalihkan rasa cemasnya yang berlebihan.


Namun, semua itu sudah jauh lebih membaik saat dia bersama dengan Keyran. Jarang sekali penyakit gangguan kecemasan ini kambuh. Dan sekarang dia masih harus menyusui bayinya, tidak baik baginya jika meminum obat. Pelukan hangat dari suaminya ini sudah cukup untuk membuatnya menjadi lebih tenang.


"Maafkan aku, Key ... gara-gara kau punya istri sepertiku, kau jadi tertimpa banyak masalah. Kau pasti juga lelah saat menghadapi kekacauan di acara pesta tadi ..." ucap Nisa dengan nada gemetar.


"Sudahlah Nisa ... aku sudah memutuskan untuk bersamamu, jadi masalah seperti ini pun juga akan kita hadapi bersama. Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri, oke?"


"Terima kasih, aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Nisa-ku sayang ..."


Nisa tersenyum, dia lalu melepaskan pelukannya dan kini rasa cemasnya telah jauh berkurang. "Bagaimana dengan Noah dan Nora? Apakah mereka berdua rewel?"


"Tidak terlalu, si kembar masih mudah diatasi. Justru yang rewel itu Keisha, dia tak henti-hentinya merengek minta diantarkan padamu. Tapi sekarang dia sudah tidur, mungkin anak itu kelelahan menangis."


"Haha, dia masih kecil, jadi biarkan saja. Lalu bagaimana dengan Luciel?"


"Ehmm ...." Seketika Keyran memalingkan wajahnya.


"Key, ada apa? Apakah sesuatu terjadi pada Luciel saat aku pergi?" tanya Nisa dengan raut wajah khawatir.


"B-bukan apa-apa, kita bicarakan besok saja! Ayo tidur!" Keyran kelabakan dan segera mengambil selimut. Namun istrinya dengan tangkas menahan tangannya.


"Hei, katakan sekarang!" pinta Nisa penuh penekanan.


"Astaga ... baiklah, jadi tadi itu ... ayahku minta hak asuh Luciel dipindahkan ke Natasha."

__ADS_1


"Apa?!" Nisa membelalak.


__ADS_2