
Pagi hari telah tiba, suasana di kediaman utama keluarga Kartawijaya tampak berbeda dari biasanya. Tentu saja hal itu tidak lain karena acara pesta semalam tidak berakhir dengan cara yang baik seperti seharusnya.
Semua orang kini telah berada di meja makan, dengan berbagai macam hidangan untuk sarapan mereka. Hanya saja ada satu orang yang tidak kunjung menyantap sarapannya, dia adalah Keisha.
Keyran yang menyadari jika putranya tampak tidak berselera langsung berkata, "Ada apa Keisha? Kenapa tidak makan? Makanannya tidak cocok dengan Keisha?"
Keisha menggeleng, dengan bibir yang cemberut lalu menjawab, "Keisha mau bunda ... bunda di mana? Ayah bilang saat pagi bunda sudah akan kembali, tapi sampai sekarang Keisha belum melihat bunda ...."
"Ah, bunda sudah pulang kok, tapi sekarang bunda masih mengurus adik bayi. Sebentar lagi bunda juga akan ke sini."
"Humph ... selalu saja adik bayi," ucap Keisha yang kini semakin mengembungkan pipinya.
"Haha, adik bayi juga perlu makan. Memangnya Keisha mau adik bayi kelaparan?" tanya Keyran sambil mengusap kepala putranya.
"Tidak mau, tapi kenapa harus bunda? Tidak bisakah ayah saja yang memberi makan adik?"
"Pffttt ...." Sontak saja semua orang dewasa yang berada di sana menahan tawa. Sedangkan Keisha dan Luciel, kedua bocah itu tampak kebingungan dengan apa yang mereka tertawakan.
"Keisha ... dengarkan Ayah, yang bisa memberi makan adik bayi cuma bunda. Ayah tidak bisa melakukannya," ucap Keyran dengan senyum canggung.
Sial, mana mungkin aku bisa menjelaskan pada anakku yang masih kecil. Meskipun pria dan wanita sama-sama punya dada, tentu saja bentuk dan gunanya berbeda.
"Haha, sudahlah. Aku sudah di sini," ucap Nisa yang tiba-tiba muncul, kemudian dia langsung duduk tepat di sebelah putranya yang sedang merajuk.
"Bunda ke mana saja? Kenapa sekarang baru sempat bertemu dengan Keisha? Semalam bunda juga tidak membacakan cerita untuk Keisha dan Luciel! Keisha dan Luciel susah tidur, iya kan, Luciel?" tanya Keisha sambil melirik ke arah Luciel.
"Iya," jawab Luciel singkat sambil mengangguk. Dia memang tidak biasa untuk terlalu banyak bicara dan ekspresif seperti Keisha.
"Baiklah ... Bunda minta maaf, sekarang ayo Keisha sarapan! Jangan sampai terlambat berangkat ke sekolah!"
"Keisha mau nugget bentuk gajah!"
"Oke, sayangku~" Nisa langsung berdiri dan mengambilkan nugget di piring yang letaknya agak jauh untuk dijangkau dari tempat Keisha. Dan benar saja, anak itu seketika dalam suasana hati gembira karena diperhatikan oleh bunda nya.
"Apa Luciel juga mau?" tanya Nisa dengan senyum lembut.
"Boleh, Mami ..." jawab Luciel sambil tersenyum, dia bahagia karena juga diperhatikan.
"Baiklah, kalau begitu akan mami-" perkataan Nisa langsung terhenti. Dia tidak menyangka jika Natasha mendahuluinya untuk mengambilkan nugget di piring makan Luciel.
"Apa-apaan kau?" tanya Nisa terheran-heran.
"Bukan apa-apa, piring lauknya berada lebih dekat dariku ketimbang darimu. Jadi aku saja yang ambilkan. Lagi pula apa bedanya tanganmu dan tanganku? Toh rasa nugget nya akan sama saja," jawab Natasha dengan enteng. Dia memang sudah menunggu momen di mana dia bisa menunjukkan rasa perhatiannya pada Luciel di hadapan semua orang.
"Terserah kau saja," jawab Nisa yang kemudian langsung duduk di kursinya kembali. Kali ini dia malas untuk berdebat dan berselisih dengan Natasha.
"Bunda ... Keisha mau disuapi!" pinta Keisha dengan tatapan yang berbinar.
"Keisha makan sendiri, ya! Keisha kan sudah besar, dan bunda juga mau sarapan sendiri," sahut Keyran yang bermaksud membujuk agar Keisha mandiri.
"Pokoknya Keisha mau disuapi bunda! Kalau Bunda juga mau makan, Ayah saja yang suapi Bunda!" bantah Keisha yang sekali lagi mampu membuat ayahnya merasa malu.
"Haha, iya-iya ... sini Bunda suapi! Ayo aaaa ...." ucap Nisa seraya menyodorkan sebuah sendok yang berisikan makanan ke mulut Keisha.
__ADS_1
Aku harus cepat-cepat menyumpal mulut anak ini dengan makanan. Bisa gawat kalau Keisha terus bicara, bisa-bisa aku dan Keyran akan kehilangan muka di depan seluruh keluarga.
"Nisa!" panggil Tuan Muchtar.
"Ya, Ayah mertua?" tanya Nisa sembari terus menyuapi putranya.
"Bagaimana hasilnya semalam? Kau pernah bilang jika David Damian itu temanmu, apa sudah ada perkembangan?"
"Ayah mertua tenang saja, masalah ini masih ada di dalam kendaliku. Mungkin akan berdampak sedikit pada perusahaan, tapi aku bisa jamin jika hal ini bukan hal yang patut untuk Ayah mertua cemaskan."
"Ohh ... baguslah." Tuan Muchtar mengangguk-angguk, lalu setelahnya kembali berkata, "Ngomong-ngomong ... apakah perusahaan keluargamu jadi melebarkan bisnisnya ke kota S Distrik Timur 12?"
"Iya, aku sendiri yang mengusulkan hal ini pada ayahku agar Moon Department Store membuat cabang baru di sana. Tetapi, hal ini masih menunggu dari pihak lain juga. Soalnya lahan itu masih belum sepenuhnya siap."
"Hmm ... jika nanti proyek itu berhasil, mungkin aku akan mempertimbangkan juga soal perluasan HW Group untuk membuat anak perusahaan baru di sana."
"Sudah, jangan membicarakan bisnis di meja makan!" imbau Nyonya Ratna.
Percakapan pun berakhir, dan mereka semua melanjutkan sarapan masing-masing. Dan begitu sarapan selesai, tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang mendekati Nisa.
"Nyonya Muda ... bayi Anda menangis lagi," ucap pelayan itu.
"Ah, baiklah. Aku akan segera ke sana!" Nisa berdiri dan hendak bergegas pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Keisha.
"Keisha mau diantar Bunda ke sekolah!"
"Astaga, Keisha jangan sekarang ... Keisha diantar sama ayah saja, ya?" bujuk Nisa.
"Aku tidak bisa, aku sudah ada janji dengan Valen. Dia akan mengantarkan dokumen penting padaku ke sini, jika aku pergi nanti Valen akan bingung," sahut Keyran.
"Tidak mau ... Keisha maunya diantar sama keluarga Keisha! Keisha tidak mau diantar orang lain!"
"Emm ... tunggu sebentar ya, sayang. Setelah Bunda menenangkan adik bayi, maka Bunda akan mengantar Keisha dan Luciel ke sekolah!"
"Tidak mau! Pokoknya tidak mau! Hari ini gilirannya Keisha yang jadi ketua kelas! Keisha tidak boleh terlambat!" bantah Keisha sambil menutup kedua telinganya dengan tangan, seolah-olah dia sudah enggan untuk mendengarkan alasan lain lagi dari bunda nya.
"Biar aku saja yang antar, aku sekalian mau belanja!" sahut Natasha yang membuat semua tatapan tertuju padanya.
"..." Nisa membisu, dia tidak menyangka jika Natasha akan menawarkan diri untuk mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah. Tetapi, di dalam kebisuan ini, dia saling melempar tatapan sinis dengan Natasha.
Tadinya aku ragu, tapi sekarang aku yakin jika Natasha punya motif tertentu. Dia bersikap baik dan sok perhatian pada anak-anak, dia pasti menginginkan hak asuh Luciel.
"Ya sudah, lebih baik begini. Kepentingan setiap orang tidak akan terganggu. Keisha mau kan diantar ke sekolah oleh tante Natasha?" tanya Tuan Muchtar pada cucunya.
"Ehmm ..." Keisha mengalihkan pandangan matanya, dan justru berlari menghampiri Luciel. "Bagaimana Luciel? Apa Luciel mau diantar sama tante Natasha?"
"Boleh saja, kita kan harus cepat berangkat agar tidak terlambat ke sekolah," jawab Luciel dengan tatapan polosnya yang kini menganggap jika Natasha benar-benar seseorang yang baik.
"Baiklah Tante! Keisha dan Luciel setuju! Tapi, Tante Natasha jangan menjual kami, ya!"
"Tidak akan, lagi pula siapa juga yang ingin membelimu? Merawatmu saja sudah menyusahkan sekali. Ayah dan bundamu saja kewalahan," ucap Natasha dengan ketus.
"Keisha anak nakal, ya?"
Tiba-tiba saja Nisa berlari dan menutup kedua telinga Keisha. "Husshh ... jangan didengarkan! Perkataan nenek sihir tidak perlu dianggap serius!" ucap Nisa sambil melotot pada Natasha.
__ADS_1
"Huh, makanya ajari anakmu dengan perkataan yang baik!" balas Natasha tak mau kalah.
"Sudah cukup kalian berdua! Anak-anak akan terlambat jika kalian terus begini!" ucap Tuan Muchtar penuh penekanan.
Selalu saja seperti ini, pemandangan di mana Nisa dan Natasha sering berselisih sudah bukan hal yang jarang terjadi di kediaman itu. Bahkan para pelayan pun sudah hafal kalau hanya akan terjadi hal buruk jika kedua wanita itu berada di ruang yang sama.
Akhirnya pun Nisa mau mengalah, membiarkan Natasha untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Dan Natasha pun diam-diam merasa senang, dia memperoleh kemenangan atas rencana pertamanya.
Ternyata benar apa kata Daniel, kali ini ayah mertua ada di pihakku! Maka dengan begini bisa mempermudah rencanaku untuk mengambil hati Luciel! Aku akan membuatnya merasa jika aku lebih baik dari Nisa! Dan dia akan secara suka rela diasuh olehku!
Natasha kini telah membuat perencanaan yang matang. Bahkan tepat sebelum menurunkan kedua bocah itu di depan pintu gerbang sekolah, dia memberikan masing-masing sebuah cokelat kepada mereka. Hanya saja ada yang berbeda, cokelat milik Luciel lebih besar dibandingkan dengan Keisha.
"Tadaaa! Ini cokelat untuk kalian!" ucap Natasha dengan senyuman.
"Wahh ...." Mata kedua bocah itu berbinar, mereka berdua sama-sama menyukai makanan manis seperti cokelat.
"Terima kasih Tante Natasha!" ucap Luciel dengan senyum berseri.
"Sama-sama Luciel," jawab Natasha dengan senyum penuh kepuasan.
"Terima kasih Tante ...." Sejenak Keisha tertegun, dia melihat jika cokelat miliknya berbeda dengan milik Luciel. Dan tiba-tiba saja dia menyodorkan cokelat itu pada Natasha. "Ini Tante, Keisha kembalikan ...."
"Kenapa? Apa bundamu juga yang bilang untuk tidak menerima apa pun pemberian dariku? Takut jika aku menaruh racun di cokelat ini?" tanya Natasha dengan ketus.
"Bukan ... tapi, bunda bilang jika Keisha harus mengurangi makanan manis, permen dan cokelat agar gigi Keisha tidak sakit lagi. Jadi, Keisha tidak mau cokelat ini," jawab Keisha dengan tatapan polosnya.
"...." Natasha terdiam, sejujurnya dia merasa malu lantaran telah salah paham dengan maksud bocah sekecil Keisha.
"Ini Tante, Luciel juga tidak mau!" seru Luciel yang juga mengembalikan cokelat itu pada Natasha.
"Eh? Kenapa? Apa gigi Luciel juga sakit?"
"Tidak. Tapi Luciel memang tidak mau makan cokelat jika Keisha juga tidak makan. Luciel sudah jadi saudaranya Keisha, jadi Luciel harus adil soal apa pun dengan Keisha! Ayo Keisha, kita masuk!"
"Oke, dadah Tante!"
Kedua bocah itu melambaikan tangan pada Natasha dan segera berlari masuk melewati gerbang sekolah. Sedangkan Natasha, dia masih berdiam diri di tempat dan hanya memandangi dua buah cokelat di tangannya.
"Luciel ..." gumamnya dengan senyum tipis.
Aku tidak mengira jika Luciel sebaik ini, aku semakin menginginkannya agar jadi putraku. Dan sepertinya aku telah salah langkah, bersikap baik kepada Luciel saja tidak cukup, aku harus bersikap baik juga pada Keisha agar dia luluh.
"Andai saja jika Samuel-ku masih ada, apakah dia akan tumbuh seperti Luciel? Aku benar-benar mengharapkan putra sepertinya."
***
Di sisi lain pada saat yang sama. Chelsea kini masih sibuk di rumah dan terus mengikuti bagaimana perkembangan kasus soal David Damian. Dan dia tersenyum semringah begitu membaca sebuah headline berita yang kini menjadi perbincangan hangat di media massa.
RESMI JADI TERSANGKA! DAVID DAMIAN TERANCAM HUKUMAN 4 TAHUN PENJARA TERKAIT KASUS PENYALAHGUNAAN NARKOBA! 》》》
"Wah ... wah ... memang ini yang aku harapkan, polisi bergerak dengan cepat! Jika pihak kepolisian lambat maka patut dicurigai dan keadilannya pun akan dipertanyakan oleh masyarakat."
"Tapi, aku bukanlah anak baru di dunia hiburan seperti ini. Aku tahu betul jika ancaman 4 tahun itu hanya kebohongan. Tetapi, dengan begini setidaknya karier David Damian akan mulai redup! Dan inilah tujuanku!"
"Satu sudah beres, sisanya tinggal delapan lagi dari sembilan iblis yang harus aku habisi!"
__ADS_1