Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Sikap yang Berubah


__ADS_3


Chelsea menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan lega. Kemudian dia menutup laptop miliknya, dia merasa sudah cukup baginya hari ini untuk melihat perkembangan kasus seorang Family pertama yang berhasil dia targetkan.


"Huft ... aku tak pernah merasa selega ini sebelumnya, menghancurkan karier seorang bintang besar seperti David juga merupakan pencapaian bagiku."


"Tapi sudahlah! Aku harus ke Kedai Pembunuh sekarang, aku penasaran dengan tugas baruku nantinya! Dan terlebih lagi ... aku tidak sabar bagaimana melihat wajah Kepala Divisi saat tahu kalau salah satu rekannya mendapat masalah!"


Chelsea pun bergegas berangkat menuju ke CIDA HOME, masa libur yang diberikan padanya selesai untuk hari ini dan dia harus pergi ke markas Divisi 2 untuk mengetahui apa tugasnya besok. Seperti biasanya, dia datang ke ruang bawah tanah tersembunyi yang berada di dalam bagian dapur kedai itu.


Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Biasanya dia akan menunggu sampai anggota yang lain keluar dari ruangan Kepala Divisi terlebih dulu, dan kali ini justru dia diberitahu oleh anggota yang lain jika dirinya sudah ditunggu untuk masuk.


KRIEET ...


Perlahan Chelsea membuka pintu besi besar di hadapannya. Dia memberanikan diri untuk melangkah masuk ke ruangan yang minim pencahayaan tersebut, meskipun sebenarnya dia merasa gugup lantaran waspada dan curiga kali ini sedikit berbeda dari biasanya.


Begitu dia melangkah lebih jauh ke dalam, pandangan Chelsea langsung membulat ketika dia melihat Leon juga berada di sana. "Leon?" gumam Chelsea seakan tak percaya.


Jadi Leon sudah kembali dari tugasnya di luar negeri! Tapi dia tidak mengabariku soal apa pun. Keterlaluan, padahal dia dulu bilang jika aku rekannya.


Tanpa basa-basi lagi Chelsea langsung mendekat ke meja besar tersebut, sebelum dia duduk di kursi yang ada di sebelah Leon, tak lupa juga untuk memberikan salam kepada Kepala Divisi terlebih dulu.


"Lama sekali, kau pikir kau siapa sampai membuat kami menunggu?" celetuk Leon dengan nada menyindir.


"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi." Chelsea menjawab dengan perasaan rendah diri. Entah kenapa dia merasa jika sikap Leon padanya telah berubah menjadi lebih dingin. Seolah-olah kembali jadi Leon yang dulu saat pertama kali dia bertemu.


"Kak Dika, kenapa Kakak ingin menunggunya? Apa aku akan ditugaskan lagi bersamanya?" tanya Leon yang terkesan terganggu dengan kehadiran Chelsea.


Dika menghela napas, kemudian berkata, "Misi kali ini adalah misi yang penting. Dan aku masih belum bisa sepenuhnya percaya pada wanita ini, jadi aku menugaskanmu yang merupakan orang kepercayaanku untuk mengawasinya," jelas Dika sambil menuding ke arah Chelsea.


Sejenak Chelsea tertegun, dia sedikit bingung dengan sikap Dika terhadapnya. Di satu sisi Dika membuat rumor menyesatkan soal Chelsea sebagai wanitanya, dan di sisi lain dia juga belum sepenuhnya menaruh kepercayaan terhadapnya.


"Saya paham, saya adalah anggota tetap yang belum lama bergabung dan tugas yang saya selesaikan juga baru satu. Tapi, di tugas kali ini nanti saya janji akan melakukannya sebaik mungkin dan mendapatkan kepercayaan dari Kepala Divisi," jawab Chelsea seolah-olah tak merasa tersinggung sama sekali.


Tidak masalah jika Kepala Divisi memang mau mempermainkan aku, tapi aku harus merasa rendah diri. Tujuanku bukan cuma meraih kepercayaan Kepala Divisi, tetapi kepercayaan ketua. Tidak masalah jika aku harus merangkak dari bawah.


"Baiklah, kalau begitu aku akan langsung menjelaskan apa tugas kalian berdua. Kalian berdua akan ditugaskan pergi ke luar kota, tepatnya adalah kota S Distrik Timur 12. Dan orang yang harus kalian layani adalah si bangs*t ... ah, maksudku adalah Kepala Dewan Parlemen, Hendry!"


"Baiklah Kak," jawab Leon dengan patuh.

__ADS_1


"B-baik, saya paham ..." jawab Chelsea yang sedikit syok mendengar siapa yang akan dia layani.


Kepala Dewan Parlemen!? Jadi bahkan orang penting dari pemerintahan sepertinya juga menggunakan jasa dari gangster! Sial, aku tidak habis pikir jika dia bisa terpilih dan menduduki posisinya sekarang sebagai perwakilan rakyat.


"Tugas kali ini adalah tugas pengawalan, jadi jangan bunuh siapa pun jika itu bukan masalah mendesak!" lanjut Dika lagi.


"Baik, Kak. Aku pasti tidak akan mengecewakan Kakak," ucap Leon.


"Tugas pengawalan kalian dimulai besok, jadi berkemaslah sekarang. Dan ... satu hal lagi!" Dika lalu menyodorkan kertas ke atas meja, kertas itu adalah kertas yang berupa sebagai surat bukti pemesanan kamar hotel.


"Waktu tugas kalian tergantung kepentingan pada orang yang kalian layani, jadi aku sudah memesankan kamar hotel yang lokasinya pas untuk kalian berdua gunakan."


"Baik," jawab Chelsea dan Leon bersamaan. Mereka berdua pun menerima kertas bukti pemesanan itu.


Akan tetapi, masih ada satu hal yang membuat Chelsea merasa aneh. Dia heran lantaran Dika yang masih bersikap santai, seakan-akan tak merasa prihatin dengan rekannya David Damian yang terancam akan dipenjara.


Chelsea menelan ludah, setelah mengumpulkan keberanian dia pun berkata, "Anu ... Kepala Divisi."


"Ya? Apa masih ada yang perlu kau tanyakan soal tugasmu?" tanya Dika.


"Bukan. Tetapi ... bolehkan saya tahu soal perasaan Anda saat ini? Ah, m-maksud saya adalah ... bagaimana tanggapan Kepala Divisi soal rekan Anda yang berasal dari Divisi 1?"


"Heh, ternyata soal itu. Wajar saja kalau kau penasaran, berita soal David sudah tersebar ke mana-mana." Tiba-tiba saja Dika menatap sinis kepada Chelsea. "Ini masalah para petinggi, orang kecil sepertimu tidak perlu ikut campur! Lagi pula organisasi sebesar ini tidak akan hancur dengan satu masalah kecil seperti ini!"


"M-maafkan saya," jawab Chelsea yang seketika menundukkan kepala. Baru kali ini dia melihat kengerian dari tatapan atasannya.


Masalah kecil? Jadi masalah yang aku buat cuma dianggap sebagai masalah kecil? Huh, aku ingin lihat bagaimana kalian nanti akan kewalahan. Begitu fakta soal David yang menjerumuskan banyak artis lain terkuak. Aku yakin masalah ini akan memberikan dampak besar, kalian saja yang tidak tahu jika aku adalah seorang mantan direktur perusahaan hiburan.


Tanpa berkata apa pun lagi Leon dan Chelsea keluar bersama dari ruangan itu. Dan setelah di luar, Chelsea langsung berkata, "Leon! Kapan rencanamu berangkat ke kota S?"


"Aku mau berangkat jam berapa memangnya apa urusanmu?" tanya Leon dengan tatapan dingin.


"Tentu saja untuk pergi bersama!"


"Cih, aku tidak mau! Kita berangkat sendiri-sendiri!" jawab Leon yang seketika mempercepat jalannya, meninggalkan Chelsea jauh di belakang.


Sial, apa-apaan Mayra itu? Masa dia ingin berangkat keluar kota bersama? Artinya nanti datang ke hotel juga bersama dengannya. Jika ini diketahui oleh Liana, aku yakin dia akan salah paham dan mengira jika aku berlibur! Dan lagi dia juga pasti akan mendesakku habis-habisan untuk menjalin hubungan dengan Mayra. Jadi, berangkat ke luar kota bersama dengannya adalah hal yang paling bodoh!


Di satu sisi Chelsea masih berdiam diri di tempat, dia sekarang sadar jika Leon memang sengaja bersikap ketus kepadanya. "Huh, sebenarnya kau ini kerasukan hantu macam apa di luar negeri sana? Bisa-biasanya bersikap begini setelah bilang suka padaku waktu itu," gumam Chelsea penuh kekesalan.

__ADS_1


***


Malam harinya, Chelsea telah tiba di kota S dan telah masuk ke gedung hotel yang sudah dipesankan untuknya. Dan benar saja, kamarnya tepat berada di sebelah kamar yang Leon tempati.


"Huh, dasar Leon! Katanya rekan, tapi aku ajak berangkat bersama dia tidak mau! Padahal tujuanku itu biar lebih hemat biaya perjalanan!" gerutu Chelsea sambil membuka pintu kamarnya.


Setelah Chelsea selesai menata semua barang-barang yang dia bawa. Dia ingin ke balkon untuk melihat seperti apa pemandangan kota S di malam hari. Dan entah kebetulan macam apa, saat itu juga dia melihat Leon yang juga berada di balkon sebelahnya sedang menyeruput minuman.


"Hai!" sapa Chelsea singkat.


"Puftt ...." Leon terkejut, baru kali ini dia melihat Chelsea yang sedang memakai piama tipis. Bahkan kopi yang ada di mulutnya sampai muncrat keluar.


Leon salah tingkah, dia tak menjawab sapaan dari Chelsea dan memilih untuk bergegas kembali ke dalam kamar.


"Huh, dia kenapa sih?!" Chelsea pun menggeleng kepala dengan cepat, bermaksud agar Leon segera pergi dari pikirannya.


Chelsea mengambil napas dalam-dalam, menghirup dengan rileks dan merasakan betapa segarnya udara malam kota S. Pemandangan malam di kota S pun juga tidak kalah dari kota-kota lain yang menjadi tempat wisata.


"Udara di sini rasanya lebih segar dibanding di pusat kota, sepertinya di sini masih sedikit tempat industri. Sepertinya tidak banyak perubahan yang terjadi setelah 6 tahun terakhir."


Chelsea melirik sekeliling, dia melihat sebuah area dekat sana yang tampak memiliki lebih banyak cahaya lampu jika dibandingkan dengan area lain. Dan meskipun terang, tak terlihat satu pun gedung tinggi yang dibangun di areal itu


"Hmm ... sepertinya area itu adalah Distrik Timur 12, besok aku akan ke sana dan melakukan tugasku!"


DING DONG!


DING DONG!


"Eh, siapa yang memencet bel kamarku?"


Seketika Chelsea berlari secepat mungkin menghampiri pintu, dia pikir jika itu adalah seorang pelayan yang menawarkan layanan hotel. Tetapi, begitu dia membuka pintu ternyata yang memencet tombol bel barusan adalah Leon.


"Leon? Ada apa?" tanya Chelsea terheran-heran.


"Ehmm ... ambil jaketmu!" pinta Leon yang berusaha untuk mengalihkan pandangan dari tubuh Chelsea.


"Tapi kenapa?" tanya Chelsea yang bertambah bingung.


"Cepat ambil dan pakai! Ayo jalan-jalan!"

__ADS_1


"A-apa?!"


__ADS_2