
Nyala api berkobar, Chelsea telah membakar semua barang bukti yang dia gunakan dalam rencana menghancurkan nama baik David Damian. Chelsea tersenyum sinis sambil memandang barang-barang yang sebagian sudah menjadi abu yang ada di dalam drum besi itu.
"Selesai, aku sudah melakukan semua yang aku bisa untuk menghancurkanmu. Aku berhasil menggiring opini publik untuk mencurigaimu dengan semua bukti dan petunjuk yang aku sebar. Dan aku juga telah menghancurkan semua jejakku, bahkan jika seorang hacker berusaha untuk melacakku, dia akan tetap kesulitan."
"Dicurigai sebagai pecandu obat-obatan terlarang dan seorang homo. Haha, namamu selama ini sangat bersih, dan kau bahkan tak pernah punya skandal dengan wanita mana pun. Tetapi, sebenarnya kau itu seorang playboy. Daripada membongkar kenyataannya, membuat kebohongan jika kau seseorang yang menyimpang, itu akan lebih masuk akal."
"Semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin menerpa. David Damian ... kau sudah terlalu lama bersinar, sudah waktunya untukmu jadi redup. Selain aku, orang yang tidak suka padamu pasti banyak. Di saat seperti ini adalah saat yang tepat bagi mereka yang selalu menginginkan panggung untuk muncul. Maka aku hanya cukup menjadi pemicu, dan kemudian satu per satu hal buruk tentangmu akan terkuak dengan sendirinya."
"Sekarang aku hanya tinggal menunggu kabar, kabar buruk untukmu dan kabar baik bagiku. Hehe, rasanya sedikit menyenangkan juga. Ternyata rasa balas dendam itu bisa semanis ini."
Chelsea terus memandangi api yang menyala di dalam tong sampah yang terbuat dari besi itu. Dan ketika api itu padam, tiba-tiba dia menengadah ke langit. Tersenyum tipis sembari menatap hamparan bintang-bintang.
"Kak Liam ..." gumam Chelsea yang kemudian menutup mata.
Terbesit kenangan manis saat dulu William masih berada di dunia. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan ayahnya, kakak laki-lakinya sangat menyayanginya. Dia selalu baik, perhatian dan menjaga Chelsea dari semua orang yang mencoba mengganggunya.
Hingga suatu ketika, 10 tahun yang lalu, tepat di acara perayaan malam tahun baru, William ditemukan tewas terbunuh secara misterius. Tidak ada satu pun petunjuk tentang mengapa hal itu bisa terjadi. Dan demi menghindari pandangan buruk dari publik, sesuai dengan keputusan Tommy Adinata, maka keluarga Adinata membuat pernyataan jika William meninggal karena kecelakaan.
Chelsea yang saat itu masih muda hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Dia masih belum mampu jika mau menyelidiki soal kasus kematian kakaknya. Dan terlebih lagi, dia sangat tertekan dengan aturan ayahnya yang selalu menuntut dan tidak pernah puas kepadanya.
Itulah mengapa dendam yang Chelsea simpan begitu dalam. Dan sekarang, dia akhirnya telah tahu siapa pelakunya dan dia juga punya kesempatan untuk membalas dendam sekaligus.
Perlahan Chelsea membuka mata, dengan suara yang gemetar dia pun berkata, "Kak Liam ... kakak pergi dengan cara yang buruk, tapi tak apa, sekarang aku akan berusaha memberikan keadilan bagi kakak!"
***
Pada saat yang sama. Nisa yang meninggalkan acara pesta tahunan di kediaman utama, saat ini dia sudah bersama dengan David Damian yang namanya sedang menjadi perbincangan hangat di media massa. Dan tempat mereka berkumpul saat ini adalah tempat di mana Divisi 1 melakukan operasi kegiatan utama mereka, tempat ini sekaligus menjadi markas besar mereka.
Grizz Glory Casino. Sebuah kasino besar yang terletak di pusat kota, namanya sudah terkenal di kalangan banyak orang. Akan tetapi, orang-orang awam itu tidak tahu jika kasino ini adalah markas pusat sebuah kelompok gangster. Aktivitas perjudian di dalamnya dijadikan sebagai penyamaran sekaligus bisnis tambahan bagi mereka, terutama bagi Divisi 1.
Para pengunjung kasino ini didominasi oleh wisatawan asing yang berasal dari luar negeri. Mereka tak tahu jika tempat hiburan ini sangat berbahaya. Semua pegawai yang diperkerjakan di kasino adalah orang yang berbahaya. Mulai dari staf layanan, teknisi mesin slot, kasir dan petugas keamanan, mereka semua adalah orang-orang berbahaya yang mempunyai kemampuan seorang pembunuh. Awalnya posisi mereka juga sama, mereka adalah anggota tetap dari organisasi.
Tempat bersenang-senang yang dipenuhi oleh kaum hedonis ini termasuk ke dalam casino hotel. Terdapat 2.000 kamar suite hotel lengkap dengan paket-paket eksklusif yang ditawarkan. Seluruh kamar itu dirancang dan didesain dengan gaya eropa modern, beserta dengan berbagai furnitur agar membuat para tamu semakin nyaman. Dan semua kamar tersebut terhubung langsung dengan kasino.
Grizz Glory Casino juga mempunyai berbagai macam toko-toko retail dan bekerja sama dengan merk terkenal untuk para pengunjung yang ingin berbelanja. Selain itu, kasino ini juga dilengkapi berbagai fasilitas menarik. Seperti bar, restoran, parkir valet, kolam renang dalam ruangan, aula dansa, dan layanan hotel lainnya. Kebutuhan para pengunjung disediakan dalam satu lokasi agar membuat mereka semakin nyaman.
Ada berbagai macam bentuk umum dari permainan perjudian, seperti poker, rolet, mesin slot, blackjack, dan taruhan lainnya yang menghibur bagi para pengunjung. Terdapat setidaknya 1.800 mesin slot dan 450 meja judi untuk menarik lebih banyak wisatawan.
__ADS_1
Selain permainan judi yang menghibur, kasino ini juga menyediakan hiburan lain yang taruhannya tak kalah dari judi. Seperti pertandingan tinju, biliard, basket dan tenis. Kasino yang luas ini terbagi menjadi 4 area bermain utama, jika diurutkan dari yang paling khusus yaitu dimulai dari area Diamond Claw (cakar berlian), Golden Eyes (mata emas), Silver Fangs (taring perak), dan yang terakhir Black Tail (ekor hitam). Semakin dalam area yang ingin dimasuki, tentu saja identitas pengunjung yang masuk semakin luar biasa. Tidak sembarang orang diperbolehkan untuk masuk. Orang yang berasal dari keluarga konglomerat yang berkuasa contohnya.
Meskipun sebenarnya Grizz Glory Casino mempunyai kesan yang buruk, akan tetapi kasino ini telah lama berdiri dan secara resmi telah mendapatkan izin dari pemerintah. Karena pengunjung didominasi oleh wisatawan asing, alasan utama inilah yang membuatnya mendapatkan perizinan. Dan menurut peraturan yang berlaku, kasino yang tujuannya untuk menghasilkan mata uang asing diizinkan oleh negara.
Terlebih lagi dengan mempertimbangkan setoran pajak dalam jumlah besar yang dihasilkan. Jadi dapat disimpulkan jika Grizz Glory Casino bukan tempat yang ilegal. Sungguh penyamaran yang bagus, dapat menipu pemerintah setempat untuk bekerja sama dengan gangster tanpa tahu apa-apa jika tempat inilah markas besar mereka.
Saat ini di sebuah kamar VVIP nomor 11, di dalam kamar itu terdapat 4 orang. 3 orang dengan posisi tinggi dan yang satunya hanya pesuruh. 3 orang itu tidak lain adalah para Family yang termasuk ke dalam Divisi 1. Mereka adalah David Damian sang aktor sejuta umat, Marcell sang Kepala Divisi 1, dan Nisa yang merupakan ketua dari para komplotan kriminal ini.
"Kemarikan!" pinta Nisa pada pesuruh yang posisinya saat ini bertanggung jawab sebagai manajer David.
"Baik, Ketua ..." jawab manajer itu yang kemudian mendekat. Dia paham jika yang ketuanya minta adalah ponselnya. Dia menyerahkan ponselnya begitu saja kepada Nisa.
PRAAKKK!
Tanpa peringatan apa pun Nisa membanting ponsel keluaran terbaru itu sampai remuk. Dan tentu saja ekspresi sang manajer tampak tidak rela, tetapi dia memilih tetap diam. Tentu saja dia masih sayang nyawanya dan tidak mau membantah ketua.
"Huft ... sialan!" ucap Nisa sambil menyentuh kepalanya yang mulai terasa pening.
"Sabar, apa kau mau aku ambilkan obatmu?" tanya Marcell. Marcell bukan cuma bertanggung jawab menjadi Kepala Divisi 1, tetapi dia juga bertugas menjadi Casino Manager dari Grizz Glory Casino.
"Tidak perlu, aku masih harus menyusui bayiku, aku tidak bisa minum obat." Nisa menjawab tanpa melihat ke arah Marcell.
Salah satu penyebab Nisa merasa pening saat ini adalah ponsel sang manajer tadi. Ponsel itu tak henti-hentinya mendapatkan telepon dari berbagai pihak yang ingin meminta penjelasan. Terutama pihak yang sudah menandatangani kontrak dengan David. Seperti pihak perusahaan iklan, majalah, film, program acara televisi dan pihak agensi tak terkecuali.
Nisa mencoba mengatur napasnya dan berpikir dengan kepala dingin. Kekacauan yang terjadi saat ini memang serius. Terlebih lagi identitas David sebagai publik figur, jadi solusi yang harus dia ambil haruslah benar-benar tepat.
BUZZ BUZZ ...
BUZZ BUZZ ...
Ponsel Nisa berdering, dia langsung mengangkatnya begitu mengetahui jika panggilan itu berasal dari Kepala Divisi 3. Dia adalah Ivan, seorang hacker yang selalu diandalkan oleh Nisa.
"Halo, Ivan! Jadi bagaimana?! Apa kau sudah berhasil mencari tahu siapa orang itu?!" tanya Nisa dengan tidak sabar.
"Ya. Aku sudah mencari tahu tentangnya, hanya saja ... hasilnya adalah akun palsu. Semua data-datanya setelah aku periksa juga sama saja palsu. Akun milik orang pertama yang memicu semua ini sudah hilang secara permanen. Dan masalahnya sekarang ... banyak orang yang sudah menangkap gambar layar dan menyebarkannya lagi. Jadi setiap detik akan terus bertambah orang yang menyebarkan berita ini."
"Sial, orang ini pasti sengaja! Dia pintar sekali menghapus jejaknya dan menggiring opini publik untuk ikut mencurigai David! Ya sudah, kau kembali kerjakan saja tugasmu!"
"Eh? Lalu bagaimana soal David? Ketua mau membiarkan kariernya hancur begitu saja?" tanya Ivan kebingungan.
__ADS_1
"Tentu saja tidak! Sekarang sudah seperti ini, maka aku akan pakai cara nekat! Orang yang ada di balik semua ini menginginkan karier David hancur, jika aku bisa membuat David tetap bersinar maka usahanya sama saja akan gagal!" ucap Nisa penuh penekanan.
"Oh, begitu ya. Aku paham! Tapi ngomong-ngomong ... ketua sekarang sedang ada di kasino, kan? Aku ikut ke sana, ya!"
"Tidak perlu, hemat saja bahan bakar mobilmu. Lagi pula aku di sini tidak akan lama, kau datang pun akan percuma!"
"Huh, baiklah ...."
TUT TUT ...
Panggilan telepon berakhir, dan Nisa menyimpan kembali ponselnya.
Namun, tiba-tiba saja David berkata, "Pulanglah saja, bos kecil pasti sudah menunggumu!"
"Oi, apa yang kau katakan? Kau meragukan kemampuan ketua?" sahut Marcell dengan tatapan sinis.
"Bukan! Aku sepenuhnya percaya pada ketua! Aku cuma tidak ingin menyusahkannya, lagi pula aku juga sudah muak jadi artis! Aku muak menjaga sikapku di hadapan orang-orang itu! Persetan dengan penggemar, mereka mau kecewa dan mengutukku, aku juga tidak peduli! Mereka cuma babi bodoh!"
"..." Marcell membisu, tentu saja dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada David. Mengingat jika posisinya sama dan dia adalah rekan sejak lama.
Suasana pun jadi hening, dan di tengah keheningan ini tiba-tiba Nisa menepuk sofa di sebelahnya sambil berkata, "David, duduklah sini. Mari bicara dari hati ke hati ..." ucap Nisa sambil tersenyum.
Ketiga pria yang ada di sana seketika gugup. Marcell, David, dan manajer itu sangat hafal dengan arti dari senyuman itu. Jika ketua sudah tersenyum, artinya dia sudah punya rencana gila di pikirannya.
David pun hanya pasrah, lantas duduk di sebelah Nisa. Lalu tanpa peringatan apa pun Nisa tiba-tiba mendekat, memegang wajahnya dan membelainya dengan lembut. "Glup ..." David menelan ludah.
"Apa kau mau menyia-nyiakan wajah tampanmu ini, hm?" tanya Nisa dengan seringai iblisnya.
"Tidak," jawab David yang gugup setengah mati. Dia berharap jika jawabannya adalah jawaban yang Nisa ingin dengar dari mulutnya.
"Bagus!" Senyum Nisa makin lebar, lalu dia mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu kepada David. "Kau lihat ini? Dari berita-berita hiburan tahun-tahun sebelumnya. Bukan cuma kau satu-satunya publik figur yang terjerat kasus obat-obatan terlarang."
"Ya, aku lihat. Lalu apa?"
"Nah, kita jadikan ini pengalaman! Mereka semua ketahuan lalu tertangkap oleh polisi, dan setelah mereka bebas, mereka masih dapat panggung!"
"Ehmm ... apa ketua ingin aku ditangkap polisi juga?"
"Iya!" jawab Nisa spontan.
__ADS_1
"Apa?!" Seketika semua yang mendengar jawaban dari Nisa terkesiap.