Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Tidak Boleh Goyah!


__ADS_3


Leon salah tingkah, dia langsung memalingkan wajahnya yang memerah. Padahal dia sangat mahir mengontrol ucapannya. Jika itu sudah berhubungan dengan rahasia organisasi, diancam dengan kematian dan siksaan pun dia tetap menutup rapat mulutnya.


Namun, berbeda halnya dengan sekarang. Dia lagi-lagi tak sengaja mengungkapkan isi hatinya. Mungkin karena ini yang pertama kali baginya, dia jadi kesulitan mengontrol ucapan mulutnya agar tidak sama dengan kata hatinya.


"Leon ...?" tanya Chelsea dengan kedua pipinya yang juga merona, dia mendengar dengan jelas ucapan Leon yang baru saja menyatakan rasa suka padanya. Tetapi, tentu saja Chelsea ingin memastikan sekali lagi.


"Kau ... tadi bilang kalau kau menyukaiku?" tanya Chelsea sekali lagi.


"Emm ...." Leon masih memalingkan wajahnya. Dia tidak tahu harus menjawab dan memberikan penjelasan seperti apa yang sesuai untuk situasi sekarang.


Sial, aku harus jawab apa? Aku tadi bicara terlalu keras, sudah pasti Mayra mendengarnya dengan jelas. Jadi tidak mungkin aku bilang jika aku salah bicara atau dia yang salah dengar. Tapi ... aku juga tidak mau mengakuinya! Aku tidak boleh punya ikatan macam apa pun dengannya! Dia masih orang asing yang belum sepenuhnya bisa aku percayai. Lebih baik aku memberi penjelasan asal saja.


"Ya, a-aku memang menyukaimu! Tapi jangan terlalu cepat menyimpulkan! Aku menyukaimu karena aku sendiri yang sudah melatihmu! Aku suka membantu wanita lemah menjadi tambah kuat! Jadi yang aku maksud suka itu cuma sebatas yang aku jelaskan barusan!" jawab Leon tanpa memandang ke arah Chelsea.


"Hah?" Chelsea terkesiap, dia sama sekali tidak habis pikir dengan penjelasan yang Leon berikan padanya. Dan entah kenapa, jauh di lubuk hatinya tertinggal sebuah rasa kecewa.


"Begitu ya, ahaha ... aku pikir apa, kau ini mengagetkanku saja ..." ucap Chelsea dengan senyum canggung.


Sepertinya aku terlalu berharap. Tapi, seperti ini juga setidaknya lebih baik. Jika saja Leon tahu tujuanku yang sebenarnya adalah menargetkan para Family dan ketua yang sangat dia hormati. Mungkin dia akan membunuhku saat itu juga, jadi lebih baik seperti ini.


Dan terlebih lagi, jika yang Leon maksud menyukai seperti hubungan di antara pria dan wanita. Itu artinya apa yang dikatakan Kaitlyn tentangku adalah benar. Meskipun aku tidak bermaksud menggoda, tapi para pria yang sengaja mempermainkan aku ini juga merepotkan.


Kedua orang itu sama-sama canggung. Tak ada lain yang jadi perdebatan ataupun gurauan di antara mereka. Leon pun juga kembali mengobati luka di pipi Chelsea, tak butuh waktu lama akhirnya luka itu selesai dirawat dan dipasangi plester.


"Sebelum kau pulang, tolong kembalikan dulu kotak P3K ini ke dalam!" pinta Leon yang dengan cepat memalingkan wajahnya kembali. Dia masih merasa canggung jika menatap Chelsea lebih lama.


"Baiklah, akan aku kembalikan. Ehmm ... tapi, apa kau punya nomor telepon Kepala Divisi kita?"


"Kenapa kau bertanya soal itu? Kau ingin dijemput oleh kak Dika?" tanya Leon dengan tatapan sinis.


"Bukan! Bukan begitu! Aku kan sudah bilang padamu jika mobilku mogok dan diurus oleh Kepala Divisi! Jadi aku cuma ingin menanyakan padanya apakah mobilku sudah beres atau belum!"

__ADS_1


"Ck, pulang bersamaku saja! Akan aku antar sampai rumah!" celetuk Leon dengan tampang sok mengatur.


"O-oke ..." jawab Chelsea dengan nada pasrah.


Setelah mengembalikan kotak P3K, Leon lantas mengajak Chelsea untuk pulang dengan menaiki mobilnya. Namun, lagi-lagi Leon salah perhitungan. Di sepanjang perjalanan ke rumah Chelsea, sama sekali tidak ada perbincangan di antara mereka. Mereka masih sama-sama canggung untuk mengawali topik pembicaraan.


Hingga tanpa terasa mereka sudah tiba di dekat area rumah Chelsea. "A-aku turun di sini saja, terima kasih atas tumpangannya!" Tanpa basa-basi lagi Chelsea bergegas turun dari mobil dan berlari secepat mungkin ke rumahnya.


Di satu sisi, Leon yang kini sendirian hanya tertunduk lesu. Menyandarkan kepalanya di setir mobil dan bergumam, "Sialan, gara-gara salah bicara satu kalimat saja sudah berubah jadi canggung begini. Aku bingung harus bagaimana jika besok bertemu dengannya lagi."


"Aku terus memikirkan ini. Entah kenapa setiap kali memikirkan Mayra, perasaanku seperti tidak bisa dikendalikan saat bersamanya. Apa mungkin yang selalu Liana katakan padaku itu benar? Jika aku ini sebenarnya sedang jatuh cinta?"


DRRTT DRRTT


DRRTT DRRTT


Ponsel Leon mendadak berdering, saat dia memeriksa layar ponselnya, tertulis di sana jika Kepala Divisi 2 yang hendak menghubunginya. Tanpa menunda lebih lama lagi Leon langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, Kak Dika?" tanya Leon harap-harap cemas. Dia sudah hafal jika Dika menghubunginya pasti karena ada hal penting yang mau dibicarakan.


"Baiklah Kak, aku ke sana sekarang! Tapi untuk besok apakah sudah konfirmasikan dengan DG CLUB? Soalnya ini belum ada seminggu sesuai waktu yang ditugaskan."


"Tak perlu memikirkan soal itu, aku akan mengutus orang lain untuk menggantikan tugasmu di club. Oh iya, bagaimana dengan wanita itu?"


Leon terkesiap. "Eh?! Maksudnya Mayra?"


"Ya, apakah dia melakukan tugasnya dengan baik? Kudengar dia terluka karena bertengkar dengan Kaitlyn si banci itu?"


"Itu benar Kak, dia memang terluka. Tapi cuma luka kecil, dia termasuk lumayan karena masih sadar meskipun menerima serangan Kaitlyn."


"Haha, baguslah. Dia memang tidak mengecewakanku! Sudah ya adikku Leon, aku menunggumu!"


"Baik, Kak Dika ...."

__ADS_1


TUT TUT ...


Panggilan telepon berakhir, namun ekspresi Leon kini berubah jadi sendu. Sambil menatap kosong ke depan, dia pun bergumam, "Ternyata kak Dika juga menaruh perhatian pada Mayra, bahkan sampai menanyakan perihal lukanya. Meskipun bukan saudara kandung, tapi sebagai adik ... tidak pantas kan jika merebut wanita saudara sendiri?"


"Sadarlah Leon!" teriak Leon yang tiba-tiba menampar pipinya sendiri.


Aku harus membuang jauh-jauh perasaan tidak berguna ini! Ingat siapa yang selama ini sudah membantuku melewati kesulitan agar bertahan hidup. Persetan dengan cinta, aku tidak mau mengotori pengabdianku demi perasaan yang terkutuk ini! Aku sudah sampai di posisi yang diincar oleh banyak orang ini, aku tidak boleh goyah! Aku tidak boleh menghianati kebaikan ketua dan kak Dika!


Leon pun segera menginjak gas dan melaju sekencang mungkin menuju ke Kedai Pembunuh. Kali ini dia tidak mengawasi Chelsea untuk memastikan apakah dia sudah masuk sampai rumah dengan aman atau tidak.


Di sisi lain, Chelsea yang sudah sampai rumah merasa sedikit kaget lantaran mobilnya yang tadi mogok, kini sudah berada di halaman rumahnya. Dia mengecek apakah mobilnya dalam keadaan baik atau sudah diutak-atik. Dan ternyata semuanya persis seperti terakhir kali dia menggunakan mobil itu.


"Syukurlah, setidaknya Kepala Divisi benar-benar bertanggung jawab! Aku pikir dia akan menipuku, ternyata dia mamang mau membantuku," ucap Chelsea dengan nada puas. Namun, setelahnya tiba-tiba dia tersenyum sinis.


"Heh, kebaikan kecil seperti ini jangan harap bisa membuatku mengubah keputusanku! Jika kau benar-benar terlibat dengan kematian kakakku, aku juga tidak akan segan membunuhmu meskipun kau sudah berbuat baik padaku!"


Setelah mengambil kunci mobilnya, Chelsea bergegas masuk ke dalam rumah. Tempat yang pertama kali dia datangi adalah kamarnya. Chelsea buru-buru mengambil sebuah spidol berwarna merah yang dia letakkan di laci lemari kecil yang berada di dekat tempat tidur.


Dia mengambil spidol merah itu dan menuliskan sesuatu di salah satu sisi tembok kamarnya. Dan benar saja, dia menuliskan sebuah nama, yakni 'DAVID DAMIAN'. Bukan hanya nama David yang ia tulis di tembok itu, tetapi ada juga Damar, Dika, dan sosok yang ia beri nama sebagai 'X', X tidak lain adalah sosok ketua yang jadi target utama Chelsea.


"Huh, baiklah! Sudah terkumpul 4 dari 9 Family! X sang ketua kejam! Damar, pemilik DG CLUB, berasal dari Divisi 4! Dika, pengelola Kedai Pembunuh, Kepala Divisi 2! Lalu David Damian, aktor sejuta umat yang berasal dari Divisi 1!" ucap Chelsea dengan senyum angkuh, dia merasa dirinya sendiri hebat karena telah mengetahui identitas 3 orang dengan jelas yang kemungkinan besar adalah pembunuh kakaknya!


"Yang aku ketahui baru 3 orang Family, informasi yang aku punya juga masih sedikit. Tapi ... 3 orang Family saja sudah luar biasa. Bisnis night club, jasa pembunuhan dan pengawalan, dan narkotika. Sial, sebenarnya sebesar apa organisasi ini?! Dan sebenarnya orang mengerikan macam apa yang bisa mengumpulkan orang-orang tidak masuk akal ini?!"


"Tujuanku adalah membalas dendam kematian kak William dan menemukan Luciel! Sepertinya aku harus mengubah sedikit rencanaku, menjadi orang kepercayaan ketua itu sulit dan akan memakan waktu. Sedangkan aku tak punya waktu yang banyak, aku tak tahan melihat pembunuh kakakku hidup tanpa menderita dan menikmati kesenangan setiap hari! Ditambah, aku juga harus cepat-cepat menemukan Luciel!"


"Menjadi orang kepercayaan ketua memang sesuatu yang hebat. Tapi, tidak akan cukup jika aku mau menghancurkan organisasi ini! Mungkin aku harus menjadi penghianat mulai dari sekarang! Menghancurkan dan menggerogoti satu per satu Family bagaikan virus yang mereka besarkan sendiri!"


Tiba-tiba saja Chelsea melangkah mendekat lagi ke dinding, dia memperhatikan sebuah nama, lantas menuliskan angka 1 dan melingkarinya di atas nama tersebut. "David Damian! Sang aktor sejuta umat! Kau akan jadi targetku yang pertama!"


"Mungkin fondasi karier yang kau bangun selama ini sangat kokoh, tapi bersiaplah! Karena aku akan menghancurkanmu sebentar lagi! Kau seorang playboy dan berhubungan dengan obat-obatan terlarang! Aku akan menggunakan ini sebagai senjata untuk mengakhiri kariermu!"


"Sepertinya Chelsea Almayra Adinata sang direktur utama dari perusahaan hiburan nomor satu, One INC Entertainment harus bangkit! Sudah banyak artis sombong yang gagal karena melawanku! Aku dikenal sebagai mimpi buruk bagi artis pendatang baru. Tapi kau, David Damian, seseorang yang sangat diperhatikan oleh publik justru sebenarnya adalah bajing*n sampah masyarakat!"

__ADS_1


"Seseorang yang hebat sepertimu, sepertinya tidak sia-sia membuat mantan direktur perusahaan hiburan sepertiku untuk turun tangan! Kau adalah lawan yang pantas untuk dilawan oleh hantu sepertiku! Meskipun aku sudah mati selama 6 tahun, tapi keahlianku tidak akan pernah menurun!"


"Sekarang nikmatilah saat-saat ini! Tapi, seminggu kemudian ... tidak tahu nasibmu akan jadi seperti apa!"


__ADS_2