Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Chelsea VS Kaitlyn (1)


__ADS_3


"Oh, siapa ini?" tanya David dengan gayanya yang angkuh.


"Maaf, tolong maklumi karena dia masih anak baru! Untuk selanjutnya hal seperti ini tidak akan terjadi lagi!" ucap Leon yang masih menunduk hormat.


Di satu sisi, Chelsea masih merasa tidak percaya dan bercampur gugup memikirkan bagaimana nasibnya nanti.


"Angkat wajah kalian!" pinta David yang langsung dituruti oleh Leon dan Chelsea. Tiba-tiba saja David tertegun begitu melihat wajah Chelsea. Dia merasa jika ada sesuatu yang aneh, bahkan untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia tak segan untuk mendekat dan memegang wajah Chelsea.


"...." Chelsea gugup dalam kebisuan. Meskipun ingin melawan, tapi dia tidak bisa karena belum cukup mampu untuk melawan seorang eksekutif. Berbeda halnya jika yang mengganggunya hanya sebatas orang seperti Kaitlyn. Dia juga takut setengah mati jika saja David mengenali dirinya.


Sial, bagaimana ini?! David Damian ini adalah seorang aktor lama. Bahkan dia sudah menjadi artis kondang ketika dulu aku masih jadi direktur. Untung saja dia bukan berasal dari One INC Entertainment, tapi kemungkinannya masih besar jika dia akan mengenaliku.


"Hmm ... sepertinya aku tidak asing dengan wajahmu," ucap David dengan alis yang saling mengait, dia benar-benar mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah melihat wajah Chelsea.


"B-benarkah? Mungkin saja Bos David salah ingat, wajah saya memang pasaran ..." jawab Chelsea sambil menghindari berkontak mata dengan David.


Mampuss! Mampuss aku! Apa memang ini sudah jalan buntu bagiku? Jangan sampai dia bisa mengenali wajahku! Aku sudah mati selama 6 tahun! Dan selama itu juga aku telah sembunyi! Aku telah mengorbankan segalanya! Aku tidak mau gagal sekarang hanya karena satu orang mengenaliku!


"Apa kau adalah salah satu mantan pacarku?" tanya David yang seketika membuat kedua mata Chelsea membulat.


"Eh? Apa? M-mantan pacar ...?" Chelsea menatap bingung.


"Haiss ... dilihat dari responsmu, sepertinya bukan. Ngomong-ngomong siapa namamu?"


"N-nama saya ... Mayra."


"Mayra ... ya sudah kalau begitu, jaga pintu ini dengan benar!" David langsung berlalu dan masuk ke ruangan begitu saja.


"Huftt ..." Chelsea bernapas lega, dia bersyukur karena David tidak mengenali dirinya sebagai sosok direktur Chelsea Almayra Adinata.


"Hebat sekali ... Pertama, Kak Dika membuat rumor jika kau adalah wanitanya. Dan sekarang, Bos David menganggapmu sebagai mantan pacarnya. Menakjubkan, belum lama bergabung tapi kau sudah mampu menjerat 2 orang Family. Harus aku akui jika bakatmu menggoda orang memang luar biasa," ucap Leon dengan senyuman sinis.


"Tidak bisakah kau berhenti berburuk sangka padaku? Jelas-jelas kau lihat sendiri kalau aku sama sekali tidak ada niatan untuk menggoda orang!" bantah Chelsea yang merasa jika Leon mulai terkesan menyebalkan.


"Apa kau benar-benar tidak ada niatan untuk menggoda orang?"


"Tentu saja! Aku bukan wanita murahan seperti itu!" tegas Chelsea sekali lagi.


"...." Leon terdiam, lalu kembali menatap ke arah depan dan berposisi siaga. Entah kenapa pikirannya terus terpikirkan oleh Chelsea yang selalu punya daya tarik yang mampu membuat pria lain mendekatinya. Sekarang dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan kembali fokus berjaga.


"Leon, Bos David itu orang seperti apa?" tanya Chelsea penasaran.


"Heh, barusan kau bilang sendiri jika tidak berniat menggodanya. Lantas kenapa sekarang malah bertanya tentangnya?"


"Jangan salah paham dulu! Aku bertanya semata-mata karena penasaran. Setidaknya aku harus tahu dia orang seperti apa agar aku tidak melakukan kesalahan lagi di depannya!"


"Oh, jadi kau berharap punya kesempatan untuk bertemu dengannya lagi?" tanya Leon dengan nada ketus.


"Kau ...!" Chelsea mulai kesal, lalu memalingkan wajahnya begitu saja. "Terserah jika kau tidak mau memberitahuku, aku bisa bertanya pada orang lain! Padahal aku cuma ingin informasi lebih agar bisa bertahan hidup!"


"...." Sekali lagi Leon terdiam, dia berpikir jika alasan yang Chelsea berikan adalah masuk akal. Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk mengurangi sedikit rasa egoisnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahumu."


"Eh?!" Seketika Chelsea menoleh, dia juga bersiap untuk mendengarkan dengan baik informasi yang akan Leon bagikan padanya.


"Bos David itu adalah aktor ternama, dia baik, jauh dari berita miring, media massa selalu memberikan panggung untuknya agar dia semakin bersinar. Namanya selalu bersih, dia juga sering menghadiri acara amal dan sosial, sosok sempurna yang banyak diidamkan oleh para wanita. Ini adalah hal yang orang awam tahu. Dan kau barusan lihat sendiri kebenarannya."


"Sebenarnya dia itu seorang playboy, jadi aku jujur saja memang sempat curiga jika kau termasuk ke dalam jajaran mantan pacarnya. Tapi, dia itu juga seseorang yang kejam. Dia tak segan untuk menyakiti wanita, sudah banyak korban yang mati mengenaskan di tangannya."


"Ternyata begitu ya, hebat sekali dengan sifat aslinya itu dia masih bisa bertahan di dunia hiburan sampai sekarang ..." ucap Chelsea sambil menatap miris.


"Iya, karena itulah aku khawatir padamu," ucap Leon dengan nada pelan.


"Eh?! Barusan kau bilang apa?" tanya Chelsea penasaran.


"Tidak ada! Aku tidak bilang apa-apa! Telingamu yang salah dengar! Pulang nanti kau harus membersihkan telingamu!" jawab Leon seraya memalingkan wajahnya.


Sial, bisa-biasanya aku keceplosan mengatakan isi hatiku. Bos David termasuk ke dalam salah satu Family paling gila, yang cuma bisa mengontrolnya cuma ketua. Bahkan aku yakin jika dia lebih menghormati ketua daripada ibunya sendiri. Dan entah kenapa aku merasa tidak rela jika Mayra jadi salah satu korbannya.


"Hump ... tinggal jujur saja jika kau memang tidak mau bilang. Tidak perlu menghina telingaku." Chelsea kemudian menghela napas dan menunduk, dia masih tidak habis pikir mengenai sosok David yang sebenarnya.


Bajing*n kau David Damian! Selama ini kau telah menipu jutaan orang! Bahkan aku ingat betul jika dulu ibuku sendiri adalah penggemar beratmu! Ternyata aslinya kau orang yang seperti ini, berhubungan dengan obat-obatan terlarang dan suka main perempuan!


Dan satu hal lagi yang membuatku sangat membencimu! Aku ingat betul jika suaramu termasuk ke dalam salah satu orang yang bersuara pada saat aku menguping kala itu! Kau adalah salah satu Family yang terlibat langsung dengan kasus kematian kakakku! Awas saja kau, aku pasti akan membalasmu!


***


Di dalam private room VVIP Nomor 5, saat ini ada 3 orang pria yang sedang duduk dan meminum minuman beralkohol mereka masing-masing. 2 di antara mereka adalah Family, yang tidak lain adalah Damar dan David. Sedangkan seorang pria satunya lagi, dia adalah seorang pebisnis.


"Bagaimana menurut Anda tentang pelayanan di club sederhana kami ini, Tuan Muda Atharwana?" tanya Damar pada tamu VVIP tersebut.


"Haha, tidak perlu merendah dengan menyebut night club dengan kata 'sederhana', club ini adalah yang paling mewah yang pernah aku masuki selama hidupku!" ucap Bobby Atharwana, dia adalah seorang tuan muda yang berasal dari keluarga konglomerat Atharwana.

__ADS_1


Keluarga Atharwana adalah keluarga yang mendominasi yang asalnya dari luar kota. Keluarga Atharwana memiliki perusahaan StarCorp, yaitu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang minuman beralkohol. Dan belakangan ini bermacam-macam produk dari StarCorp sedang terkenal. Hal itu membuat nama keluarga Atharwana semakin dikenal oleh banyak orang.


Nama Bobby Atharwana sudah tidak asing lagi di kalangan para pebisnis saat ini. Banyak dari mereka yang mencoba membangun relasi dengannya. DG CLUB pun juga tak terkecuali. Mereka ingin minuman yang tersedia di club mendapatkan sponsor eksklusif oleh keluarga Atharwana.


Salah satu tokoh penting yang berhasil menghubungi Bobby Atharwana adalah David Damian. David yang telah mendengar jawaban memuaskan dari Bobby pun hanya memasang senyum ramah. Kemudian berkata, "Jika begitu silakan Tuan Muda Atharwana tanda tangan di atas surat kontrak!"


Meskipun David berkata sambil tersenyum, tetap saja nada bicaranya terkesan memaksa. Bobby mulai merasa sedikit tidak suka dengan hal itu.


"Hmm ... bagaimana yaa ... apa kau akan memaksaku? Jujur saja, berhubungan dengan gangster seperti kalian ini sungguh berisiko. Bisakah kalian meyakinkan aku sekali lagi?"


"Kenapa Tuan Muda bertingkah seolah-olah ini adalah yang pertama kali? Tidakkah Anda masih punya malu?" balas David sambil melotot. Dia tidak suka dengan Bobby yang ingin bermain-main dengannya.


"Maaf menyela!" sahut Damar. "Mohon Tuan Muda berbesar hati memaafkan teman saya. Dia memang orang yang tidak sabaran. Jika Tuan Muda berkenan ... tolong katakan apa yang Tuan Muda inginkan."


"Hahaha, sikap seperti ini yang aku suka! Baiklah, aku akan tanda tangan! Tapi sebelum itu ...." Tiba-tiba saja Bobby mengeluarkan sebuah pulpen dari saku jas nya. Dia lalu meletakkan pulpen itu di atas meja, tepat di samping surat kontrak yang siap untuk ditandatangani.


"Panggil wanita terbaik yang kalian punya di club ini! Aku mau melihat dia semahir apa menggoda orang, jika dia berhasil merayuku untuk tanda tangan. Maka aku akan bekerja sama dengan kalian!"


"Baiklah, segera saya panggilkan!" Damar segara bangkit dari tempat duduk, selangkah sebelum dia memegang gagang pintu, tiba-tiba Bobby kembali mencegahnya.


"Tunggu sebentar!"


Damar pun berbalik. "Ya? Apakah Tuan Muda memerlukan sesuatu yang lain?"


"Wanita yang berjaga di depan pintu tadi ... aku juga mau dia!"


"....?!" Damar terkesiap.


Apa?! Dia juga mau Mayra! Tapi Dika bilang jika wanita itu adalah miliknya. Aku tidak yakin dia sungguh-sungguh atau sedang main-main. Jika sungguhan dan Dika tahu ... mungkin saja dia akan buat perhitungan denganku. Tapi ... posisi wanita itu saat ini sedang bertugas, harusnya dia sudah siap dengan hal semacam ini.


Dan sedangkan VVIP ini adalah ketua sendiri yang memberi perintah agar menjalin kerja sama dengannya. Aku tidak mau mengecewakan ketua! Ah sudahlah, jika ini demi ketua ... bermusuhan dengan Dika pun aku siap!


"Baik Tuan Muda Atharwana, saya akan membawa wanita itu kemari!" tegas Damar yang kemudian segera berlalu.


Saat pintu private room terbuka, Leon dan Chelsea sama-sama terkejut. Mereka dengan sigap membungkuk, mengira jika tamu VVIP telah pulang lebih awal. Saat mereka mendongak, mereka kaget jika rupanya adalah Damar. Sekali lagi mereka menunduk dan memberikan penghormatan yang benar.


"Salam, Bos Damar!"


"Ya," jawab Damar singkat yang kemudian melanjutkan langkahnya.


"Sepertinya tamu VVIP yang satu ini sangat penting, sampai membuat Bos Damar harus turun tangan." gumam Leon.


Tak berselang lama kemudian Damar kembali bersama seseorang yang tidak lain adalah Kaitlyn. Dan sebelum dia masuk ke private room lagi, dia berhenti dan menarik tangan Chelsea.


"Eh?! Mengapa saya harus masuk?" Chelsea menatap bingung.


"Diam dan menurut saja! Kau nanti juga akan tahu sendiri!"


"B-baik ...." Chelsea masuk dengan terpaksa. Di sisi lain pun, Leon hanya bisa mengepalkan tangan seerat mungkin. Dia tidak suka melihat Chelsea dipaksa, tetapi dia sadar jika dirinya tak punya kuasa yang cukup untuk melawan Damar.


Setelah Damar kembali bersama dua orang bersamanya, dia langsung disambut dengan senyuman oleh Bobby Atharwana.


"Pemilik DG CLUB memang luar biasa!" puji Bobby seraya memberikan tepuk tangan kecil.


"Terima kasih atas pujiannya," ucap Damar yang kemudian beralih untuk duduk di sebelah David.


Chelsea dan Kaitlyn masih berdiri di tempat. Mereka berdua sama-sama penasaran dengan hal macam apa yang harus mereka lakukan. Sedangkan Bobby, dia tak henti-hentinya menatap mereka. Kaitlyn yang cantik dan sexy, sedangkan Chelsea yang anggun dan pendiam.


"Ehem! Baiklah, aku akan jelaskan aturannya! Kalian berdua lihat di atas meja! Di sana ada sebuah pulpen, jika salah satu dari kalian bisa menggodaku untuk memberi tanda tangan dengan pulpen itu, artinya itu berhasil! Tapi jika kalian berdua gagal, maka aku tidak jadi bekerja sama!"


"Kita mulai saja sekarang! Emm ... dimulai dari ... kau!" seru Bobby sambil menuding ke arah Kaitlyn.


"Ohh, dengan senang hati~" Kaitlyn menyeringai, dia sangat percaya diri dengan tes semacam ini. Dia melakukan aksi pertama dengan berjalan perlahan mendekati Bobby, memainkan rambutnya dengan jari telunjuk, serta menggigit bibirnya sendiri dengan tatapan menggoda.


Begitu tiba, dia langsung melemparkan diri dan jatuh ke pangkuan Bobby. "Aww ... Nyaman sekali~" ucapnya sambil meraba dada Bobby.


"Hmm, agresif. Siapa namamu cantik?"


"Daku bernama Kaitlyn Tuanku~"


"Nama yang cantik untuk orang yang cantik!" puji Bobby yang diam-diam tangannya sudah meraba paha Kaitlyn.


Chelsea diam seribu bahasa, dia tak tahu harus bicara apa agar keluar dari situasi sekarang. Bahkan dia sudah bergidik membayangkan jika dia harus melakukan tindakan yang tidak pantas, persis seperti yang Kaitlyn lakukan.


Namun, berbeda dengan kedua pria lain yang juga ada di sana. Damar dan David saling berbisik.


"Hebat sekali kau, membawa seorang wanita jadi-jadian dan wanita pendiam untuk menggoda tamu. Aku bertaruh untuk Kaitlyn! Ferrari yang seminggu lalu aku dapatkan!" bisik David.


"Baiklah, aku akan bertaruh untuk Mayra yang akan menang!" bisik Damar.


"Apa yang mau kau pertaruhkan?"


Damar lalu mengeluarkan sebuah benda kecil, benda itu adalah sebuah gantungan kunci berbentuk kucing. "Aku bertaruh ini!"

__ADS_1


"Pfftt ... setakut itukah kau kalah? Aku bertaruh mobil, tapi kau justru bertaruh sampah itu! Ini tidak sebanding, brengsek! Jangan mencoba menipuku!"


"Ini adalah buatan bos kecil, aku berhasil merebut benda ini dari tangan Dika!"


"Apa?!" David melongo. "Heh, kau pasti akan menyesal mempertaruhkan benda sepenting itu! Ketua pilih kasih sekali, atas dasar apa dia memberikan benda keberuntungan ini pada Dika?"


"Sudahlah, intinya benda ini sudah ada di tanganku! Aku peringatkan, jangan terlalu berharap bisa menang taruhan dariku!"


"Cih, aku akan mencurinya saat kau lengah!"


Masih ada 1 orang yang benar-benar terasingkan. Sejak tadi Chelsea bingung harus berbuat apa, dia tidak mau mencontoh Kaitlyn, dan dia sekaligus bingung saat melihat kedua Family berdebat hanya karena sebuah gantungan kunci.


"Sial, aku mohon siapa pun tolonglah aku!" gumam Chelsea yang mulai frustrasi. Dia sangat berharap jika Kaitlyn menang dan mampu membuat tamu mesum itu tanda tangan.


"Gagal!" seru Bobby sambil mendorong Kaitlyn menjauh darinya.


"Apa?! Gagal?! Tapi juniormu sudah berdiri! Kau masih bilang jika daku yang sempurna ini gagal?!" bantah Kaitlyn seakan tidak terima.


"Aku ingin kau menggodaku untuk tanda tangan! Bukan untuk membangkitkan hasratku!" teriak Bobby dengan wajah memerah. Dia langsung mengambil bantal sofa untuk menutupi asetnya yang berdiri.


"Pfftt ... Sial, aku kalah! Dia malah terangsang dengan banci yang kau berikan!" bisik David yang bercampur sedih dan tertawa.


"Hehe, jangan keras-keras. Jangan sampai dia tahu yang sebenarnya," Damar terkekeh.


"Selanjutnya kau!" seru Bobby sambil menuding ke arah Chelsea.


"B-baik Tuan ..." Chelsea dengan pasrah mendekat. Dia sudah memutuskan untuk melakukan apa yang dia kuasai.


"Siapa namamu?" tanya Bobby.


"Mayra. Emm ... bolehkah saya mulai?" tanya Chelsea sedikit sungkan.


"Ya, aku tidak sabar melihat aksimu!"


Chelsea menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil pulpen yang ada di atas meja dan mengangkatnya setinggi dada. "Tuan, ini adalah pulpen yang sangat bagus! Harganya pasti sangat mahal! Kualitasnya juga sesuai untuk menandatangani kontrak penting!"


"Seperti yang kita tahu jika DG CLUB adalah night club ternama di negara ini! Saya jamin menjalin kerja sama pun tidak akan membuat Tuan merugi! Nah, jadi silakan tanda tangan!"


"HAHAHA! Dirimu ini sedang apa?!" ejek Kaitlyn dengan tawanya yang keras.


Damar dan David pun juga melongo, mereka berdua tidak habis pikir dengan apa yang Chelsea lakukan. Sedangkan Bobby, sudah pasti dia merasa tidak terima diperlakukan seperti ini. "Aku bilang padamu untuk menggodaku! Bukan malah presentasi dan promosi pulpen!"


"Tapi ... intinya sama saja yang penting tanda tangan!" Chelsea bersikeras pada pendirian lurusnya.


"Kauuu ...!" Tiba-tiba saja kemarahan Bobby hilang, justru dia malah memasang senyum lebar. "Kau unik juga! Baiklah kalau begitu! Setelah aku menikmatimu, aku akan setuju untuk tanda tangan!"


Mendadak Bobby berdiri, dia mendorong Chelsea hingga terjatuh di atas sofa. Dia bahkan menahan tangan Chelsea dan mencoba merobek bajunya.


"Lepas!" teriak Chelsea sambil meronta, dia tidak mau dilecehkan, tetapi dia teringat jika melakukan kesalahan maka perjuangannya selama ini akan sia-sia. Karena itulah dia masih menahan diri untuk tidak memukul VVIP yang merupakan pria mesum di depannya ini.


"Hehehe, tidak akan! Wanita sok suci sepertimu yang aku inginkan!"


BHUAK!!


Kesadaran Bobby seketika menghilang lantaran Damar yang tiba-tiba memukul tengkuknya dengan keras. Chelsea yang menyadari hal itu pun langsung bangkit dan mendorong tubuh Bobby.


"T-terima kasih Bos Damar!"


"...." Damar membisu, lalu melemparkan jas nya ke arah Chelsea. "Pakai ini!"


"Sekali lagi terima kasih!" Chelsea langsung memakai jas itu untuk menutupi tubuhnya yang terlihat karena bajunya telah dirobek oleh Bobby.


"Tak perlu berterima kasih, aku hanya tak mau bertengkar dengan temanku! Kau wanitanya Dika, aku tak mau kau terluka saat di tempatku!"


Deg!


Jantung Chelsea seakan berhenti berdetak untuk sesaat. Dia tidak habis pikir jika dirinya diselamatkan berkat rumor yang dia benci. Jika saja tidak ada rumor itu, mungkin dia sudah dilecehkan.


"Oh, jadi cuma sampai sini batas sabarmu?" tanya David sambil menyeringai.


"Ya, kita lakukan saja seperti caramu! Orang-orang dari Divisi 1 memang suka yang begini, kan?"


"Haha, jadi taruhan kita batal?"


"Ya. Ketua cuma bilang harus menjalin kerja sama dengan cecunguk ini! Ketua tidak bilang kita harus menggunakan cara yang mana! Jadi seperti ini pun bebas!"


"Baiklah, aku urus sisanya!" David kemudian mendekat. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan sebuah belati, dia menggunakan belati itu untuk mengiris tangan Bobby.


Darah mulai mengalir keluar dari tangan, David pun menggunakan darah itu untuk jadi tinta cap jari jempol di atas materai surat kontrak.


"Beres! Sudah kubilang dari awal jika cara ini paling efektif!"


"Heh, aku cuma tak mau merepotkan petugas pembakaran. Setidaknya aku bisa memotong sedikit gaji mereka."

__ADS_1


"Ckck, dasar pelit!"


__ADS_2