Hot Mother and Nine Gangsters

Hot Mother and Nine Gangsters
Pelajaran Tak Terlupakan


__ADS_3


"Eemm ...." Liana kini dipenuhi keraguan saat ingin menyentuh sebuah gagang pintu.


"Ayo buka saja, tadi kita sudah bertanya ke suster kalau memang benar ini ruang rawatnya!" bujuk Ian yang masih setia menemani Liana.


"Tapi Ian ... aku masih gugup, kak Mayra pasti saat ini sangat sedih. Takutnya aku malah mengganggunya," jawab Liana yang mengurungkan niatnya untuk menyentuh gagang pintu tersebut.


"Astaga ... kamu ini bagaimana sih? Tadi kamu bilang kalau kamu ingin menghiburnya, sekarang kamu malah takut kalau akan mengganggunya. Jadi sekarang mau kamu apa? Kita berdua berdiri di sini sampai pagi, hm?" tanya Ian dengan senyum yang dipaksakan. Dia sudah lelah menghadapi sikap Liana yang kadang plin-plan seperti ini.


"I-iya, aku masuk. T-tapi tolong kamu saja yang buka pintunya! Aku malu kalau sampai salah masuk ruangan!" bantah Liana lagi dengan alasannya yang ngawur.


Ian menghela napas, meskipun dia tahu jika Liana hanya mengarang alasan lain saja, dia tetap tak berkomentar apa-apa. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, dia memegang gagang pintu tersebut dan membukanya dengan cepat.


KLAK!


Begitu pintu terbuka, Ian dan Liana sama-sama melongo karena kaget melihat Chelsea yang sedang di suapi oleh Leon. Bahkan mereka berdua tampak begitu mesra. Pikiran Liana langsung menjadi kacau, bagaimana bisa mereka berdua seperti itu, bukankah tadi mereka berdua masih bertengkar hebat?


"Liana?!" tanya Leon yang seketika berhenti menyuapi Chelsea makan. Dia kaget lantaran adiknya yang dia tahu kalau sedang marah padanya tiba-tiba kembali dengan sendirinya. Tak seperti yang dia pikir, jika dia perlu membujuknya untuk mau kembali.


"Liana, ya. Masuklah, Ian juga masuk kemari ..." ucap Chelsea dengan nada ramah.


"Aku sepertinya tidak usah," ucap Ian dengan suara pelan sambil melirik ke arah Liana.


"Ayo, masuk! Temani aku!" Liana lantas menggandeng tangan Ian dan menyeretnya untuk ikut masuk bersama ke ruang rawat itu.


Seperti biasanya, Ian selalu gugup ketika berhadapan dengan Leon. Terlebih lagi saat ini, dia sudah berkeringat dingin ketika ditatap oleh tajamnya pandangan mata Leon.


"Apa kau sejak tadi bersama Liana?" tanya Leon dengan ekspresi dingin.


"Emm ... iya Kak. Aku cuma ingin menghibur dan menemani Liana saja. Aku tidak punya maksud yang lain-lain kok!" jawab Ian dengan nada sopan, dia tak ingin Leon salah paham terhadapnya.


"Terima kasih," ucap Leon dengan senyum tipis.


Sejenak Ian tertegun, dia kaget karena baru kali ini Leon berterima kasih dan tersenyum kepadanya. Tetapi dia senang, bersyukur karena setidaknya dia mendapatkan sambutan yang baik dari orang yang dia harap-harapkan jadi kakak iparnya di masa depan. "Sama-sama Kak ...."


Tiba-tiba Ian teringat dengan tujuan utamanya mengatar Liana kemari. Karena merasa jika dia tak punya hak untuk ikut campur lebih jauh lagi. Ian pun memberanikan diri dengan berkata, "Kak, aku izin permisi mau pulang. Tadi aku bilang ke orang tuaku kalau aku hanya akan keluar sebentar. Tetapi sekarang ini sudah larut, jadi aku tak mau membuat orang tuaku di rumah khawatir."


"Baiklah, tapi apa kau berani pulang sendiri?" tanya Leon.


"Tentu saja berani!" jawab Ian dengan lantang, tentu saja dia berlagak jadi pemberani di hadapan pacarnya.


"Hati-hati Ian!" seru Liana sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Ian pun bergegas pergi. Dan setelah Ian tidak di sana lagi, situasi tiba-tiba menjadi canggung. Terlebih lagi bagi Liana, dia kebingungan harus mengucapkan kalimat seperti apa. Setelah berpikir sejenak, Liana mendekat ke arah Chelsea dan menggenggam sebelah tangannya.


"Kak Mayra, bagaimana keadaan Kakak saat ini? Kak Mayra baik-baik saja, kan?" tanya Liana dengan tampang khawatir. Pikirnya, kehilangan calon bayi pastilah meninggalkan luka yang teramat mendalam.


Chelsea tersenyum kecil, dia merasa terharu karena melihat sosok Liana yang mengkhawatirkan dirinya. "Aku baik-baik saja, Liana. Tapi ... mulai sekarang kau bisa panggil aku dengan nama asliku, nama asliku itu Chelsea."


"Eh? Chelsea? Jadi ... selama ini Kakak pakai nama samaran? Tapi untuk apa?" tanya Liana kebingungan.


"Liana ... sebenarnya aku ini hidup dalam pelarian. Aku membuat nama samaran untuk menyembunyikan identitasku. Tapi sekarang itu sudah tidak perlu, karena Leon sudah tahu, jadi kau juga berhak untuk tahu. Dan sebenarnya ... karena alasan inilah aku dan kakakmu jadi bertengkar."


"Apa?!" Seketika Liana menoleh dan menatap ke arah Leon. "Apakah semua itu benar, Kak?!"


"Iya, semua itu benar adanya. Aku marah karena merasa jika Chelsea menyembunyikan identitasnya untuk menipuku, tetapi kesalahpahaman ini sudah usai. Aku sudah mengerti tujuannya dan alasan di balik dia menyembunyikan identitasnya. Chelsea ataupun Mayra sama saja, mereka adalah orang yang sama. Dan juga masih tetap orang yang akan jadi kakak iparmu," jawab Leon yang kemudian memalingkan wajahnya karena malu.


"Hah?!" Liana terperangah. Dia masih butuh waktu untuk mencerna semua penjelasan yang sulit dia pahami ini. Setelah terdiam beberapa saat, Liana kemudian menatap ke arah Chelsea lagi.


"Kak May ... maksudku Kak Chelsea, jika soal pertengkaran kalian telah diluruskan. Bagaimana soal keadaan Kakak saat ini? Bagaimana soal keguguran yang Kak Chelsea alami? Janin itu betul punya Kak Leon, kan?"


Chelsea menatap sayu, lalu membelai pipi Liana sambil berkata, "Benar Liana, janin yang tidak selamat itu memang karena hubunganku dengan kakakmu. Hanya saja, tolong jangan berpikir jika kakakmu yang bersalah atas hal ini. Memang benar jika kami saling menyukai, tetapi ... kami melakukan hal yang di luar batas itu karena dijebak."


"Dijebak?! Tapi ... kenapa ada orang jahat yang melakukan itu pada Kakak?" tanya Liana lagi.


"Sebenarnya akulah yang dijebak. Aku diberi obat, dan kakakmu ... dia cuma ingin menolongku supaya aku tidak dipermalukan lebih buruk lagi. Dan sebenarnya ... baik aku maupun kakakmu, kami sama-sama tidak mengetahui adanya janin ini sebelum kejadian hari ini. Kau benar soal orang yang menjebakku, dia memang jahat. Dan kami ... kami sudah berbaikan dan berencana untuk memberi pelajaran pada orang jahat itu bersama-sama!"


Liana mendekat ke arah Leon, dengan kepala yang tertunduk dia pun berkata, "Aku minta maaf ... tadi aku berteriak dan lari begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan dari Kak Leon lebih dulu. Maafkan aku karena telah salah paham pada Kakak."


"Tidak apa-apa, kakak paham kenapa kau marah." Leon tersenyum tipis, lalu mengusap kepala adiknya itu. Setelahnya dia kembali berkata, "Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau bisa bersama dengan pacarmu? Apa kau yang memintanya untuk datang?"


"Iya, aku yang meminta Ian untuk menemuiku. Habisnya ... selain dia, aku tak punya orang lain yang bisa aku andalkan kecuali Kakak. Dan tadi itu kan aku marah pada Kakak, jadi aku memanggilnya. Ian juga menasihatiku banyak hal. Maaf ... jika aku terlalu lama pergi dan membuat Kak Leon khawatir."


"Tak apa, setidaknya tidak ada hal buruk terjadi padamu. Tetapi, lain kali kau tidak boleh pergi tanpa kejelasan sama seperti tadi!" ucap Leon penuh penekanan.


Liana menganggukkan kepala, menyatakan jika dia akan menuruti nasihat Leon untuknya. Setelahnya Liana mendongak, menatap ke arah Leon dengan tatapan penuh harap. "Sekarang semuanya sudah tuntas, kan? Apa setelah ini kalian akan menikah?"


"Menikah?!" Leon dan Chelsea sama-sama terkesiap. Pertanyaan yang diajukan oleh Liana bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab sembarangan.


Pernikahan adalah hal yang sakral, tak cuma menyatukan dua manusia lewat hubungan yang resmi dan berjanji atas nama Tuhan. Leon dan Chelsea saling mempunyai perasaan yang sama, tentu saja hal seperti pernikahan pernah terbesit di pikiran mereka. Namun, mereka berdua terus disadarkan oleh kenyataan jika hal itu masih sulit direalisasikan untuk sekarang.


"Ehmm ... setelah rencana kami untuk melawan penjahat itu selesai, kami tentu akan menikah. Benar kan, Leon?" tanya Chelsea dengan manik matanya yang berbinar.


"Iya," jawab Leon singkat dengan senyuman kecil yang sulit untuk diartikan.


"Wahh ... baguslah, kalau begitu aku akan menunggu kabar baik dari kalian!" celetuk Liana dengan antusias. Dia sama sekali tidak tahu soal kesulitan macam apa yang sedang dilawan oleh kedua orang itu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Leon bangkit dan meletakkan semangkuk bubur yang hampir habis itu. Dia beralih menggandeng tangan Liana dan menariknya ke arah pintu keluar.


"Ada apa, Kak?! Kenapa menarikku ke sini?" protes Liana.


"Kakak akan mengantarmu pulang!" jawab Leon dengan ekspresi wajah yang tegas.


"Tidak mau, malam ini aku mau menginap di sini! Aku mau menemani kak Chelsea sampai pulih!" bantah Liana sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Leon darinya.


"Liana, kakak mohon pahamilah situasinya. Kakak tahu jika kau peduli, tapi pikirkan juga urusanmu sendiri! Besok kau masih harus berangkat ke sekolah, dan ini sudah larut, jadi kakak harus cepat mengatarmu ke rumah dan kembali lagi ke sini! Jika malam ini kau bersikeras menginap di sini, besok kau akan terburu-buru dan bahkan bisa terlambat masuk sekolah!"


"Iya-iya ... aku paham." Liana mengerucutkan bibirnya karena kurang puas dengan perintah kakaknya. Kemudian dia melihat ke arah Chelsea dan melambaikan tangan kepadanya. "Sampai jumpa, Kak Chelsea! Cepat sembuh, ya!"


"Sampai jumpa, Liana!" balas Chelsea dengan senyum berseri yang terukir di bibirnya.


***


Hari telah berganti. Pagi ini Chelsea sudah tak terlalu bersedih seperti kemarin. Karena kondisi fisiknya yang memang sudah terbiasa untuk dilatih kuat, dia pulih lebih cepat dari yang dia duga. Setelah melakukan berbagai macam pemeriksaan dari dokter spesialis kandungan, dokter menyatakan jika janin yang tidak selamat itu berusia 4 minggu. Dan dokter juga menyarankan supaya Chelsea tak banyak melakukan aktivitas yang berat terlebih dulu.


Chelsea melakukan semua pemeriksaan itu bersama dengan Leon. Jadi, apa saja yang dokter jelaskan maka Leon juga mengetahuinya. Banyak sekali yang baru Leon ketahui soal kehamilan pada wanita. Sedangkan Chelsea, akhirnya dia memahami betapa sulitnya masa di mana dia mengingat saat dulu adiknya mengandung tanpa suami. Sungguh sebuah pelajaran yang tak akan terlupakan bagi mereka berdua.


Saat ini mereka berdua tampak berkemas di ruang rawat. Mereka menata beberapa baju ganti yang sebelumnya mereka gunakan. Dan karena pesan dari dokter sebelumnya, Leon jadi lebih protektif dan meminta Chelsea untuk melihat saja, tak perlu membantunya berkemas.


Chelsea merasa sedikit bosan karena menunggu Leon. Dia ingin menghilangkan rasa bosan itu dengan cara menyalakan televisi, dan saluran TV yang Chelsea pilih adalah TV berita.


《PENEMUAN MAYAT SECURITY DI DALAM PARIT》


Warga dihebohkan dengan ditemukannya mayat yang mengapung di dalam parit Jalan Brightwood No 27. Kamis, sekitar pukul 06:00 waktu setempat. Diduga kuat mayat pria itu merupakan korban pembunuhan.


Mayat laki-laki yang berseragam ini ditemukan dalam kondisi yang masih utuh dan belum terlalu mengeluarkan bau busuk. Diduga kuat jika mayat tersebut baru dibunuh tadi malam. Proses evakuasi dilakukan oleh pihak kepolisian dan dibantu oleh warga sekitar.


Identitas mayat berinisial AP ini sudah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan proses autopsi. Tempat kejadian langsung diamankan dan polisi melakukan olah tempat kejadian. Guna menyelidiki penyebab serta kronologi kematian korban.


°°°


PATS!


Tiba-tiba saja Leon mematikan televisi di saat Chelsea masih menyimak dengan baik. "Sudah, jangan menonton lagi! Aku sudah selesai berkemas, kita siap pulang!"


"Ah, Leon ... padahal aku penasaran. Jalan itu kan ada di dekat rumah sakit ini. Aneh-aneh saja seorang security dibunuh. Untung saja semalam Liana kembali dalam keadaan selamat."


"Ya, kau benar," jawab Leon yang diam-diam mengepalkan tangan seerat mungkin.


Sial, security yang muncul di berita itu pasti security yang aku temui semalam. Aku ingat betul namanya, dan tadi inisialnya juga sama. Aku yakin jika ini adalah ulah No Reason. Hal ini memang yang harusnya dia lakukan. Ini karena aku yang semalam tidak membereskan dengan baik dan hanya mengancam.

__ADS_1


Lucu sekali, kukira dengan aku jadi sedikit lunak dan bersimpati pada orang, maka dengan begitu setidaknya dapat menghindarkan mereka dari kematian. Akan tetapi, nyatanya dia tetap mati dan dibunuh oleh orang lain. Haiss ... jika No Reason sampai buka mulut soal ini pada kak Dika, mungkin saja performaku akan dianggap menurun.


__ADS_2